ANS Itu Anas Sutan Jamaris

ANS Itu Anas Sutan Jamaris

Haji Anas Sutan Jamaris (Foto: Dok. Zul Evi Astar)

ANS itu membuat saya punya "dendam". Tercatat 10 kali saya bolak-bolak dari kampung ke tanah Jawa selama kuliah, tak pernah sekalipun naik ANS. Sebagai mahasiswa miskin ketika itu, kelas termurah ANS yang jumbo Non AC pun tak terjangkau. Saya masih ingat rasanya ketika bus ekonomi formasi bangku 2-3 yang saya tumpangi bersebelahan di rumah makan dengan ANS SE atau AC 2-2. Teriris rasanya melihat penumpang-penumpang ANS yang tetap segar ketika turun bus untuk makan. Kontras sekali rasanya dengan saya yang sudah kucal, kumal dan pegal.

Ketika lulus lalu bekerja dan bergaji, yang pertama saya lakukan adalah pulang kampung dengan ANS. Langsung saya pesan ANS kelas Super Executive. Waktu itu sebenarnya harga tiketnya sudah tak terlalu jauh dengan pesawat low cost carrier. Tapi saya tak peduli. "Dendam" harus terbayar. Saya harus naik ANS.

ANS itu "sombong". Tak banyak bus berani menggunakan livery yang dominan putih dan biru. Gampang kotor. Apalagi untuk perjalanan jauh melebihi 24 jam. Ditambah kondisi jalanan yang tak bisa dikatakan mulus. Lumpur dan lubang hal yang jamak dirasakan. ANS tak peduli. Pelan-pelan otak kita dicuci. Dengan kombinasi warna ini, alam bawah sadar kita jadi percaya, ini mobil terawat dan tentu saja bersih. Betapa tidak, ketika hendak naik bus ini di terminal atau pool mereka, kita langsung disuguhkan pemandangan bus yang mengkilat dengan catnya yang putih bercampur biru. Padahal kita semua tahu seperti apa kondisi jalanan yang baru saja mereka lewati beberapa hari yang lalu.

"Kesombongan" ANS kedua adalah tidak adanya kelas ekonomi formasi bangku 2-3. Kalau tidak salah ini dimulai akhir 1980-an. ANS ambil posisi mereka bukan pembawa perantau pahit. Segmen mereka adalah orang yang sudah agak mapan. Belakangan saya tahu, ANS meninggalkan segmen konsumen ini karena ingin berbagi dengan PO Bus lain. Bukan hal sulit sebenarnya bagi ANS untuk tetap mengoperasikan kelas ini. Mereka punya reputasi. Punya jaringan. Dan tentu saja punya modal. Tapi ANS tahu diri. Tak semua harus disikat. Tak perlu rakus.

ANS itu "keras kepala". Hal jamak PO Bus berganti karoseri. Tapi itu tak ada dalam kamus ANS. Sekali Morodadi Prima, ya terus saja. Padahal bisa saja mereka pesan ke karoseri lain meminta harga semurah-murahnya. Pasti akan ada saja yang rela. Siapa yang tak tergoda kerja sama dengan perusahaan otobus yang pernah memiliki armada terbesar di Sumatra. Tapi ANS memilih tetap satu saja. Kesetiaan di atas segalanya. Kesetiaan atau loyalitas adalah hal yang langka saat ini. Dan loyalitas ini terbayar mahal, lihatlah tayangan-tayangan youtube yang menayangkan betapa bangganya Morodadi Prima menyelesaikan 10 bus baru pesanan ANS.

Baca Juga: Haji Anas Pemilik PO ANS di Mata Para Sopir: Baik dan Pemurah

Contoh lain "keras kepalanya" ANS adalah tetap mengarungi lintas Sumatra ketika pesawat tiket murah sedang jaya-jayanya. Tak peduli bisa untung besar atau kadang rugi. Yang penting penumpang tetap bisa diberangkatkan. Mereka yang masih setia dengan perjalanan darat harus terus dilayani. Kesetiaan bertemu kesetiaan lain. Dan ANS mengajarkan itu pada kita.

ANS itu kadang "lupa diri". Ketika krisis ekonomi 1998, ANS pernah memberikan tiket gratis kepada perantau-perantau yang benar-benar sedang kesusahan. Jelas kali ini ANS lupa kalau mereka adalah sebuah perusahaan yang berorientasi untung. Mereka bukan lembaga sosial. Mereka berhak mengambil upah atas jasa telah mengantarkan orang. Tapi entah apa di pikiran ANS ketika itu, memberikan pelayanan gratis. Walaupun dari banyak cerita, tak banyak yang mengambil kesempatan ini. Para perantau susah ini justru mencatatkan sebagai utang yang kelak harus dibayar. Cepat atau lambat. Terlihat, seperti apa perantau-perantau kita menghormati perusahaan otobus ini. Dalam keadaan susah pun, respek masih saja didapat.

ANS itu cerdik. Ketika kejayaan bus lintas sumatra naik lagi di era 2020-an, ANS merespon dengan baik. Memanfaatkan tol lintas sumatra yang sudah terhubung ke Palembang dari Bakauheni. ANS membeli bus baru. Mereka meremajakan livery atau tema dinding bus. Dengan tetap menjaga konsistensi perpaduan warna putih dan biru. ANS pun memanfaatkan kemajuan dunia digital, tiket mereka pun sudah bisa dibeli dari bermacam aplikasi. Manajemen sehari-hari pun sudah dikerjakan oleh generasi ketiga. Mereka yang sudah terbiasa dengan percepatan teknologi.

ANS itu Anas Sutan Jamaris. Seorang yang telah dikaruniai usia panjang. Melihat langsung jatuh bangunnya usaha yang ia bangun. Hingga kembali berjaya di hari ini. Seorang yang mengajarkan kepada kita tentang  kesetiaan, tahu batas, murah hati sekaligus beradaptasi dengan perkembangan jaman. Selamat jalan, Pak Anas. Bapak layak dalam surga-Nya. Di tanah Balingka juga Bapak ditanam.  Salam buat Syahrul Tarun Yusuf. (*)

Yoss Fitrayadi
Praktisi Digital Marketing

Baca Juga

Membangun Sijunjung: Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan
Membangun Sijunjung: Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan
Demi Kemajuan Sumatra Barat, Kita Lebih Butuh Pulang Kampung daripada Merantau
Demi Kemajuan Sumatra Barat, Kita Lebih Butuh Pulang Kampung daripada Merantau
Reformasi (Bagian I): Retrospeksi
Reformasi (Bagian I): Retrospeksi
Gosip Online
Gosip Online
Jokowi Sumbar, pengamat,
Dinamisnya Pencalonan Presiden
Peluang Perti dalam RPJPN 2025-2045
Peluang Perti dalam RPJPN 2025-2045