Ihwal Perang di Layar Digital Kita

Peristiwa perang itu ada di layar digital kita masing-masing. Video-video pendek itu, menyebar cepat seperti virus. Menghabis waktu saban hari hanya sekadar memenuhi dopamine saja. Lalu lama-lama menjadi biasa, seperti menonton sinetron semata. Menikmati konflik bangsa-bangsa bertikai tanpa jeda. Algoritma bergerak berlagak membawa kebenaran.

Inilah perang ummat manusia modern. Israel bersekutu dengan Amerika menyerang Iran. Iran membalas. Tiada henti, hingga kini. Ribuan nyawa melayang, ada yang disiarkan ada yang tidak. Langit Timur Tengah tiada henti mengirim kabar ke layar digital ke 5,3 miliar manusia di berbagai penjuru dunia. Menurut data, sekitar 65 persen populasi dunia sudah masuk ke ruang digital.

Maka desing rudal supersonic, drone canggih tanpa awak, iron dome, pesawat tempur, orang-orang merintih takut, orang-orang marah, saban hari diproduksi dari lokasi tempur dengan segala bentuk kepentingan propaganda di baliknya. Perang menjadi pengalaman visual kolektif ummat manusia sepanjang hari.

Fenomena layar digital ini, disebut Marshall McLuhan dalam Understanding Media (1964), sebagai extension of man, perpanjangan indera manusia. Apa yang dahulu hanya terlihat oleh tentara di garis depan kini terlihat oleh umat manusia melalui layer digital. Perang telah berubah menjadi tontonan global yang membentuk emosi, persepsi, dan sikap politik masyarakat dunia. Sayangnya, bukan mendapatkan kebenaran atas peristiwa, tetapi realitas baru bernama simulacra. Citra yang terpancar dari peristiwa yang telah mengalami terlalu bias kepentingan pekerja media social. McLuhan menyebutnya, medium is message!

Konflik kontemporer itu kini memiliki dua medan yang berjalan bersamaan, medan militer dan medan informasi. Medan informasi perlu dikuasai, agar segala kejahatan tanpa dipandang baik dan disetujui. Penelitian dari Oxford Internet Institute pada 2023 menemukan, lebih dari 80 negara menggunakan operasi propaganda digital untuk mempengaruhi opini publik global. Pun dalam konflik Iran dan Israel, narasi digital berkembang sangat cepat. Sebagian konten menggambarkan Iran sebagai korban dominasi geopolitik Barat, sementara narasi lain menampilkan Israel sebagai negara yang mempertahankan keamanan nasionalnya. Begitulah secara bolak-balik, dipengaruhi laju kinerja algoritma. Kedua narasi ini bersaing di ruang digital melalui ribuan unggahan, video analisis, dan potongan pidato politik. Mereka yang terpapar post-truth akan mengalami pembengkakan emosional melebihi seharusnya. Disuntik hypodermic tanpa terasa sakit, tanpa menyadari, tajam dan cepatnya algoritma masuk ke otaknya.

Manuel Castells dalam Communication Power (2009) mengungkapkan, kekuasaan dalam masyarakat jaringan terletak pada kemampuan mengontrol arus informasi. Siapa yang menguasai narasi, dalam dunia digital, tampak lebih berpengaruh daripada siapa yang memenangkan pertempuran. Karena itu, konflik militer hari ini selalu diiringi perang wacana yang berlangsung di media sosial. Trump merasa benar dan seakan-akan tampak benar. Netanyahu seperti berkuasa penuh. Sekalipun kenyataannya, tanah mereka hancur lebur. Pun Iran, dengan rasa sakit terus bangkit membalas bahkan dengan kenyataan yang mencengangkan dunia.

Pada kebisingan peristiwa dan konflik di titik didih itu, teknologi kecerdasan buatan semakin memperumit lanskap informasi konflik dan mengganggu akal sehat. Laporan Carnegie Endowment for International Peace pada 2025 menunjukkan bahwa AI generatif telah digunakan untuk membuat video simulasi serangan militer, rekaman suara pemimpin politik, hingga gambar kehancuran yang sulit dibedakan dari realitas. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai synthetic propaganda.

Penelitian dari MIT Media Lab pada 2024 menyebutkan, konten visual palsu di media sosial memiliki tingkat penyebaran hingga 70 persen lebih cepat dibandingkan informasi yang telah diverifikasi. Publik, dalam situasi ini, mengalami kesulitan membedakan fakta dan manipulasi. Kecuali yang kehilangan nalar kritis tentunya. Hal ini membenarkan tesis Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981). Baurdrillard mengingatkan, masyarakat modern hidup dalam dunia simulasi, di mana citra lebih dominan daripada realitas. Ini relevan dengan fenomena kita saat ini, dimana gambaran kehancuran yang beredar di layar digital telah menjadi realitas emosional bagi publik, meskipun kebenaran faktualnya belum tentu terverifikasi.

