<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Adat Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/adat-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/adat-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jan 2026 03:14:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Adat Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/adat-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Adaik Suluah Nagari  Cerminan dari Ekspresi Budaya Nusantara</title>
		<link>https://langgam.id/adaik-suluah-nagari-cerminan-dari-ekspresi-budaya-nusantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2026 03:14:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=242475</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya mempersembahkan pameran Adaik Suluah Nagari (Adat Sebagai Pelita Nilai, Penjaga Marwah Nagari). Ekshibisi yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, mengangkat keragaman artefak budaya Minangkabau sebagai bagian dari program pemajuan kebudayaan Nusantara. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir untuk meresmikan pameran tersebut. Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli mengungkapkan bahwa pameran&#160;Adaik Suluah Nagari&#160;bukanlah sekadar seremonial semata, namun ruang untuk merayakan kekayaan suku bangsa Indonesia yang sangat beragam. Menteri Fadli menjelaskan bahwa koleksi yang ditampilkan dalam pameran&#160;Adaik Suluah Nagari&#160;merupakan cerminan dari ekspresi budaya Nusantara sekaligus wujud dari kearifan lokal Minangkabau. Menurut Menbud, artefak-artefak adat</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/adaik-suluah-nagari-cerminan-dari-ekspresi-budaya-nusantara/">Adaik Suluah Nagari  Cerminan dari Ekspresi Budaya Nusantara</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="h-menteri-kebudayaan-resmikan-pameran-adaik-suluah-nagari-teguhkan-angkat-keragaman-budaya-minangkabaukementerian-kebudayaan-melalui-museum-dan-cagar-budaya-mempersembahkan-pameran-adaik-suluah-nagari-adat-sebagai-pelita-nilai-penjaga-marwah-nagari-ekshibisi-yang-berlangsung-di-museum-nasional-indonesia-jakarta-mengangkat-keragaman-artefak-budaya-minangkabau-sebagai-bagian-dari-program-pemajuan-kebudayaan-nusantara"><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya mempersembahkan pameran <em>Adaik Suluah Nagari (Adat Sebagai Pelita Nilai, Penjaga Marwah Nagari).</em> Ekshibisi yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, mengangkat keragaman artefak budaya Minangkabau sebagai bagian dari program pemajuan kebudayaan Nusantara.</p>



<p>Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir untuk meresmikan pameran tersebut. Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli mengungkapkan bahwa pameran&nbsp;<em>Adaik Suluah Nagari</em>&nbsp;bukanlah sekadar seremonial semata, namun ruang untuk merayakan kekayaan suku bangsa Indonesia yang sangat beragam.</p>



<p>Menteri Fadli menjelaskan bahwa koleksi yang ditampilkan dalam pameran&nbsp;<em>Adaik Suluah Nagari</em>&nbsp;merupakan cerminan dari ekspresi budaya Nusantara sekaligus wujud dari kearifan lokal Minangkabau. Menurut Menbud, artefak-artefak adat tersebut sarat akan nilai budaya yang menjadi fondasi penting dalam menjaga jati diri bangsa.</p>



<p>“Koleksi yang ada di pameran&nbsp;<em>Adaik Suluah Nagari</em>&nbsp;ini merupakan ekspresi budaya yang terwujud dalam artefak, miniatur bangunan, dokumentasi, busana, perhiasan, dan juga karya-karya yang menunjukkan nilai-nilai luhur budaya serta tradisi kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau memang mempunyai budaya yang kental, terutama hampir di setiap nagari yang biasanya dipimpin oleh seorang datuk,” ujar Menbud.<img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/cms.kemenbud.go.id/api/assets/kemenbud/fac94593-818e-42b5-9276-4823cb689b33/menteri-kebudayaan-resmikan-pameran-adaik-suluah-nagari-teguhkan-angkat-keragaman-budaya-minangkabau-1.jpeg?ssl=1" alt="Lampiran Gambar">Lebih jauh, Menteri Fadli turut mendorong Museum Nasional Indonesia yang menjadi tempat berlangsungnya pameran&nbsp;<em>Adaik Suluah Nagari&nbsp;</em>sebagai tolak ukur bagi seluruh museum di Indonesia. Hal tersebut berkaitan dengan harapan agar seluruh museum di Indonesia dapat memperbaiki tata kelola pameran, pelestarian artefak, serta cara penyampaian narasi sejarah yang lebih menarik.</p>



<p>“Kita ingin menjadikan Museum Nasional ini semacam contoh atau&nbsp;<em>benchmark</em>&nbsp;bagi museum-museum yang ada di daerah. Museum-museum yang ada di daerah sekarang ini ada cukup banyak, seperti museum provinsi, kabupaten-kota, dan desa. Kita berharap museum-museum provinsi terlebih dulu yang berbenah, mungkin bisa mencontoh apa yang ada di Museum Nasional, baik dari&nbsp;<em>storyline</em>, tata pamer, edukator, konservator, dan lain-lain,” imbuh Menteri Kebudayaan.</p>



<p><em>Adaik Suluah Nagari (Adat Sebagai Pelita Nilai, Penjaga Marwah Nagari)</em>&nbsp;merupakan pameran yang mengusung konsep tematik, ekshibisi ini mencoba menampilkan kekayaan budaya Minangkabau melalui khazanah artefak berupa miniatur bangunan, baju dan perhiasan adat, naskah-naskah kuno hingga lukisan seni.</p>



<p>Hadir dalam acara peresmian untuk mendampingi Menteri Kebudayaan, di antaranya Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo; Penasehat DWP Kementerian Kebudayaan, Katharine Grace Fadli Zon dan Cynthia Giring Ganesha; dan Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin. Turut hadir pula Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat; anggota DPR RI Komisi X; keluarga besar dan kerabat sosiolog Alm. Sativa Sutan Aswar; serta tokoh adat dan budayawan.</p>



<p>Mengakhiri sambutan, Menteri Fadli berharap pameran&nbsp;<em>Adaik Suluah Nagari&nbsp;</em>dapat menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan terhadap kekayaan budaya Minangkabau. “Mudah-mudahan juga, pameran ini bisa menjadi pemicu bagi komunitas dan adat daerah lain untuk mengadakan pameran di berbagai museum. Sehingga nanti semakin kaya budaya yang kita pamerkan dan diapresiasi terutama oleh generasi muda,” tutup Menbud.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/adaik-suluah-nagari-cerminan-dari-ekspresi-budaya-nusantara/">Adaik Suluah Nagari  Cerminan dari Ekspresi Budaya Nusantara</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">242475</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</title>
		<link>https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 04:20:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=237662</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Cahaya lembut berpendar di dinding galeri, memantul pada deretan foto berbingkai yang merekam denyut kehidupan beragama dan beradat di ranah Minang. Dari ritus Manyaratuih Hari hingga balimau menjelang Ramadan, dari gema badikie dan shalawat dulang hingga gerak halus Indang Tuo, semuanya seolah berbicara tentang Islam yang hidup dalam napas budaya. Suasana itu hadir dalam pameran etnografi karya Edy Utama bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat, yang berlangsung selama sepekan (24-31 Oktober 2025) di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat. “Ada sekitar 200 foto yang dipamerkan, yang dibuat antara tahun 2005-2025, yang disusun dalam bentuk</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/">Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Cahaya lembut berpendar di dinding galeri, memantul pada deretan foto berbingkai yang merekam denyut kehidupan beragama dan beradat di ranah Minang. Dari ritus <em>Manyaratuih Hari</em> hingga <em>balimau</em> menjelang Ramadan, dari gema <em>badikie</em> dan <em>shalawat dulang</em> hingga gerak halus <em>Indang Tuo</em>, semuanya seolah berbicara tentang Islam yang hidup dalam napas budaya. Suasana itu hadir dalam pameran etnografi karya Edy Utama bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat<strong>, </strong>yang berlangsung selama sepekan (24-31 Oktober 2025) di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat.</p>



<p>“Ada sekitar 200 foto yang dipamerkan, yang dibuat antara tahun 2005-2025, yang disusun dalam bentuk esai-esai foto,” ujar Bung, sapaan akrab Edy Utama.</p>



<p>Bagi Edy, yang telah puluhan tahun memotret denyut kehidupan masyarakat adat dan religius Minangkabau, karya-karyanya adalah rekaman dari pertanyaan-pertanyaan lama: mengapa masyarakat Minang bisa bernegosiasi dengan nilai Islam, dan bagaimana keduanya saling menguatkan tanpa saling meniadakan.</p>



<p>Mengutip Azyumardi Azra (1988), Edy menyebutkan, meski surau adalah warisan Hindu-Budha , namun kemudian diintegrasikan paska masuknya Islam ke Minangkabau. Bahkan dalam perkembangannya, surau adalah lembaga Islam terpenting, yang telah menjadi episentrum pengajaran Islam yang menonjol. Surau juga merupakan titik tolak Islamisasi Minangkabau.</p>



<p>Surau juga mejadi pusat tarekat yang sekaligus memainkan peran sebagai benteng pertahanan Minangkabau dalam merespons berkembangnya dominasi kekuatan kolonial Belanda.</p>



