Langgam.id – Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatra Barat (Sumbar) 2026 menghadapi persoalan kesiapan peserta. Dari 19 kabupaten/kota, baru sembilan daerah yang mendaftarkan diri hingga hari terakhir pendaftaran yang ditutup hari Jumat (25/9/2026).
Kondisi itu mendapat sorotan dari pengamat olahraga Sumbar sekaligus mantan Ketua KONI Sumbar, Syahrial Bakhtiar. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan kesiapan penganggaran di masing-masing daerah.
“Masalahnya seperti yang kita ketahui berasal dari penganggaran, dengan keputusan yang dimundurkan ke tanggal 4 Oktober harusnya diperkirakan dan itu juga berasal dari keputusan bupati/wali kota. Saat ini ada yang belum siap dan sementara ada beberapa daerah yang sudah siap, ini yang buat kita bingung,” ujarnya Sabtu (26/9/2024).
Ia mengatakan, kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan terhadap pelaksanaan Porprov, terutama bagi kabupaten/kota yang telah melakukan persiapan.
“Kalau diundur kita cukup kasihan dengan kabupaten/kota yang sudah bersiap dan yang belum karena penganggaran. Dengan persoalan ini, kita harus mengambil keputusan bersama yang terbaik bagaimananya,” katanya.
Mantan Ketua KONI Sumbar dua periode itu menilai, vakumnya pelaksanaan Porprov dalam beberapa tahun turut memengaruhi perhatian pemerintah daerah terhadap penganggaran olahraga.
“Olahraga menjadi salah satu asta cita dari Bapak Presiden, jika tidak dimulai penganggaran dari daerah bagaimana nanti atlet kita mau berlatih,” ucapnya.
Menurutnya, pembinaan olahraga membutuhkan kesinambungan dan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ia menyebut, kondisi tersebut berpotensi menyulitkan para ketua cabang olahraga dan penyelenggara yang kini berada dalam situasi ketidakpastian.
“Soal kemiskinan, soal sosial ada porsinya, namun olahraga juga harus ada. Ini mungkin juga efek dari Porprov yang vakum selama 8 tahun, jadinya yang repot ini nanti para ketua cabor dan penyelenggara di tengah ketidakpastian seperti sekarang. Saya rasa para kepala daerah adalah orang yang hebat, mudah-mudahan bisa menyelesaikan permasalahan ini,” tambahnya.
Ia juga menyoroti dampak kondisi tersebut terhadap atlet-atlet daerah yang membutuhkan kompetisi sebagai bagian dari proses pembinaan.
“Olahraga itu tidak bisa hanya dibangun sebulan-dua bulan bisa berhasil, sistem olahraga itu harus jalan, jika tidak ada kompetisi Porwil atau Porprov atlet di daerah akan tidur-tidur saja, latihan seadanya saja. Ada pegulat nasional dari Solok, silat kita nasional dari Pasaman, jika tidak ada kegiatan seperti ini kasihan bibit-bibit kita,” tuturnya.
Syahrial berharap persoalan yang muncul dalam persiapan Porprov Sumbar 2026 dapat menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya dalam memastikan keberlanjutan penganggaran dan pembinaan olahraga di kabupaten/kota.
“Siapa pun di Sumbar ingin olahraga berprestasi, kita terus menggaungkan hidup sehat, bebas narkoba dan sebagainya, namun untuk sarana kita terkendala dengan anggaran, nantinya yang akan memakai anggaran itu juga anak-anak muda kita,” tutupnya. (ICA)




