Langgam.id – Tujuh kabupaten dan kota di Sumatra Barat (Sumbar) memiliki ancaman tinggi terhadap bencana tsunami, terutama yang berkaitan dengan potensi gempa megathrust Mentawai.
Mengantisipasi ancaman tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumbar dengan bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memasang 51 titik sirine early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini tsunami.
Sirine tersebut tersebar di tujuh kabupaten dan kota yang memiliki garis pantai dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Dari seluruh daerah tersebut, Kota Padang memiliki jumlah sirine EWS terbanyak, yakni 33 unit.
Sementara itu, Kepulauan Mentawai menjadi satu-satunya daerah pesisir yang belum memiliki sirine EWS tsunami.
Adapun lima daerah lainnya yang telah memiliki sirine EWS, yakni Kota Pariaman sebanyak empat unit, Kabupaten Padang Pariaman dua unit, Pesisir Selatan lima unit, Agam tiga unit, dan Pasaman Barat empat unit.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumbar, Rezky Hidayat mengatakan, seluruh sirine tersebut rutin dilakukan pengecekan dan uji coba setiap pukul 10.00 WIB pada tanggal 26 setiap bulannya.
“Uji coba atau cek sirine ini penting dilakukan, agar diketahui sirinenya aktif atau tidak, suaranya keras atau tidak. Kalau tidak aktif, kita bisa segera perbaiki,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, pengecekan secara berkala diperlukan untuk memastikan sistem peringatan dini tersebut dapat berfungsi ketika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami.
Berdasarkan hasil pengecekan pada Rabu (26/8/2026), dari 51 unit sirine EWS yang terpasang di Sumbar, sebanyak 49 unit dinyatakan aktif dan mengeluarkan suara dengan jelas.
“Sementara dua unit lainnya diketahui tidak aktif. BPBD Sumbar akan segera melakukan perbaikan terhadap kedua sirine tersebut agar seluruh perangkat peringatan dini dapat kembali berfungsi,” ujarnya. (ICA)






