<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sastra &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/sastra/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jun 2025 01:57:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Sastra &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/sastra/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Orkes Taman Bunga: Menyatukan Musik Tradisi dan Humor dalam Harmoni Minangkabau</title>
		<link>https://langgam.id/orkes-taman-bunga-menyatukan-musik-tradisi-dan-humor-dalam-harmoni-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2025 00:53:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=227164</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah dinamika musik Indonesia yang terus berkembang, Orkes Taman Bunga hadir sebagai sebuah kelompok musik yang tidak hanya mengusung kekayaan budaya Minangkabau, tetapi juga menyuntikkan unsur humor dan keceriaan dalam setiap penampilannya. Berdiri sejak tahun 2012 di Padang Panjang, Sumatera Barat, Orkes Taman Bunga merupakan kumpulan seniman dan penggiat musik yang berkomitmen mengeksplorasi musik rakyat Sumatera dan sekitarnya dalam bingkai musik populer yang mudah diterima masyarakat luas. Asal Usul dan InspirasiInspirasi pembentukan Orkes Taman Bunga berakar dari kecintaan para anggotanya terhadap musik tradisional Minangkabau dan keinginan untuk melestarikannya dengan cara yang segar dan menghibur. Grup musik ini terbentuk dengan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/orkes-taman-bunga-menyatukan-musik-tradisi-dan-humor-dalam-harmoni-minangkabau/">Orkes Taman Bunga: Menyatukan Musik Tradisi dan Humor dalam Harmoni Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Di</strong> tengah dinamika musik Indonesia yang terus berkembang, Orkes Taman Bunga hadir sebagai sebuah kelompok musik yang tidak hanya mengusung kekayaan budaya Minangkabau, tetapi juga menyuntikkan unsur humor dan keceriaan dalam setiap penampilannya. Berdiri sejak tahun 2012 di Padang Panjang, Sumatera Barat, Orkes Taman Bunga merupakan kumpulan seniman dan penggiat musik yang berkomitmen mengeksplorasi musik rakyat Sumatera dan sekitarnya dalam bingkai musik populer yang mudah diterima masyarakat luas.</p>



<p><em>Asal Usul dan Inspirasi</em><br>Inspirasi pembentukan Orkes Taman Bunga berakar dari kecintaan para anggotanya terhadap musik tradisional Minangkabau dan keinginan untuk melestarikannya dengan cara yang segar dan menghibur. Grup musik ini terbentuk dengan cara tidak sengaja, pada tahun 2012 di Padang Panjang, grup musik ini manggung di sebuah festival yang ada di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Lalu setelah kegiatan tersebut, grup musik ini tidak dibubarkan, melainkan terus berlanjut dan resmi diberikan nama yaitu “Orkes Taman Bunga”. </p>



<p>Latar belakang budaya Minangkabau sangat memengaruhi karya mereka, terutama dalam penggunaan bahasa Minang dan penggabungan unsur musik orkes Melayu serta dangdut yang menjadi ciri khas mereka. Musik mereka bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium untuk menyampaikan cerita keseharian masyarakat dengan sentuhan humor yang mengundang tawa dan kehangatan.</p>



<p><em>Eksplorasi Musik Rakyat dan Tantangan</em></p>



<p>Dalam proses eksplorasi musik rakyat Sumatera, Orkes Taman Bunga menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Mereka harus mampu mempertahankan keaslian musik Minang sekaligus mengemasnya dalam bentuk yang menarik bagi generasi muda dan penikmat musik modern. Tantangan ini mereka atasi dengan terus bereksperimen pada aransemen musik dan lirik yang relevan, tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas mereka.</p>



<p>Penggunaan bahasa Minangkabau dalam lirik-lirik mereka bukan hanya soal tradisi, tetapi juga cara untuk memperkuat pesan dan makna yang ingin disampaikan, juga upaya dalam mendokumentasikan istilah-istilah unik dalam bahasa Minangkabau yang jarang diketahui masyarakat umum. </p>



<p>Bahasa ini membawa keunikan tersendiri yang membuat lagu-lagu Orkes Taman Bunga terasa lebih dekat dengan pendengarnya, khususnya masyarakat Minang. Melalui bahasa ini, mereka mengajak generasi muda untuk bangga dan terus melestarikan warisan budaya lokal.</p>



