<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Perempuan Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/perempuan-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/perempuan-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Mar 2022 12:12:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Perempuan Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/perempuan-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Ini 5 Perempuan Minang yang Pernah Jadi Ibu Negara, dari Indonesia hingga Malaysia</title>
		<link>https://langgam.id/ini-5-perempuan-minang-yang-pernah-jadi-ibu-negara-dari-indonesia-hingga-malaysia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[zulfikar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2022 11:47:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=151292</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Lima perempuan Minang yang pernah jadi ibu negara, dari Indonesia hingga negeri tetangga, Malaysia. Langgam.id &#8211; Sejatinya, perempuan merupakan sumber kekuatan, bahkan itu pernah dituliskan Soejatin (1998: 69) dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Perempuan Indonesia. &#8220;If ever the world sees time, when all woman come together purely for the benefit of mainkind, if would be power such as the world has never know,&#8221; tertulis dalam buku tersebut. Tak hanya itu, dikutip dari buku Studi Sejarah Perempuan Islam: Bagaimana Kita Terlihat dalam Kekacauan Ini, menuliskan keterangan Herlina atau yang dijuluki Pending Emas. &#8220;Bagaimana</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ini-5-perempuan-minang-yang-pernah-jadi-ibu-negara-dari-indonesia-hingga-malaysia/">Ini 5 Perempuan Minang yang Pernah Jadi Ibu Negara, dari Indonesia hingga Malaysia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Lima perempuan Minang yang pernah jadi ibu negara, dari Indonesia hingga negeri tetangga, Malaysia.</p>
</div>
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Sejatinya, perempuan merupakan sumber kekuatan, bahkan itu pernah dituliskan Soejatin (1998: 69) dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Perempuan Indonesia.</p>
<p><em>&#8220;If ever the world sees time, when all woman come together purely for the benefit of mainkind, if would be power such as the world has never know,&#8221;</em> tertulis dalam buku tersebut.</p>
<p>Tak hanya itu, dikutip dari buku Studi Sejarah Perempuan Islam: Bagaimana Kita Terlihat dalam Kekacauan Ini, menuliskan keterangan Herlina atau yang dijuluki Pending Emas.</p>
<p>&#8220;Bagaimana pun keadaannya, ku kira setiap orang ingin bermakna dalam hidupnya. Apa dan bagaimana yang dimaksud dengan hidup bermakna itu, tentulah selalu menjadi pertanyaan, dan sekaligus menjadi serangkaian upaya yang tak henti-hentinya bagi setiap orang yang menjadikannya benar-benar nyata hidupnya,&#8221; tertulis dalam buku itu.</p>
<div id="attachment_151296" style="width: 857px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-151296" class="wp-image-151296 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/03/Fatmawati-Bung-Karno.jpg?resize=847%2C607&#038;ssl=1" alt="Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Lima perempuan Minang yang pernah jadi ibu negara, dari Indonesia hingga Malaysia." width="847" height="607" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/03/Fatmawati-Bung-Karno.jpg?w=847&amp;ssl=1 847w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/03/Fatmawati-Bung-Karno.jpg?resize=300%2C215&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/03/Fatmawati-Bung-Karno.jpg?resize=768%2C550&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/03/Fatmawati-Bung-Karno.jpg?resize=120%2C86&amp;ssl=1 120w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/03/Fatmawati-Bung-Karno.jpg?resize=350%2C250&amp;ssl=1 350w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/03/Fatmawati-Bung-Karno.jpg?resize=750%2C537&amp;ssl=1 750w" sizes="(max-width: 847px) 100vw, 847px" /><p id="caption-attachment-151296" class="wp-caption-text">Fatmawati menemani Bung Karno sarapan pagi tahun 1944. (Foto: Dok. opac.perpusnas.go.id)</p></div>
