Langgam.id – Sepuluh bulan setelah banjir bandang menerjang kawasan Batu Busuk, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), kondisi Sungai Kuranji mulai pulih. Aliran sungai yang sempat bercabang akibat terjangan material banjir kini kembali menyatu. Akses jalan warga juga mulai terbuka, meski sebagian pekerjaan rehabilitasi masih berlangsung.
Namun, pulihnya kondisi sungai belum sepenuhnya mengembalikan kehidupan warga seperti sebelum bencana. Sejumlah penyintas masih tinggal di hunian sementara (huntara), sementara rumah, warung, dan lahan pertanian mereka rusak atau hilang diterjang banjir bandang pada November 2025.
Jafrial, 46 tahun, warga Batu Busuk, mengatakan banjir bandang November 2025 merupakan bencana terbesar yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Sebelumnya, sungai memang beberapa kali meluap, tetapi dampaknya tidak separah bencana terakhir.
“Kalau banjir bandang kemarin yang paling besar. Sebelumnya ada, tapi cuma kenaikan debit air sungai saja,” katanya saat ditemui di Batu Busuk, Rabu (14/10/2026).
Menurut Jafrial, banjir sebelumnya biasanya hanya membuat air menggenangi permukiman. Namun, banjir bandang pada November 2025 membawa material kayu dan batu berukuran besar yang menghantam rumah-rumah warga.
Rumah orang tuanya termasuk yang hancur akibat bencana tersebut. Hingga kini, keluarganya masih tinggal di huntara.
Jafrial masih mengingat kondisi sungai setelah banjir menerjang. Aliran yang sebelumnya berada dalam satu jalur berubah menjadi tiga cabang. Material kayu berukuran besar dan batu berserakan di sepanjang sungai, sementara sejumlah rumah warga rusak berat hingga hanyut.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Rumah banyak yang rusak, aliran sungai bercabang tiga, padahal awalnya satu aliran. Di sepanjang sungai kayu besar dan batu sudah berserakan. Tidak terbayangkan, sangat parah,” ujarnya.
Kini, kondisi sungai mulai berubah setelah dilakukan normalisasi. Di sejumlah titik, pembatas di tepi sungai telah dibangun menggunakan material alam, sementara aliran sungai yang sebelumnya bercabang kembali menyatu.
Berdasarkan pantauan lapangan, Rabu (14/10/2026), alat berat tidak lagi terlihat bekerja di sekitar lokasi. Aliran sungai juga telah kembali berada dalam satu ruas, dengan pembatas di tepi sungai mencapai sekitar empat meter dari dasar sungai.
Jafrial mengatakan, setelah bencana, alat berat mulai dikerahkan untuk menormalisasi sungai sekaligus membangun tanggul di sekitar permukiman. Pengerjaan tersebut dipercepat karena banjir kembali terjadi beberapa kali setelah bencana utama, sehingga jalan yang sebelumnya diperbaiki kembali rusak.
“Perubahannya jauh. Dulu aliran sungai ini tidak ada lagi pembatas dengan permukiman, alirannya juga banyak cabang. Sekarang sudah kembali normal. Agak amanlah sedikit,” tuturnya.
Ia memperkirakan pengerjaan di sekitar tempat tinggalnya mulai tidak terlihat lagi sejak awal Oktober 2026. Meski demikian, ia tidak mengetahui apakah pekerjaan di seluruh bagian sungai sudah selesai.
Banjir Kembali Datang, Warga Masih Trauma
Di tengah perubahan kondisi sungai, trauma bencana masih membayangi warga Batu Busuk. Juniarti, 48 tahun, salah seorang penyintas banjir bandang, kehilangan rumah dan warungnya akibat terjangan banjir November 2025. Sawah yang menjadi sumber penghidupannya juga tidak lagi bisa ditanami.
