Samsul, “Profesor Bawang” dari Alahan Panjang

Samsul, "Profesor Bawang" dari Alahan Panjang

Samsul dengan latar ladang bawang miliknya di Rimbo Tinggi, Galagah Alahan Panjang

Langgam – Pagi yang masih basah menyelimuti Rimbo Tinggi, Nagari Galagah Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Kabut tipis menggantung rendah, sisa hujan semalam yang belum sepenuhnya pergi. Di tengah hamparan ladang bawang, Suhardi yang biasa dipanggil Samsul menyibak pelan dedaunan muda yang baru tumbuh. Ujung-ujungnya tampak segar, tapi matanya yang terlatih segera menangkap ancaman: kelembapan tinggi bisa memicu jamur.

“Kalau kondisi begini, harus cepat diatasi,” katanya lirih, sambil meraba tanah yang masih basah. Dari pengalaman puluhan tahun, ia tahu, sedikit saja terlambat, bawang bisa rusak seluruhnya.

Di sinilah kecermatan Samsul diuji. Ia tak sekadar petani, tapi peracik. Pestisida yang ia gunakan bukan sekadar beli pakai, melainkan hasil formulasi sendiri, diramu dari pemahaman tentang bahan aktif, dosis, dan kondisi cuaca. “Kalau hujan banyak, jamur yang jadi ancaman. Fungisida harus ditambah, insektisida dikurangi. Kalau kemarau, kebalikannya,” ujarnya. Semua itu ia pelajari secara otodidak, lewat percobaan demi percobaan. Tak jarang ia mencoba dulu di satu bedengan kecil. Jika hasilnya bagus, barulah diterapkan ke seluruh lahan.

Keahlian itu tak ubahnya seperti “Profesor Bawang.” Bahkan, pengakuan datang dari kalangan akademisi. “Pernah suatu kali, Pak Helmi, profesor dari Unand bilang ke saya: ‘Pak Samsul, saya profesor, tapi kalau untuk bertani, saya harus belajar ke Pak Samsul’,” kenangnya sambil tersenyum.

Saat itu, cabai bendot yang ditanam Samsul di polybag tumbuh hingga 1,5 meter, jauh melampaui milik sang profesor yang hanya setengah meter. Bagi Samsul, itu bukan soal gelar, tapi soal ketekunan membaca alam.

Bawang, kata Samsul, adalah tanaman yang “manja”. Terlalu banyak air, rusak. Terlalu sedikit, juga tak tumbuh optimal. Dalam dua bulan kemarau, jika perlakuannya tepat, hasilnya bisa bulat sempurna. Ukuran pun jadi tolok ukur keberhasilan: dari kelas satu seperti Ampera, naik ke kelas dua super, hingga kelas tiga yakni super jumbo yang paling dicari pasar. “Itu yang kita kejar,” katanya.

Namun jalan ke sana tidak murah. Untuk satu hektare lahan, ia butuh sekitar satu ton bibit, dengan biaya yang bisa mencapai Rp100 hingga Rp150 juta. Harga bibit bahkan bisa setara dengan harga bawang itu sendiri. Risiko besar, tapi Samsul jarang benar-benar merugi.

“Paling tidak balik modal. Kuncinya perawatan dan ketelitian,” ujarnya. Ia memeriksa ladang setiap hari, membaca perubahan sekecil apa pun, seperti warna daun, tekstur tanah, hingga pola cuaca.

Berbeda dengan tanaman lain seperti cabai atau tomat yang masih bisa tumbuh tunas baru saat batang rusak, bawang tidak memberi kesempatan kedua. Sekali terserang jamur dan membusuk, habislah sudah. Itulah mengapa ketelitian menjadi segalanya. “Kalau bawang, habis ya habis,” katanya tegas.

Di bawah kabut yang perlahan menghilang, Samsul kembali menatap hamparan bawangnya. Daun-daun muda itu mungkin tampak rapuh, tapi di tangan yang tepat, mereka bisa tumbuh menjadi hasil panen bernilai tinggi. Dan di sanalah, di antara tanah basah dan udara lembap, seorang “Profesor Bawang” terus merawat ilmunya, diam-diam, tapi pasti.