<p>&#8220;Tidak hanya untuk diriku, tetapi juga untuk masyarakat dan bangsaku, bagi kejayaan tanah air dan negaraku: Indonesia! Dan lebih dari itu semua upaya untuk bermakna dalam hidup ini bermuara pada Allah Maha Pencipta, Allah yang dengan rahmat dan karunia-Nya telah menghadirkan manusia di bumi ini, di negeri masing-masing tempat setiap orang bisa hidup dan berbakti,&#8221; kata Herlina dalam buku tersebut.</p>
<p>Namun, semakin dibuka, akan sekamin banyak mata yang menyaksikan sisi keberadaan perempuan dalam sejarah. Lama-kelamaan akan muncul rasa kekaguman.</p>
<p>Namun, terkadang kekaguman itu tak sebatas pada aksi politik dan sosial tokoh, lambat laun kerap mengarah pada ciri fisik, salah satunya menjadi daya tarik.</p>
<p>Banyak kisah tentang perempuan yang telah menjadikan Indonesia bermakna, baik dari masa penjajahan hingga saat sekarang, termasuk perempuan-perempuan di Minang.</p>
<p>Kali ini, dari sekian banyak sejarah tentang perjuangan perempuan untuk mengangkat harkat dan martabatnya, kita akan membahas secuil kisah perempuan Minang yang pernah menjadi ibu negara.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ini-5-perempuan-minang-yang-pernah-jadi-ibu-negara-dari-indonesia-hingga-malaysia/">Ini 5 Perempuan Minang yang Pernah Jadi Ibu Negara, dari Indonesia hingga Malaysia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">151292</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ratna Sari, &#8220;Singa Podium&#8221; Kongres Perempuan 1935</title>
		<link>https://langgam.id/ratna-sari-singa-podium-kongres-perempuan-1935/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Selly Afrida Oltar]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2021 01:01:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=142284</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin sudah banyak di antara kita yang mengetahui bahwa momentum Hari Ibu yang kita peringati setiap 22 Desember, berawal dari terselenggaranya  Kongres Perempuan pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri lebih dari seribu orang di Yogyakarta, sebagian besarnya adalah kaum perempuan yang diutus dari 30 organisasi perempuan yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Pertemuan yang berlangsung sembilan puluh tiga tahun lalu itu dimotori oleh Nyi. Hadjar Dewantara (Wanita Taman Siswa), Ny. Soekonto (Wanita Oetomo), Sujatin Kartowijono (Poetri Indonesia). Namun, mungkin belum banyak yang tahu bahwa pada Kongres Perempuan kedua yang diselenggarakan di Batavia pada</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ratna-sari-singa-podium-kongres-perempuan-1935/">Ratna Sari, &#8220;Singa Podium&#8221; Kongres Perempuan 1935</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcap " style="background-color: #ffffff; color: #000000; border-color: #ffffff;">M</span>ungkin sudah banyak di antara kita yang mengetahui bahwa momentum Hari Ibu yang kita peringati setiap 22 Desember, berawal dari terselenggaranya  Kongres Perempuan pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri lebih dari seribu orang di Yogyakarta, sebagian besarnya adalah kaum perempuan yang diutus dari 30 organisasi perempuan yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Pertemuan yang berlangsung sembilan puluh tiga tahun lalu itu dimotori oleh Nyi. Hadjar Dewantara (Wanita Taman Siswa), Ny. Soekonto (Wanita Oetomo), Sujatin Kartowijono (Poetri Indonesia).</p>
