Langgam.id – Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Kota Padang, Jumat (9/10/2026), di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap, menuai sejumlah catatan dari wali murid dan siswa. Salah satu persoalan yang disorot adalah proses pembelajaran yang dinilai belum berjalan maksimal.
Sejumlah tugas yang diberikan tanpa penjelasan materi secara rinci membuat siswa kesulitan memahami pelajaran. Kondisi ini juga memicu kejenuhan, terutama ketika tugas yang harus dikerjakan cukup banyak.
Luli Afriani (42), seorang wali murid mengatakan anaknya mengalami kesulitan memahami tugas yang diberikan guru selama PJJ. Menurutnya, penjelasan materi yang terbatas membuat anak kebingungan saat mengerjakan tugas.
“Tugas karena tidak dijelaskan oleh guru, anak-anak jadi merasa bingung. Ditambah jumlah tugas yang banyak membuat anak-anak juga jenuh,” katanya.
Luli menilai pembelajaran tatap muka tetap menjadi pilihan yang diharapkan karena siswa dapat berinteraksi langsung dengan guru. Ia berpendapat, kegiatan belajar di sekolah bisa disertai penerapan protokol kesehatan, termasuk kewajiban memakai masker.
“Pembatasan kegiatan di luar ruangan ditiadakan dan saat beraktivitas di sekolah wajib memakai masker. Dengan belajar di sekolah, anak-anak lebih bisa fokus untuk belajar di bawah bimbingan langsung guru di kelas,” ujarnya.
Meski demikian, Luli tidak mengabaikan risiko kabut asap terhadap kesehatan anak. Ia memahami kondisi kualitas udara menjadi salah satu pertimbangan penerapan PJJ. Karena itu, ia berharap kondisi udara di Kota Padang segera membaik agar aktivitas belajar di sekolah dapat kembali berlangsung seperti biasa.
“Apalagi Kota Padang masih sering hujan. Kita berharap kabut asap ini segera hilang sehingga anak-anak dapat belajar formal di sekolah seperti biasa,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Mazaya Delisha (14), seorang siswi SMP di Kota Padang. Ia mengaku pembelajaran dari rumah membuatnya kesulitan memahami sejumlah materi yang belum dijelaskan secara langsung oleh guru.
Menurut Mazaya, tugas yang diberikan terkadang berkaitan dengan materi yang belum dipelajari secara menyeluruh di kelas. Akibatnya, ia harus berusaha memahami sendiri materi tersebut tanpa bisa langsung bertanya kepada guru.
“Tugas cukup banyak dan terkadang ada beberapa tugas yang belum dijelaskan materinya oleh guru. Bagaimanapun lebih seru belajar tatap muka sehingga apa yang belum dijelaskan bisa ditanyakan langsung ke guru dan saya lebih mengerti,” katanya.
Selain lebih mudah memahami pelajaran, Mazaya mengaku belajar di sekolah memberinya kesempatan untuk berinteraksi dan belajar bersama teman-teman. Suasana tersebut menjadi salah satu hal yang dirindukannya selama mengikuti PJJ.
“Mudah-mudahan kabut asap ini segera pergi. Kami ingin bersekolah, bertemu guru dan teman-teman,” tuturnya. (WAN)