Keunggulan Alahan Panjang tak hanya terletak pada luas hamparan, tetapi pada ritme hidup yang tak pernah benar-benar berhenti. “Kalau di Brebes ada musim tunggu bibit sampai dua bulan, kita di sini tidak,” ujarnya.

Di dataran tinggi Solok, siklus itu bergerak lebih cepat, seminggu setelah panen, petani sudah bisa kembali menanam. Kemandirian benih menjadi kunci. Petani tak bergantung pada pasokan luar, sehingga waktu tanam bisa diatur lebih fleksibel. Hasilnya, Alahan Panjang nyaris tak mengenal istilah panen raya dalam arti sesak sekaligus panen berlangsung bergiliran, nyaris setiap hari.

Iklim menjadi sekutu utama. Agroklimatologi Lembah Gumanti memberi ruang bagi bawang untuk tumbuh stabil sepanjang musim. Bagi Samsul, ini bukan sekadar keberuntungan alam, tetapi peluang yang harus dibaca dengan cermat.

“Kita ini didukung alam, tinggal bagaimana kita mengatur,” katanya. Dengan pola tanam yang berjenjang, suplai tetap terjaga, sekaligus menghindari lonjakan produksi yang bisa menjatuhkan harga.

Namun justru di situlah tantangan terbesar: harga. Samsul masih mengingat betul saat 2023, harga bawang sempat jatuh hingga Rp8 ribu per kilogram selama berbulan-bulan. Tahun berikutnya mulai membaik di kisaran Rp14 ribu. Hingga 2025, harga sempat menyentuh titik bawah Rp19 ribu, sebelum kemudian melonjak stabil di atas Rp30 ribu. Fluktuasi itu, bagi Samsul, bukan sekadar angka, melainkan ujian strategi.

“Siasatnya, kita harus lihat pola tanam di Brebes,” ujarnya. Bagi petani seperti dirinya, membaca pergerakan sentra lain sama pentingnya dengan membaca cuaca. Saat Brebes mulai tanam, ia menahan atau mengatur waktu tanamnya. Saat pasokan dari luar menurun, ia justru masuk pasar. Strategi itu membuatnya tetap bertahan di tengah gelombang harga yang naik-turun.

Di tangan Samsul, bertani bawang bukan sekadar kerja fisik, tetapi seni membaca waktu, menghubungkan tanah, cuaca, dan pasar dalam satu tarikan napas. Dan dari situlah, di tengah hamparan luas Alahan Panjang, ia menjaga agar bawang tidak hanya tumbuh subur, tetapi juga bernilai.

Selama lebih dari 30 tahun bertani, Samsul telah melewati berbagai musim, untung dan rugi, gagal dan berhasil. Namun dari tanah yang sama, ia membesarkan keluarganya. Tiga anaknya kini berhasil menempuh pendidikan tinggi, bahkan menjadi dokter.

Baginya, ladang bawang bukan sekadar sumber penghasilan, tapi juga jalan hidup yang membuktikan bahwa ilmu tak selalu lahir dari bangku kuliah.

Bagi Samsul, semua itu terasa nyata di ujung jemarinya setiap pagi. Ia mungkin tak menghitung angka-angka besar itu, tetapi ia tahu betul bagaimana satu petak lahan bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan anak hingga menjadi dokter, dan menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Di Lembah Gumanti, yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan ekonomi paling hidup di Solok, wangi bawang bukan sekadar ciri khas, ia adalah simbol ketahanan, kerja keras, dan masa depan.

Potensi Bawang Solok

Di hamparan yang sama tempat Samsul menekuni ilmunya, aroma bawang tak hanya menyengat hidung, ia juga menggerakkan ekonomi. Samsul juga menggerakkan kelompok petani dengan nama Kumbang Jantan. Kelompok tani ini bernaung sejumlah petani bawang, dan menjadi tempat saling berbagi ilmu, saling belajar, dan menguatkan.