<p>Namun, mungkin belum banyak yang tahu bahwa pada Kongres Perempuan kedua yang diselenggarakan di Batavia pada 20-24 Juli 1935, ada seorang “Singa Betina” yang orasinya menggetarkan sekaligus menghebohkan. Dialah Ratna Sari, salah seorang peserta kongres yang berasal dari Pulau Sumatera.</p>
<p>Dalam buku &#8220;Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI&#8221; karya Saskia Wieringa, Maria Ulfah (Menteri Sosial pada masa Kabinet Syahrir II) yang juga merupakan salah satu peserta kongres menuturkan “Perempuan Minangkabau ini penuh semangat, sangat nasionalis, dan Islam tegar. Ia mengenakan kerudung dan busana tradisional Islam. Kami semua menjadi khawatir. Bagaimana kira-kira reaksi Ibu Pringgodigdo”. Ibu Pringgodigdo yang dimaksud adalah Suwarni Pringgodigdo, pendiri organisasi Istri Sedar yang dikenal sangat menentang praktik poligami.</p>
<p>Rupanya salah satu hal yang disampaikan oleh Ratna Sari adalah tentang poligami. Sebagai seorang perempuan Minangkabau tentu tidak mengherankan jika Ratna terkesan sebagai perempuan Islam tegar. Mungkin yang dimaksud Maria Ulfah dengan ungkapan Islam tegar ini, adalah penganut Islam yang konservatif.</p>
<p>Minangkabau sudah terlanjur lekat dengan falsafah &#8220;adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah&#8221;. Di dalam Kitabullah, tercantum jelas kalimat yang memang membolehkan praktik poligami. Sangat wajar jika Ratna terkesan mendukung poligami. Namun di tulisan ini saya tidak sedang mengupas tentang poligami, melainkan tentang sosok Ratna dan organisasinya.</p>
<p>Ratna hadir dalam kongres tersebut sebagai perwakilan dari organisasi Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Permi adalah sebuah organisasi yang lahir di Ranah Minang pada 1930. Cikal bakalnya adalah organisasi Persatuan Sumatra Thawalib yang didirikan 1928. Sebagaimana kita ketahui, era tersebut termasuk pada zaman pergerakan dalam periodesasi sejarah pra kemerdekaan Indonesia, dimana memang banyak tumbuh organisasi pergerakan yang menggelorakan semangat untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah.  Pada kongres ketiga di Bukittinggi, Persatuan Sumatra Thawalib bertransformasi menjadi sebuah Partai Politik yang diberi nama Permi.</p>
<p>Permi memang dikenal memiliki banyak “singa podium”. Ada tiga tokoh yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai Permi&#8221; : Djalaluddin Thaib yang didaulat menjadi Ketua Umum, Ilyas Yacoub Ketua Dewan Pendidikan dan Muchtar Luthfi yang diberi amanah sebagai Ketua Dewan Propaganda. Ketiga tokoh ini kerap memberikan orasi yang menyerukan rakyat agar bersatu, menyusun kekuatan bersama, berjuang untuk kemerdekaan.  Pemerintah Belandapun kian meningkatkan intimidasi terhadap kaum pergerakan. Awalnya pemerintah kolonial sering mengirimkan mata-mata untuk memantau pergerakan Permi, hingga akhirnya ketiga tokoh inipun dicekal dari mengisi forum-forum umum.</p>
<p>Sebagai organisasi yang beranggotakan orang Minang, Permi tentu tidak kehabisan akal. Sebagaimana pepatah Minang “indak ameh, bungkah diasah, indak kayu, janjang dikapiang”, Permi akhirnya mengorbitkan para propagandis lain, termasuk perempuan-perempuan Minang yang juga berpotensi sebagai orator ulung. Di sinilah muncul Ratna Sari sebagai salah satu “singa betina”, selain juga Rasuna Said, Rasimah Ismail, dan Khadijah.</p>
<p>Para “singa betina” inipun tak kalah garang dalam menggelorakan semangat anti koloniaisme. Akhirnya merekapun satu per satu harus menerima risiko perjuangan, ditangkap oleh aparat penjajah. Rasuna Said yang pertama ditangkap. Terkait isi ceramahnya dalam rapat umum Permi di Diniyah School Payakumbuh November 1932, pemerintah kolonial menuduhnya telah menanamkan rasa permusuhan terhadap Belanda di muka umum. Ia pun dibuang ke Semarang untuk menjalani pidana kurungan selama satu tahun tiga bulan.</p>
