Langgam.id — Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat, Hamdanus, menilai olahraga barongsai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu cabang olahraga yang menyumbangkan medali bagi Sumbar pada Pekan Olahraga Nasional (PON) NTT-NTB 2028.
Optimisme tersebut disampaikan Hamdanus saat menghadiri penutupan Wai Mou International Lion Dance Championship 2026 di GOR HTT Padang, Senin (17/8/2026) malam. Dalam kesempatan itu, Hamdanus juga mengalungkan medali kepada peraih juara pertama kategori tradisional.
Menurut Hamdanus, perkembangan prestasi barongsai di Sumatera Barat menunjukkan tren positif. Terlebih, kejuaraan internasional yang digelar di Padang tersebut mempertemukan atlet-atlet dari berbagai negara sehingga memberikan pengalaman berharga bagi atlet daerah untuk mengukur kemampuan di level internasional.
“Barongsai turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan prestasi olahraga Sumatera Barat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Hamdanus.
Ia mengatakan, kehadiran peserta dari delapan negara dalam Wai Mou International Lion Dance Championship 2026 membuktikan bahwa barongsai telah berkembang menjadi olahraga prestasi dengan persaingan yang semakin kompetitif.
Karena itu, KONI Sumbar mendorong agar pembinaan atlet barongsai dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pembinaan dan persiapan yang matang, Hamdanus optimistis atlet barongsai Sumbar dapat bersaing di tingkat nasional dan memberikan kontribusi medali pada PON 2028.
“Harapan kita prestasi ini terus berkembang dan barongsai mampu menjadi salah satu cabang olahraga yang menyumbangkan medali bagi Sumatera Barat pada PON NTT-NTB 2028,” katanya.
Wai Mou International Lion Dance Championship 2026 sendiri berlangsung pada 15–17 Agustus 2026 di GOR HTT Padang. Kejuaraan yang memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Barat itu menjadi salah satu agenda utama Festival Kota Tua Padang 2026 dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebanyak delapan negara ambil bagian, yakni Indonesia, Vietnam, Australia, Hong Kong, Malaysia, Amerika Serikat, China, dan Prancis. Sekitar 200 atlet yang tergabung dalam kurang lebih 15 sasana atau dojo bersaing pada dua kategori, yakni tradisional dan high pole.
Pada kategori tradisional, Indonesia Fudetang Dragon and Lion Dance Troupe (Team A) keluar sebagai juara pertama dengan nilai 9,26. Posisi kedua ditempati Xuan Long Dragon and Lion Dance Rawang Selangor dengan nilai 9,22, sedangkan Indonesia Fudetang Dragon and Lion Dance Troupe (Team B) berada di posisi ketiga dengan nilai 9,14.
Sementara pada kategori high pole, Persatuan Sukan China Sungai Besi menjadi juara pertama dengan nilai 9,37. Posisi kedua diraih Xuan Long Dragon and Lion Dance Rawang Selangor (Red Team) dengan nilai 9,30, sedangkan Indonesia Fudetang Dragon and Lion Dance Troupe menempati posisi ketiga dengan nilai 9,10.
Hamdanus menilai kompetisi internasional seperti ini penting untuk meningkatkan kualitas atlet sekaligus memperluas pengalaman bertanding. Menurutnya, semakin sering atlet daerah berhadapan dengan peserta dari luar negeri, semakin terbuka pula peluang mereka meningkatkan kemampuan dan mental bertanding.
“Ini menjadi momentum penting untuk mendorong perkembangan olahraga barongsai di Sumatera Barat. Kita berharap semakin banyak atlet daerah yang mampu menembus persaingan nasional maupun internasional,” ujarnya.
Ketua Panitia Pelaksana Wai Mou International Lion Dance Championship 2026, Iswanto Kwara, mengatakan keberhasilan menghadirkan peserta dari berbagai negara menjadi modal untuk meningkatkan skala penyelenggaraan pada tahun-tahun mendatang.
Ia menargetkan Kota Padang kembali dipercaya menggelar kejuaraan barongsai dengan skala yang lebih besar, bahkan bertaraf dunia.
“Setelah ini kita akan persiapkan untuk event dunia. Tentunya ini membutuhkan persiapan yang lebih matang, baik dari sisi peserta, penyelenggaraan maupun sarana pendukung,” ujar Iswanto.
Sementara itu, Albert Hendra Lukman, Chiko HTT sekaligus penggagas pendanaan kegiatan tersebut, mengatakan kejuaraan internasional barongsai sengaja dihadirkan sebagai terobosan dalam Festival Kota Tua Padang.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendatangkan wisatawan dan memperkuat daya tarik kawasan Kota Tua Padang.
“Kalau bicara pariwisata itu jelas wisatawan yang datang. Sehingga kita melakukan terobosan dengan mengadakan kejuaraan internasional barongsai,” ujarnya.
Festival Kota Tua Padang 2026 berlangsung 14–23 Agustus 2026 di kawasan Kota Tua Padang, Batang Arau. Kegiatan yang diselenggarakan HTT Padang bersama Dinas Pariwisata Sumatera Barat tersebut mengusung tema “Urang Padang Jalan Barampek”.
Albert berharap festival tersebut terus berkembang setiap tahun dan dapat menjadi bagian penting dari kalender pariwisata nasional melalui program Kharisma Event Nusantara. Ke depan, pihaknya juga menargetkan Kota Padang mampu menjadi tuan rumah kejuaraan dunia barongsai. (HER)






