Cerita Mantan Jemaah Diduga Jaringan NII di Dharmasraya, Ajarannya Sebut Pancasila Tagut

Berita Dharmasraya - berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Diduga kelompok Jaringan Teroris NII di Dharmasraya, sebut Pancasila Tagut.

Suparman, mantan jemaah yang diduga jaringan teroris NII di Dhrmasraya. (Foto: Rahmadi/Langgam.id)

Berita Dharmasraya - berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Diduga kelompok Jaringan Teroris NII di Dharmasraya, sebut Pancasila Tagut.

Langgam.id - Detasemen Khsusus (Densus) 88 Anti Teror telah menangkap 16 anggota jaringan teroris Negara Islam Indonesia (NII) di Sumatra Barat (Sumbar) beberapa waktu lalu. Kemudian, disebutkan ada sekitar 1.125 orang di Sumbar yang diduga masuk dalam jaringan tersebut.

Data polisi, seribuan orang yang diduga masuk dalam jaringan teroris itu tersebar di Tanah Datar dan Dharmasraya, salah satunya Suparman (52).

Menurut Suparman, ia memang sempat bergabung dengan salah satu kelompok pengajian sekitar tahun 2015. Kemudian, tahun 2016 ia memutuskan untuk keluar dari pengajian itu, karean merasa janggal dengan kajian yang disampaikan.

"Awalnya saya bergabung karena belajar tentang agama, kalau kita dibawa ke agama siapa yang tidak mau? Kalau dibawa merampok baru kita tidak mau," ujar Suparman saat ditemui di Nagari Empat Koto Pulau Punjung, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Rabu (27/4/2022).

Salah satu hal yang mendorong keluar dari pengajian, kata Suparman, karena isi kajian mulau meronron ke dasar negara, Pancasial.

Bahkan, lanjut Suparman, dalam kajian kelompok itu, Pancasila disebut Tagut, dan pengajian itu juga kerap mengkritik pemerintah dan Negara Kesatauan Republik Indonesia (NKRI).

Jadi, sebut Suparman, pengajian yang ia ikuti itu telah melenceng dari sebelumnya tentang tauhid dalam Islam. Bahkan, Suparman juga sempat membawa keluarganya untuk bergabung. Namun, menyatakan berhenti setelah pemikiran mereka menyerang Pancasila.

Meskipun telah keluar sejak lima tahun yang lalu dari pengajian, kata Suparman, namanya masih tercatat sebagai anggota. "Kalau saya punya jiwa patriot, saya asli Jawa, tidak bisa saya lepas itu, saya kalau soal berapa orang waktu itu tidak tahu karena saya belum sempat terlalu dalam," ungkapnya.

Diceritakan Suparman, awalnya ia ikut pengajian itu karena diajak seseorang bernama Arif. Di awal, ia mengaku diajarkan bagaimana inti ajaran Islam. Namun, lama-kelamaan, mereka mulai mengajarkan bahwa Pancasila Tagut.

Kemudian, cara berdakwah kelompok itu, lanjut Suparman, dilakukan secara door to door. Awalnya, diajarkan soal tauhid, sekitar satu tahun mulai mengajarkan terkait politik dan Pancasila Tagut.

Suparman mengaku juga tidak tahu siapa yang membawa ajaran itu ke Dharmasraya. "Awalnya kita duduk-duduk, lalu dia datang tanya-tanya bagaimana agama kamu? Kira kira kita mau dak? Mereka mengajarkan mendalami agama supaya taat ibadahnya, tau dengan hukum agama, cuman setelah satu tahun kok malah dibelokkan ke sini, masalah mengkritik pemerintahan malah yang ada," sebutnya.

Lalu, terkait tuduhan Mabes Polri bahwa kelompoknya bernama NII, Suparman mengaku tidak pernah mengetahui nama itu. Selama pengajian, ia tidak mendengar bahwa kelomponya bernama NII.

Selain itu, menurut Suparman, dalam kegiatan tersebut baru soal pikiran saja yang mengarah pada radikalisme dan belum sampai pada tindakan tertentu.

Cabut Baiat Mantan Anggota NII

Detasamen Khusus Antiteror  juga bakal mengelar cabut masal baiat mantan anggota NII dan sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Rabu (27/4/2022) sore. Acara diikuti oleh sekitar 300 lebih anggota yang dituduh NII.

Adanya kegiatan itu, Suparman mengaku senang dengan adanya kegiatan ini karena hal itu juga akan membersihkan nama baiknya. Sebab sebelumnya sejak keluar pada tahun 2016 dia tidak tahu mengadu kemana akan mengadu untuk membersihkan namanya.

"Saya sangat setuju dengan acara baiat kembali ke NKRI ini, dengan begitu nama saya bisa dibersihkan karena selama lima tahun saya tidak tahu mau mengadu kemana," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Mabes Polri menyebut, anggota jaringan teroris Negara Islam Indonesia atau NII dim Sumbar mencapai 1.125 orang.

Jaringan NII sudah berkembang masif di Indonesia. Di antaranya di Jakarta. Jawa Barat, Bali, Maluku dan Sumatra Barat,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Ahmad Ramadahan dalam konferensi pers Senin (11/4/2022).

Baca juga: Polisi Sebut NII Sumbar Gunakan Golok untuk Gulingkan Rezim, LKAAM: Mustahil

Khusus di Sumbar, kata Ramdhan, sesuai keterangan para tersangka yang telah berhasil diamankan, NII sudah berada pada tingkatan atau cabang. Anggota mencapai 1.125 anggota di Sumbar. 400 orang di antaranya merupakan personal aktif dan selebihnya non aktif, sudah dibaiat, namun belum aktif dalam kegiatan NII.

Dapatkan update berita Dharmasraya – berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram Langgam.id News Update, caranya klik https://t.me/langgamid, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga

Langgam.id-Terminal Anak Air
Terminal Tipe A Anak Air Bakal Dioptimalkan, Bus AKDP dan Angkot Wajib Masuk Terminal
Bulog Sumbar Siapkan 22 Ribu Ton Beras di Tengah Mahalnya Harga Pangan
Bulog Sumbar Siapkan 22 Ribu Ton Beras di Tengah Mahalnya Harga Pangan
Hujan Lebat Rusak Empat Titik Ruas Jalan di Simarasok Agam
Hujan Lebat Rusak Empat Titik Ruas Jalan di Simarasok Agam
Masa siaga darurat penanganan dampak erupsi Gunung Marapi di Kabupaten Agam diperpanjang hingga 25 Februari mendatang.
Siaga Darurat Gunung Marapi Diperpanjang Kembali
Muhammad Husni Sabil (28), yang menjadi korban TPPO di Myanmar akhirnya dapat dipulangkan ke tanah air. Sabil sendiri adalah warga Sijunjung,
Pemprov Sumbar Beri Pendampingan Psikologis dan Hukum pada Korban TPPO Asal Sumbar di Jakarta
Ilustrasi kekerasan seksual
Seorang Gadis Asal Sumbar Berhasil Lolos dari Perdagangan Manusia di Jakarta