<p>Menyusul di bulan yang sama, Rasimah Ismail juga bernasib serupa. Dia ditangkap di Sungai Pua, Agam, tak jauh dari Bukittinggi. Tuduhan yang dialamatkan kepadanya pun persis seperti yang dialami Rasuna Said. Hukuman yang diterimanya sedikit lebih ringan, yakni penjara sembilan bulan dan diasingkan ke Semarang. Sampailah giliran Ratna Sari dan koleganya Fatimah, juga bernasib hampir sama. Keduanya juga ditangkap, namun lebih beruntung karena hanya dijatuhi hukuman kurungan selama sepuluh hari.</p>
<p>Sebagaimana Rasuna Said, Ratna Sari juga mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan khusus putri yang sangat banyak melahirkan perempuan-perempuan hebat, Diniyah Putri Padang Panjang. Ratna adalah putri Minangkabau kelahiran Pariaman, 1 Juni 1914. Pada era pascakemerdekaan Indonesia, Ratna mendapat amanah sebagai anggota Konstituante Republik Indonesia dari Fraksi Masyumi. Dia duduk di majelis tersebut sejak 9 November 1956 hingga keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan konstituante. (*)</p>
<p><em><strong>Selly Afrida Oltar</strong>: Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Sosial, Mahasiswi Pendidikan Sejarah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Ibu Negeri</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ratna-sari-singa-podium-kongres-perempuan-1935/">Ratna Sari, &#8220;Singa Podium&#8221; Kongres Perempuan 1935</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142284</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cerita Kombes Lisda Cancer: dari Dokter Gigi Menjadi Srikandi Polri</title>
		<link>https://langgam.id/cerita-kombes-lisda-cancer-dari-dokter-gigi-menjadi-srikandi-polri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2021 22:07:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Polda Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=100705</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; &#8220;Saat keluarga korban lagi bersedih dan saya bisa melakukan identifikasi (jenazah), keluarga korban kemudian senang. Kalau keluarga mereka tidak bisa diindentifikasi, tentu akan bertambah sedih,&#8221; begitu ungkapan rasa suka Kombes Pol drg. Lisda Cancer, M. Biotech. Pencapaian dalam pekerjaan bisa mengidentifikasi jenazah, satu dari sekian gambaran pengalaman berharga dokter spesialis gigi ini sebagai seorang abdi negara. Lisda, begitu sapaan akrabnya, merupakan salah satu srikandi di Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Barat (Sumbar). Perwira menengah berpangkat tiga melati di pundaknya itu kini menjabat sebagai Kepala Bidang  Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Sumbar. Polwan satu ini telah menginjakkan kaki di</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cerita-kombes-lisda-cancer-dari-dokter-gigi-menjadi-srikandi-polri/">Cerita Kombes Lisda Cancer: dari Dokter Gigi Menjadi Srikandi Polri</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><a href="http://Langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; <em>&#8220;Saat keluarga korban lagi bersedih dan saya bisa melakukan identifikasi (jenazah), keluarga korban kemudian senang. Kalau keluarga mereka tidak bisa diindentifikasi, tentu akan bertambah sedih,&#8221; begitu ungkapan rasa suka Kombes Pol drg. Lisda Cancer, M. Biotech.</em></p>
<p dir="ltr">Pencapaian dalam pekerjaan bisa mengidentifikasi jenazah, satu dari sekian gambaran pengalaman berharga dokter spesialis gigi ini sebagai seorang abdi negara. Lisda, begitu sapaan akrabnya, merupakan salah satu srikandi di Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Barat (Sumbar).</p>