<p><em>Proses Kreatif</em><br>Proses kreatif Orkes Taman Bunga biasanya dimulai dari diskusi ide dan cerita yang ingin diangkat dalam lagu. Tidak jarang mereka melakukan sesi jamming yang penuh keakraban dan spontanitas, sehingga tercipta suasana yang hangat dan menyenangkan. </p>



<p>Meskipun tidak ada ritual khusus, kebiasaan berkumpul dan berbagi cerita menjadi bagian penting dalam proses penciptaan lagu mereka. Dalam menciptakan lagunya, Orkes Taman Bunga juga mengeksplorasi kegiatan-kegiatan Mahasiswa, kehidupan Mahasiswa di tanah rantau, dan isu masyarakat yang sedang ramai dibincangkan. Dari hal-hal tersebut, Orkes Taman Bunga mampu menciptakan lagu yang enak didengar, juga relate dengan kehidupan bermasyarakat.</p>



<p><em>Peran Musik dalam Budaya</em></p>



<p>Bagi Orkes Taman Bunga, musik adalah alat penting dalam mempertahankan dan mempromosikan budaya Minangkabau di era modern. Melalui musik, mereka mampu menjembatani generasi tua dan muda, serta memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada khalayak yang lebih luas. Musik juga menjadi sarana edukasi dan hiburan yang efektif untuk menjaga eksistensi tradisi di tengah arus globalisasi.</p>



<p>Selain itu, teknologi dan media sosial memegang peranan penting dalam mempromosikan musik Orkes Taman Bunga. Melalui platform digital, mereka dapat menjangkau pendengar yang lebih luas, tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi juga di seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Hal ini membuka peluang baru bagi mereka untuk terus berkembang dan berinovasi.</p>



<p>Dalam upaya menjaga identitas dan eksistensi, Orkes Taman Bunga terus melakukan inovasi dan penciptaan lagu-lagu yang bisa memberikan manfaat kepada para penggemar dan kepada masyarakat luas. </p>



<p>Saat ini, Orkes Taman Bunga sedang menciptakan sebuah lagu anak-anak, dengan menggunakan lirik bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabau. Penciptaan lagu anak-anak ini berangkat dari keresahan mereka atas kurangnya jumlah lagu anak-anak yang dikonsumsi oleh anak-anak di Indonesia. Dengan penciptaan lagu anak-anak ini, Orkes Taman Bunga berharap mampu memberikan sumbangsih dan kebermanfaatan dalam pertumbuhan anak Indonesia melalui lagu yang sesuai dengan umurnya.</p>



<p>Orkes Taman Bunga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya mereka dan terus melestarikan musik serta tradisi lokal. Mereka percaya bahwa dengan cinta dan apresiasi terhadap budaya sendiri, generasi muda dapat menciptakan karya yang autentik dan bermakna.</p>



