Ahli Geologi: Gempa Tak Bisa Dicegah, Bangunan Aman Jadi Kunci Kurangi Korban

Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Goncangan gempa di Pasaman Barat bisa memberikan pengaruh terhadap patahan lain.

Ilustrasi gempa. [foto: canva.com]

Langgam.id – Ahli Geologi dan Vulkanologi Sumatra Barat (Sumbar) Ade Edward, mengingatkan masyarakat bahwa gempa bumi merupakan ancaman yang tidak dapat dihindari. Apalagi, Pulau Sumatra berada di kawasan tektonik aktif dan jalur ring of fire.

Kata Ade, aktivitas gempa di Sumatra dipengaruhi oleh keberadaan patahan aktif di daratan maupun zona tektonik di Samudra Hindia. Kondisi itu membuat gempa bumi, mulai dengan kekuatan kecil maupun besar, menjadi sesuatu yang harus selalu diantisipasi.

“Apalagi Sumbar merupakan daerah yang memiliki patahan aktif, baik di daratan maupun di Samudra Hindia. Karena berada di kawasan ring of fire, gempa akan selalu menjadi ancaman yang harus kita hadapi, baik gempa kecil maupun besar,” ujarnya kepada Langgam.id, Rabu (19/8/2026).

Ade mengungkapkan gempa bumi tidak dapat dicegah. Karena itu, upaya yang paling penting adalah mengurangi risiko melalui mitigasi, terutama dengan meningkatkan pemahaman masyarakat dan memastikan bangunan memiliki konstruksi yang aman.

“Gempa tidak bisa dicegah, maka yang perlu dilakukan adalah memperkuat masyarakat melalui edukasi agar mereka mampu merespons gempa dengan benar, sekaligus memperkuat bangunan,” tegasnya.

Menurut Ade, bangunan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan besarnya dampak gempa terhadap masyarakat. Bangunan yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa berpotensi runtuh dan menyebabkan korban jiwa maupun luka-luka.

“Yang mencederai dan membunuh itu bukan gempanya, tetapi bangunan-bangunan yang tidak aman. Kalau bangunannya aman dan tidak runtuh, otomatis risiko korban bisa dikurangi,” tuturnya.

Ia menjelaskan upaya memperkuat bangunan telah dilakukan pemerintah sejak gempa 2007, dan semakin digencarkan setelah gempa besar yang melanda Sumbar pada 2009.

Gempa 2009, lanjut Ade, menjadi pelajaran penting karena banyak bangunan mengalami kerusakan, mulai dari gedung pemerintahan, perkantoran swasta hingga rumah dan bangunan milik masyarakat.

“Sejak pascagempa 2007, pemerintah sudah gencar mendorong agar bangunan dibangun dengan lebih baik dan lebih kuat. Apalagi setelah gempa 2009, banyak bangunan pemerintah, swasta, kantor maupun rumah masyarakat yang hancur,” ungkapnya.

Lanjutnya, pembangunan sejumlah gedung pascagempa 2009 di Kota Padang telah mempertimbangkan aspek ketahanan terhadap gempa. Bahkan, beberapa bangunan dirancang tidak hanya untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi apabila terjadi tsunami.

“Bangunan-bangunan perkantoran pemerintahan maupun swasta di Kota Padang yang dibangun setelah gempa 2009 sudah dibuat lebih kuat. Sebagian juga dibangun lebih tinggi sehingga dapat menjadi shelter untuk menghadapi kemungkinan tsunami,” ujarnya.

Selanjutnya, Ade menambahkan, ancaman tsunami perlu menjadi perhatian karena gempa kuat yang bersumber dari zona megathrust di Samudra Hindia berpotensi memicu tsunami.

Karena itu, mitigasi tidak hanya dilakukan melalui penguatan bangunan. Pemerintah juga telah membangun jalur evakuasi dan berbagai sistem pendukung untuk mempercepat penyelamatan masyarakat apabila gempa diikuti tsunami.

“Selain bangunan, juga dibangun jalan-jalan evakuasi dan sistem lainnya untuk menghadapi kemungkinan gempa yang bisa saja diikuti tsunami,” katanya.

Ia berharap berbagai upaya mitigasi yang telah dilakukan dapat terus diperkuat sehingga dampak gempa terhadap masyarakat Sumbar dapat ditekan.

“Bangunan perkantoran pemerintah, swasta maupun rumah masyarakat perlu terus diperkuat. Mudah-mudahan berbagai upaya tersebut bisa menurunkan risiko bencana,” pungkasnya. (WAN)

Baca Juga

Ahli Geologi Sumatra Barat (Sumbar), Ade Edward meminta masyarakat untuk selalu memantau perkembangan dari gempa terkait dengan evakuasi
2 Gempa Berdekatan Guncang Sumut hingga terasa di Sumbar, Ini Kata Pakar
Sumbar Diguncang 2 Gempa dalam 3 Hari, Pengamat: Peta Risiko Harus Jadi Kebijakan
Sumbar Diguncang 2 Gempa dalam 3 Hari, Pengamat: Peta Risiko Harus Jadi Kebijakan
Ahli Geologi Sumatra Barat (Sumbar), Ade Edward meminta masyarakat untuk selalu memantau perkembangan dari gempa terkait dengan evakuasi
Penjelasan BMKG Soal Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Nias Selatan hingga Dirasakan di Padang
Gempang bumi berkekuatan magnitudo 4,9 mengguncang Kabupaten Agam, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis (12/12/2024) pukul 13.36 WIB.
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Nias Selatan, Terasa hingga Padang
BMKG mencatat terdapat sebanyak 13 kali gempa bumi terjadi di Sumatra Barat (Sumbar) dan sekitarnya selama periode 23-29 Mei 2025.
Gempa Sumut Magnitudo 6,4 SR Dirasakan Cukup Kuat di Sumbar
Seabad Gempa Padang Panjang, Sekolah Pascasarjana Unand Ajak Publik Perkuat Kesiapsiagaan Bencana
Seabad Gempa Padang Panjang, Sekolah Pascasarjana Unand Ajak Publik Perkuat Kesiapsiagaan Bencana