<p dir="ltr">Perwira menengah berpangkat tiga melati di pundaknya itu kini menjabat sebagai Kepala Bidang  Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Sumbar. Polwan satu ini telah menginjakkan kaki di Tanah Minang untuk bertugas sejak Januari 2021.</p>
<p dir="ltr">Sebelumnya, ibu tiga anak tersebut merupakan Kabid Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Mabes Polri. Lisda pernah memimpin operasi identifikasi para korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP pada 2018.</p>
<p dir="ltr">Bagi Lisda, sebelumnya ia tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang polisi wanita (Polwan). Apalagi di lingkungan keluarga besarnya, tidak ada yang berlatar seorang anggota Polri maupun TNI.</p>
<p dir="ltr">Ketertarikan Polwan kelahiran Jakarta 1968 silam ini sebagai abdi negara hanya berawal dari masa pendidikan di kampusnya Universitas Indonesia. Kala itu, dirinya aktif ikut resimen mahasiswa.</p>
<p dir="ltr">Banyak para senior Lisda kala itu menjadi seorang Polri dan TNI setelah lulus. Hal ini mengalihkan pandangannya untuk juga ikut mencoba, meskipun saat itu dirinya telah menjadi seorang dokter.</p>
<p dir="ltr">Jiwa latihan semi militer di masa resimen mahasiswa ketika itu masih menyatu di dirinya dan memutuskannya untuk mencoba mengadukan nasib sebagai abdi negara.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Pas lulus FKG UI, setelah sebulan lulus, ada pengumuman penerimaan sekolah perwira prajurit karir tahun 1994,&#8221; katanya kepada <strong><a href="http://langgam.id">langgam.id</a></strong>, Kamis (22/4/2021).</p>
<p dir="ltr">Keinginannya itu kemudian disampaikan ke orang tua. Ayahnya yang bernama Lamudir Ahmad dan Hanifah cukup binggung ketika itu.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Papa saya binggung dan bilang apakah kuat? Kuat kata saya,&#8221; ujarnya mengenang.</p>
<p dir="ltr">Lisda cukup beruntung. Dirinya yang mengikuti tes langsung dinyatakan lulus hanya satu kali percobaan. Tes psikologi kala itu memutuskannya untuk ditempatkan di korps Bhayangkara.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Setelah lulus langsung pendidikan. Pendidikan di sekolah korps wanita angkatan darat di Bandung. Itu selama lima bulan,&#8221; jelasnya.</p>
<p dir="ltr">Lulus pertama Lisda berpangkat Letnan Dua Polisi atau sekarang disebut Inspektur Dua (Ipda). Kemudian, ia melanjutkan pendidikan sekolah polisi wanita di Ciputat selama empat bulan.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Total pendidikan sembilan. Pertama dinas di sekolah polisi wanita, dinas dan tinggal di situ. Ada poliklinik di sana,&#8221; ujar Polwan asal Silungkang, Kota Sawahlunto ini.</p>
<p dir="ltr">Setelah mengabdi selama delapan tahun, Lisda berikutnya mengikuti jenjang untuk mendapat jabatan dengan mengikuti pendidikan pengembangan yang dinamakan ketika itu sekolah lanjutan perwira tahun 2003. Setelah lulus, ia langsung ditarik ke Mabes Polri.</p>
<p dir="ltr">Di Pusdokkes Mabes Polri bagian forensik, Lisda mengabdi mulai dari 2004 hingga 2020. Pada 2017, ia ditunjuk sebagai Kabid DVI yang bertugas mengidentifikasi jenazah korban bencana.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Pada 2018 itu, karena saya Kabid DVI, saya ditunjuk sebagai DVI Commander operasi identifikasi para korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP,&#8221; kenangnya sembari menyebutkan menjalani tugas sebagai abdi negara dengan mengalir begitu saja.</p>
<p dir="ltr"><strong>Sosok Seorang Ibu, Istri dan Kasatker</strong></p>