Di Alahan Panjang dan kawasan sekitarnya, bawang merah bukan sekadar komoditas, melainkan denyut kehidupan. Hamparan hijau itu membentang luas, menjadi bagian dari sekitar 13 ribu hektare lahan bawang di Kabupaten Solok, tersebar di sentra-sentra produksi seperti Lembah Gumanti, Danau Kembar, Lembang Jaya, hingga kaki Gunung Talang dan Pantai Cermin. Dari total 25 ribu hektare hortikultura, sekitar 80 persen ditopang oleh bawang, angka yang menunjukkan betapa dominannya komoditas ini dalam struktur ekonomi daerah.

Di tengah geliat itu, varietas lokal SS Sakato menjadi kebanggaan sekaligus kekuatan. Benih yang dimurnikan sejak 2017 dari varietas asal Birma ini dikenal adaptif, bahkan bisa ditanam di dataran lebih rendah. “Rasanya lebih wangi, lebih tajam. Itu yang dicari,” ujar Yulnofrins Nafilus, seorang yang dikenal pegiat pariwisata, tapi kini menyelami gelanggang pertanian bawang di Alahan Panjang.

Di lokasi peladangan bawang Samsul, Nofrins yang terbiasa mempromosikan pariwisata, kini juga mendorong agrowisata di kawasan tersebut.

Ia menyebut, karakter bawang Solok memang berbeda dengan bawang dari daerah lain seperti Brebes yang cenderung lebih kering. Bawang Solok memiliki kadar air lebih tinggi, membuatnya belum sepenuhnya lolos standar ekspor, namun justru memberi keunggulan rasa lebih “nyengit” dan kuat.

Di balik aroma itu, ada perputaran ekonomi yang tak kecil. Satu hektare lahan mampu menyerap hingga 40–45 tenaga kerja hanya dalam dua hari masa panen. Dalam kondisi normal, produksi bisa mencapai 16 hingga 18 ton per hektare.

“Jika dikalikan dengan total luas lahan, produksi Kabupaten Solok diperkirakan menyentuh lebih dari 200 ribu ton per tahun, dengan rata-rata panen harian mencapai 590 ton. Bayangkan jika harga berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, uang yang berputar setiap hari menjadi denyut ekonomi yang menghidupi ribuan keluarga,” ungkap Nofrins.

Meski peluang ekspor terbuka, orientasi petani masih bertumpu pada pasar domestik. Permintaan dalam negeri yang tinggi membuat hasil panen nyaris tak pernah lama tersimpan. Bahkan, dalam praktiknya, bawang yang seharusnya dikeringkan hingga dua minggu seringkali sudah diambil tengkulak hanya dalam dua hingga tiga hari.

Untuk mengantisipasi fluktuasi harga, pemerintah daerah mulai menyiapkan infrastruktur seperti cold storage dan memperkuat kelembagaan petani melalui program Champion Bawang Merah.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Yeni Rahmi, menyebut Rimbo Tinggi kini menjadi salah satu destinasi pengembangan bawang merah yang terus diperkuat, termasuk sebagai potensi wisata agro. Di sinilah sosok seperti Nofrins mengambil peran menghubungkan pertanian dengan pengalaman wisata, memperkenalkan kepada publik bahwa di balik setiap butir bawang, ada kerja keras, pengetahuan, dan harapan.

Menjadi Ruang Akademi

Nama Samsul tak lagi sekadar dikenal di Rimbo Tinggi. Dari mulut ke mulut, dari satu musim panen ke musim berikutnya, kepiawaiannya merawat bawang menjalar ke berbagai penjuru Sumatra Barat.

Di tengah hamparan ladang yang ia kelola, berdiri sebuah pondok sederhana, ia menamainya SAMSUL Farm. Bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang belajar terbuka, tempat ilmu lapangan dibagikan tanpa sekat.

Hampir setiap waktu, selalu ada yang datang. Petani dari berbagai daerah, penyuluh, aktivis, hingga kalangan profesional, silih berganti menjejakkan kaki di sana. Mereka datang bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk memahami bagaimana tanah, cuaca, dan perlakuan bisa diramu menjadi keberhasilan. Samsul menyambut mereka dengan cara yang sama seperti ia merawat tanamannya: telaten, rinci, dan tanpa menyimpan rahasia.

