Falsafah Alam Minangkabau dan Kehidupan Manusianya

Falsafah Alam Minangkabau dan Kehidupan Manusianya

Nur Azizah. (Foto: Dok. Pribadi)

Langgam.id - Minangkabau adalah sebuah kebudayaan atau suku yang ada di Sumatera Barat. Tidak hanya di Sumatera Barat, Minangkabau juga tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan dunia seperti di Eropa, Amerika, dan yang paling dekat yaitu Malaysia.

Di manapun mereka hidup orang Minangkabau tetap hidup dengan falsafahnya yaitu alam takambang jadi guru. Falsafah alam Minangkabau ini meletakkan manusia setara dengan manusia lainnya dilihat dari bagaimana mereka saling membutuhkan dalam kehidupan lahir, batin, dan kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu setiap orang dipandang dan diperlakukan sama  menurut kodratnya masing-masing.

Secara umum masyarakat Minangkabau memiliki karakter yang ramah dan penyegan dalam keseharian. Di samping itu sebagian besar orang Minangkabau menganut agama Islam. Dan ciri utama masyarakat Minangkabau adalah merantau.

Di samping itu  masyarakat Minangkabau beranggapan bahwa semua orang sama kedudukan dan nilainya, dilihat dari bagaimana mereka hidup masyarakat Minangkabau membutuhkan orang lain untuk saling memenuhi.

Sesuai dengan falsafahnya masyarakat Minangkabau mempunyai perbedaan secara fungsional. Hal ini tidaklah  menjadi penyebab penilaian terhadap setiap  orang berbeda. Semuanya memiliki perannya masing-masing yang sama-sama dibutuhkan. Setiap orang memiliki peran dan fungsi yang diberikan alam kepadanya, tetapi kadar nilai setiap orang tetaplah sama sesuai dengan kodrat dan harkat  yang telah diberikan alam kepadanya.

Manusia minangkabau hidup saling berdampingan dengan saling membantu dalam kehidupan dan menjalankan tugas dan fungsinya masingng-masing. 

Menurut harkatnya fungsi seseorang akan berbeda dengan orang lain , namun karena meraka adalah manusia yang hidup secara berkelompok dan saling berbaur maka nilai seseorang tidak akan  lebih dari orang lain.

Masyarakat Minangkabau hidup secara berkelompok. Mereka saling berbaur dengan identitas masing-masing yang terikat dalam suatu kebudayaan. Untuk menjaga keseimbangna dan keharmonisan, orang minangkabau menggunakan raso jo pareso.

Yaitu bagaimana agar saling menjaga agar tidak melukai hati orang lain. Menimbang-nimbang bagaimana kita bersikap dan berbicara kepada orang lain. Setiap sesuatu ditimbang dengan ukuran perasaan yang sama dan dengan pemeriksaan yang senilai. Olehkarena itu janganlah menyakiti orang lain dengan cara atau bentuk apapun, baik jiwa ataupun badannya, sebagaimana kita juga tidak ingin disakiti orang lain.

Sejatinya alam, setiap unsur memiliki peran dan sifat yang bebeda, dan saling berbaur dalam kedudukan yang sama. Masyarakat Minangkabau adalah suatu kesatuan yang utuh dengan berbagai keberagaman yang ada didalamnya.

Masyarakat yang saling berbeda kepentingan dan kemampuan dengan segala kebaikan dan keburukan yang ada didalamnya yang mampu menimbulkan berbagai kemungkinan. Tetapi tetap akan bersama tanpa saling melenyapkan satu dengan yang lain.

Masyarakat Minangkabau memiliki kehidupan yang dinamis. Mereka memelihara harga diri yang tinggi yang tidak terkalahkan dan tidak terendahkan agar tidak memalukan. Oleh karena itu mereka bersaing secara terus menerus dalam keharmonian. Mereka membentuk keluarga dalam perkawinan, dan tetap menjaga eksistensi pribadi dalam kaum nya masing-masing.

Laki-laki memiliki kekuatan dan kekuasaan , tetapi tidak memiliki hak atas harta dan keturunan. Mereka tinggal bersama dalam rumah gadang. Mereka mempunyai kebanggan kaum secara fanatik, tetapi mereka tidak membesarkan dirinya untuk menjatuhkan yang lain. Masyarakat Minangkabau hidup, berusaha, dan berjuang untuk menghadirkan dirinya sesuai dengan tingkatan masing-masing.