<p dir="ltr">Walaupun seorang perempuan yang bertanggungjawab sebagai Kepala Satuan Kerja (Kasatker), Lisda berusaha bisa bekerja ekstra dan tak kalah dengan kaum laki-laki. Ia pun selalu memberikan dukungan dan semangat bagi polwan lainnya untuk tidak cengeng.</p>
<p dir="ltr">Begitupun, dalam menjalankan tugas di rumah. Lisda berusaha untuk bisa profesional dalam membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga tercinta. Di balik seragam coklatnya, Lisda tetap hanya seorang istri dan sosok ibu dari tiga anaknya.</p>
<p dir="ltr">Prinsipnya, jika seluruh peran itu bisa dijalankan secara profesional maka akan berjalan baik. &#8220;Kalau lagi di kantor 100 persen total urusan kantor. Kalau di rumah 100 persen seorang istri dan ibu tiga anak,&#8221; ucapnya.</p>
<p dir="ltr">Lisda mengakui keluarga besar selalu memberikan mendukung kepadanya. Meskipun terkadang para anaknya sedikit protes jika dirinya pulang larut malam. &#8220;Apalagi kalau ada tugas sekolah yang susah, anak ingin minta bantu saya,&#8221; kata dia.</p>
<p dir="ltr">Tapi baginya itu bisa dijalankannya dengan baik dan profesional. Apalagi saat ini, ia telah bertugas di Sumbar. Baginya, berada di Ranah Minang merasakan seperti pulang kampung.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Dapat surat tugas ke Sumbar sangat senang. Saya juga sering ke sini melatih DVI, hampir setiap tahun. Keluarga ayah dan ibu masih ada juga di Silungkang,&#8221; tuturnya. <strong>(Irwanda/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cerita-kombes-lisda-cancer-dari-dokter-gigi-menjadi-srikandi-polri/">Cerita Kombes Lisda Cancer: dari Dokter Gigi Menjadi Srikandi Polri</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">100705</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Minangkabau di Masa Sekarang</title>
		<link>https://langgam.id/perempuan-minangkabau-di-masa-sekarang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2020 05:17:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bundo kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=30559</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Mungkin sebagian orang banyak yang tidak mengetahui tentang adanya Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 maret. Perayaan tahun 2020 menyerukan peningkatan pembelaan terhadap hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Hari permpuan pertama kali digelar sebagai perayaan nasional di New York pada 28 Februari 1909. Dengan adanya hari besar tersebut menjadi bukti bahwa perempuan-perempuan bukanlah kaum yang lemah, perempuan adalah kaum yang memiliki keistimewaan sendiri yang harus dijaga. Perempuan selalu menjadi topik yang tidak kunjung usai dibahas, diteliti dan diperbincangkan, tak terkecuali perempuan Minangkabau. Perempuan dalam susunan masyarakat adat Minangkabau memiliki peranan yang khas. Sistem kekerabatannya adalah matrilineal</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/perempuan-minangkabau-di-masa-sekarang/">Perempuan Minangkabau di Masa Sekarang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Mungkin sebagian orang banyak yang tidak mengetahui tentang adanya Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 maret. Perayaan tahun 2020 menyerukan peningkatan pembelaan terhadap hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.</p>
<p>Hari permpuan pertama kali digelar sebagai perayaan nasional di New York pada 28 Februari 1909. Dengan adanya hari besar tersebut menjadi bukti bahwa perempuan-perempuan bukanlah kaum yang lemah, perempuan adalah kaum yang memiliki keistimewaan sendiri yang harus dijaga.</p>