<p>“Surau dikembangkan menjadi lembaga pendidikan agama Islam dan adat Minangkabau. Surau dapat dikatakan sebagai ruang pertemuan yang paling intensif antara adat Minangkabau dan agama Islam,” bebernya.</p>



<p>Melalui pameran ini, masyarakat yang datang bisa melihat visual ‘hidup’ ritual bakaua, arak sadakah padi, doa tulak bala, yang merupakan ritus keberagamaan dalam kehidupan budaya agraris umat muslim Minangkabau.</p>



<p>Ketiga ritus ini memperlihatkan, bagaimana umat muslim Minangkabau bersyukur dan memohon pertolangan Allah SWT secara bersama-sama, agar pertanian mereka berhasil dan terhindar dari marabahaya.</p>



<p>Bertahannya ritus dalam tradisi budaya agraris ini, disebabkan hubungan yang begitu kental antara dunia tarekat dengan budaya agraris. Menurut Cristine Dobbin (1992), di ke-18 banyak guru tarekat yang menjalani hidup sebagai petani. Ritus akhir abad keberagamaan lainnya adalah haul, sebuah ritual memperingati hari wafatnya seorang tokoh agama.</p>



<p>Dalam pameran etnografi kali ini, Bung Edy menghidupkan rekaman peristiwa haul yang disebut basapa dalam lembaran foto. Kegiatan basapa berpusat di makam Syekh Burhanuddin di Ulakan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237677" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah pengunjung pameran etnofografi Bung Edy Utama melihat karya-karya yang dipajang.</figcaption></figure>



<p>Menurut Edy, pada puncak basapa, puluhan ribu pengikut tarekat Syattariyah dari berbagai pelosok Minangkabau menziarahi makam Syekh Burhanuddin. Haul berikutnya adalah ziarah kubur ke makam salah seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyah Minangkabau, Syekh Maulana Malik Ibrahim AlKhalidi, Surau Batu Kumpulan, Pasaman, yang dikenal dengan panggilan Inyiak nan Balinduang.</p>



<p>Foto menarik lain yang ditampilkan Edy adalah prosesi pengukuhan Pucuak Syarak dengan gelar Kari Ibrahim, yang posisinya berdampingan dengan Pucuak Adat dalam struktur kepemimpinan umat muslim minangkabau.</p>



<p>Selain itu, penikmat karya fotografi bernuansa etnografi juga disuguhi ritus kematian, yang disebut Manyaratuih Hari serta ritus balimau memasuki bulan suci Ramadan.</p>



<p>Ada pula ritus Maulid Nabi, perayaan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, dengan berbagai atribut seperti bungo lado dan juadah, serta semangat partisipasi masyarakat lokal yang luar biasa. Dihadirkan potret seni bernafaskan Islam seperti badikie, barabano dan shalawat dulang dan Indang Tuo.</p>



<p>Pameran etnofotografi ini juga meluaskan cakrawala dengan menghadirkan kekayaan visual dari ritus serak gulo yang dipraktikkan oleh masyarakat keturunan India di Masjid Muhammadan, Padang, serta tradisi batabuik yang telah mengakar kuat dalam kehidupan budaya masyarakat di Padang Pariaman.</p>



<p>“Kehadiran kedua ritus ini memperkaya narasi pameran tentang praktik ritual dalam kehidupan umat muslim Minangkabau. Undang-undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017, menetapkan ritus sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan (OPK),” ungkap Edy.</p>



<p>Dalam penjelasan undang-undang, ritus antara lain dimaknai sebagai tata cara pelaksanaan upacara yang didasarkan pada nilai tertentu, dilakukan secara terus-menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Melalui berbagai praktik ritus itulah kita dapat melihat, peran masyarakat adat Minangkabau dalam menopang kegiatan ritual yang dilaksanakan secara berkelanjutan tersebut.</p>



<p><strong>Persoalan Agama di Minangkabau juga Urusan Niniak Mamak</strong></p>



<p>Tema pertautan Islam dan adat di Minangkabau yang diketengahkan Edy dalam bentuk foto, tak terlepas dari kerisauannya soal kehidupan beragama di Sumatra Barat, terutama dalam konteks keminangkabauan. Ia sering dengar kata bid&#8217;ah dilontarkan oleh pemuka agama dalam menyikapi aktivitas keagamaan yang bersinggungan dengan kebudayaan.</p>



<p>Nah, dalam risetnya justru Edy menemukan bagaimana pelbagai ritual atau ritus keagamaan, terlaksana berkat dukungan struktur niniak (ninik) mamak.</p>



<p>“Saya menemukan beberapa kasus, misal peringatan kematian Syekh (Inyiak) Balinduang Surau Batu, setiap tahun ada perayaan dengan nama Alek Surau Batu. Yang kerja keras melayani tamu yang berziarah saat haul Syekh Balinduang adalah 36 penghulu di (Nagari) Koto Kaciak. Masing-masing penghulu wajib menyediakan kancah untuk memasak. Bahkan dalam kenyataannya ada sampai bikin 50 kancah, karena ada beberapa penghulu yang menyediakan lebih dari satu kancah,” ungkap Edy.</p>



<p>Syekh Balinduang Surau Batu adalah&nbsp;gelar untuk Maulana Syekh Ibrahim atau dikenal juga dengan Syekh Kumpulan atau Syekh Ibrahim al-Khalidi.Beliau adalah seorang ulama besar, mursyid tarekat Naqsyabandiyyah dari Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Bonjol, Pasaman. Beliau adalah guru agama bagi banyak ulama lain dan memiliki pengaruh besar dalam pengembangan tarekat Naqshabandiyah di Nusantara.&nbsp;Di samping itu juga berperan dalam palagan Perang Paderi.</p>



<p>Dalam karya-karya yang dipajang Bung Edy, juga tampak perayaan kematian. Misalnya ritus kematian yang disebut Manyaratuih Hari di Solok yang begitu sumarak. Nah, dalam hal ini, perempuan sebagai pihak semenda dari suku yang meninggal yang mengarak juadah (<em>jamba</em>).</p>



<p>“Yang terjadi di Solok, hampir semua orang bawa Jamba atau juadah itu perempuan yang jadi <em>sumando</em> (semenda). Misal yang kawin dengan Chaniago, dia yang bawa juadah atau Jamba. Di sini, niniak mamak sangat berperan,” tukas Edy.</p>



<p>Di Sijunjung, katanya lagi, acara berkaul yang diadakan setiap tahun dilakukan pemotongan seekor kerbau, dimana menjadi tanggung jawab 16 penghulu di sana.</p>



<p>“Apa ini makna ungkapan sarak mangato, adaik mangatai,” ucap Edy dalam sesi diskusi pada pengujung pameran di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, Jumat (31//10/2025).</p>



<p><em>Syarak mangato, adaik mamakai</em> adalah&nbsp;prinsip filosofis Minangkabau yang berarti&nbsp;syariat (ajaran Islam) yang berkata atau memberi perintah, sedangkan adat yang memakai atau melaksanakannya.</p>



<p>“Persoalan agama bukan sekedar persoalan ulama, tapi juga niniak mamak. Saya kira melihat hubungan. Problemnya kerap dicaps bidah dengan melihat praktik di permukaan. Padahal di belakang praktik ritual, hampir semuanya penghulu berperan besar. Ini saya belum tuntas melakukan pengamatan,” terang Edy.</p>



<p>Ketua panitia pameran, Muhammad Taufik, menyebut ketika gagasan pameran etnofotografi Edy Utama muncul, maka pikiran kembali ditarik pada apa yang ditulis Akbar Salahuddin Ahmed, seorang antropolog Muslim asal Pakistan.</p>



<p>Salah satu buku antropolog yang juga dikenal sebagai pengarang cum penyair dan sineas ini adalah <em>Living Islam: From Samarkand to Stornoway</em>. Dalam buku itu, Ahmed menyoroti Living Islam sebagai sebagai fenomena keberadaan dan praktik Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim (living Islam) atau Islam sebagai peradaban yang hidup dan berdenyut dalam ruang sosial, budaya dan sejarah.</p>



<p>Fokus Ahmed adalah menyigi Islam dari praktik ke teks, bukan sebaliknya, sebagaimana yang juga dipotret dalam lensa Bung Edy. Artinya Ahmed tidak mendokumentasikan apa yang tertulis dalam fikih. Menariknya Ahmed dalam studi ini satu sisi menyuguhkan Islam realitas (praktik sosial) kemudian membandingkannya dengan islam idealitas. Artinya ia ingin menunjukkan di mana masyarakat muslim mampu hidup dengan ideal dan di mana tidak.</p>



<p>“Namun kekuatan buku ini adalah kemampuan Ahmed menunjukan realitas Islam yang mungkin akan membuat marah Muslim bahkan Nonmuslim karena keitiqamahannya menjaga otentisitas, akurasi bahkan dia tetap mencatat sesuatu yang secara pribadi tidak disetujuinya, tanpa memoles atau menutup-nutupi,” beber Taufik.</p>



<p>Menurut Taufik, karya-karya yang dipentaskan Edy Utama &nbsp;adalah sebagai bentuk living Islam yakni Islam yang hidup di tengah masyarakat, bukan Islam yang berhenti di teks.</p>