<p>Orkes Taman Bunga berharap musik tradisional Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, dapat terus hidup dan berkembang. Mereka ingin musik tradisional tidak hanya menjadi warisan yang diam di museum, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang dinamis dan relevan bagi semua generasi. <strong><em>(Dedek Wiradi)</em></strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/orkes-taman-bunga-menyatukan-musik-tradisi-dan-humor-dalam-harmoni-minangkabau/">Orkes Taman Bunga: Menyatukan Musik Tradisi dan Humor dalam Harmoni Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">227164</post-id>	</item>
		<item>
		<title>ISI Tampilkan Opera Malin Nan Kondang</title>
		<link>https://langgam.id/isi-tampilkan-opera-malin-nan-kondang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2021 01:06:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=91918</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari tahun 2019 suatu wabah di Kota Wuhan, China, akrab di dengar dengan sebutan virus corona. Siapa sangka, akibat penyebarannya yang begitu cepat, virus ini dengan mudahnya menjangkit hampir keseluruh dunia. Bahkan hanya dalam waktu beberapa bulan status virus ini sudah masuk pada tingkat pandemi. Sudah beranjak satu tahun pandemi ini meresahkan, segala kegiatan yang melibatkan banyak orang dilarang dan dihentikan sementara demi pemutusan mata rantai penyebarannya. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, pertunjukkan kesenian, bahkan diawal masa pandemi kegiatan perkantoran sempat dihentikan sementara, dan segala macam kegiatan itu beralih menggunakan sistem daring. Dunia kesenian merupakan salah satu bidang yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/isi-tampilkan-opera-malin-nan-kondang/">ISI Tampilkan Opera Malin Nan Kondang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;"><strong>B</strong>erawal dari tahun 2019 suatu wabah di Kota Wuhan, China, akrab di dengar dengan sebutan virus corona. Siapa sangka, akibat penyebarannya yang begitu cepat, virus ini dengan mudahnya menjangkit hampir keseluruh dunia. Bahkan hanya dalam waktu beberapa bulan status virus ini sudah masuk pada tingkat pandemi.</span></p>
<p><span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;"> Sudah beranjak satu tahun pandemi ini meresahkan, segala kegiatan yang melibatkan banyak orang dilarang dan dihentikan sementara demi pemutusan mata rantai penyebarannya. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, pertunjukkan kesenian, bahkan diawal masa pandemi kegiatan perkantoran sempat dihentikan sementara, dan segala macam kegiatan itu beralih menggunakan sistem daring.</span></p>
<p>Dunia kesenian merupakan salah satu bidang yang terdampak akibat pandemi ini. Dilarangnya perkumpulan orang banyak membatasi gerak kesenian mulai dari produksi, hingga proses mendapatkan apresiasi.</p>
<p>Oleh karena itu banyak dari pelaku-pelaku kesenian harus memutar otak sekuat tenaga untuk bertahan di era-era sulit seperti ini. Institusi pendidikan bidang kesenian, organisasi kesenian, bahkan hingga pelaku seni perorangan.</p>
<p>Salah satu yang mungkin dapat sedikit menolong adalah dengan melakukan penampilan-penampilan kesenian secara virtual. Seperti acara lomba FLS2N yang diadakan secara online, ajang pencarian bakat dangdut secara online, bahkan ujian-ujian dibeberapa institusi kesenian diadakan secara online.</p>
<p>Namun sekarang mulai beranjak pada status new normal. Semua kegiatan mulai kembali dilakukan namun masih ada protokol kesehatan yang mesti dijalankan. Para penggiat seni dari kampus ISI Padang Panjang telah berhasil menampilkan karyanya di tengah keadaan new normal ini.</p>
<p>Penampilan Opera Minangkabau dengan judul &#8220;Malin Nan Kondang&#8221; yang ditampilkan di Anjungan Seni Idrus Tintin Pekanbaru, menjadi bukti suksesnya para penggiat seni di status new normal ini. Pertunjukan ini menafsirkan ulang cerita Malin Kundang dan melahirkannya dalam bentuk lakon baru, yang kemudian diberi tanjuk &#8220;Malin Nan Kondang&#8221;.</p>
<p>Oleh sebab itu, Opera Minangkabau ini merupakan salah satu upaya untuk menelusuri seni garapan atau kreasi baru yang berbeda dari kosepsi opera pada umumnya, namun tak terlepas dari dasar opera itu sendiri.</p>
