Langit Sumbar Berkabut, DLH Pastikan Kualitas Udara Masih Kategori Sedang

Langgam.id – Kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi kualitas udara di Sumatra Barat (Sumbar) dalam beberapa hari terakhir mendapat penjelasan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatra Barat (Sumbar).

DLH Sumbar memastikan kualitas udara di wilayah Sumbar selama periode 1 hingga 13 Agustus 2026 masih berada dalam kategori Sedang berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Kepala DLH Sumbar, Tasliatul Fuaddi mengatakan hasil pemantauan menunjukkan nilai ISPU berada pada rentang 86-88. Angka tersebut masih berada di bawah ambang kategori tidak sehat.

“Terkait dengan kondisi kualitas udara di Sumbar, hasil pemantauan kami masih dalam kategori sedang. Apalagi kemarin juga sempat hujan di sebagian daerah, mudah-mudahan ini makin membuat kualitas udara kita semakin baik,” ujar Tasliatul, Sabtu (15/8/2026).

Berdasarkan klasifikasi ISPU, nilai 0–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 masuk kategori berbahaya. Dalam hasil pemantauan tersebut, parameter O₃ atau ozon permukaan menjadi parameter dengan nilai indeks tertinggi sekaligus dominan terhadap kondisi ISPU.

Tasliatul menjelaskan, kondisi ozon yang relatif stabil tetap perlu diperhatikan. Pembentukan ozon di atmosfer dapat berkaitan dengan reaksi fotokimia yang melibatkan prekursor seperti oksida nitrogen dan senyawa organik volatil, serta dipengaruhi kondisi meteorologi dan intensitas radiasi matahari.

“Sementara itu, parameter sulfur dioksida juga terpantau relatif stabil. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kontribusi parameter gas pencemar terhadap kualitas udara,” ujarnya.

Namun kata Tasliatul, DLH Sumbar belum dapat menyimpulkan sumber spesifik pencemaran hanya berdasarkan data tersebut.

“Penentuan sumber pencemar membutuhkan informasi tambahan, seperti aktivitas sumber emisi, kondisi meteorologi, arah dan kecepatan angin, serta karakteristik wilayah di sekitar stasiun pemantauan,” katanya.

Di sisi lain, kondisi musim kering dan potensi El Nino turut menjadi perhatian pemerintah. Periode Juni hingga Oktober diperkirakan menjadi rentang berlangsungnya El Nino, dengan puncak pada Juli hingga September.

Tasliatul menyebut sejumlah wilayah di Sumatera juga terpantau memiliki titik panas sepanjang 1–13 Agustus 2026. Jambi tercatat 794 titik, Riau 927 titik, Bengkulu 129 titik, Sumatera Utara 289 titik, dan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 2.838 titik. Sementara di Sumbar, terdapat 322 titik panas yang tersebar di sejumlah daerah.

“Kondisi tersebut membuat DLH Sumbar mengingatkan masyarakat agar ikut mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering,” ujarnya.

Tasliatul meminta masyarakat untuk tidak membuka lahan pertanian maupun perkebunan dengan cara membakar. Warga juga diingatkan tidak membuang puntung rokok sembarangan serta tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka.

“Jadi untuk itu, mari sama-sama kita lakukan pencegahan karhutla yang akan mengganggu terhadap pencemaran lingkungan, udara dan juga berdampak buruk terhadap ekonomi kita sendiri,” katanya. (HER)

Tag:

Baca Juga

Akui Daerah Sumbar Berkabut, DLH Sebut Titik Panas Justru Banyak di Provinsi Tetangga
Akui Daerah Sumbar Berkabut, DLH Sebut Titik Panas Justru Banyak di Provinsi Tetangga
Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca, Semen Padang Kolaborasi dengan DLH Sumbar
Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca, Semen Padang Kolaborasi dengan DLH Sumbar
Tumpukan sampah di Pantai Padang
Pemprov Sumbar Minta Kabupaten Kota Antisipasi Peningkatan Sampah Saat Lebaran
Libur Lebaran, Produksi Sampah di Sumbar Diprediksi Bertambah 49 Ton per Hari
Libur Lebaran, Produksi Sampah di Sumbar Diprediksi Bertambah 49 Ton per Hari
DLH Sumbar Susun Buku Profil Kehati, Targetkan Selesai Tahun Ini
DLH Sumbar Susun Buku Profil Kehati, Targetkan Selesai Tahun Ini
Sumbar Kembali Diselimuti Kabut Asap, DLH: Udara Masih Normal
Sumbar Kembali Diselimuti Kabut Asap, DLH: Udara Masih Normal