<p>“Apa yang dilakukan Bung Edy adalah living Islam dari kacamata lensa kamera. Ia memotret bukan hanya ritual, tapi napas kehidupan, bagaimana Islam di Minangkabau tumbuh bersama adat,” ujar Taufik.</p>



<p>Menurutnya, pameran ini bukan sekadar dokumentasi visual, tetapi ajakan untuk merefleksikan ulang cara pandang terhadap budaya sendiri. “Dari foto-foto itu, kita diajak menyadari bahwa membangun kebudayaan tidak bisa hanya di hilir. Kita harus kembali ke hulunya, ke nilai-nilai, ke spiritualitas yang dulu menjadi sumber kekuatan Minangkabau,” tambahnya.</p>



<p><strong>Merawat Hulu, Menjernihkan Muara Kebudayaan</strong></p>



<p>Pameran fotografi yang digelar Edy lebih dari sekadar foto, melainkan sebuah renungan: bagaimana menjernihkan hilir kebudayaan dengan memperbaiki hulunya.</p>



<p>“Budaya itu ibarat sungai. Ada hulunya dan ada muaranya. Sekarang kita sibuk mengurus muara seperti atraksi seremonial, festival, promosi, tapi lupa memelihara hulunya, yaitu spiritualitas dan nilai,” ujar Edy Utama dalam pembukaan pameran Etnografi Islam Minangkabau.</p>



<p>“Saya mulai dari kekaguman,” katanya pelan. “Saya menelusuri Tabut, basafa, tarekat Syattariyah berpuluh tahun. Banyak hal yang dianggap kontroversial ternyata dirawat oleh orang Minang dengan penuh kearifan. Inilah kekuatan hulu budaya kita&nbsp; kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar.”</p>



<p>Dalam paparannya, Edy Utama menyinggung bahwa banyak kebijakan kebudayaan kini berhenti di tataran diplomasi dan seremonial. Padahal, esensi kebudayaan adalah ketahanan dari dalam, bukan kemegahan di luar.</p>



<p>“Kita sering memainkan budaya untuk kesenangan, bukan untuk ketangguhan. Padahal, silat misalnya, bukan untuk mengalahkan orang, tapi untuk mempertahankan martabat. Itu benteng hidup,” ujarnya tegas.</p>



<p>Ia mengajak pemerintah dan pelaku budaya untuk melihat kebudayaan dengan pendekatan etnografis, menyelami kehidupan masyarakat, bukan sekadar menampilkannya di panggung.</p>



<p>Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menilai karya Edy Utama memberi ruang refleksi bagi pemerintah daerah dalam membangun kebijakan kebudayaan yang lebih bermakna.</p>



<p>“Kita perlu menata kembali kebudayaan dari hulunya. Kekuatan Minangkabau bukan pada simbolnya, tapi pada nilai dan spiritualitasnya,” ujarnya, disela pembukaan pameran etnofotografi Edy Utama.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237673" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Fotografer Bung Edy Utama menjelaskan ornamen dan pemaknaan arsitektur surau dan masjid kepada Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi.</figcaption></figure>



<p>“Hulu kebudayaan ya Islam itu sendiri, Maka tulah yang apa, adat yang ada di kita disesuaikan dengan hulu itu sendiri, itu makanya Islam di Minangkabaukan,” Mahyeldi menambahkan.</p>



<p>Nah, sambungnya, bagaimana proses hulunya nilai-nilai Islam itu menyatu dalam bentuk kebudayaan, dalam bentuk tulisan, dan kemudian juga dalam bentuk keseharian masyarakat di Minangkabau. “Dan kan itu yang dituangkan dalam falsafah Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) itu sendiri,” ucapnya.</p>



<p>Menurutnya, Edy Utama menghadirkan kelindan akulturasi&nbsp; yang sudah berjalan lama. Misalnya potret masjid atau surau yang ditampilkan Edy Utama.</p>



<p>“Karya yang mengabadikan salah satu masjid menunjukkan ada Eropanya, ada Indianya, ada Turkinya, juga ada Minangnya, semua itu dipadukan,” kata Mahyeldi, disela-sela pembukaan pameran etnofotografi Edy Utama, Jumat (24/10/2025).</p>



<p>Dia juga melihat dalam dunia kesenian yang hidup di Sumatra Barat terutama Padang juga memadukan ragam kebangsaan atau etnis. Di kawasan Pondok misalkan ada seni gambang, kemudian juga ada Balanse Madam kesenian dari suku Nias di Padang.</p>



<p>“Jadi itulah, jadi memang orang Minang ini, memang mengakomodasi, kemudian itu menghadirkan suatu yang menarik. Nah itulah, sudah seperti itu Minangkabau di dalam, makanya dalam faktanya, ketika ada permasalahan bangsa, ini karena Minang yang tampil untuk menyelesaikan. PDRI misalnya kan, itu kan Minang yang tampil,” bilang Mahyeldi.</p>



<p>Kehadiran pameran Bung Edy, Mahyeldi berharap menginspirasi banyak orang dan juga Sumbar sendiri.</p>



<p>“Keanekaragaman dan kemudian itu diinspirasi oleh Indonesia Islam, karena memang juga ya, Islam yang ada ke Nusantara ini kan juga berasal dari daerah-daerah berbeda-beda, nah itu juga dihadirkan di Sumatra,” tukas Mahyeldi.</p>



<p>Sementara itu, tokoh budaya Mak Katik memberikan tanggapan lugas dan hangat.</p>



<p>“Saya sangat setuju dengan Bung Edy. Pejabat kita banyak mengambil muaranya saja &nbsp;seperti rumah gadang, gonjong, songkok. Tapi hulunya, yakni nilai dan keaslian, sering dilupakan. Hulu itulah yang harus kita gali kembali,” tuturnya.</p>



<p>Menariknya, pameran ini juga menyita perhatian mahasiswa internasional asal Nigeria yang tengah belajar di UIN Imam Bonjol Padang.</p>



<p>Ibrahim Ismail, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, mengaku terkesan dengan harmoni antara Islam dan budaya di Sumatra Barat.</p>



<p>“Saya menikmati sekali acara ini. Budaya Islam di sini terasa hidup, penuh keramahan. Di Nigeria, Islam lebih formal. Di sini saya melihat Islam yang menyatu dengan adat. Ini luar biasa,” katanya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237674" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mahasiswa asal Nigeria yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol menikmati sajian foto-foto karya Bung Edy Utama</figcaption></figure>



<p>Mahasiswa asal Nigeria lain, Adam Rabiu Awal dan Umarfaruq Muhammad Gambo, menambahkan bahwa pengalaman mereka di Sumatra Barat menunjukkan bagaimana Islam dan budaya bisa saling memperkaya, bukan bertentangan. “Di sini kami melihat Islam yang indah dan manusiawi,” kata Umarfaruq.</p>



<p>Malam itu, di antara foto-foto dan percakapan hangat, tersirat pesan sederhana namun dalam: kebudayaan adalah sungai kehidupan. Jika hulunya kering dan tercemar, maka muaranya tak akan pernah jernih.</p>



<p>“Hulu spiritualitas Minangkabau adalah kekuatan kita,” kata Edy Utama menutup malam itu. “Dan itu mulai kita tinggalkan. Sudah saatnya kita pulang ke hulu, menjernihkan muara kebudayaan yang mulai keruh.”</p>



<p>Pameran etnofotografi Bung Edy berlangsung seminggu dikunjungi ribuan orang. Mulai dari penikmat seni, budayawan, wartawan, akademisi, mahasiswa, hingga para pelajar. Namun, banyak asa yang terbentang dalam diskusi cair yang dibentangkan pada hari terakhir pameran, Jumat (31/10/2025) malam.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="518" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=1200%2C518&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237678" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=1200%2C518&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=300%2C129&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=768%2C331&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?w=1217&amp;ssl=1 1217w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah kolega, sanak Bung Edy Utama hadir dalam penutupan yang berbalut diskusi karya-karya Bung Edy Utama di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, Jumat (31/10/2025) malam. </figcaption></figure>



<p>Akademisi dan peneliti asal Sumatra Barat yang mengajar di Universitas Leiden, Belanda, Surya Suryadi menilai karya-karya foto Edy Utama ini penting dalam merawat khazanah budaya Minangkabau. Menurutnya karya pendokumentasian secara visual penting untuk menjadi harta karun sejarah ke depannya. Ia mencontohkan bagaimana Belanda sangat serius untuk pendokumentasian visual, bahkan punya proyek memvideokan aktivitas hari ke hari beberapa kota di Indonesia.</p>



<p>“Mungkin 100 tahun lagi, kalau kita ingin belajar atau meneliti tentang budaya dan sejarah kita, harus ke Leiden, Belanda,” celetuknya.</p>



<p>Ketua Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas &nbsp;Zulqaiyyim misalnya, berharap pameran ini juga di bawa ke tengah gelanggang kampus. Menurutnya, kalau ditampilkan di arena seperti kampus, ini akan membuat orang (mahasiswa) tercengang-cengang, mengingat ini realitas yang terlihat dari perspektif sejarah.</p>



<p>Secara sosiologis, katanya, Islam di Minangkabau ada merasa lebih murni, lebih saleh, lebih beriman, sementara foto-foto yang ditampilkan realita sosial.</p>



