Langgam.id – Hujan yang turun kini tak lagi sekadar membawa kesejukan bagi warga Perumahan Lumin Park, Lubuk Minturun, Kota Padang. Bagi sebagian penghuni, hujan justru memunculkan kecemasan akan banjir yang kembali menerjang rumah mereka.
Trauma itu dirasakan Yosi setelah banjir berulang kali melanda kawasan tempat tinggalnya, termasuk pada akhir 2025 dan Sabtu (10/10/2026). Setiap kali hujan turun, ia dihantui kekhawatiran air dari aliran Sungai Lubuk Minturun kembali meluap dan merendam rumahnya.
Yosi mengaku membeli rumah di Perumahan Lumin Park pada 2020. Saat itu, ia tidak melihat adanya bekas banjir di rumah yang dibelinya. Ia juga tidak mengetahui bahwa kawasan tersebut berpotensi dilanda banjir.
Namun, banjir yang terjadi pada akhir 2025 mengubah perasaannya. Sejak saat itu, hujan dengan intensitas ringan sekalipun bisa memicu ketakutan, meski tidak selalu berujung pada banjir.
Yosi mengatakan, kecemasan itu juga dirasakannya saat hujan turun pada 3 Agustus lalu. Pengalaman menghadapi banjir sebelumnya membuatnya terus waswas setiap kali cuaca memburuk.
“Setiap kali hujan, meskipun tidak deras, saya tetap merasa takut. Saya khawatir banjir kembali datang dari aliran Sungai Lubuk Minturun,” kata Yosi kepada Langgam.id, Minggu (11/10/2026).
Banjir yang kembali menerjang pada Oktober ini semakin memperbesar kekhawatirannya. Bukan hanya soal keselamatan dan kondisi rumah, Yosi juga mulai memikirkan masa depan tempat tinggal yang telah dibelinya enam tahun lalu.
Ia mengaku menyesal jika sejak awal tidak mengetahui risiko banjir di kawasan tersebut. Kini, setelah banjir kembali terjadi, ia mempertanyakan kemungkinan menjual rumahnya.
“Kalau sekarang bagaimana? Siapa yang mau membeli rumah di kawasan yang sudah diketahui sering banjir,” ujarnya.
Kecemasan serupa dirasakan Beni, warga yang membeli rumah di Perumahan Lumin Park pada 2019. Baginya, banjir pada Sabtu lalu kembali mengingatkan pada peristiwa akhir 2025 yang berdampak pada dua mobil miliknya.
Saat banjir sebelumnya, satu mobil terseret arus sungai, sedangkan mobil lainnya terendam air. Pengalaman itu masih membekas hingga banjir kembali melanda kawasan perumahan tersebut.
“Trauma pasti ada. Banjir akhir tahun 2025 masih membekas bagi kami. Dua mobil terdampak, satu terseret arus sungai dan satu lagi terendam,” kata Beni.
Banjir pada Sabtu (10/10/2026) juga terjadi ketika Beni dan keluarganya tidak berada di rumah. Ia mengetahui kejadian tersebut melalui informasi di grup percakapan dan unggahan media sosial.
Pengalaman menghadapi banjir berulang membuat Beni khawatir peristiwa serupa kembali terjadi. Selain memikirkan keselamatan keluarga dan potensi kerusakan barang, ia juga mempertanyakan nasib rumah yang telah dibelinya beberapa tahun lalu.
Bagi Beni, banjir bukan lagi sekadar persoalan air yang masuk ke rumah. Ada kekhawatiran akan kejadian serupa di masa mendatang, termasuk ketidakpastian nilai dan kemungkinan menjual properti yang kini berada di kawasan langganan banjir.
“Kalau dijual, siapa yang mau membeli rumah di kawasan yang sering banjir,” tuturnya. (WAN)