11 Januari lalu, rombongan dari Tanah Datar tiba di ladang itu. Dipimpin langsung Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, sebanyak 18 petani dari kelompok BMC (Bawang Merah Cabai), PMT (Pemuda Mutiara Tani), dan petani milenial Cubadak datang untuk belajar. Di antara barisan tanaman bawang yang rapi, mereka berdiskusi, mencatat, dan sesekali berdebat soal teknik dan pengalaman.

“Harapannya, kelompok petani bisa meningkat ilmunya, hasilnya, dan kekompakannya. Kita ingin lahan tidur kembali hidup,” ujar salah satu peserta. Bagi mereka, datang ke Samsul bukan sekadar kunjungan, melainkan proses berguru. Sosok Samsul sudah dianggap mentor, petani yang ilmunya tumbuh dari pengalaman panjang, bukan sekadar teori.

Wakil Bupati Ahmad Fadly melihat lebih jauh dari sekadar pelatihan. Ia membayangkan bawang merah dari dataran tinggi seperti Alahan Panjang bisa menembus pasar yang lebih luas, bahkan mendunia. “Kita ingin bawang merah kita punya posisi seperti bawang Bombay atau bawang putih,” ujarnya.

Harapan itu bukan tanpa dasar. Varietas lokal SS Sakato, yang dimurnikan sejak 2017 dari benih asal Birma, terbukti adaptif dan punya karakter rasa yang kuat, modal penting untuk bersaing di pasar.

Di tingkat daerah, keberadaan Samsul juga diakui. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Deslirizaldi, menyebutnya sebagai praktisi bawang yang matang di lapangan. Sementara Kabid Hortikultura, Yeni Rahmi, menegaskan bahwa Rimbo Tinggi kini telah menjadi salah satu destinasi pengembangan bawang merah yang rutin dikunjungi.

Namun bagi Samsul sendiri, semua itu kembali ke hal sederhana: berbagi dan merawat. Di pondok kecilnya, di antara bau tanah dan wangi bawang yang tajam, ia terus menularkan pengetahuan bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan, tetapi jalan hidup yang bisa dipelajari, diwariskan, dan dikembangkan.

Dan dari sana, dari sebuah ladang di Alahan Panjang, ilmu itu terus tumbuh, menjalar, dan menghidupkan harapan banyak orang.

Baca Juga

'Glamping Maut' di Alahan Panjang yang Tewaskan Pengantin Baru Ternyata Tak Berizin
‘Glamping Maut’ di Alahan Panjang yang Tewaskan Pengantin Baru Ternyata Tak Berizin
Cindy Desta Nanda (28), korban meninggal diduga akibat keracunan karbon monoksida saat glamping di Alahan Panjang, Kabupaten Solok,
Suami Hadiri Pemakaman Istri, Keluarga Ungkap Penyebab Gilang Kritis saat Glamping di Alahan Panjang
Cindy Desta Nanda (28), korban meninggal diduga akibat keracunan karbon monoksida saat glamping di Alahan Panjang, Kabupaten Solok,
Bulan Madu Berujung Tragis: Suami Kritis, Istri Tewas saat Glamping di Alahan Panjang
Petani Kumbang Jantan Galakkan Pembuatan Ecoenzyme dan MOL: Solusi Ramah Lingkungan untuk Pertanian Berkelanjutan
Petani Kumbang Jantan Galakkan Pembuatan Ecoenzyme dan MOL: Solusi Ramah Lingkungan untuk Pertanian Berkelanjutan
Ikhtiar Menguatkan Petani Bawang Alahan Panjang: Setelah Irman Gusman, Dua Mantan Rektor Unand Sambangi Kelompok Tani Kumbang Jantan
Ikhtiar Menguatkan Petani Bawang Alahan Panjang: Setelah Irman Gusman, Dua Mantan Rektor Unand Sambangi Kelompok Tani Kumbang Jantan
Kakak-Adik di Solok Berebut Rumah Berujung Dibakar, 2 Balita Nyaris Jadi Korban
Kakak-Adik di Solok Berebut Rumah Berujung Dibakar, 2 Balita Nyaris Jadi Korban