Curhat Penjual Buku di Pasar Raya Padang yang Masih Bertahan di Tengah Pandemi

Curhat Penjual Buku di Pasar Raya Padang yang Masih Bertahan di Tengah Pandemi

Hambali, penjual buku di Pasar Raya, Padang. (Foto: Irwanda)

Langgam.id – Pandemi covid-19 yang belum berkahir berdampak terhadap segala sektor, termasuk para penjual buku. Hal ini dirasakan para penjual buku di Padang Teater, Pasar Raya yang mencoba tetap bertahan dengan kondisi sekarang.

Maraknya penjualan buku secara online juga membuat sulit para pedagang. Jual beli buku masyarakat ke toko pun kini sangat menurun dratis.

“Jauh drop. Seperti ini, sebenarnya tidak pun, pengaruh covid-19 ini (berdampak) segala lini. Ini wajib kita akui. Ini kan memang besar pengaruhnya. Apapun perekonomiannya,” kata Hambali, salah seorang penjual buku di Padang Teater, Pasar Raya Padang kepada langgam.id, Kamis (24/6/2021).

Pria 53 tahun ini telah berjualan buku sejak 2007. Nama tokonya Attina Berkah. Berbagai macam buku mulai kebutuhan untuk pembelajaran SD hingga perguruan tinggi serta komik tersedia.

Hambali mengakui penurunan jual beli buku di toko menurun hingga 70 persen. Bahkan ayah lima anak ini tak menampik pernah merasakan tidak ada transaksi di tokonya dalam sehari.

“Itu sangat terasa sekali (dampak). Bisa dikatakan, istilah orang, kosong (jual beli) sehari itu. Benar-benar tidak ada pacah talua bahasa orang awak (Minang). Tidak ada penglaris kalau orang Jawa bilang,” keluhannya.

“Itu penjualan buku online itu memang besar pengaruhnya (ke kami). Karena sekarang orang dampak belajar di rumah, daring ini,” sambungnya.

Ia menyebutkan konsumennya biasanya para mahasiswa dan anak sekolah. Hanya saja kondisi saat ini tentunya banyak para mahasiswa yang pulang ke kampung halaman.

“Sekarang orang ini tinggal di kampungnya. Pergi ke Padang, ongkosnya berapa, iya kan? Perbandingan sekarang kota yang dekat saja. Misalnya Pariaman, Pariaman ke Padang Rp10 ribu, pulang pergi Rp20 ribu,” ujarnya.

“Sekarang dipesan online, sampai (buku) di rumahnya ongkos tidak sampai Rp20 ribu, Rp15 paling. Enak tunggu di rumah, waktu tidak habis. Risiko terpapar covid-19 pun tidak ada, orang (mempertimbangkan) safety. Persaingan paling berbahaya, itu,” tambahnya.

Hambali mengatakan, meskipun maraknya toko buku besar bermunculan namun penjual buku di Padang Teater tetap dicari. Sebab, tak semua buku yang dicari ada di toko buku besar.

“Kadang-kadang ada satu buku yang susah (dicari) tapi ada di sini. Karena tidak semua penerbit mau meletakkan buku-buku di toko buku besar. Sementara kami di sini wajib mengerti istilah apa permintaan pasar (konsumen),” jelasnya.

Hambali berharap kondisi pandemi dapat berkahir dan kehidupan kembali normal. Sehingga para pedagang kecil seperti dirinya kembali bangkit dari keterpurukan.

“Sekarang orang ramai itu tidak boleh, sementara pasar ini tempat orang ramai berkumpul. Memang, harapan tidak muluk-muluk. Sekarang istilahnya apapun jenis usaha, pikiran ingin bertahan,” tuturnya. (Irwanda/ABW)

Tag:

Baca Juga

Kondisi bentaran sungai di Lapau Manggu, Gunung Sariak, Padang Kamis (20/8/2026).
Arus Sungai Cepat Naik Saat Hujan, Warga Lapau Munggu Dibayangi Banjir Susulan
Warga menjemur padi yang dipanen dari sawah terdampak banjir Kota Padang
Cerita Petani Lapau Manggu, Panen Padi dari Sawah yang Terendam Banjir
Lokasi pembangunan hunian tetap untuk warga terdampak banjir Kota Padang.
Asa Penyitas Banjir Padang Menunggu Hunian yang Tak Kunjung Rampung
Udara Kabur di Padang, Begini Penjelasan BMKG
Udara Kabur di Padang, Begini Penjelasan BMKG
Kondisi tenda pengungsi warga terdampak banjir di Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang pada Minggu (9/8/2026)
Cerita Korban Banjir Padang yang Masih Memilih Tinggal di Tenda Pengungsian
Walikota Padang, Fadly Amran.
Pemko Padang Siapkan Opsi Relokasi bagi Warga Kuranji yang Tinggal di Area Rawan Banjir