Langgam.id – Pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand), Asrinaldi, menilai pengunduran diri Asrizal Azizi dari kursi Ketua DPW PAN Sumatra Barat (Sumbar) berpotensi memengaruhi kekuatan internal partai di daerah.
Ia mengatakan, selama ini Arisal Aziz merupakan sosok figur yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perolehan suara PAN di Sumbar. Karena itu, keputusan Arisal Aziz mundur dari Ketua DPW PAN Sumbar dapat berdampak pada soliditas partai, terutama menjelang agenda politik mendatang.
Arisal Aziz menjabat sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029 untuk daerah pemilihan Sumbar II. Pada pemilu 2024, pria asal Pariaman ini berhasil memperoleh 107.117 suara.
“Arisal Aziz selama ini dikenal sebagai vote getter. Suara yang diperolehnya turut memberikan kontribusi terhadap kursi PAN di DPRD. Kalau dia tidak lagi menjadi pengurus, tentu ada dampaknya bagi partai,” kata Asrinaldi kepada Langgam.id, Minggu (14/6/2026).
Arisal Aziz diketahui menanggalkan kursi ketua dengan alasan tidak adanya dukungan dalam membangun kekompakan di tingkat DPD PAN di Sumbar. Menurut Asrinaldi, persoalan itu lazim terjadi dalam dinamika internal partai politik.
Baca juga: Alasan Arisal Aziz Mundur dari Ketua DPW PAN Sumbar, Ngaku Tetap Kader dan Komit di DPR RI
Kata dia, seorang ketua membutuhkan dukungan dari struktur partai di tingkat kabupaten dan kota, agar program konsolidasi organisasi dapat berjalan maksimal.
“Kalau orang-orang di tingkat DPD tidak mendukung, tentu sulit memaksimalkan fungsi kepemimpinan. Akibatnya kerja-kerja politik partai juga tidak akan optimal,” ujarnya.
Di sisi lain, Asrinaldi menegaskan pengunduran diri Arisal Aziz dari posisi ketua tidak otomatis membuatnya keluar dari PAN. Secara status, masih tercatat sebagai kader partai selama tidak menyatakan mundur sebagai anggota.
“Menjadi pengurus itu jabatan tambahan dalam partai. Kalau tidak jadi pengurus, bukan berarti keluar dari partai. Selama masih menjadi anggota, tidak ada masalah,” ungkapnya.
Namun, lanjut Asrinaldi, mengingatkan bahwa jika hubungan emosional antara Asrizal dan PAN terus melemah, bukan tidak mungkin akan muncul dinamika politik baru di masa mendatang.
“Kalau ikatan emosionalnya berkurang, tentu ada kemungkinan-kemungkinan politik yang bisa terjadi. Itu yang perlu menjadi perhatian PAN ke depan,” tuturnya. (WAN)