<p>Muhammad Iqbal adalah pemeran utama opera ini, beliau adalah seorang penari kelahiran Solok 23 tahun silam.</p>
<p>Menurutnya inilah pengalaman pertamanya dalam berakting di teater modern. Selain penari ia juga dikenal sebagai pemain randai yang handal. Kepiawaian nya dalam bidang ini meyakinkan Yesriva Nursyam, koreografer dalam karya ini.</p>
<p>Beliau adalah koreografer tari yang sangat produktif di kampus ISI Padang Panjang. Selain produktif ia juga memiliki segudang prestasi baik tingkat Sumbar maupun Nasional. Untuk mengisi musik dalam karya ini beliau dibantu oleh Al Falah. Beliau adalah komposer dan pemusik yang dikenal sebagai pecinta instrumen tradisional Minangkabau.</p>
<p>Berkat kecintaannya itulah beliau berhasil tour ke berbagai negara untuk menampilkan keahliannya. Naskah karya ini ditulis oleh Edi Susisno. Pria kelahiran Wonogiri yang terkenal sebagai penggiat penulisan lakon, beliau pernah mementaskan tulisannya sendiri sejak duduk di bangku perkuliahan.</p>
<p>Wen Hendri, adalah salah satu generasi baru dalam pengembangan teater tradisional Minangkabau di ISI Padang Panjang, disini beliau berperan sebagai sutradara dan bahkan ikut langsung di dalam pementasan. Dan swandi adalah pimpinan produksi dalam karya ini. Beliau bersama tim sukses untuk membawa Opera Minangkabau ini tampil di Anjungan Seni Idrus Tintin Pekan Baru.</p>
<p>Berikut sinopsis Opera Minangkabau : &#8220;Malin Nan Kondang&#8221;</p>
<p><em>Hari itu, Malin Kundang galau. Pikirannya berkecamuk merenungi nasibnya yang tak berubah. Ia dan Mandehnya memang tak pernah kelaparan tetapi hati Malin berontak: jika saja ia kaya, pasti akan dapat memenuhi semua keinginan mandehnya dan Nilam kekasihnya. Maka Malin pun berbulat hati untuk memutuskan merantau. Setelah mendapat restu dari mamaknya, Malin pun berangkat menuju ke Malaya. Malin pun mendapatkan pekerjaan pada sebuah perniagaan rempah-rempah, yang dimiliki seorang wanita bernama Puan Hamidah. Ternyata, setelah setahun bekerja Malin telah sanggup meningkatkan penjualan rempah-rempah diusaha Puan Hamidah hingga berlipat-lipat. Puan Hamidah pun jatuh hati atas kejujuran dan kerja Malin. Hingga suatu saat Puan Hamidah pun, menyatakan isi hatinya bahwa dirinya jatuh cinta pada Malin. Sayang sekali, Malin menolaknya dengan tegas dengan dalih: ia hanya mencintai Nilam.</em></p>
<p><em>Sesaat setelah Malin pulang kampung. Malin pun meradang, terlebih setelah mamaknya menceritakan sikap Mandehnya yang telah menganjurkan Nilam untuk menerima tawaran Datuk Kayo, seorang saudagar kaya raya yang seusia ayahnya, yang menginginkan Nilam menjadi istrinya. Hal itu memang telah disengaja oleh orang tua Nilam, demi mendapatkan pertolongan Datuk Kayo dari kebangrutan usaha yang dialaminya. Malinpun menemui Mandehnya. Terjadilah pertengkaran antara Malin dan Mandehnya, tetapi Mandeh tetap kukuh pada pendiriannya, Malin harus meninggalkan Nilam. Sebaliknya pula Malin tetap pada pendiriannya untuk menikahi Nilam. Iapun pergi dari rumahnya untuk mencari keberadaan Nilam, Mandeh meradang memandangi kepergian Malin. Saat itulah mamak Malin datang untuk menasehati dan mengingatkan Mandeh tentang cinta Nilam dan Malin yang tak mungkin di padamkan. Mandeh pun terhenyak pada kesadaran, bahwa cinta sejati memang tidak akan bisa direbut dan digantikan dengan kenyamanan dan kemewahan apapun.</em></p>
<p><em>Tafsir ulang cerita rakyat Malin Kundang itulah yang pada akhirnya dilahirkan dalam bentuk lakon baru, yang kemudian diberi tajuk &#8220;Malin Nan Kondang&#8221;. Lakon Malin Nan Kondang diharapkan dapat berimplikasi pada formulasi penanggungan yang kebih kreatif, di mana latar peristiwa, tema, dan interaksi antar tokoh dalam teks cerita dapat dijadikan wahana yang sangat terbuka dalam usaha menemukan makna baru, bukan hanya sebagai kritik atas penampilan atau sajian yang baru dalam bentuk opera Minangkabau.</em></p>
<p><strong>*Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/isi-tampilkan-opera-malin-nan-kondang/">ISI Tampilkan Opera Malin Nan Kondang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91918</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Video: Indahnya Musikalisasi dalam Puisi Berdenyut</title>