Dalam kehidupan bersama ini masyarakat Minangkabau hidup berkelompok baik dalam kehidupan social, ekonomi, politik, dan teritorial. Dalam kelompok hidup sosial, mereka menyusun hidupnya dalam kelompok yang kecil yang terdiri dari orang-orang yang bersaudara seruamah, kumpulan orang-orang serumah bersatu dengan saudara-saudaranya yang sedarah di rumah lain.

Orang-orang sedarah dari beberapa rumah bersatu dengan semua orang yang sedarah dengan mereka atau senenek moyang dengan mereka, yang mereka namakan kaum atau suku. Kesatuan yang lebih besar tidak menguasai kelompok yang lebih kecil. Fungsi kesatuan yang lebih besar lebih cenderung kepada sifat melindungi yang kecil.

Dalam kehidupan bersama yang menyeluruh, masyarakat minangkabau dituntut untuk saling menghargai sepemikiran menjaga keutuhan dalam kehidupan bersama, dengan hak dan kewajiban yang sama. Untuk itu dibutuhkan kesatuan yang utuh untuk mencapainya, yaitu dengan cara masyarakat minangkabu memilih pemimpin untuk ditaati secara bulat.

Pemimpin ini mempunyai hirarki yang tertinggi. Pemimpin dalam mengambil keputusan harus berdasarkan mufakat bersama. Mufakat mempunyai rukun yakni kebulatan pendapat mufakat melahirkan kata yang bulat.

Falsafah alam Minangkabau menafsirkan kehidupan sebagai dinamika yang mengandung pergeseran dan perubahan secara terus menerus. Oleh karena itu, setiap manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungan hidup yang sesamanya yang merupakan bagian dari alam. Penyesuaian yang serasi adalah menyesuaikan diri dengan keadaan yang lebih baik.

Salah satu pepatah minang mengatakan malawan dunia urang yang maksudnya menandingi kejayaan orang. Tidak sebaliknya, yaitu menyesuaikan diri dengan kehidupan yang lebih rendah.

Pepatah lain juga berbunyi nan gadang jan malendo, nan cadiak jan manjua yang dapat kita lihat bahwa ajaran minangkabau pada dasarnya mencegah adu kekuatan antara pihak-pihak yang berlomba dalam kehidupan untuk kejayaan, sebab yang kuat tidak diberi hak untuk menjatuhkan pihak yang lebih kecil.

Ketinggian dan kekuasaan seseorang atau suatu kelompok masyarakat yang bernama kaum atau suku, karena diambak dan dianjuang bersama-sama oleh sistem masyarakat yang komunal. Namun mereka juga memahami hukum yang sewaktu-waktu akan timbul persengketaan diantara mereka yang tidak dapat diselesaikan.

Dalam sikap mempertahankan atau memagar diri dan lingkungannya, dimulai dari yang terdekat. Sasaran dalam mempertahankan kehidupan lingkungan pada batas-batas tingkatannya yang bersifat aktif ialah melawan dunia urang, agar kadar kehidupan atau kedudukan seseorang sama dengan orang lain. Dan berjaga-jaga agar tidak menjadi lebih rendah dari orang lain.

*Penulis: Nur Azizah (Mahasiswa Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Baca Juga

Lebaran Sudah Berakhir, Apakah Kita Sudah Sepenuhnya Saling Memaafkan?
Lebaran Sudah Berakhir, Apakah Kita Sudah Sepenuhnya Saling Memaafkan?
Campur Tangan Humas dan Media Menunjang Perputaran Ekonomi dalam Masyarakat
Campur Tangan Humas dan Media Menunjang Perputaran Ekonomi dalam Masyarakat
Pelanggaran HAM oleh Penegak Hukum: Luka Perih yang Merusak Kepercayaan Publik
Pelanggaran HAM oleh Penegak Hukum: Luka Perih yang Merusak Kepercayaan Publik
Implementasi Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau Guna Melestarikan Budaya & Kearifan Lokal Sumatera Barat
Implementasi Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau Guna Melestarikan Budaya & Kearifan Lokal Sumatera Barat
Strategi Perusahaan dalam Memperkuat Kepercayaan Publik Lewat Kebijakan Ekonomi
Strategi Perusahaan dalam Memperkuat Kepercayaan Publik Lewat Kebijakan Ekonomi
Generasi Muda Harus Bijak Menghadapi Ancaman Flexing di Media Sosial
Generasi Muda Harus Bijak Menghadapi Ancaman Flexing di Media Sosial