Psikologi publik juga berubah ketika perang hadir secara terus-menerus di media digital. Penelitian dari Pew Research Center pada 2024 mengabarkan, paparan konten konflik yang intens dapat meningkatkan kecemasan publik dan memperkuat polarisasi politik. Algoritma mendorong media sosial memperbesar emosi pengguna, terutama kemarahan dan ketakutan, karena emosi tersebut meningkatkan interaksi digital.

Hannah Arendt dalam The Origins of Totalitarianism (1951) mengingatkan, propaganda yang terus-menerus dapat membentuk persepsi publik secara perlahan hingga masyarakat menerima konstruksi realitas tertentu sebagai kebenaran. Ini pula terjadi, dalam konflik global, publik merespons perang melalui emosi, simpati, kemarahan, atau kebencian. Akibatnya, tragedi kemanusiaan di balik perang dapat berubah menjadi konten visual yang dikonsumsi seperti berita hiburan. Sementara itu, realitas penderitaan manusia sudah tenggelam di balik banjir video ledakan, peta serangan militer, dan analisis geopolitik yang beredar setiap hari.

Apakah kita pernah dan mulai memperhitungkan dampak-dampak ini? Bagaimana semestinya kita bersikap bijak? Mereka yang memiliki pengetahuan lebih untuk ini, perlu memberi pencerahan kepada public, perihal verifikasi, konfirmasi, komparasi, terhadap informasi digital yang layak dikonsumsi. Prinsip tabayyun (Q.S. 49: 6) mesti terpasang di pikiran masing-masing. Tidak lena dengan propaganda dari konten-konten social media yang saban hari menyerang nalar kita.

Konflik geopolitik yang meledak pada bulan Ramadan ini adalah ironi spiritual. Menantang untuk menjadi refleksi yang jauh lebih dalam. Melalui ibadah puasah, perlu melakukan menambah ketekunan untuk refleksi, menaikkan level kesabaran, dan pengendalian diri agar informasi konflik di layar digital menjadi i’tibar. Kesadaran kritis terhadap informasi sangat mendesak agar masyarakat tidak terjebak dalam manipulasi narasi yang berkembang di ruang digital.

Perang, yang kita saksikan melalui layar digital seharusnya membawa pelajaran moral yang mendalam bagi masyarakat global. Teknologi informasi memang membantu mempercepat arus berita, tetapi kecepatan tersebut sering melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasi kebenaran. Thomas Mccarthy (1991) dalam The Theory of Communicative Action, mengungkapkan, diperlukan peningkatan rasionalitas komunikasi dalam ruang publik agar diskursus sosial tidak dikuasai propaganda yang memperburuk system berpikir kemanusiaan kita. Di sinilah letak literasi media digital dan literasi informasi harus terus didengungkan ke telinga public agar tidak terpapar, tidak ikut menyebar, sebelum menjalani prinsip verifikasi berita, kejujuran komunikasi, dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat.

Pada akhirnya, perang yang kita saksikan di layar digital tiada lain adalah peristiwa geopolitik yang menjadi cermin yang menguji kedewasaan moral manusia dalam menggunakan teknologi. Melalui ibadah puasa di bulan suci ini, kebisingan dunia digital itu menguji kekuatan dan ketahanan kejernihan hati, kejernihan akal, dan kejujuran dalam menyampaikan kebenaran. Begitulah, ihwal perang yang ada di layar digital kita. Selamat berpuasa. []

Dr Abdullah Khusairi adalah Dosen Islam dan Komunikasi pada Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang

Baca Juga

Transformasi Bang Dodo: Dari Meja Bankir jadi Pionir Edukasi Digital Sumatra Barat
Transformasi Bang Dodo: Dari Meja Bankir jadi Pionir Edukasi Digital Sumatra Barat
Penyuluh Agama, Menyapa Umat Lewat Dakwah Digital
Penyuluh Agama, Menyapa Umat Lewat Dakwah Digital
Tantangan Pengasuhan Anak di Era Digital: UNP Gelar Lokakarya Digital dan Mindful Parenting
Tantangan Pengasuhan Anak di Era Digital: UNP Gelar Lokakarya Digital dan Mindful Parenting
Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD) Nagari Lunang Selatan mengadakan pelatihan desain grafis dan affiliate marketing pada Sabtu (3/8/2024).
Nagari Lunang Selatan Genjot Skill Digital Warga dengan Pelatihan Desain Grafis dan Affiliate Marketing
Wajah Gelap Homo Digitalis
Wajah Gelap Homo Digitalis
Berita Mentawai - berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Jaringan Fiber Otik bawah laut di Kepualuan Mentawai mulai dikembangkan.
Nagari Pagadih dan Sitanang di Agam Segera Terdigitalisasi