		<link>https://langgam.id/video-indahnya-musikalisasi-dalam-puisi-berdenyut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2020 18:03:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=38550</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Seorang penulis dan sineas muda asal Sumatra Barat, Seruni Puti Rahmita membuat video bersama, untuk sebuah lagu yang diadopsi dari puisinya berjudulkan Berdenyut. Puisi Seruni itu dinyanyikan Adha Buyung. Atas ajakan Seruni lewat akun Instagramnya @ssseruni, sebanyak 130 orang mengirimkan video pada 14-17 April 2020, saat keadaan mengharuskan tetap di rumah karena pandemi corona. Video bersama itu dijahit Seruni untuk menjadi klip lagu nya tersebut. Selesai 28 April 2020, tepat saat Hari Puisi Nasional. &#8220;Tuhan selalu tepat waktu,&#8221; ujarnya Kamis (30/04/2020). Ia mengatakan, lagu yang hadir itu membuatnya menjadi pesan yang mungkin selama ini tak tersampaikan. Senandungnya membuatnya jatuh</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-indahnya-musikalisasi-dalam-puisi-berdenyut/">Video: Indahnya Musikalisasi dalam Puisi Berdenyut</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id-</strong> </a>Seorang penulis dan sineas muda asal Sumatra Barat, Seruni Puti Rahmita membuat video bersama, untuk sebuah lagu yang diadopsi dari puisinya berjudulkan Berdenyut.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/zYbf2k3XSaQ" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Puisi Seruni itu dinyanyikan Adha Buyung. Atas ajakan Seruni lewat akun Instagramnya <a href="https://www.instagram.com/ssseruni/">@ssseruni</a>, sebanyak 130 orang mengirimkan video pada 14-17 April 2020, saat keadaan mengharuskan tetap di rumah karena pandemi corona.</p>
<p>Video bersama itu dijahit Seruni untuk menjadi klip lagu nya tersebut. Selesai 28 April 2020, tepat saat Hari Puisi Nasional.</p>
<p>&#8220;Tuhan selalu tepat waktu,&#8221; ujarnya Kamis (30/04/2020).</p>
<p>Ia mengatakan, lagu yang hadir itu membuatnya menjadi pesan yang mungkin selama ini tak tersampaikan. Senandungnya membuatnya jatuh cinta.</p>
<p>Seruni sudah merencanakan pembuatan musik videonya itu sejak Juni 2019. Namun, baru terwujud saat ini.</p>
<p>&#8220;Terima kasih atas keberanian kalian menyampaikan pesan, yang mungkin belum pernah tersampaikan itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Seruni Puti telah menerbitkan buku kumpulan puisi yang tiap halamannya diberi foto berwarna pada 2019. Foto diambil di berbagai negara saat ia berkunjung ke sana dan beberapa wilayah di Indonesia. Buku setebal 215 itu berjudul Ruang Tunggu. <strong>(SRP)</strong></p>
<p><em>Berdenyut</em></p>
<p><em>Aku sedang ingin diperjuangkan</em><br />
<em>oleh mata yang membaca puisi ini</em><br />
<em>dengan gemuruh di dadamu</em></p>
<p><em>Nadiku ingin berdenyut di dekat nadimu</em><br />
<em>Aku tak sabar menyelam dalam matamu</em><br />
<em>Di pertemuan kedia kita</em></p>
<p><em>@ssseruni</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-indahnya-musikalisasi-dalam-puisi-berdenyut/">Video: Indahnya Musikalisasi dalam Puisi Berdenyut</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">38550</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Puisi: Igau Corona</title>
		<link>https://langgam.id/puisi-igau-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2020 01:45:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=37310</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Sastrawan asal Kabupaten Solok, Sumatra Barat Alizar Tanjung, menulis dua puisi tentang pandemi corona atau Covid-19. Alizar merupakan alumni UIN Imam Bonjol Padang. Ia telah menerbitkan buku cerpen berjudul Jemari yang Saling Genggam (Kakilangit, 2015) dan Novel Anak-anak Karangsadah (Erka, 2016). Berikut puisinya: Igau Corona setelah lamang itu matang, bertemu mata pisau dan ujung sendok, diiris tujuh, ditata di atas piring, dihidangkan di atas karpet pandan, dia menunggu lidah dan gigi siapa yang bakal bertemu setelah doa dipatikan, hari baik bulan baik dipersuntingkan. “gabak di hulu oh cewang di hilir, ruas dan buku enggak bertemu rupanya pada buluh yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puisi-igau-corona/">Puisi: Igau Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><span style="color: #993300;"><strong>Langgam.id-</strong></span> </a>Sastrawan asal Kabupaten Solok, Sumatra Barat Alizar Tanjung, menulis dua puisi tentang pandemi corona atau <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://corona.sumbarprov.go.id/">Covid-19.</a></span></p>