<p>Perempuan selalu menjadi topik yang tidak kunjung usai dibahas, diteliti dan diperbincangkan, tak terkecuali perempuan Minangkabau. Perempuan dalam susunan masyarakat adat Minangkabau memiliki peranan yang khas. Sistem kekerabatannya adalah matrilineal atau menurut garis keterunan ibu. Secara umum, sistem matrilineal juga memberikan legalitas kepada perempuan untuk berkuasa. Oleh sebab itu sistem adat matrilineal tidak hanya penarikan garis keturunan berdasarkan ibu, akan tetapi kekuasaan juga berada di tanggan perempuan.</p>
<p>Pada masyarakat Minangkabau, wanita dikelompokkan kedalam empat tingkatan berdasarkan ciri fisik, kematangan emosional, dan perannya di dalam masyarakat. Yang pertama adalah batino, seorang wanita yang baru lahir sampai dia menempuh masa kanak-kanak sampai sebelum akil balig.</p>
<p>Urutan yang kedua adalah gadih, yaitu wanita dari masa akil balig sampai masa sebelum menikah. Wanita pada urutan ketiga adalah padusi, yaitu wanita yang sudah bersuami.</p>
<p>Dan yang terakhir adalah parampuan, yaitu wanita yang sudah memiliki usia lanjut yang dimulai ketika dia sudah menjadi nenek dalam sebuah keluarga.</p>
<p>Sedangkan berdasarkan status sosialnya, sebagai seorang ibu, maka wanita disebut juga dengan mande, ande atau mandeh. Sedangkan yang dituakan diantara mereka dan ditunjuk dengan mekanisme adat, disebut juga dengan Bundo Kanduang.</p>
<p>Adat minangkabau telah mengatur sedemikian rupa peran perempuan dalam kemasyarakatnya. Anak gadis Minang dalam perspektif adat, pada suatu ketika akan menjadi Bundo Kanduang.</p>
<p>Secara harfiah dua kata itu berarti “ibu kanduang”. Bundo Kanduang adalah perkumpulan perempuan-perempuan yang paling tua pada suatu kaum.</p>
<p>Ia adalah sosok yang menunjukan posisi mulia perempuan Minangkabau dalam tatanan adat masyarakatnya. Fungsi dari Bundo Kanduang ini adalah sebagai penerima waris dari pusako tinggi, menjaga keberlangsungan keturunan, dan sebagai perlambang moralitas dari masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Perempuan tidak hanya berfungsi sebagai penerus keturunan, tetapi juga terlibat dalam musyawarah di keluarga, kampung, daerah, dan negerinya.</p>
<p>Hal ini sangat sejalan dengan pernyataan bahwa perempuan Minangkabau merupakan limpapeh rumah gadang atau tiang utama dan juga sebagai kunci harta pusaka keluarga. Jika ditafsirkan perempuan Minang adalah seorang ibu.</p>
<p>Dialah maha guru sang anak sejak dari rahim, maka ia wajib menjadi contoh baik dari segi iman yang didapat dari agama dan Tuhannya. Sejalan dengan falsafah Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.</p>
<p>Berdasarkan falsafah itu juga, maka bagi orang Minangkabau, menghormati perempuan sama halnya dengan menjalankan perintah agama Islam.</p>
<p>Dalam Islam perempuan sangat dihormati, perempuan adalah ibu yang melahirkan kita, generasi di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.</p>
<p>Berdasarkan pernyataan tersebut jelaslah bahwasanya peranan perempuan di Minangkabau sangat penting bagi keturunannya. Hal ini dari zaman nenek moyang sudah diajarkan kepada perempuan Minang melalui adat istiadat sehari-hari yang sesuai dengan isi alquran dan Hadist.</p>
<p>Pada dasarnya seorang perempuan yang buruk hatinya serta perangainya akan melahirkan seorang anak yang akan mudah menjadi buruk pula. Namun sebaliknya perempuan yang berwatak baik akan melahirkan keturunan yang baik pula.</p>
<p>Apa yang terjadi di Indonesia hari ini khususnya Minangkabau sangat memprihatikan, para perempuan Minang tidak lagi mengetahui harkat dan martabatnya sebagai perempuan minangkabau, mereka terlena dan terpengaruhi oleh kecangihan dunia sekarang dan lebih suka melihat gaya-gaya orang barat yang pakaiannya cenderung menampakan aurat, menurut mereka pakaian seperti itu cantik dan modern. Hal itu membuat perempuan Minang sudah sepenuhnya lepas dan berjarak dari adat kebudayaanya. Pribadi perempuan Minang tempo dulu yang selalu mencitrakan tentang keanggunan, kewibawaan, simbol moralitas, beradat, bermatabat tidak lagi ada pada diri perempuan masa sekarang.</p>
