Kolaborasi Kampus dan Desa: Program Mahasiswa Berdampak HIMASEKTA Unand Dorong Kemandirian Ekonomi Batu Busuk

PalantaLanggam – Pascabencana hidrometeorologi dan banjir yang merusak sebagian lahan pertanian di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, masyarakat Desa Batu Busuk menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan produktivitas dan pendapatan. Ketergantungan pada pertanian berbasis tanah menjadi persoalan ketika kondisi lahan belum sepenuhnya pulih.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), mahasiswa dan dosen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas menghadirkan pendekatan alternatif berbasis inovasi dan potensi lokal.

Program ini dipimpin oleh Ferdhinal Asful, S.P., M.Si., bersama Dr. Yenny Oktavia, S.Pi., M.Si. dan Dr. Afrianingsih Putri, S.P., M.Si.. Sebanyak 54 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEKTA) FP UNAND, berkolaborasi dengan GMIT FP UNAND dan UKM Penalaran UNAND, menjalankan program melalui tim yang dikenal sebagai Lapiak Nagari.

Fondasi Koordinasi dan Legalitas

Program diawali dengan audiensi resmi bersama pemerintah setempat pada 29 Januari 2026 di Kantor Camat Pauh. Dalam pertemuan tersebut, tim mahasiswa bertemu langsung dengan Defriandi, S.Sos., Lurah Lambung Bukit, guna menyampaikan rencana pelaksanaan serta memastikan dukungan kelembagaan.

Pelaksanaan program menggandeng dua mitra utama, yakni KUPS Etnobotani dan KUPS Ekowisata Padang Janiah. Skema pelaksanaan dibagi ke empat RT (RT 1–RT 4), dengan masing-masing lima anggota aktif, sehingga total 20 warga terlibat langsung.

Selain penguatan produksi, kelompok mitra juga telah difasilitasi dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai bentuk legalitas usaha yang memungkinkan pengembangan pasar ke depan.

Hidroponik: Sistem Produksi yang Adaptif

Sebagai respons atas kerusakan lahan, tim memperkenalkan sistem hidroponik yang tidak bergantung pada kondisi tanah. Setiap instalasi memiliki 53 lubang tanam. Untuk komoditas seperti pakcoy, tiga lubang dapat dipasarkan dengan kisaran harga Rp10.000, dengan masa tanam hingga panen sekitar 35 hari.

Pendampingan dilakukan mulai dari pembibitan, perawatan, panen, pengemasan, hingga strategi pemasaran. Dengan estimasi biaya produksi per lubang yang relatif rendah, sistem ini memberikan peluang usaha yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Penguatan instalasi hidroponik turut mendapat dukungan dari ParagonCorp, yang berkontribusi dalam penyediaan perangkat sistem tanam sebagai bentuk kolaborasi sektor swasta dalam pemberdayaan ekonomi komunitas.

Jengkol sebagai Sumber Nilai Tambah

Di sisi lain, potensi lokal berupa jengkol yang melimpah di wilayah KUPS Ekowisata Padang Janiah diolah menjadi produk bernilai tambah melalui dua lini utama: keripik jengkol dan kerupuk jengkol tradisional.

Mahasiswa mendampingi proses produksi secara komprehensif, mulai dari pengolahan bahan baku, teknik pengeringan dan penggepreakan, hingga pengemasan dan pemasaran. Pendekatan ini mengubah jengkol dari sekadar komoditas mentah menjadi produk agroindustri yang lebih kompetitif.

Sistem Terintegrasi: Produksi hingga Pemasaran

Berbeda dengan pelatihan yang bersifat insidental, program ini menyiapkan jalur usaha dari hulu hingga hilir. Produk hidroponik dan olahan jengkol dipasarkan melalui sistem offline maupun online, dengan dukungan perancangan media promosi dan sistem pemesanan digital.

Monitoring dilakukan secara berkala sejak sosialisasi awal pada 10 Februari 2026 hingga tahap implementasi berjalan, memastikan proses adaptasi berjalan efektif.

Membangun Ketahanan Ekonomi Desa

Program Mahasiswa Berdampak HIMASEKTA FP UNAND ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga sistem, pendampingan, dan kolaborasi multipihak.

Dari kondisi lahan yang terdampak banjir, masyarakat Batu Busuk kini mulai membangun alternatif ekonomi melalui hidroponik dan agroindustri jengkol. Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, pemerintah kelurahan, kelompok usaha masyarakat, dan sektor swasta menjadi fondasi menuju kemandirian ekonomi desa.

Penulis:
Sultan Chairuman Yahya
Ketua Umum HIMASEKTA FP-UNAND 2025–2026
Koordinator Publikasi Program Mahasiswa Berdampak – Lapiak Nagari

Baca Juga

Doktor Firdaus Diezo menjadi doktor hukum ke-121 dari Fakultas Hukum Unand. (IST)
Firdaus Diezo Raih Doktor Hukum Unand ke-121: Singgung Tanggung Jawab Negara di JKN, Penguji Ketua MK!
Potret Program Sitiung Mengajar yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) Reguler 1 di Dharmasraya. (FOTO: Istimewa)
Sitiung Mengajar, Cara Mahasiswa KKN Unand 2026 Edukasi Kesehatan Sejak Dini di Dharmasraya
UNAND melepas sebanyak 3.363 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Periode I Tahun 2026 di Auditorium
3.363 Mahasiswa UNAND Ikuti KKN Reguler di 13 Kabupaten/Kota di Sumbar
Webinar Series Gizi Klinis Hadirkan Narasumber Internasional
Webinar Series Gizi Klinis Hadirkan Narasumber Internasional
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono memberikan dukungan kepada Deni Abdi sebagai ketua Ikatan Alumni Universitas Andalas (IKA Unand)
Menlu Sugiono Dukung Denny Abdi Jadi Ketua IKA Unand 2025-2029
UNAND sudah meluluskan 8.180 wisudawan selama 2025 ini dalam lima periode wisuda. Wisuda yang kelima dilaksanakan pada Sabtu (22/11/2025)
Sepanjang 2025: UNAND Luluskan 8.180 Wisudawan, Catat Sejumlah Capaian Strategis