Langgam.id — Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat mendorong pengembangan urban farming dan penguatan kelompok tani hortikultura sebagai salah satu strategi menjaga ketersediaan pasokan pangan sekaligus mengendalikan inflasi di daerah.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan, terutama pada komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang yang selama ini kerap menjadi penyumbang utama inflasi saat pasokan terganggu atau permintaan meningkat.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado, mengatakan penguatan produksi pangan lokal menjadi bagian penting dari strategi pengendalian inflasi yang berkelanjutan.
“Penguatan ketahanan pasokan hortikultura dilakukan melalui pengembangan urban farming serta penguatan peran kelompok tani cabai dan bawang sebagai champion penjaga stok saat terjadi defisit pasokan,” ujar Andy dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (6/6/2026).
Menurut Andy, ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain membuat harga sejumlah komoditas pangan rentan bergejolak ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi. Karena itu, peningkatan kapasitas produksi lokal menjadi salah satu solusi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Dorongan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya inflasi bulanan Sumatera Barat pada Mei 2026 yang mencapai 0,90 persen. Kenaikan harga cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi setelah komoditas tersebut mengalami kenaikan harga hingga 26,03 persen secara bulanan.
Kenaikan harga cabai dipicu meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha serta menurunnya pasokan akibat curah hujan tinggi yang berdampak pada sentra produksi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Kerinci, Jambi.
Selain cabai merah, inflasi juga didorong kenaikan harga bawang merah, minyak goreng, nasi dengan lauk pauk, serta tarif angkutan udara.
Andy menjelaskan, urban farming dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan ketersediaan pangan di kawasan perkotaan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Program tersebut juga dinilai mampu melibatkan masyarakat secara langsung dalam upaya menjaga ketahanan pangan rumah tangga.
Sementara itu, kelompok tani hortikultura diharapkan berperan sebagai penjaga stok komoditas strategis ketika terjadi gangguan produksi atau lonjakan permintaan. Dengan kapasitas produksi yang lebih kuat, kelompok tani dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan di pasar.
Selain penguatan produksi, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga terus mendorong berbagai langkah lain, seperti operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, penguatan kerja sama antar daerah, serta peningkatan kapasitas petani dalam menghadapi risiko cuaca ekstrem.
Meski inflasi bulanan meningkat, BI mencatat inflasi kumulatif Sumatera Barat selama Januari-Mei 2026 masih relatif terkendali pada level 0,47 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,80 persen.
Andy optimistis inflasi Sumatera Barat sepanjang tahun ini tetap dapat dijaga dalam rentang sasaran inflasi nasional. Namun, upaya memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming dan pengembangan kelompok tani hortikultura akan terus didorong untuk mengantisipasi risiko cuaca ekstrem, gangguan distribusi, maupun gejolak harga pangan di masa mendatang.
“Ketahanan pasokan merupakan kunci utama pengendalian inflasi pangan. Karena itu, penguatan produksi lokal harus terus dilakukan agar masyarakat tidak terlalu terdampak ketika terjadi gangguan pasokan,” kata Andy. (HER)





