Langgam.id – Banjir yang menerjang Perumahan Lumin Park, Lubuk Minturun, Kota Padang, pada Sabtu (10/10/2026), mengingatkan warga pada bencana serupa yang terjadi pada akhir 2025. Namun, ada perbedaan yang mereka rasakan dari dua kejadian tersebut, terutama material yang dibawa arus banjir.
Pada banjir akhir 2025, kawasan perumahan dipenuhi gelondongan kayu yang terbawa arus sungai. Sementara itu, banjir pada Oktober 2026 lebih banyak meninggalkan lumpur dan pasir yang mengendap di dalam rumah warga.
Seorang warga setempat Beni mengatakan, tanda-tanda banjir pada akhir 2025 mulai terlihat ketika gelondongan kayu dari Sungai Lubuk Minturun menghantam pagar perumahan. Saat itu, ia bersama keluarganya masih berada di rumah.
“Kami melihat kayu-kayu di sungai mulai menghantam pagar. Setelah itu, air masuk ke kawasan perumahan. Kami menyelamatkan diri ke lantai dua,” kata Beni kepada Langgam.id, Minggu (11/10/2026).
Beni mengingat, ketinggian air saat banjir akhir 2025 mencapai sekitar satu meter. Arus membawa banyak gelondongan kayu, tetapi lumpur yang masuk ke rumahnya tidak sebanyak pada banjir kali ini.
Banjir tersebut juga menyebabkan dua mobil miliknya terdampak. Toyota Innova terseret arus hingga tersangkut pada batang kayu, sedangkan Toyota Alphard terendam air. Kedua mobil itu akhirnya dijual tanpa diperbaiki.
“Kalau banjir yang dulu, banyak kayu yang terbawa. Kalau sekarang, lebih banyak lumpur dan pasir,” ujarnya.
Saat banjir kembali menerjang Lumin Park pada Sabtu (10/10/2026), Beni bersama keluarganya tidak berada di rumah. Ia mengetahui kejadian tersebut melalui informasi di grup percakapan dan unggahan media sosial.
Perbedaan material yang terbawa banjir juga dirasakan Yosi, warga yang membeli rumah di Lumin Park pada 2020. Ia mengatakan banjir pada akhir 2025 membawa banyak potongan kayu, sedangkan banjir pada 10 Oktober 2026 lebih banyak meninggalkan lumpur dan pasir di dalam rumah.
“Banjir pada 2025 membawa potongan kayu. Tapi air yang masuk ke dalam rumah tidak sedalam banjir yang kemarin. Kalau kini, lumpur dan pasir justru lebih banyak mengendap,” katanya.
Yosi masih mengingat jelas banjir pada akhir 2025. Saat itu, ia berada di rumah ketika air mulai memasuki kawasan perumahan. Kondisi semakin mengkhawatirkan hingga ia dan penghuni rumah lainnya harus menyelamatkan diri ke atas atap.
“Waktu banjir datang, kami masih berada di rumah. Air mulai masuk dan kami akhirnya menyelamatkan diri ke atas atap. Kejadiannya dari sore sampai malam,” kata Yosi.
Banjir tersebut membuat sejumlah barang di rumahnya, termasuk kasur, basah. Setelah kejadian itu, ia memperbaiki rumahnya, salah satunya dengan berencana meninggikan teras agar air tidak mudah masuk ketika banjir kembali terjadi.
Namun, upaya tersebut belum menghilangkan kekhawatirannya. Banjir kembali menerjang kawasan tempat tinggalnya pada Oktober 2026.
“Setelah diperbaiki dari banjir akhir tahun lalu, ternyata kembali terjadi banjir,” katanya.
Banjir yang berulang juga meninggalkan ketakutan bagi Yosi. Sejak kejadian pada akhir 2025, ia mengaku cemas setiap kali hujan turun, meski tidak deras. Kekhawatiran itu kembali muncul ketika banjir menerjang kawasan tempat tinggalnya pada Oktober ini.
Yosi mengatakan, saat membeli rumah pada 2020, ia tidak melihat bekas banjir dan tidak mengetahui kawasan tersebut rawan banjir. Kini, setelah banjir kembali terjadi, ia mulai memikirkan masa depan rumah yang dibelinya.
“Kalau dari awal tahu kawasan ini sering banjir, tentu saya akan berpikir lagi untuk membeli rumah di sini. Sekarang, siapa yang mau membeli rumah di kawasan yang sudah diketahui sering banjir,” ujarnya. (WAN)