<p>“Oleh karena itu, kita menyarankan pameran jangan terbatas di sini, tapi dibawa ke kampus,” pungkasnya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/">Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">237662</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Relevansi &#8220;Kato nan Ampek&#8221; di Minangkabau Masa Kini</title>
		<link>https://langgam.id/relevansi-kato-nan-ampek-di-minangkabau-masa-kini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin2]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2025 05:01:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=232065</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Abdul Azis Kato nan Ampek (kata yang empat) merupakan konsep etika komunikasi masyarakat Minangkabau yang mencakup empat jenis pola tutur dalam berinteraksi. Menurut A.A. Navis, fungsi Kato nan Ampek adalah untuk menghormati orang yang lebih tua, menjaga kesantunan (politeness) dalam berkomunikasi, membangun hubungan sosial yang harmonis, serta menghindari konflik dan kesalahpahaman. Namun, seiring perkembangan zaman dan derasnya arus akulturasi budaya luar, penerapan konsep ini mengalami kemerosotan. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana Kato nan Ampek masih relevan di tengah perubahan social dynamics masyarakat Minangkabau. Alasan Penulis Membahas Relevansi Kato Nan Ampek Pertama, penyalahgunaan Kato nan Ampek oleh pihak</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/relevansi-kato-nan-ampek-di-minangkabau-masa-kini/">Relevansi &#8220;Kato nan Ampek&#8221; di Minangkabau Masa Kini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh: Abdul Azis</p>



<p><em>Kato nan Ampek </em>(kata yang empat) merupakan konsep etika komunikasi masyarakat Minangkabau yang mencakup empat jenis pola tutur dalam berinteraksi. Menurut A.A. Navis, fungsi <em>Kato nan Ampek</em> adalah untuk menghormati orang yang lebih tua, menjaga kesantunan (politeness) dalam berkomunikasi, membangun hubungan sosial yang harmonis, serta menghindari konflik dan kesalahpahaman.</p>



<p>Namun, seiring perkembangan zaman dan derasnya arus akulturasi budaya luar, penerapan konsep ini mengalami kemerosotan. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana <em>Kato nan Ampek </em>masih relevan di tengah perubahan social dynamics masyarakat Minangkabau.</p>



<p>Alasan Penulis Membahas Relevansi Kato Nan Ampek</p>



<p>Pertama, penyalahgunaan <em>Kato nan Ampek</em> oleh pihak yang memiliki otoritas di Minangkabau. Konsep ini kerap dijadikan dalil untuk menuntut kepatuhan terhadap perintah yang sesungguhnya berorientasi pada kepentingan pribadi. Tokoh-tokoh yang tergabung dalam <em>Tigo Tungku Sajarangan</em> yakni, niniak mamak (pemimpin adat), alim ulama (pemimpin agama), dan cadiak pandai (pemimpin intelektual) memiliki pengaruh besar dalam <em>decision making</em>. Namun, beberapa di antaranya justru melakukan tindakan irasional yang melanggar norma sosial, adat, bahkan norma agama.</p>



<p>Kedua, terjadinya <em>paradigm shift </em>yang menyimpang dari esensi <em>Kato nan Ampek</em>. Pertanyaan atau pendapat dari kaum muda, khususnya anak kemenakan, kerap dibungkam dengan ungkapan yang bersifat ad hominem, seperti “kamu masih kecil” atau “jangan mengajari orang tua.” Sikap ini mematikan critical thinking bagi generasi muda tentunya. Padahal, kalau kita coba rujuk menurut teori Constructivism oleh Piaget, bahwa sejatinya proses pembelajaran dan pemahaman justru berkembang melalui dialog terbuka dan pengalaman interaktif, bukan represi verbal. Alternatifnya, tokoh adat dapat memberi respon yang lebih edukatif, misalnya: “Ketika waktunya tiba, akan mamak jelaskan,” atau “Bagus, nanti akan mamak pertimbangkan.”</p>



<p>Ketiga, memudarnya diskursus mengenai nilai-nilai etis yang terkandung dalam Kato nan Ampek membuat masyarakat Minangkabau semakin jauh dari local wisdom. Dalam perspektif Ogburn, sosilog asal Amerika Serikat itu menjelaskan kepada kita, bahwa fenomena ini terjadi ketika perubahan kebudayaan material (misalnya teknologi komunikasi) berlangsung lebih cepat dibandingkan adaptasi kebudayaan non-material seperti nilai, norma, dan etika, dan itu bisa saja berdampak signifikan.</p>



<p>Esensi yang Hilang dan Dampaknya</p>



<p>Jika dicermati, masalah utamanya bukan pada relevansi <em>Kato nan Ampek</em>, tetapi pada rendahnya kualitas penerapannya. Minimnya kebijaksanaan (wisdom) di kalangan tokoh adat, lemahnya pendidikan karakter di sekolah formal maupun non-formal, serta penetrasi budaya individualistik dari luar, membuat konsep ini kehilangan daya hidupnya. Akibatnya, <em>Kato nan Ampek </em>yang semestinya menjadi instrumen social cohesion justru tereduksi menjadi alat legitimasi kekuasaan.</p>



<p>Padahal, leluhur Minangkabau menciptakan konsep ini bukan untuk mengekang rasionalitas, apalagi membentuk mentalitas feodal tetapi selalu saja ada saja mereka yang mematahkan ranting nan baru tumbuh ini ironis, padahal leluhur melalui kebijaksanaan mereka menelurkan ini guna menegakkan komunikasi yang menjaga harmoni sosial (<em>social harmony</em>). Apabila dengan penerapan yang tepat, <em>Kato nan Ampek </em>dapat menjadi soft skill harusnya, dalam komunikasi lintas generasi yang relevan hingga kini.</p>



<p>Untuk menghidupkan kembali peran <em>Kato nan Ampek</em>, beberapa langkah strategis dapat dilakukan:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mengembalikan fungsi pada porosnya: <em>Kato nan Ampek</em> harus kembali digunakan untuk membangun hubungan yang egaliter namun tetap menghormati hierarki sosial. Hal ini memerlukan keteladanan dari para role model adat dan tokoh masyarakat.</li>



<li>Integrasi dalam pendidikan formal dan non-formal: Pembelajaran muatan lokal seperti Budi Pekerti dan Adat Minangkabau (BAM) perlu dihidupkan kembali secara aplikatif di kehidupan bermasyarakat, tidak sekadar berhenti di bangku kelas.</li>



<li>Mendorong dialog intergenerasi: Anak kemenakan diberi ruang untuk bertanya dan berpendapat tanpa rasa takut. Tokoh adat pun harus siap menjadi mentor yang membimbing, bukan sekadar menghakimi.</li>



<li>Pemanfaatan media digital: Mengadaptasi penyebaran nilai <em>Kato nan Ampek </em>melalui social media campaign dan konten kreatif agar dapat menjangkau generasi muda yang hidup di era digital native.</li>
</ol>



<p>Kesimpulannya, <em>Kato nan Ampek </em>itu bukanlah konsep usang, tapi itu adalah kearifan lokal yang kehilangan daya karena degradasi praktiknya, di sini akar masalahnya. Dengan mengembalikan esensinya pada akar filosofisnya dan menyesuaikan metode penerapannya terhadap konteks zaman, <em>Kato nan Ampek </em>dapat tetap menjadi perekat sosial masyarakat Minangkabau. Sebagaimana pepatah Minang mengajarkan, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” nilai luhur akan tetap relevan selama ia dijaga dan dihidupkan dalam tindakan, bukan hanya dalam kata. (*)</p>



<p><em>Penulis: Abdul Azis, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Aktif sebagai organisatoris di HMPS PAI, UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi.</em></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/relevansi-kato-nan-ampek-di-minangkabau-masa-kini/">Relevansi &#8220;Kato nan Ampek&#8221; di Minangkabau Masa Kini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">232065</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Indahnya Perpaduan Budaya, Menikah Adat Sunda Resepsi Adat Minang</title>
		<link>https://langgam.id/indahnya-perpaduan-budaya-menikah-adat-sunda-resepsi-adat-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jul 2024 22:49:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207358</guid>

					<description><![CDATA[<p>Minggu, 7 Juli 2024 bertempat di Graha Mekarwangi Bandung berlangsung akad nikah resepsi Ivana Astrilia dengan Mukhty Hadirun Effendy. Ivana merupakan sepupu penulis secara adat tidak memiliki suku karena Ayah berasal dari Koto Marapak IV Angkek Kabupaten Agam sedangkan Ibu dari Jawa Tengah. Sementara Mukhty asli Bandung Jawa Barat. Ternyata walaupun secara adat Ivana tidak bisa mewakili salah satu dimana Minang yang Matrilineal sementara Jawa Patrilineal, pengantin wanita tetap menampilkan adat Minangkabau untuk resepsi tercermin dari suntiang dan baju adat Minang yang dipakai berwarna hijau. Sementara saat akad nikah pasangan ini memilih adat Sunda lengkap dengan smua tradisi hingga selesai.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/indahnya-perpaduan-budaya-menikah-adat-sunda-resepsi-adat-minang/">Indahnya Perpaduan Budaya, Menikah Adat Sunda Resepsi Adat Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Minggu</strong>, 7 Juli 2024 bertempat di Graha Mekarwangi Bandung berlangsung akad nikah resepsi Ivana Astrilia dengan Mukhty Hadirun Effendy. Ivana merupakan sepupu penulis secara adat tidak memiliki suku karena Ayah berasal dari Koto Marapak IV Angkek Kabupaten Agam sedangkan Ibu dari Jawa Tengah. Sementara Mukhty asli Bandung Jawa Barat.</p>



