Langgam.id – Sound poetry dan visual poetry menjadi salah satu pertunjukan yang ditampilkan secara konstan dalam ajang Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2025. Sejak malam pembukaan, Kamis 27 November hingga Jumat 28 November, beberapa karya sound poetry dan visual poetry ditampilkan di Agamjua Art & Culture Cafe, Payakumbuh.
Pada malam pembukaan, sound poetryberjudul Setelah Bintang Jatuh, karya Mutia Elfisyah dan Kezia Salwa Alevia. Di malam kedua festival, giliran Sound poetrykarya Harry Kurniawan alias Ngik berjudul Ruang Tunggu Polijiwa yang ditampilkan. Untuk malam penutupan, Sabtu 29 November, visual poetry dan sound poetry masih akan dipertunjukkan.
Sound poetry dan visual poetry tersebut merupakah hasil Workshop Sound Poetry dan Workshop Visual Poetry yang diadakan pada masa pra-festival (19-21 November 2025) lalu. Begitu juga dengan karya yang akan ditampilkan pada malam penutupan.
“Workshop Sound Poetry dan Workshop Visual Poetry memang diadakan untuk terus mengembangkan bentuk sound poetrydan visual poetry lebih jauh lagi. Jika pada PPF 2022 dan 2023 kita adakan sayembara, di tahun kita adakan workshop di mana para seniman bisa mengeksplorasi bentuk-bentuk baru sound poetry dan visual poetry dengan dampingan dari mentor terpilih,” kata Roby Satria, Direktur PPF 2025.
Sementara itu, S Metron Masdison, salah satu Kurator PPF 2025, melihat perkembangan sound poetry dan visual poetry hasil workshop, baik secara isi maupun bentuk. Lebih jauh, Metron menjelaskan tantangan dalam mengembangkan mengembangkan sound poetry dan visual poetry.
“Sound poetry dan visual poetry sendiri adalah bentuk seni yang bisa dikatakan baru, terutama di Indonesia, dalam arti belum terlalu dikenal dan banyak dipraktekkan. Ia juga cukup kompleks. Defenisi bakunya pun belum fix. Mencari padanan istililahnya dalam bahasa Indonesia saja agak sukar. Kata ‘visual’ dan ‘sound’ tidak bisa diterjemahkan begitu saja menjadi ‘visual/rupa’ dan ‘bunyi’,” katanya.
Karenanya ia masih cendrung menggunakan sebutan sound poetry dan visual poetry. Meski demikian, kedepannya ia mengatakan bahwa pengembangan sound poetry dan visual poetry akan semakin terbuka lebar.
“Sound poetry dan visual poetry di PPF sudah lumayan menarik perhatian, baik di dalam atau luar negeri. Baru-baru ini, mentor Workshop Sound Poetry, Aldo Ahmad, dihubungi oleh salah seorang musisi dari Australia yang menunjukkan ketertarikan akan sound poetry. Jadi ke depannya, sangat mungkin PPF berkolaborasi dengan musisi tersebut untuk mengembangkan sound poetry di PPF tahun depan,” jelasnya.
Eksplorasi alih wahana puisi ke bunyi dan visual adalah salah satu fokus utama PPF. Pada gelaran PPF 2023 lalu, Tulayan, penyair asal Philipina berkolaborasi dengan PPF. Tulayan termasuk salah satu penyair yang mencoba mengembangkan visual poetry di kawasan Asia Tenggara. Di tahun yang sama, PPF juga berkolaborasi dengan pianis dan komposer Ananda Sukarlan untuk mengeksplorasi sound poetry.
Di samping pertunjukan visual poetry dan puisi bunyi, selama dua hari gelaran PPF 2025 berbagai pertunjukan dan diskusi hybrid (daring dan luring) juga telah diselenggarakan. Dikusi tahun ini diselenggarakan secara hybrid karena sebagain narasumber dan tamu undangan berhalangan hadir di Payakumbuh sebab terdampak bencana.
PPF merupakan festival sastra yang khusus mengangkat khazanah puisi Indonesia sebagai titik berangkat perayaan. Di tahun ke-6 penyelenggaraannya, PPF mengusung tema “Antardunia dalam Puisi.”
Lewat tema “Antardunia dalam Puisi”, PPF mengajak untuk merayakan puisi sebagai ruang pertemuan antara berbagai bentuk seni dan pengalaman budaya. Puisi tidak hanya hadir sebagai teks, tetapi juga bisa menjelma menjadi suara, gambar, gerak, atau pertunjukan. Melalui lintasan antar medium ini, puisi membuka kemungkinan untuk merasakan dan mengekspresikan dunia dengan cara yang baru.
Tema tersebut juga menyoroti pertemuan antara beragam pengalaman budaya, di mana bahasa, latar, dan tradisi yang berbeda saling bertukar makna. “Antardunia dalam Puisi”, juga merupakan jalan setapak untuk memahami bahwa setiap puisi membawa dunia lain yang bisa dimasuki bersama.
Dalam festival ini, puisi tidak hanya dilihat sebagai produk sastra tetapi juga bahan yang bisa dikembangkan melalui alih wahana ke medium-medium seni lainnya, seperti bunyi dan visual. (*)






