Langgam.id – Pusat Studi Bencana Universitas Andalas (PSB UNAND) mengingatkan kelayakan kawasan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang pascalongsor, tidak dapat ditentukan hanya melalui pengamatan visual atau penilaian cepat.
Menurut PSB UNAND, kajian teknis berbasis data geoteknik dinilai menjadi prasyarat utama sebelum kampus dinyatakan aman digunakan kembali.
Dalam paparan akademik di lingkungan UIN IB Padang, Senin (12/1/2026), Prof Abdul Hakam dari PSB UNAND menyebutkan longsor merupakan fenomena pergerakan massa tanah dari lapisan dalam, sehingga membutuhkan pendekatan ilmiah yang tidak sederhana.
“Tanpa penyelidikan tanah, kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita hadapi. Dari situ baru bisa bicara kelayakan,” ujar Abdul Hakam.
Ia menjelaskan bahwa salah satu kerentanan utama lereng adalah kondisi tanah lempung yang mengandung clay. Saat hujan berkepanjangan, tanah menjadi jenuh air dan kehilangan daya dukung, sehingga meningkatkan potensi longsor susulan.
Abdul Hakam mengingatkan bahwa air dapat memberi tekanan dari berbagai arah dan menjadi pemicu utama ketidakstabilan lereng.
“Air itu bukan hanya datang dari atas. Ia bisa menekan dari samping dan bawah. Kalau tidak dikendalikan, risikonya berlipat,” bebernya.
Terkait wacana pembangunan kolam atau embung di kawasan kampus, Abdul Hakam meminta agar rencana tersebut dikaji secara cermat. Menurutnya, genangan air berpotensi menambah beban tanah dan tekanan hidrostatis.
Ia juga menegaskan tidak semua lereng pascalongsor perlu segera diintervensi. Dalam kondisi tertentu, lereng justru mencapai stabilitas sementara.
“Intervensi yang tergesa-gesa tanpa kajian bisa menciptakan masalah baru,” tutur Abdul Hakam. (*/y)