<p>Ternyata walaupun secara adat Ivana tidak bisa mewakili salah satu dimana Minang yang Matrilineal sementara Jawa Patrilineal, pengantin wanita tetap menampilkan adat Minangkabau untuk resepsi tercermin dari suntiang dan baju adat Minang yang dipakai berwarna hijau.</p>



<p>Sementara saat akad nikah pasangan ini memilih adat Sunda lengkap dengan smua tradisi hingga selesai. Sebagai saudara sepupu penulis berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam hari bahagia Ivana dengan mengundang Yuliandre Darwis sebagai saksi pernikahan. Andre merupakan Penasehat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sekjen Gebu Minang serta Ketua Komisi Penyiaran Indonesia 2016 &#8211; 2019.</p>



<p>Minang semakin kental dari hadirnya ucapan selamat dari Andrinof A Chaniago Menteri PPN/ Kepala Bappenas RI 2014 &#8211; 2015, Andre Rosiade anggota DPR RI Komisi VI Fraksi Gerindra, Alex Indra Lukman Ketua DPD PDIP Sumbar, Buya Mahyeldi Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy Wagub Sumbar dan Benny Dwifa Yuswir Bupati Sijunjung.</p>



<p>Dengan pernikahan yang menggabungkan dua adat berbeda penulis berharap ini akan menyatukan tidak hanya dua keluarga tetapi juga dua suku besar dan berpengaruh di Indonesia. Terakhir penulis mengucapkan selamat untuk adinda Ivana &amp; Mukhty semoga Sakinah Mawaddah Warrahmah. Aaamiiin YRA</p>