<p>Sebagai generasi milenial, anak gadih Minang saat ini lebih cepat mengetahui, menerima dan mencontoh nilai-nilai baru, tren-tern baru terkait dengan gaya hidup, makanan, tokoh idola dan lain sebagainya. Mereka sangat mudah menemukan semua itu melalui gadget canggih yang ditangannya.</p>
<p>Melalui aplikasi sosial media seperti, Facebook, WhatsApp, Instagram, Twiteer, Line dan lain sebagainya. Hubungan melalui media sosial itu terjadi antara individu dengan individu yang dikenal dengan istilah chatingan dan bicara langsung yang di kenal dengan video call.</p>
<p>Mudahnya akses informasi secara global telah memberikan andil besar dalam perubahaan wanita atau gadih Minang saat ini. Mereka lebih mahir menggunakan jari-jarinya dalam mengusap smartphone daripada mempelajari kebudayaannya dan peranan dirinya yang sebenarnya dalam masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Di Minangkabau dikenal dengan istilah “Tungku Tigo Sajarangan, tali tigo sapilin”. Ini merupakan istilah untuk tiga orang unsur pemimpin yang sangat menentukan sistem nilai dan norma yang mengatur segala aktivitas sosial dalam masyarakat.</p>
<p>Tiga unsur itu adalah Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai. Masing-masing mempunyai fungsi sosial berdasarkan status sosial mereka di tengah masyarakat. Niniak Mamak, adalah laki-laki yang dituakan secara adat.</p>
<p>Cadiak Pandai adalah laki-laki yang dianggap memiliki ilmu dan wawasan yang sangat luas dalam berbagai aspek kehidupan.</p>
<p>Dan Alim Ulama adalah laki-laki yang dituakan dan memiliki kemampuan yang cukup dalam hal keagamaan. Akan tetapi, realitas yang ada sekarang menunjukan sistem nilai itu sudah bergeser, jangankan menghukum perbuatan yang salah, untuk menegur perbuatan yang salah saja seolah berat untuk melakukannya.</p>
<p>Hal itu terjadi mungkin karena berbagai macam alasan. Bisa jadi karena merasa bukan dia yang pantas menegur, karena status sosial yang rendah, dan mungkin karena kekurangan ilmu dalam hal tersebut.</p>
<p>Perubahan sosial telah membuat peran Ayah, ibu dan Niniak Mamak secara adat semakin melemah. Jika dibiarkan, maka badai globalisasi yang membawa nilai yang berbeda dan tidak cocok dengan budaya Minangkabau akan mengikis seluruh sistem sosial yang ada.</p>
<p>Alangkah banyaknya nanti generasi-generasi muda yang kehilangan jati diri dan menjadi wanita yang tidak sopan atau disebut juga dengan gadih nan indak bataratik.</p>
<p>Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghindari hal tersebut adalah dengan dilakukannya kembali pembelajaran sedari dini, seperti yang dilakukan orang-orang tempo dulu kepada anak-anaknya tentang kebudayaan minangkabau dan peranan perempuan di dalamnya.</p>
<p>Tentu saja dalam hal tersebut diperlukan orang yang mengerti dan paham akan kebudayaan Minangkabau, maka dari itu dari sekarang perlu adanya sekolah-sekolah yang memberi pelajaran tentang kebudayaan Minangkabau tersebut.</p>
<p>Dan hal lainnya adalah dengan menunjuk Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, dengan orang-orang yang mempunyai pendidikan tinggi dan yang pasti juga tegas dan mempunyai pengetahuan banyak tentang kebudayaan Minangkabau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/perempuan-minangkabau-di-masa-sekarang/">Perempuan Minangkabau di Masa Sekarang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">30559</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/66 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-10 14:25:22 by W3 Total Cache
-->