<p>Alizar merupakan alumni UIN Imam Bonjol Padang. Ia telah menerbitkan buku cerpen berjudul Jemari yang Saling Genggam (Kakilangit, 2015) dan Novel Anak-anak Karangsadah (Erka, 2016).</p>
<p><strong>Berikut puisinya:</strong></p>
<p><strong><em>Igau Corona</em></strong></p>
<p><em>setelah lamang itu matang,</em><br />
<em>bertemu mata pisau dan ujung sendok,</em><br />
<em>diiris tujuh, ditata di atas piring,</em><br />
<em>dihidangkan di atas karpet pandan,</em><br />
<em>dia menunggu lidah dan gigi siapa</em><br />
<em>yang bakal bertemu setelah doa</em><br />
<em>dipatikan, hari baik bulan baik</em><br />
<em>dipersuntingkan.</em></p>
<p><em>“gabak di hulu oh cewang di hilir,</em><br />
<em>ruas dan buku enggak bertemu</em><br />
<em>rupanya pada buluh yang memanggangku.”</em><br />
<em>lamang masih tetap saja utuh,</em><br />
<em>salahkah kiranya tukang masak memotong</em><br />
<em>buluh, mana ekor mana kepala?</em><br />
<em>sebab itu rantau itu tidak pulang,</em><br />
<em>ah, bukan, terlarang kata ‘pulang’.</em></p>
<p><em>lamang merutuk ketan, santan,</em><br />
<em>daun pisang, buluh, api. “kau hidangkan</em><br />
<em>juga aku di masa corona pantek ini </em><br />
<em>kalau rantau dan kampung harus dipupus.”</em><br />
<em>2020</em></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p><div id="attachment_37313" style="width: 310px" class="wp-caption alignright"><a href="https://langgam.id/puisi-igau-corona/alizar-tanjung-ok/" rel="attachment wp-att-37313"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-37313" class="size-medium wp-image-37313" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/04/Alizar-Tanjung-OK.jpg?resize=300%2C161&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="300" height="161" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/04/Alizar-Tanjung-OK.jpg?resize=300%2C161&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/04/Alizar-Tanjung-OK.jpg?resize=768%2C412&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/04/Alizar-Tanjung-OK.jpg?resize=750%2C402&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/04/Alizar-Tanjung-OK.jpg?w=1000&amp;ssl=1 1000w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><p id="caption-attachment-37313" class="wp-caption-text">Alizar Tanjung</p></div></p>
<p><strong><em>Daun Pintu Toko Sebelah</em></strong></p>
<p><em>daun pintu toko sebelah menutup rapat</em><br />
<em>tiga sisi pintu udara masuk dan keluar.</em><br />
<em>dia kunci satu engsel tengah dari dalam,</em><br />
<em>kita harus menutup rapat segala bisik</em><br />
<em>yang kedengaran. dia kunci engsel atas,</em><br />
<em>di balik lubang angin, di luar pintu teriak</em><br />
<em>dan tangis kehilangan bunyi. dia kunci </em><br />
<em>engsel bawa, duka dari dalam toko</em><br />
<em>mesti kita tanggung seperti piuhan di hulu pusar</em><br />
<em>yang naik ke ubun-ubun.</em></p>
<p><em>angin dari luar mengetok pintu, teriak</em><br />
<em>corona, pandemi, wabah, selebihnya </em><br />
<em>terdengar ‘ngu ngu ngu’ selepas itu,</em><br />
<em>seperti ada kata ‘negara, atau ‘kota’,</em><br />
<em>atau entahlah, “hanya mimpi, besok</em><br />
<em>saat terbangun berharap semua kembali</em><br />
<em>seperti sedia kala.” daun pintu itu bicara</em><br />
<em>pada dirinya sendiri, celana, rok, </em><br />
<em>baju, singlet, kaos kaki. daun pintu</em><br />
<em>menoleh ke pemilik toko, memandang</em><br />
<em>jauh ke dalam mata, ini hari ketiga</em><br />
<em>pemilik toko, bini, tiga orang anak,</em><br />
<em>mengikat perutnya erat-erat, sungguh </em><br />
<em>ini bakal berlanjut. Sungguh terlalu.</em><br />
