Langgam.id– Sejumlah warga di Kota Padang mengeluhkan kualitas air Perumda Air Minum atau PDAM Kota Padang yang dinilai semakin menurun sejak bencana pada akhir 2025. Kondisi air keruh, bahkan berlumpur.
Warga menilai, kondisi air seperti itu tidak layak digunakan untuk kebutuhan memasak maupun mencuci pakaian. Hal ini diungkapkan seorang warga Lolong Belanti, Enti.
Perempuan 59 tahun ini menyebutkan, air yang kerih dan berlumpur mengalir ke rumahnya hampir setiap hari seperti tersebut. Setelah air ditampung di ember atau bak mandi lalu didiamkan semalaman, lumpur akan mengendap.
“Kalau didiamkan semalam, lumpurnya mengendap di dasar ember. Bak penampung harus saya kuras seminggu sekali karena banyak lumpur dan tanah yang mengendap,” katanya, Rabu (8/7/2026).
Selain kualitas air, Enti mengatakan, distribusi air juga sering terhenti pada siang hari. Air cenderung mengalir lebih lancar pada malam hari dengan kondisi yang juga keruh dan berlumpur.
Ia terpaksa hanya mengunakan air PDAM untuk mencuci piring. Sedangkan untuk memasak nasi, ia memilih menggunakan air galon karena khawatir kualitas air tidak layak dikonsumsi.
“Kalau untuk masak saya pakai air galon. Air PDAM hanya dipakai untuk mencuci piring saja,” ujarnya.
Meski pelayanan belum maksimal, Enti mengaku tetap membayar tagihan air sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan. Ia mengatakan sempat mendapatkan keringanan pembayaran sebesar 50 persen setelah bencana, namun hanya berlaku selama satu bulan.
“Setidaknya ada kompensasinya, kalau kondisi airnya masih berlumpur,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga Gunung Pangilun, Mira (47). Ia mengatakan, air PDAM di rumahnya sering keruh dengan tekanan air yang kecil. Kondisi itu membuat air tidak bisa digunakan untuk mencuci pakaian maupun memasak.
“Pernah saya pakai untuk mencuci pakaian, hasilnya malah pakaian menguning. Sekarang kalau mencuci saya numpang ke rumah orang tua yang masih menggunakan air sumur,” katanya.
Sementara itu, warga Alai Parak Kopi, Yeni (56), mengatakan air PDAM di rumahnya juga keruh dan berlumut. Kondisi tersebut sudah dirasakan sekitar enam bulan terakhir.
Meskipun air di runahnya selalu mengalir siang dan malam setiap harinya. Namun untuk dipakai seperti mencuci dan memasak tidak bisa. Dan harus membeli air galon setiap harinya.
“Air memang mengalir hampir setiap hari, tapi warnanya keruh. Kadang alirannya juga kecil,” ujarnya.
Yeni mengaku tetap membayar tagihan air sekitar Rp200 ribu hingga Rp400 ribu setiap bulan, meski kualitas air yang diterima belum sesuai harapan.
“Untuk Perumda Air Minum Kota Padang segera memperbaiki kualitas dan distribusi air agar kembali normal, sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” tuturnya. (WAN)





