"Ancika 1995" Happy Ending Seorang Dilan

"Ancika 1995" Happy Ending Seorang Dilan

Rezki Rifai

Sebagai penikmat film, saya sangat menyukai film Indonesia. Film Indonesia yang sampai hari ini selalu saya tonton melalui platform streaming resmi adalah Dilan series. Ada secercah harapan saat menonton trilogi Dilan pertama berjudul Milea Suara Dari Dilan Extended yang saya tonton di platform Vidio, ternyata merupakan akhir kerjasama antara Max Pictures dan Pidi Baiq sebagai penulis novel. Harapan tersebut adalah saat pameo adegan terakhir Dilan menelpon Ancika.

Saya terlambat untuk menonton Dilan 1990 dikarenakan saat itu saya masih skeptis dengan film Indonesia yang cenderung bergenre horor dan mistis yang. Saya lebih suka film action ataupun yang berbau bencana. Sehingga saat itu saya menikmati Dilan 1990 sudah masuk ke studio kecil di XXI. Tetapi saat menonton ini pikiran saya melayang ke era dimana saya masih SMA. Banyak kemiripan dari adegan - adegan yang ditampilkan, seperti duduk di kantin, bolos sekolah, tawuran dan pacaran. Sehingga menonton film ini, saya seperti membuka memori lama dan itu membuat saya selalu tertawa di hampir setiap adegan selama film berlangsung.

Saat Dilan 1991 dan Milea, saya menonton saat film ini launching di bioskop. Walaupun jalan cerita film memang berjalan hampir mirip dengan kisah di novel yang saya baca tetapi ada beberapa hal yang untuk kepentingan produksi ditambah atau dikurangi sehingga tidak merubah esensi.

Akhirnya setelah menunggu 4 tahun, trilogi ini dilanjutkan dengan Ancika Dia Yang Bersamaku 1995. Perubahan terjadi hampir 100% dari segi produksi dan pemain. MD Pictures tampil sebagai rumah produksi menggantikan Max Pictures. Sutradara pun berpindah tangan dari Fajar Bustomi ke Benni Setiawan. Tidak hanya sampai disana, karakter Dilan yang selama ini melekat di diri Iqbaal Ramadhan digantikan oleh bintang yang selama ini dikenal dengan perannya di series dan film Roman Picisan Arbani Yasiz. Sementara yang menjadi Ancika ternyata juga berganti dari Steffi Zamora ke Zee JKT48. Dengan demikian sosok yang bertahan dari Dilan 1990 hingga Ancika sepertinya hanya Bunda Dilan yang diperankan oleh Ira Wibowo.

Tidak seperti triloginya, Ancika ini dibawakan dengan ringan seperti tanpa beban untuk bersaing dengan film sebelumnya. Sebagai pemeran Dilan yang baru, Arbani memernakan Dilan dengan baik. Perubahan dari seorang anak SMA yang berandalan berangsur menjadi anak kuliah ITB yang lebih kalem. Yang menyamakan antara Iqbaal dan Arbani adalah celetukan dan kharismanya yang masih tetap muncul. Hal - hal kecil perihal keusilan dan cara Dilan mendekati Ancika masih seperti saat mendekati Milea walaupun dalam kadar yang lebih sedikit.

Sama seperti Milea yang ingin menguasai Dilan sepenuhnya, disini Ancika lebih bisa menerima pergaulan dan sifat Dilan serta masa lalunya bersama Milea. Ancika sebagai anak SMA kelas 3 yang akan bersiap untuk mengikuti UMPTN tahun 1995. Sebagai anak SMA tahun 1994 hingga 1997 saya merasakan kesibukan yang sama dengan Ancika seperti les untuk persiapan UMPTN dan juga adegan saat Ancika membolak balik koran untuk melihat namanya lulus UMPTN di Unpad.

Kisah yang ringan sebagai seorang anak SMA yang cantik dan tomboy serta ketus sangat pas diperankan oleh Zee JKT48. Bunga yang mekar di SMA Bandung ini seperti Milea yang diperankan Vanesha Precilia di trilogi yang karakternya memang dibuat sangat berkuasa terhadap Dilan, Ancika di film ini lebih bisa menerima Dilan apa adanya dengan segala latar belakang dan sifat konyolnya.

Jalan cerita yang ringan ini membuat saya bisa menikmati sembari tersenyum selama film berdurasi 1 jam 40 menit ini diputar. Ancika dan Dilan versi MD Pictures ini boleh dibilang sangat bisa keluar dari bayang - bayang pemeran Dilan dalam trilogi sebelumnya. Pemakaian beberapa bahasa sunda sebagai tempat film ini berlatar memang sudah pas pada tempatnya.

Mungkin yang agak aneh adalah terlalu cepatnya lompatan dari tahun 1995 ke 1998 dimana berlangsung di 15 menit terakhir. Ditampilkan juga adegan saat Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden dan disaat itu pula ternyata Dilan dan Ancika sudah berumah tangga walaupun tidak divisualkan dimana mereka menikah. Pertemuan dengan Milea yang kali ini diperankan oleh Caitlin Halderman di sebuah toko buku sepertinya hanya dijadikan sebagai adegan penutup bahwa Dilan dan Milea sudah move on dengan pasangan masing - masing.

1 jam 40 menit pun terasa sebentar, saya menunggu sampai benar - benar habis dengan harapan akan muncul pameo untuk kisah selanjutnya dan ternyata tidak ada. Ah sudahlah kalau begitu, biarkan Dilan dan Ancika bahagia demikian juga Milea dengan pasangannya. Tinggal bagi penikmat film yang belum sempat menonton segeralah menonton untuk berpartisipasi menyemarakan industri film Indonesia.

Sebagai penutup, menurut sahabat saya Muhammad Hafiz kreator Piala Maya serta anggota tim penjurian FFI 2023, Dilan 1990 ditonton oleh 6.315.664 penonton, Dilan 1991 ditonton 5.253.411 penonton dan Milea ditonton 3.122.263. Sementara untuk Ancika 1995 hingga hari ke 4 pemutarannya telah ditonton oleh 550.177 penonton. Jumlah yang signifikan tentunya untuk sebuah film dengan perubahan yang hampir 100 %. Sungguh luar biasa.

*Penulis: Rezki Rifai (Penikmat Film Indonesia)

Tag:

Baca Juga

TPA Aie Dingin Kota Padang: Salah Langkah, Bencana Menanti
TPA Aie Dingin Kota Padang: Salah Langkah, Bencana Menanti
Analisis BI7DRR: BI Diperkirakan Tetap Menahan Suku Bunga Acuan di Level 6 Persen
Analisis BI7DRR: BI Diperkirakan Tetap Menahan Suku Bunga Acuan di Level 6 Persen
Langgam.id - Salah satu tema percakapan publik yang paling hangat belakangan ini adalah tentang perayaan Halloween di Saudi Arabia.
Bahasa Minang dalam Tafsir Ulang Keminangkabauan
Nofel Nofiadri
Tafsir Ulang Keminangkabauan
Miko Kamal
Firli dan Salah Presiden
Kolom Adel Wahidi.
Ihwal Pemberhentian Perangkat Nagari