<p></p>



<p>*Penulis: <strong>Rezki Rifai</strong> </p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/indahnya-perpaduan-budaya-menikah-adat-sunda-resepsi-adat-minang/">Indahnya Perpaduan Budaya, Menikah Adat Sunda Resepsi Adat Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207358</post-id>	</item>
		<item>
		<title>14 Perwakilan Negeri Sembilan Jelajah Budaya ke Ranah Minang</title>
		<link>https://langgam.id/14-perwakilan-negeri-sembilan-jelajah-budaya-ke-ranah-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Jul 2022 05:38:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[negeri sembilan]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=158996</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sebanyak 14 perwakilan Kerajaan Negeri Sembilan, Malaysia mengunjungi Ranah Minang pekan ini. Rombongan tersebut berkunjung ke sejumlah tempat di Sumatra Barat untuk jelajah budaya Minangkabau. Tim yang tergabung ke dalam Jelajah Keilmuan Ahli Lembaga Pengarah Lembaga Muzium Negeri Sembilan tersebut mengunjungi Sumbar pada 14-17 Juli 2022 ini. &#8220;Kami datang untuk mencari dan memperbanyak dasar dan wawasan tentang adat istiadat,&#8221; kata Setiausaha Kerajaan Negeri Sembilan Dato&#8217; Dr. Razali bin Ab Malik yang ikut dalam rombongan. Dinas Komunikasi dan Informasi Sumbar dalam rilisnya menyebut rombongan tersebut salat Jumat bersama dengan Gubernur Mahyeldi di Masjid Raya Sumbar, Jumat (15/7/2022). Gubernur menyambut</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/14-perwakilan-negeri-sembilan-jelajah-budaya-ke-ranah-minang/">14 Perwakilan Negeri Sembilan Jelajah Budaya ke Ranah Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Sebanyak 14 perwakilan Kerajaan Negeri Sembilan, Malaysia mengunjungi Ranah Minang pekan ini. Rombongan tersebut berkunjung ke sejumlah tempat di Sumatra Barat untuk jelajah budaya Minangkabau.</p>
<p>Tim yang tergabung ke dalam Jelajah Keilmuan Ahli Lembaga Pengarah Lembaga Muzium Negeri Sembilan tersebut mengunjungi Sumbar pada 14-17 Juli 2022 ini.</p>
<p>&#8220;Kami datang untuk mencari dan memperbanyak dasar dan wawasan tentang adat istiadat,&#8221; kata Setiausaha Kerajaan Negeri Sembilan Dato&#8217; Dr. Razali bin Ab Malik yang ikut dalam rombongan.</p>
<p>Dinas Komunikasi dan Informasi Sumbar dalam rilisnya menyebut rombongan tersebut salat Jumat bersama dengan Gubernur Mahyeldi di Masjid Raya Sumbar, Jumat (15/7/2022).</p>
<p>Gubernur menyambut tim tersebut dan mengucapkan selamat datang. &#8220;Antara Negeri Sembilan dengan Minangkabau memang serumpun dan hubungan sudah terbangun sejak lama. Semoga ke depan semakin erat lagi,&#8221; kata Mahyeldi.</p>
<p>Menurut Dato Razali, banyak hal positif yang bisa diambil dalam perjalanan ke Ranah Minang terkait falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah</p>
<p>Perjalanan ke Sumbar, menurutnya, berguna untuk memperkaya khazanah kebudayaan Negeri Sembilan khususnya tentang adat perpatih yang masih dilestarikan dengan baik di Negeri Sembilan.</p>
<p>&#8220;Saat ini, Adat Perpatih diajarkan di sekolah-sekolah dan juga ada hari adat. Karena itulah kami datang untuk mencari dan memperbanyak dasar dan wawasan tentang adat istiadat, sebab,&#8221; kata Razali.</p>
<p>Di ranah, rombongan dari Negeri Sembilan antara lain mengunjungi Museum Adityawarman di Padang, Istano Basa Pagaruyuang di Tanah Datar, serta sejumlah tempat di Bukittinggi.</p>
<p>Kepada para tamu, gubernur menyampaikan sedikit gambaran tentang kondisi Sumbar dengan berbagai keunggulan alam dan budaya serta mayoritas orang Minangkabau tapi juga hidup berdampingan dengan beragam suku-suku lainnya.</p>
<p>Mahyeldi juga menyebut soal rencana dibukanya kembali penerbangan internasional dari Kuala Lumpur dan Singapura ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang ditutup akibat pandemi Covid-19.</p>
<p>&#8220;Kami sudah MoU dengan Air Asia dan mohon support juga dari pelancongan Malaysia, mudah-mudahan penerbangan internasional bisa dibuka segera untuk mendukung Visit Beautiful West Sumatera 2023,&#8221; kata gubernur.</p>
<p>Dato Razali berharap terus terjalin kerja sama dengan Pemprov Sumbar. &#8220;Apalagi kalau penerbangan dari KL nanti sudah dibuka, tentu akan sering kami ke Sumbar ataupun sebaliknya. Sebab lebih dekat dan murah,&#8221; kata Dato&#8217; Razali. (*/SS)</p>
<p>&#8212;</p>
<h4>Dapatkan update berita Adat Minang &#8211; Sumatra Barat terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram <strong>Langgam.id News Update</strong>, caranya klik <a href="https://t.me/langgamid" rel="nofollow">https://t.me/langgamid</a>, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.</h4>
<p>The post <a href="https://langgam.id/14-perwakilan-negeri-sembilan-jelajah-budaya-ke-ranah-minang/">14 Perwakilan Negeri Sembilan Jelajah Budaya ke Ranah Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">158996</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketua Bundo Kanduang Raudha Thaib Dapat Penghargaan Tokoh Adat dari Kemendikbudristek</title>
		<link>https://langgam.id/ketua-bundo-kanduang-raudha-thaib-dapat-penghargaan-tokoh-adat-dari-kemendikbudristek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2021 02:39:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=142757</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberi penghargaan kepada Ketua Bundo Kanduang Sumatra Barat Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib Yang Dipertuan Gadih Pagaruyuang. Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas tersebut menerima penghargaan bidang kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan masyarakat adat tahun 2021, kategori tokoh masyarakat adat. Pamong Budaya Ahli Madya Kemendikbudristek Sri Christiati menyerahkan penghargaan tersebut di Gubernuran Sumbar pada Jumat (24/12/2021). Hadir dalam kesempatan itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi, Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan, dan Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Gemala Ranti. Sri mengatakan, Bundo Raudha Thaib terpilih dalam rapat pleno penilaian dan penetapan dewan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ketua-bundo-kanduang-raudha-thaib-dapat-penghargaan-tokoh-adat-dari-kemendikbudristek/">Ketua Bundo Kanduang Raudha Thaib Dapat Penghargaan Tokoh Adat dari Kemendikbudristek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberi penghargaan kepada Ketua Bundo Kanduang Sumatra Barat Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib Yang Dipertuan Gadih Pagaruyuang.</p>
<p>Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas tersebut menerima penghargaan bidang kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan masyarakat adat tahun 2021, kategori tokoh masyarakat adat.</p>
<p>Pamong Budaya Ahli Madya Kemendikbudristek Sri Christiati menyerahkan penghargaan tersebut di Gubernuran Sumbar pada Jumat (24/12/2021). Hadir dalam kesempatan itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi, Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan, dan Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Gemala Ranti.</p>
<p>Sri mengatakan, Bundo Raudha Thaib terpilih dalam rapat pleno penilaian dan penetapan dewan juri pada 26-28 November 2021. Hasil rapat itu kemudian ditetapkan dalam Kepmendikbudristek Nomor 379/P/2021.</p>
<p>&#8220;Kami mewakili kementerian mengucapkan selamat. Semoga, ke depan Bundo bisa terus berkiprah lebih banyak bagi masyarakat,&#8221; kata Sri, sebagaimana dirilis Diskominfotik di situs resmi Pemprov Sumbar.</p>
<p>Gubernur Mahyeldi berterima kasih kepada Kemendikbudristek yang telah memilih Bundo Raudha Thaib sebagai salah satu dari cuma dua penerima penghargaan tersebut di tanah air. &#8220;Bundo Raudha tidak hanya orangtua bagi kami, tapi juga guru dan teladan bagi keluarga, kaum dan masyarakat,&#8221; ujar gubernur.</p>
<p>Perempuan, menurut gubernur, memiliki peranan penting dan tinggi dalam adat Minangkabau, baik di rumah gadang, kaum dan masyarakat. Bundo Kanduang tidak hanya menjadi hiasan fisik semata namun lebih dari itu sebagai teladan yang berwibawa, sopan dan berkepribadian.</p>
<p>&#8220;Bundo Raudha bukan hanya tokoh Sumbar, tapi juga tokoh dari Indonesia untuk dunia. Perhatian Bundo pada budaya dan intelektualitas dan pada generasi muda, akan terus kita dukung,&#8221; ujar Mahyeldi.</p>
<p>Bundo Raudha Thaib menerima menerima pin emas seberat 5 gram, uang Rp50 juta serta sertifikat atas penghargaan tersebut. Menurutnya, penghargaan ini merupakan sinyal pemerintah pusat dalam perhatian terhadap adat dan budaya Minang.</p>