Kini, ia tinggal di huntara Kapalo Koto. Meski begitu, Juniarti masih sering kembali ke Batu Busuk untuk melihat kondisi rumah dan sawahnya, sekaligus mencoba memperbaiki apa yang masih bisa diselamatkan.
“Rumah saya habis, warung juga dibawa banjir. Sawah juga sudah tidak bisa ditanami,” katanya.
Bagi Juniarti, kembali ke Batu Busuk bukan sekadar keinginan untuk pulang. Kawasan itu merupakan tempat ia menggantungkan hidup sebelum bencana terjadi.
Karena itu, ia mulai mencoba berjualan kembali di sekitar lokasi warungnya yang hanyut. Usaha tersebut dijalankan secara sederhana untuk mendapatkan pemasukan bagi keluarga, termasuk memenuhi kebutuhan makan dan biaya pendidikan anak.
“Bagaimana lagi, sumber pemasukan banyak di sini dulu. Punya warung, banyak pembelinya, sudah biasa jualan. Makanya sekarang coba jualan lagi,” ujarnya.
Juniarti mengakui, kondisi sungai yang mulai membaik membuatnya sedikit lebih lega. Namun, rasa takut belum sepenuhnya hilang, terutama ketika hujan deras turun dan debit air sungai meningkat.
Ia mencontohkan banjir yang terjadi pada 8 Oktober 2026 di sejumlah wilayah Kota Padang. Saat itu, air sungai di Batu Busuk juga meningkat. Meski tidak sampai memasuki pemukiman, warga tetap bergegas menyelamatkan diri karena masih mengingat kejadian sebelumnya.
“Alhamdulillah, disini airnya juga besar, tapi karena sudah ada perbaikan sungai, airnya tidak sampai ke pemukiman warga. Namun, warga tetap lari menyelamatkan diri, masih trauma,” katanya.
Menurut Juniarti, kondisi sungai saat ini jauh lebih baik dibandingkan setelah banjir bandang November 2025. Meski demikian, ia berharap pekerjaan penanganan sungai dapat dilanjutkan agar kondisinya semakin baik.
“Kalau ada tanda-tanda banjir, saya tetap lari. Untuk sementara kondisinya jauh lebih baik, tapi masih trauma,” tuturnya.
Di tengah ketidakpastian pemulihan, Juniarti berharap suatu saat dapat kembali tinggal di Batu Busuk. Ia ingin kembali menjalankan usaha dan mengolah sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan keluarga.
“Sebenarnya ingin kembali tinggal di sini karena mata pencaharian di sini. Sembari menunggu pemulihan, ya buka usaha sesederhana mungkin dulu supaya ada pemasukan untuk makan dan biaya pendidikan anak. Sekarang apa adanya saja, yang penting bisa untuk makan, keluarga, dan halal,” ujarnya.
Normalisasi Sungai Dilanjutkan dengan Penanganan Permanen
Kepala Satuan Kerja Penyelenggaraan Jaringan Sumber Air Wilayah Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, Dr. Arlendenovega Satria Negara, mengatakan penanganan sungai pascabencana di Kota Padang telah dilakukan sejak fase tanggap darurat.
Penanganan tersebut meliputi normalisasi sungai utama, yakni Batang Kuranji dan Batang Air Dingin, beserta sejumlah anak sungainya.
Menurut dia, pekerjaan darurat dilakukan untuk memulihkan aliran sungai dan mengurangi dampak kerusakan setelah banjir bandang. Selanjutnya, penanganan beralih menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pekerjaan permanen di kawasan terdampak.
Khusus di Batu Busuk, banjir bandang November 2025 menyebabkan sedimentasi dan penyempitan sungai secara signifikan. Material yang terbawa banjir mengubah bentuk aliran dan mengurangi ruang sungai untuk menampung debit air.
“Untuk Batu Busuk, pada saat banjir November lalu sempat terjadi sedimentasi dan penyempitan sungai yang signifikan. Sungai telah dinormalisasi dan lebar sungai ditambah sehingga kapasitasnya kini memadai untuk mengalirkan air banjir,” kata Arlendenovega.