<em>2020</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puisi-igau-corona/">Puisi: Igau Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">37310</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Puisi: Siapakah Engkau Corona</title>
		<link>https://langgam.id/puisi-siapakah-engkau-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2020 13:55:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=35355</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Sastrawan Marhalim Zaini menulis puisi tentang pandemi corona atau Covid-19, yang penyebarannya semakin masif di Indonesia. Marhalim sempat kuliah di IAIN (kini UIN) Imam Bonjol Padang. Ia juga aktif di Teater Imam Bonjol. Puisinya tentang Covid-19 itu bertajuk &#8220;Siapah Engkau, Corona&#8221;. Siapakah Engkau, Corona Sejak engkau datang, kami mengurung diri dalam rumah. Mengunci pintu dan jendela, menutup Lubang angin, menutup segala yang terbuka dari rasa takut. Padahal kami tak tahu, engkau ada di luar Atau di dalam tubuh kami. Siapakah engkau, Corona? Engkau mengusir kami dari Jalan-jalan, mal, pasar, kantor-kantor, sekolah, kampus-kampus, bahkan dari rumah ibadah kami. Padahal kami</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puisi-siapakah-engkau-corona/">Puisi: Siapakah Engkau Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;"><strong><a style="color: #993300;" href="http://langgam.id">Langgam.id-</a></strong></span> Sastrawan Marhalim Zaini menulis puisi tentang pandemi corona atau <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://corona.sumbarprov.go.id/">Covid-19,</a></span> yang penyebarannya semakin masif di Indonesia.</p>
<p>Marhalim sempat kuliah di IAIN (kini UIN) Imam Bonjol Padang. Ia juga aktif di Teater Imam Bonjol. Puisinya tentang Covid-19 itu bertajuk &#8220;Siapah Engkau, Corona&#8221;.</p>
<p><em>Siapakah Engkau, Corona</em></p>
<p><em>Sejak engkau datang, kami mengurung diri</em><br />
<em>dalam rumah. Mengunci pintu dan jendela, menutup</em><br />
<em>Lubang angin, menutup segala yang terbuka dari rasa</em><br />
<em>takut. Padahal kami tak tahu, engkau ada di luar</em><br />
<em>Atau di dalam tubuh kami.</em></p>
<p><em>Siapakah engkau, Corona?</em></p>
<p><em>Engkau mengusir kami dari Jalan-jalan, mal, pasar, </em><br />
<em>kantor-kantor, sekolah, kampus-kampus, bahkan </em><br />
<em>dari rumah ibadah kami. Padahal kami selalu tak mampu</em><br />
<em>untuk keluar dari keramaian dalam kepala kami.</em></p>
<p><em>Siapakah engkau, Corona.</em></p>
<p><em>Engkau datang seperti bala tentara dalam </em><br />
<em>operasi senyap. Menembaki ribuan orang </em><br />
<em>di seluruh dunia dengan peluru kecemasan,</em><br />
<em>padahal kami hanya orang biasa yang tak</em><br />
<em>Punya senjata, yang selalu percaya bahwa </em><br />
<em>perang hanya untuk para tentara.</em></p>
<p><em>Siapakah engkau, Corona?</em><br />
<em>Hari ini, kami memang akhirnya mengunci diri</em><br />
<em>Dalam rumah, tapi kami tidak sedang menyerah.</em><br />
<em>Peluru-peluru sedang kami siapkan dari doa-doa</em><br />
<em>yang setiap saat kami rapalkan. Kami punya iman</em><br />
<em>yang setiap waktu menyala dalam kegelapan.</em></p>
<p><em>Tapi siapakah engkau, Corona.</em><br />
<em>Apakah engkau hanya datang sebagai pengecut, yang</em><br />
<em>menyerang saat kami buta. Saat kami kerap lalai</em><br />
<em>menyalakan api iman dalam dada. Saat kami terlalu</em><br />
<em>bahagia dengan gemerlap dunia, dan lupa pada</em><br />
<em>dosa-dosa.</em></p>
<p><em>Corona, siapapun engkau, kami tak lagi peduli.</em><br />
<em>Karena hari ini, kami sedang berdiam dalam diri,</em><br />
<em>mencari tahu, siapakah kami sesungguhnya</em><br />
<em>dalam tubuh yang fana.</em></p>
<p><strong>Marhalim Zaini, 2020<br />
<iframe src="https://www.youtube.com/embed/4-tCUm0j2J0" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe><br />
</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puisi-siapakah-engkau-corona/">Puisi: Siapakah Engkau Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">35355</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/63 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-07 23:53:47 by W3 Total Cache
-->