ICDM 2026 UNAND: Kearifan Lokal Jadi Kekuatan Mitigasi Bencana

Langgam.id – Kearifan lokal dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat mitigasi hingga pemulihan bencana. Pengetahuan dan nilai yang diwariskan secara turun-temurun dinilai perlu diintegrasikan dengan teknologi serta sistem kebencanaan modern.

Hal itu menjadi salah satu fokus pembahasan dalam The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026 yang digelar Universitas Andalas (UNAND), Selasa (29/9/2026).

Konferensi internasional tersebut mempertemukan akademisi, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas penguatan manajemen bencana, termasuk penerapan kearifan lokal dalam mengurangi risiko bencana.

Bupati Padang Pariaman John Kenedy Aziz mengatakan, pentingnya kearifan lokal semakin terlihat dari pengalaman daerahnya menghadapi bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025 lalu.

Dari kejadian tersebut, kata dia, pemerintah melihat semangat gotong royong yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat menjadi salah satu kekuatan dalam proses pemulihan pascabencana.

“Belajar dari bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025 lalu, kami melihat semangat gotong royong masyarakat yang sudah ada secara turun-temurun memperkuat upaya pemulihan bencana,” katanya.

Menurutnya, modal sosial tersebut menjadi kekuatan yang perlu terus dijaga dan dikembangkan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.

Sementara itu, Bupati Agam Benni Warlis menilai struktur sosial dan kelembagaan masyarakat adat memiliki peran penting dalam mitigasi bencana di tingkat nagari.

Ia menyebut peran ninik mamak, bundo kanduang dan parik paga nagari sangat krusial dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

“Peran ninik mamak, bundo kanduang, parik paga nagari sangat krusial dalam mitigasi bencana. Ke depan, kami akan memperkuat peran masing-masing ini, sehingga mitigasi bencana bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Menurut Benni, pelibatan unsur-unsur tersebut memungkinkan pesan mengenai kesiapsiagaan dan mitigasi bencana lebih mudah diterima masyarakat karena disampaikan melalui struktur sosial yang telah dikenal dan memiliki peran di tengah masyarakat.

Asisten II Setda Provinsi Sumatera Barat Yozarwardi yang mewakili Gubernur Sumbar mengatakan, penanggulangan bencana tidak cukup hanya mengandalkan perkembangan teknologi.

Menurutnya, kekuatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan nilai dan pengetahuan lokal yang telah berkembang di tengah masyarakat.

“Manajemen kebencanaan juga memerlukan kekuatan nilai lokal agar potensi dampak buruk saat bencana melanda dapat diantisipasi,” katanya.

Yozarwardi menyebut Sumatera Barat memiliki kekayaan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu. Pengetahuan tersebut dapat menjadi salah satu modal dalam membangun sistem mitigasi yang lebih dekat dengan karakter masyarakat dan lingkungan setempat.

Ia berharap ICDM 2026 dapat menghasilkan masukan dan rekomendasi strategis yang dapat digunakan pemerintah dalam memperkuat kebijakan mitigasi bencana.

Sementara itu, Counsellor for Knowledge, Innovation and Knowledge Kedutaan Besar Australia, Paula Gerhardt, mengatakan ketangguhan menghadapi bencana merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, diperlukan kemitraan yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat dan organisasi kemanusiaan.

Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset kebencanaan. Pengetahuan dan bukti ilmiah yang dihasilkan perguruan tinggi, kata dia, harus dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Ketangguhan yang berkelanjutan idealnya dipimpin dan dimiliki oleh masyarakat setempat,” ujarnya.

Menurut Paula, teknologi maupun dukungan dari luar dapat membantu masyarakat menghadapi bencana. Namun, solusi yang diterapkan perlu mempertimbangkan pengetahuan dan kondisi lokal.

Prinsip tersebut juga menjadi bagian dari kerja sama Australia dan Indonesia melalui program kesiapsiagaan bencana SIAP SIAGA.

Sementara itu, Sestama BNPB Dr. Rustian mengatakan kearifan lokal menyimpan ingatan kolektif masyarakat sekaligus pengalaman empiris yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, menurutnya, pengetahuan lokal seharusnya tidak diposisikan sekadar sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana.

Rustian mendorong akademisi agar pengembangan riset dan teknologi kebencanaan diselaraskan dengan kearifan lokal. Dengan demikian, sistem kebencanaan nasional dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat pengurangan risiko bencana pada fase pra-bencana. Upaya tersebut dinilai penting karena bencana dapat terjadi berulang dengan karakter dan penyebab yang berbeda.

Salah satu upaya untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat, Rustian menyarankan pembangunan monumen sejarah fisik di lokasi yang pernah terdampak bencana.

Monumen tersebut dapat menjadi pengingat bahwa suatu wilayah pernah mengalami bencana dan memiliki potensi menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

Rektor UNAND Efa Yonedi mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mempertemukan pengetahuan akademik, inovasi, kebijakan dan praktik kebencanaan di lapangan.

Ia berharap ICDM 2026 menjadi ruang dialog lintas disiplin untuk memperkaya pengetahuan kebencanaan sekaligus menghasilkan rekomendasi berbasis sains bagi pemerintah.

“Kontribusi nyata UNAND diwujudkan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui Pendidikan Magister Manajemen Bencana, serta riset interdisipliner,” katanya.

Efa menambahkan, meski bencana dapat berulang, penyebab dan karakteristiknya tidak selalu sama. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat dan pengembangan pengetahuan kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Pengalaman Padang Pariaman dan Agam menunjukkan bahwa penerapan kearifan lokal dapat menjadi bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat. Gotong royong, peran tokoh adat serta struktur sosial nagari dapat berjalan berdampingan dengan teknologi dan pendekatan ilmiah dalam menghadapi risiko bencana. (HER)

Tag:

Baca Juga

UNAND Dampingi UMKM Emping Melinjo Lohong Perkuat Produksi dan Pemasaran
UNAND Dampingi UMKM Emping Melinjo Lohong Perkuat Produksi dan Pemasaran
Orasi di UNAND, Wakil Jaksa Agung Dorong Paradigma Baru Penegakan Hukum
Orasi di UNAND, Wakil Jaksa Agung Dorong Paradigma Baru Penegakan Hukum
Dies Natalis ke-75, FH UNAND Luncurkan 56 Buku Karya Dosen
Dies Natalis ke-75, FH UNAND Luncurkan 56 Buku Karya Dosen
20 Mahasiswa The University of Osaka Belajar Budaya Minangkabau di Sijunjung
20 Mahasiswa The University of Osaka Belajar Budaya Minangkabau di Sijunjung
KI Pusat Dorong UNAND Jadi Motor Keterbukaan Informasi di Era AI
KI Pusat Dorong UNAND Jadi Motor Keterbukaan Informasi di Era AI
Wisuda IV 2026: UNAND Luluskan 2.498 Wisudawan, Prosesi Digelar 3 Hari
Wisuda IV 2026: UNAND Luluskan 2.498 Wisudawan, Prosesi Digelar 3 Hari