Langgam.id – Kebiasaan orang tua membagikan atau flexing prestasi anak di media sosial dinilai perlu disikapi secara bijak. Di balik rasa bangga tersebut, tersimpan potensi tekanan psikologis yang dapat memicu stres akademik apabila ekspektasi terhadap anak menjadi terlalu tinggi.
Peringatan itu disampaikan Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Dr. Zadrian Ardi, S.Pd., M.Pd., Kons. Menurutnya, fenomena flexing prestasi anak yang kini marak di media sosial dapat berdampak negatif jika membuat anak merasa harus terus memenuhi harapan orang tua.
“Orang tua tentu bangga terhadap prestasi anak. Namun, ketika kebanggaan itu berubah menjadi tuntutan yang harus selalu dipenuhi, anak bisa mengalami tekanan psikologis hingga stres akademik,” ujarnya, dikutip Senin (3/8/2026).
Zadrian menjelaskan, stres akademik tidak hanya dipicu oleh banyaknya tugas atau tuntutan memperoleh nilai tinggi. Berdasarkan hasil kajian dan pengalaman mendampingi mahasiswa, tekanan juga muncul akibat ekspektasi orang tua maupun target yang ditetapkan anak sendiri tanpa adanya komunikasi yang baik.
Ia menyebutkan, sejumlah indikator stres akademik antara lain tekanan terhadap tugas kuliah, tuntutan meraih nilai terbaik, ketakutan gagal, serta ekspektasi tinggi dari keluarga maupun diri sendiri. Kondisi tersebut kerap tidak disadari karena banyak mahasiswa memilih memendam masalah yang dihadapi.
“Orang tua punya ekspektasi tertentu, sementara anak tidak memahami seperti apa harapan itu. Ketika komunikasi tidak berjalan, kondisi tersebut dapat menjadi tekanan bagi anak,” katanya.
Menurut Zadrian, mahasiswa yang mengalami stres akademik bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan akademik rendah. Banyak mahasiswa berprestasi justru mengalami tekanan karena merasa harus terus mempertahankan pencapaiannya.
Ia mengungkapkan, tidak sedikit mahasiswa yang datang ke layanan konseling UNP mengalami tekanan mulai dari tingkat ringan hingga berat. Bahkan, beberapa di antaranya harus mengonsumsi obat tidur maupun obat psikiatri akibat stres yang tidak tertangani sejak dini.
Selain ekspektasi keluarga, kebiasaan menunda pekerjaan atau procrastination juga menjadi faktor yang memperburuk stres akademik. Tugas yang terus ditunda akan menumpuk dan meningkatkan tekanan terhadap mahasiswa.
Di era media sosial, lanjutnya, budaya membandingkan pencapaian anak juga semakin mudah terjadi. Jika dahulu kebanggaan orang tua hanya diketahui lingkungan sekitar, kini dapat disaksikan oleh banyak orang melalui berbagai platform digital.
“Jangan sampai anak terbebani. Membandingkan anak dengan anak lain atau menjadikan capaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dapat menjadi beban psikologis,” tegasnya.
Sebagai upaya pencegahan, tim peneliti UNP mengembangkan model layanan konseling daring yang diawali dengan pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Pendekatan ini bertujuan membantu mahasiswa yang mulai mengalami tekanan agar memperoleh pendampingan sejak dini sebelum berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius.
Zadrian menekankan bahwa komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci utama dalam mencegah stres akademik. Orang tua tetap boleh memiliki harapan terhadap anak, namun harus disertai pemahaman terhadap kemampuan mereka dan ruang untuk berdialog.
“Lebih banyaklah bertanya tentang perkembangan anak, dengarkan apa yang mereka alami, lalu berikan penguatan ketika mereka menunjukkan kemajuan. Ekspektasi boleh ada, tetapi jangan sampai berubah menjadi tekanan,” pungkasnya. (HER)






