PalantaLanggam – Kulit buah dan sisa sayuran selama ini kerap dipandang sebagai limbah tak bernilai. Namun, di Nagari Parambahan, bahan yang biasa berakhir di tempat sampah itu justru menjadi awal dari sebuah perubahan. Melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan ecoenzyme, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas Nagari Parambahan Periode I Tahun 2026 menghadirkan solusi sederhana yang menjawab persoalan lingkungan, pertanian, hingga kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini berangkat dari realitas sosial dan lingkungan yang dihadapi masyarakat Nagari Parambahan. Sebagian besar warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian dengan aktivitas harian di lahan yang lembap dan berair. Di sisi lain, pengelolaan limbah organik rumah tangga belum optimal, sementara ketergantungan pada bahan kimia pertanian masih cukup tinggi. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN Unand untuk memperkenalkan ecoenzyme sebagai alternatif yang ramah lingkungan, murah, dan mudah diterapkan.
Permasalahan sampah menjadi isu nyata yang turut disorot. Wali Nagari Parambahan menyampaikan bahwa keterbatasan sistem pengangkutan sampah membuat masyarakat harus mengelola sampah secara mandiri. Akibatnya, sampah kerap menumpuk di pekarangan, dibakar secara terbuka, atau dibuang ke selokan, yang berpotensi menimbulkan masalah lingkungan baru. Meski telah dilaporkan ke instansi terkait, solusi konkret belum sepenuhnya terealisasi.
Dalam konteks tersebut, ecoenzyme hadir sebagai solusi alternatif yang relevan. Dengan mengolah limbah organik rumah tangga menjadi cairan serbaguna, masyarakat tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memperoleh manfaat langsung bagi pertanian, lingkungan, dan kesehatan. Sampah pun tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk membangun nagari yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Ecoenzim merupakan cairan hasil fermentasi sisa kulit buah dan sayuran yang dicampur dengan gula dan air dengan perbandingann 1:3:10. Cairan ini kaya akan senyawa organik dan mikroorganisme bermanfaat. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat diperkenalkan pada fungsi ecoenzyme sebagai pupuk cair, pestisida alami, pembersih lingkungan, hingga pendukung kebersihan dan kesehatan pribadi.
Proses pembuatannya pun tergolong sederhana. Sebanyak tiga kilogram limbah organik dicampurkan dengan sepuluh liter air dan satu kilogram gula merah, kemudian difermentasi dalam wadah tertutup selama 90 hari. Selama fermentasi, larutan diaduk setiap satu bulan sekali untuk menjaga keseimbangan proses biologis. Kesederhanaan inilah yang membuat ecoenzyme mudah diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Untuk memperkuat pemahaman, kegiatan dilengkapi dengan demonstrasi langsung yang dipandu oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKN Nagari Parambahan, Rahmi Awalina, dosen Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas. Dengan pendekatan ilmiah yang disampaikan secara sederhana, beliau menjelaskan prinsip fermentasi, manfaat ecoenzyme, serta potensi penerapannya di sektor pertanian dan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini diikuti oleh kelompok tani, ibu-ibu PKK, serta berbagai elemen masyarakat Nagari Parambahan. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari cara penyimpanan, waktu penggunaan, hingga efektivitas ecoenzyme sebagai pupuk dan pestisida alami. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat terlibat aktif dan memiliki ketertarikan untuk menerapkan inovasi tersebut.
Urgensi penerapan ecoenzyme semakin terasa karena manfaatnya yang kontekstual dengan kehidupan masyarakat setempat. Selain mendukung pertanian ramah lingkungan, ecoenzyme juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kebersihan dan kesehatan pribadi, seperti merendam kaki setelah bekerja di sawah. Dengan demikian, manfaat ecoenzyme tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial dan personal.
Lebih jauh, penggunaan ecoenzyme berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis yang dalam jangka panjang dapat merusak tanah dan air. Pemanfaatan limbah organik mendorong masyarakat untuk lebih mandiri sekaligus berkontribusi dalam pengurangan sampah rumah tangga.
Kegiatan ini mencerminkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Mahasiswa KKN Unand Nagari Parambahan hadir tidak hanya membawa program, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pengelolaan lingkungan berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal. Melalui pendekatan partisipatif, pengetahuan yang dibagikan diharapkan dapat terus diterapkan bahkan setelah masa KKN berakhir.
Ke depan, masyarakat Nagari Parambahan diharapkan mampu mengembangkan pembuatan ecoenzyme secara mandiri dan menjadikannya bagian dari kebiasaan rumah tangga serta aktivitas pertanian. Dari sisa kulit buah yang selama ini terabaikan, tumbuh kesadaran baru bahwa perubahan besar dapat dimulai dari dapur rumah sendiri. Melalui langkah kecil yang konsisten, Nagari Parambahan berpeluang membangun masa depan pertanian dan lingkungan yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan.






