Langgam.id - Prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 133/ Yudha Sakti membangun musala bersama masyarakat perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Batalyon yang berbasis di Kota Padang, Sumatra Barat ini memang ditugaskan sejak November 2019 tahun lalu ke perbatasan. Mereka bertugas sebagai satuan tugas (satgas) pengamanan perbatasan (pamtas) dengan Malaysia.
Para personel Pos Klawik Satgas Pamtas Yonif 133/YS membangun musala itu secara swadaya dengan masyarakat. Tepatnya di Dusun Ukit-Ukit, Desa Labiang, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Komandan Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 133/YS, Letkol Inf Hendra Cipta dalam keterangan tertulisnya mengatakan, kerja sama ini merupakan salah satu bukti kemanunggalan TNI–rakyat di wilayah perbatasan. Terwujudnya pembangunan musala yang diber nama Al Mujahidin itu, menurutnya, niat tulus dan ikhlas personel Pos Klawik SSK 1.
“Saat pertama kali datang, personel Pos Klawik langsung merencakan pembangunan musala. Niat ini karena rasa peduli personel Pos Klawik. Melihat belum ada satupun rumah ibadah untuk umat Islam di wilayah Desa Labiang Dusun Ukit-Ukit ” ujar Letkol Hendra, sebagaimana dirilis Penrem di situs resmi Korem 032 Wirabraja, Jumat (11/9/2020).
Baca Juga: TNI Buka Jalan Baru di Pesisir Selatan, Warga Antusias
Rencana pembangunan musala tidak serta merta langsung dikerjakan. Personel Pos Klawik terlebih dulu melakukan koordinasi dengan perangkat desa dan para tokoh masyarakat desa setempat.
Setelah mendapat restu dari Kepala Desa Labiang Dusun Ukit-Ukit, Danpos Klawik Sersan Satu Rediko Andeska Beserta anggota langsung mengambil tindakan untuk membangun musholla.
Tokoh masyarakat Dusun Ukit-Ukit merasa sangat bangga atas pembangunan musala ini karena nanti akan memudahkan bagi ummat Islam untuk menunaikan kewajibannya solat lima waktu.
Menurutnya, pembangunan musala berjalan bertahap, mulaisejak 10 Juni 2020 hingga saat ini. “Mudah-mudahan, akhir purna tugas Pos Klawik Satgas Pamtas Yonif 133/YS sebagai pasukan pengamanan perbatasan, maka musala ini sudah selesai 100 persen. Sehingga bisa jadi monumen atau kenang-kenangan untuk warga setempat,” ujar Hendra. (*/SS)