<p>&#8220;Terima kasih kepada semua pihak yang telah berjuang dan bertungkus lumus melestarikan peran-peran adat, serta menghidupkan falsafah ABS-SBK yang menjadi intisari ajaran adat Minangkabau, dengan bertumpu pada akhlakul karimah,&#8221; tuturnya. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ketua-bundo-kanduang-raudha-thaib-dapat-penghargaan-tokoh-adat-dari-kemendikbudristek/">Ketua Bundo Kanduang Raudha Thaib Dapat Penghargaan Tokoh Adat dari Kemendikbudristek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142757</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Buka Bimtek Adat di Agam, Gubernur Paparkan Peran Orang Minang untuk Bangsa</title>
		<link>https://langgam.id/buka-bimtek-adat-di-agam-gubernur-paparkan-peran-orang-minang-untuk-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2021 05:46:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=116310</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam menggelar bimbingan teknis (bimtek) &#8220;Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah&#8221; (ABS-SBK) untuk generasi muda. Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi membuka bimtek itu pada Jumat (9/7/2021) malam di Lubuk Basung. Menurutnya, nilai-nilai ABS-SBK harus diajarkan sejak dini kepada generasi muda di Sumbar. &#8220;Sehingga melekat dalam pikiran dan akhirnya menjadi perilaku dan karakter dalam keseharian,&#8221; kata gubernur, sebagaimana rilis Diskominfotik di situs resmi Pemprov, Sabtu (10/7/2021). Ia mengatakan, bimtek ABS-SBK sangat penting sebagai salah satu wujud pelestarian adat dan budaya Minang. &#8220;Jangan sampai nanti orang luar lebih Minang pula dari kita. Kita harus bangga jadi orang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/buka-bimtek-adat-di-agam-gubernur-paparkan-peran-orang-minang-untuk-bangsa/">Buka Bimtek Adat di Agam, Gubernur Paparkan Peran Orang Minang untuk Bangsa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam menggelar bimbingan teknis (bimtek) &#8220;Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah&#8221; (ABS-SBK) untuk generasi muda. Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi membuka bimtek itu pada Jumat (9/7/2021) malam di Lubuk Basung.</p>
<p>Menurutnya, nilai-nilai ABS-SBK harus diajarkan sejak dini kepada generasi muda di Sumbar. &#8220;Sehingga melekat dalam pikiran dan akhirnya menjadi perilaku dan karakter dalam keseharian,&#8221; kata gubernur, sebagaimana rilis Diskominfotik di <a href="https://sumbarprov.go.id/home/news/20492-ajarkan-nilai-budaya-sejak-dini-gubernur-mahyeldi-buka-bimtek-pengamalan-abs-sbk-bagi-milenial">situs resmi</a> Pemprov, Sabtu (10/7/2021).</p>
<p>Ia mengatakan, bimtek ABS-SBK sangat penting sebagai salah satu wujud pelestarian adat dan budaya Minang. &#8220;Jangan sampai nanti orang luar lebih Minang pula dari kita. Kita harus bangga jadi orang Minang,&#8221; kata gubernur.</p>
<p>Ia juga memotivasi peserta dari generasi muda dengan sejarah kontribusi besar orang Minang pada bangsa Indonesia. &#8220;Jumlah orang Minang cuma tiga persen, tapi kontribusinya untuk bangsa ini paling besar melalui tidak kurang dari 2 ribu tokoh-tokoh nasional. Semua ini muncul dari pelestarian adat dan budaya di nagari,&#8221; kata Mahyeldi.</p>
<p>Ia mengatakan, walau nagari itu kecil, tapi bertumbuh di dalamnya bisa berdampak jauh lebih besar. &#8220;Sangat banyak kearifan lokal yang tumbuh di nagari. Nagari menjaga dan merawat nilai-nilai yang ada di dalamnya,&#8221; ujarnya.</p>
<h2>Bimtek</h2>
<p>Bimtek itu berlangsung 4 hari, diikuti 50 generasi muda asal Agam dan Bukittinggi. Kegiatan kali ini mengusung tema &#8220;Peran Generasi Milenial Dalam Pelestarian Adat dan Budaya Minangkabau&#8221;.</p>
<p>Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar Gemala Ranti mengatakan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman terhadap ABS-SBK di kalangan generasi muda di era globalisasi saat ini.</p>
<p>&#8220;Karena itu kita menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya untuk menggali potensi generasi muda dan di akhir acara nanti peserta juga diminta menulis artikel tentang kebudayaan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Narasumber di antaranya adalah Ismunandi Sofyan tentang potensi generasi muda Minang. Juga hadir Angku Yus Dt. Parpatiah, Mak Katik, serta akademisi Dr. Zainal Arifin dan Dalmenda Dt. Pamuntjak Alam.</p>
<p>Sementara itu, Bupati Agam, Andri Warman, mengapresiasi kegiatan bimtek ini larena selaras dengan program Pemerintah Kabupaten Agam. Di antaranya, pengembangan potensi generasi muda dari sisi adat budaya dan juga agama.</p>
<p>&#8220;Ikuti bimtek dengan serius. Hasil bimtek ini akan jadi bekal Anda di masa mendatang. Minimal bisa berpantun. Tidak seperti saya, hidup lama di rantau, tak pandai berpantun,&#8221; katanya, sembari berseloroh.</p>
<p>Kegiatan bimtek ini juga mengikuti protokol kesehatan Covid-19 ketat. Tidak hanya penerapan 3M, tapi semua peserta juga mengikuti vaksinasi di lokasi acara, sebelum kegiatan bimtek berlangsung. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/buka-bimtek-adat-di-agam-gubernur-paparkan-peran-orang-minang-untuk-bangsa/">Buka Bimtek Adat di Agam, Gubernur Paparkan Peran Orang Minang untuk Bangsa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">116310</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Rapat dengan DPRD, Ormas Keagamaan dan Adat di Sumbar Minta SKB 3 Menteri Dicabut</title>
		<link>https://langgam.id/rapat-dengan-dprd-ormas-keagamaan-dan-adat-di-sumbar-minta-skb-3-menteri-dicabut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2021 15:12:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Hijab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=91645</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; DPRD Sumatra Barat (Sumbar) menggelar rapat dengan sejumlah ormas keagamaan dan adat untuk menyikapi Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang atribut keagamaan di sekolah. Dalam rapat itu disampaikan bahwa sejumlah ormas di Sumbar meminta SKB itu dicabut. “Muatan SKB 3 Menteri yang dikeluarkan, tidak sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal dan falsafah adat Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarak- Syarak Basandi Kitabullah,&#8221; kata Wakil Ketua DPRD Sumbar, Irsyad Syafar. Rapat itu digelar pada Kamis (18/2/2021) di ruang Sidang Utama DPRD Sumbar. Rapat itu juga dihadiri dihadiri Anggota DPR RI asal Sumbar, Guspardi Gaus. &#8220;Untuk itu seluruh organisasi keagamaan dan adat,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/rapat-dengan-dprd-ormas-keagamaan-dan-adat-di-sumbar-minta-skb-3-menteri-dicabut/">Rapat dengan DPRD, Ormas Keagamaan dan Adat di Sumbar Minta SKB 3 Menteri Dicabut</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> DPRD Sumatra Barat (Sumbar) menggelar rapat dengan sejumlah ormas keagamaan dan adat untuk menyikapi Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang atribut keagamaan di sekolah. Dalam rapat itu disampaikan bahwa sejumlah ormas di Sumbar meminta SKB itu dicabut.</p>
<p>“Muatan SKB 3 Menteri yang dikeluarkan, tidak sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal dan falsafah adat Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarak- Syarak Basandi Kitabullah,&#8221; kata Wakil Ketua DPRD Sumbar, Irsyad Syafar.</p>
<p>Rapat itu digelar pada Kamis (18/2/2021) di ruang Sidang Utama DPRD Sumbar. Rapat itu juga dihadiri dihadiri Anggota DPR RI asal Sumbar, Guspardi Gaus.</p>
<p>&#8220;Untuk itu seluruh organisasi keagamaan dan adat, meminta SKB direvisi atau dicabut,” ujar Irsyad.</p>
<p>Dia mengatakan masukan itu akan dihimpun dan ditindaklanjuti olah DPRD Sumbar.  Masukan itu juga akan jadi rekomendasi strategis untuk rumusan akhir DPRD sebelum disuarakan ke tingkat pusat.</p>
<p>Anggota DPR RI Guspardi Gaus dalam rapat itu mengatakan Pemprov Sumbar harus menginisiasi peraturan daerah untuk mengakomodir kearifan lokal Sumbar dalam berpakaian pada lingkungan sekolah. Dia juga sudah menyampaikan penolakan dalam rapar DPR RI.</p>
<p>&#8220;Saya angkat bicara pada forum paripurna DPR RI, namun waktu yang diberikan sangat terbatas untuk menyuarakan aspirasi yang juga milik masyarakat Sumbar,” kata Guspardi.<strong> (*ABW)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/rapat-dengan-dprd-ormas-keagamaan-dan-adat-di-sumbar-minta-skb-3-menteri-dicabut/">Rapat dengan DPRD, Ormas Keagamaan dan Adat di Sumbar Minta SKB 3 Menteri Dicabut</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91645</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nagari dan Penolakan Terhadap “Negara Minangkabau”</title>
		<link>https://langgam.id/nagari-dan-penolakan-terhadap-negara-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2020 04:20:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=68090</guid>