Ia menyebutkan, secara umum pekerjaan fisik penanganan sungai di Batu Busuk telah selesai. Tahap selanjutnya akan difokuskan pada rehabilitasi dan pembangunan cekdam di bagian hulu.
Pembangunan cekdam merupakan bagian dari upaya pengendalian sedimen agar material berupa batu, pasir, dan puing-puing dari kawasan hulu tidak langsung terbawa ke bagian hilir saat debit air meningkat.
Selain di Batang Kuranji, BWS Sumatera V juga merencanakan pembangunan satu cekdam di Batang Air Dingin.
Sementara itu, penanganan di kawasan Guo, yang merupakan bagian dari aliran anak sungai Batang Kuranji, telah beralih dari pekerjaan darurat menuju pembangunan permanen.
Arlendenovega mengatakan, aliran sungai yang terdampak akan dipetakan dan dinormalisasi agar kembali mengikuti kondisi alaminya. Pekerjaan permanen diperlukan untuk memperbaiki bagian yang sempat rusak selama penanganan darurat.
“Aliran sungai baru akan dipetakan, tetapi akan dinormalisasi dan dikembalikan secara alamiah sesuai aliran. Saat ini di Guo sudah beralih dari darurat ke tahap pembangunan permanen,” ujarnya.
Pemulihan Jalan Masih Berlangsung
Selain normalisasi sungai, rehabilitasi kawasan Batu Busuk juga mencakup perbaikan jalan yang sempat rusak berat dan terputus akibat banjir bandang.
Jafrial mengatakan, jalan tersebut merupakan penghubung warga Batu Busuk dengan jalan utama. Jalur itu juga menjadi akses penting bagi siswa yang bersekolah di SDN Bustanul Ulum dan SMPN 44 Padang.
Saat jalan rusak parah, warga sempat kesulitan bepergian menuju permukiman di seberang. Mereka bahkan harus melewati bukit untuk mencapai lokasi tertentu.
“Jalan ini penghubung warga Batu Busuk ke jalan utama. Di sini juga ada sekolah SD dan SMP, jadi lumayan vital untuk siswa karena yang sekolah di sana warga sini juga,” katanya.
Warga bersama personel TNI dan Polri sebelumnya sempat memperbaiki jalan secara swadaya agar dapat dilalui pejalan kaki. Namun, banjir yang kembali datang menyebabkan perbaikan tersebut rusak lagi.
Kini, akses jalan mulai pulih. Jalan menuju SDN Bustanul Ulum yang sebelumnya putus total sudah dapat dilewati kendaraan roda dua dan roda empat, meskipun permukaannya masih berupa timbunan pasir dan batu.
Pantauan di lapangan juga menunjukkan pekerjaan rehabilitasi jalan belum sepenuhnya selesai. Sejumlah material konstruksi masih berada di tepi jalan, truk pengangkut material masih beroperasi, dan pengerjaan drainase berlangsung di beberapa titik.
Perbaikan jalan ini diharapkan dapat memulihkan mobilitas masyarakat, mempermudah akses siswa menuju sekolah, serta mendukung aktivitas ekonomi warga yang mulai kembali berusaha.
Bagi penyintas seperti Juniarti, pulihnya sungai dan jalan menjadi harapan untuk kembali membangun kehidupan. Namun, di balik perubahan fisik kawasan, masih ada rumah yang harus dibangun kembali, sawah yang belum bisa digarap, serta keluarga yang menunggu kesempatan untuk pulang dari huntara.
Normalisasi Sungai Kuranji menjadi salah satu tahap penting pemulihan Batu Busuk. Pembangunan cekdam di bagian hulu dan penyelesaian rehabilitasi infrastruktur diharapkan dapat mendukung upaya mengurangi risiko bencana sekaligus membuka jalan bagi masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan mereka.