					<description><![CDATA[<p>KolomLanggam &#8211;  Wacana mengganti nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau kembali bergulir. Dalam dua pekan terakhir, seperti diberitakan sejumlah media, ada dua orang Minangkabau yang mewacanakan pergantian tersebut, yaitu Fadli Zon politisi dari Senayan dan mantan Mendagri periode 2009-2014, Gamawan Fauzi. Keduanya seperti sepakat, meskipun dengan alasan yang berbeda, pergantian nama tersebut akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan Sumatera Barat ke depan. Menurut Fadli Zon, nama Minangkabau jauh lebih tepat untuk dipakai jika ditinjau dari sisi sejarah dan kebudayaan. Apalagi secara demografis, 88.35 persen penduduk Sumatera Barat berasal dari etnis Minangkabau. Pergantian nama Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau, juga</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/nagari-dan-penolakan-terhadap-negara-minangkabau/">Nagari dan Penolakan Terhadap “Negara Minangkabau”</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KolomLanggam</strong> &#8211;  Wacana mengganti nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau kembali bergulir. Dalam dua pekan terakhir, seperti diberitakan sejumlah media, ada dua orang Minangkabau yang mewacanakan pergantian tersebut, yaitu Fadli Zon politisi dari Senayan dan mantan Mendagri periode 2009-2014, Gamawan Fauzi. Keduanya seperti sepakat, meskipun dengan alasan yang berbeda, pergantian nama tersebut akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan Sumatera Barat ke depan.</p>
<p>Menurut Fadli Zon, nama Minangkabau jauh lebih tepat untuk dipakai jika ditinjau dari sisi sejarah dan kebudayaan. Apalagi secara demografis, 88.35 persen penduduk Sumatera Barat berasal dari etnis Minangkabau. Pergantian nama Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau, juga dihubungkan dengan keistimewaan sejarah, budaya dan identitas yang melekat pada etnis bersangkutan, seperti halnya Aceh, Bali dan Papua. Masyarakat Minangkabau menurut Fadli Zon, layak mendapatkan kehormatan seperti itu.</p>
<p>Sementara Gamawan Fauzi, punya alasan lain pula. Gamawan Fauzi mendukung pergantian nama agar masyarakat yang berkemajuan tidak tercerabut dari akar budayanya. Menurut mantan gubernur Sumatera Barat periode 2005-2010 tersebut, dengan pergantian nama itu, etnis Minangkabau yang berketurunan menurut garis ibu, dan berfalsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tidak hilang ditelan kemajuan zaman. Selain itu, Gamawan Fauzi juga menyingung perlunya kebersamaan dalam membangun daerah Sumatera Barat.</p>
<p>Sebagai wacana, dukungan dua tokoh nasional di atas untuk mengganti nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Minangkabau mungkin cukup menggoda. Apa lagi dikaitkan dengan keterpurukan berbagai bidang kehidupan yang terjadi sekarang ini di Smatera Barat. Tetapi apakah memang itu jawabannya? Apakah sejalan dengan sejarah perjuangan orang Minangkabau, baik dalam artian historis maupun kultural? Benarkah?</p>
<p><strong>Menolak Negara Minangkabau.</strong><br />
Untuk kembali berkuasa dan mempertahankan dominasinya di Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, kolonial Belanda pernah mengiming-iming orang Minangkabau untuk membentuk “Negara Minangkabau”, dan akan menjadikan Sumatera Barat sebagai Daerah Istimewa. Kolonial Beanda ingin menjajah Indonesia kembali dengan cara melakukan politik pecah belah (<em>devide et impera</em>).</p>
<p>Namun strategi politik pecah belah ini gagal total di Minangkabau. Para pejuang republik di nagari-nagari dan kota-kota di Sumatera Barat, melalui jaringan gerakan bawah tanah, berhasil mengobarkan semangat keindonesiaan dan nasionalisme rakyat Minangkabau. Republik Indonesia tetap tegak dengan kukuh di ranah Minangkabau.</p>
<p>Rencana kolonial Belanda mendirikan “Negara Minangkabau” ini, diceritakan Audrey Kahin. Menurut Kahin (2005: 233-236) “Negara Minangkabau” yang direncanakan kolonial Belanda tersebut merupakan bagian dari rencana besar Kolonial Belanda membentuk federasi Sumatera, dengan menjadikan Sumatera Barat sebagai Daerah Istimewa. Daerah Istimewa Sumatera Barat (DISBA) didirikan di Padang pada bulan Agustus 1947 oleh sekolompok orang yang pro Belanda.</p>
<p>Sedangkan “Negara Minangkabau” akan dijadikan sebagai Dewan Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), dan merupakan daerah otonomi yang akan memainkan peranan besar, dan hubunganya dengan Jawa lebih bersifat simbolis daripada kenyataan.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a class="ajax" href="https://langgam.id/kandasnya-federasi-sumatra-dan-negara-minangkabau/">Kandasnya Federasi Sumatra dan Negara Minangkabau</a></strong></p>
<p>Fragmen sejarah mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Barat pada masa agresi kolonial Belanda tersebut, merupakan sebuah bukti kongrit betapa kuatnya nasionalisme yang hidup di dalam diri orang Minangkabau. Mereka menolak untuk menjadi bagian dari politik pecah belah kolonial Belanda. Mereka tetap memilih untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia.</p>
<p>Pilihan mayoritas orang Minangkabau untuk tetap menjadi “benteng republik”, telah dicatat sebagai fakta sejarah Republik Indonesia. Pilihan yang telah dibangga-banggakan orang Minangkabau sesudahnya, dan dianggap istimewa oleh banyak suku bangsa lainnya di Indonesia. Keistimewaan ini pulalah yang menyebabkan orang Minangkabau menjadi warga yang diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka di setiap jengkal tanah di negeri kita ini. Minangkabau dianggap berperan menegakkan republik ini. Sebagai warga perantau, dan yang berpandangan kosmopolitan, orang Minangkabau telah menunjukan eksistensinya sebagai perekat yang menganyam keindonesian.</p>
<p>Jadi rasanya tidaklah bijak jika ada orang Minangkabau membangkitkan politik identitas dalam konteks keindonesian. Jika masih ingin menghormati pejuang-pejuang kemerdekaan, baik yang ada di Sumatera Barat maupun yang berjuang di tingkat nasional, seyogianya meneruskan apa yang mereka pilih dan cita-citakan. Bukan mengusung sesuatu yang pernah mereka tolak, yaitu politik identitas. Biarlah Minangkabau menjadi kebanggaan dan dianggap istimewa oleh berbagai suku bangsa di negeri ini, baik oleh kelompok minoritas maupun mayoritas.</p>
<p><strong>Di manakah Akar Minangkabau?</strong><br />
Apakah benar dengan mengganti nama Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau, akan menyebabkan masyarakat berkemajuan tidak tercerabut dari akar budayanya, seperti yang disinyalir Gamawan Fauzi? Atau, benarkah masyarakat matrilinial Minangkabau dengan falsafah <em>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah</em>, tidak akan hilang dari kemajuan zaman kalau nama Provinsi Sumatera Barat diganti dengan Minangkabau? Sangat sulit mencari hubungan sebab akibat antara perubahan nama dengan dampak yang akan ditimbulkannya.</p>
<p>Di manakah akar budaya Minangkabau? Apakah pada wilayah administratif Sumatera Barat? Sudah pasti jawabannya bukan. Kesadaran kultural orang Minangkabau sampai saat ini masih tetap menyebut akar kulturalnya ada di nagari. Sumatera Barat adalah kampung halaman yang lebih dilihat dalam kesadaran politis. Tidak ada satupun institusi yang bersifat keminangkabauan pada wilayah Sumatera Barat tesebut. Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) adalah lembaga baru, yang mencoba mengakarkan diri pada Kerapatan Adat Nagari (KAN). LKAAM didirikan awal tahun 1966, yang tujuan awalnya adalah untuk menyelesaikan goncangan yang terjadi dalam masyarakat Minangkabau pasca pemberontakan PRRI dan G30S/PKI. Sebelum LKAAM ada yang namanya Majelis Tinggi Kerapatan Adat Minangkabau (MTKAAM). MTKAAM kemudian menjadi partai politik dan menjadi salah satu kontestan Pemilu 1955. MTKAAM hanya menjadi pemenang kedelapan dengan raihan 12.294 suara, jauh di bawah PKI yang menduduki posisi ketiga dengan 61.591 suara.</p>
<p>Fakta sejarah di atas menunjukkan, bahwa Minangkabau tidak memiliki akar yang kuat di Sumatera Barat, selain tidak memiliki simpul anyaman yang bersifat kelembagaan. Tidak berakar dan tidak berpucuk di Provinsi Sumatera Barat. Fakta sosiologisnya dapat dilihat dari kesadaran sosial orang Minangkabau pada saat ini, terutama orang Minangkabau yang ada di perantauan. Orang Minangkabau perantauan, adalah orang-orang yang mencintai adat dan budaya Minangkabau. Caranya adalah dengan mengorganisasikan diri dalam ikatan-ikatan keluarga nagari asalnya. Ada juga yang mengorganisir diri dalam cakupan wilayah kecamatan, dan kota/kabupaten. Namun tidak satupun organisasi ikatan keluarga Minangkabau yang wilayah cakupannya Sumatera Barat.</p>
<p>Memahami pandangan dan jalan pikiran orang Minangkabau, bagi mereka nagari adalah <em>tabang tampek basitumpu, inggok tampek mancakam</em>. Nagari adalah tempat mereka berangkat dan tempat mereka pulang. Meminjam istilah Mochtar Naim (1990: 48), nagari adalah lambang mikroskosmik dari tatanan makrokosmik yang lebih luas. Oleh karena itu kaitannya ke atas ke luhak dan ke Alam, sedangkan ke samping sesama nagari yang terkait secara emosional. Artinya, tidak ada pandangan yang menyebutkan adat sebatang panjang mereka itu adalah Sumatera Barat.</p>
<p>Ikatan emosional dan kultural orang Minangkabau yang masih begitu kuat terhadap nagari, seyogianya nagari tetap dipandang sebagai solusi dari berbagai permasalahan sosial yang dihadapi orang Minangkabau. Bukan dengan mengalihkannya pada negara dengan mengganti nama Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau. Hanya di nagarilah kepemimpinan <em>tungku tigo sajarangan</em>, seperti penghulu/ninik-mamak, alim ulama dan cerdik-pandai dapat berfungsi secara maksimal. Ada pula <em>bundo kanduang</em> dan <em>parik paga nagari</em>, yang perannya juga tidak kalah pentingnya dalam memajukan masyarakat Minangkabau. Peran kepemimpinan tradisional Minangkabau yang terpenting, selain mengurus kehidupan anak kemenakannya, juga memastikan pandangan kosmopolitan orang Minangkabau, yang membuatnya menjadi istimewa, baik di ranah maupun di rantau tetap tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Sejak zaman Gubernur Harun Zain sampai sekarang, rasanya peran kepemimpinan di nagari ini tetap didorong melalui pemerintahan provinsi, meskipun kadang-kadang hanya sebatas instrumen politik. Melalui kenyataan ini, seyogianya orang Minangkabau memperkuat nagarinya kembali, karena secara kultural di situlah tempat mereka sesungguhnya. Bukan mengganti nama Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau, karena ini hanyalah ibarat <em>rinai pambasuah luko</em>. Luka akan semakin menganga dan pedih. (***)</p>
<p><strong><em>Edy Utama adalah pengamat budaya Minangkabau, tinggal di Padang. Bersama Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Edy Utama menulis Buku &#8220;Sumatera Barat di Panggung Sejarah: 1945-1995&#8221; (1995).<br />
</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/nagari-dan-penolakan-terhadap-negara-minangkabau/">Nagari dan Penolakan Terhadap “Negara Minangkabau”</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">68090</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lomba Adat, Cara Orang Talu Melestarikan Budaya Minangkabau</title>
		<link>https://langgam.id/lomba-adat-cara-orang-talu-melestarikan-budaya-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2020 03:00:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Sumbar Irwan Prayitno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=62833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Anak nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, gelar lomba adat, sebagai cara melestarikan budaya Minangkabau. Kegiatan lomba adat Minangkabau, dengan tema &#8220;Adaik Lamo Pusako Usang Ma Imbau&#8221; diadakan oleh Pemuda Tabuah Gadang Saiyo (PTGS) di Jorong Tabek Sirah, Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (12/9). Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan lomba adat Minangkabau yang diselenggarakan oleh PTGS adalah, lomba pidato adat dan Osong Penganten (membawa penganten), perlombaan itu merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya Minangkabau. &#8220;Karena masalah budaya biasanya dilestarikan oleh para orang tua, tetapi kali ini  generasi muda ikut berpartisipasi menghidupkan budaya Minangkabau dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/lomba-adat-cara-orang-talu-melestarikan-budaya-minangkabau/">Lomba Adat, Cara Orang Talu Melestarikan Budaya Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Anak nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, gelar lomba adat, sebagai cara melestarikan budaya Minangkabau.</p>
<p>Kegiatan lomba adat Minangkabau, dengan tema &#8220;Adaik Lamo Pusako Usang Ma Imbau&#8221; diadakan oleh Pemuda Tabuah Gadang Saiyo (PTGS) di Jorong Tabek Sirah, Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (12/9).</p>
<p>Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan lomba adat Minangkabau yang diselenggarakan oleh PTGS adalah, lomba pidato adat dan Osong Penganten (membawa penganten), perlombaan itu merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya Minangkabau.</p>
<p>&#8220;Karena masalah budaya biasanya dilestarikan oleh para orang tua, tetapi kali ini  generasi muda ikut berpartisipasi menghidupkan budaya Minangkabau dan patut diberi apresiasi. Untuk itu para anak muda perlu perperan aktif didalam tengah bermasyarakat agar tetap mengembangkan adat budaya di Minangkabau,&#8221; kata Irwan, dalam sambutan sebelum dimulai acara tersebut.</p>
<p>Selanjutnya Irwan menyebutkan acara ini luar biasa karena budaya adalah milik kita yang turun-temurun dari nenek moyang yang perlu dijaga dan dilestarikan.</p>
<p>&#8220;Sebagai dinamika kehidupan bermasyarakat akan harmonis meriah dan bergembira jadi ramai kegiatan tersebut kalau ada nilai-nilai budaya,&#8221; ujar Irwan, sebagaimana <a href="https://www.sumbarprov.go.id/home/news/19427-gubernur-sumbar-irwan-prayitno-apresiasi-ptgs-di-nagari-talu-lestarikan-adat-budaya-minangkabau-.html">rilis</a> yang diterima <em>langgam.id</em>.</p>
<p>Selain itu ia, juga menerangkan kepada masyarakat Talu bahwa negara Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 18 B negara telah mengakui menghormati adanya adat-adat tradisi di daerah se Indonesia mempunyai adat dan budaya.</p>
<p>&#8220;Untuk itu, perlu melestarikan kehidupan kita bermasyarakat, patut diberikan apresiasi kepada Pemuda Tabuah Gadang Saiyo (PTGS) Nagari Talu,&#8221; tukasnya.</p>
<p>Sementara itu Pucuak Adat Nagari Talu Padlan juga mengatakan acara adat kali ini diadakan oleh pemuda, sudah mestinya mereka siap menerima tongkat estafet, dalam melestarian adat ini.</p>
<p>&#8220;Kalau para pemuda tidak paham adat lama-kelamaan adat dan budaya kita akan hilang,&#8221; ungkap Padlan. <strong>(Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/lomba-adat-cara-orang-talu-melestarikan-budaya-minangkabau/">Lomba Adat, Cara Orang Talu Melestarikan Budaya Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">62833</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/99 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-11 21:04:01 by W3 Total Cache
-->