Langgam.id – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan pengerjaan Flyover Sitinjau Lauik di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) sangat lamban akibat terkendala pembebasan lahan. Progres proyek infrastruktur prioritas nasional ini baru 12 persen.
“Progresnya memang sangat lamban karena pembebasan lahan masih tidak semudah dijanjikan manakala saya dipaksa untuk segera groundbreaking waktu itu,” ujar Dody saat melakukan peninjau proyek Flyover Sitinjau Lauik, Kamis (29/1/2026).
Groundbreaking Flyover Sitinjau Lauik diketahui dilakukan pada Mei 2025. Proyek bernilai Rp 2,793 triliun ini diperkirakan akan selesai dalam waktu 2,5 tahun masa konstruksi dan 10 tahun masa operasi.
Dody meminta pemerintah provinsi, pemerintah daerah dan BPN untuk segera menyelesaikan pembebasan lahan. Ia berharap persoalan ini dapat diatasi secepatnya, paling lambat satu bulan.
“Sekarang saya tinggal paksa gubernur dan beberapa teman yang paksa saya groundbreaking, untuk merealsikan janjinya (pembebasan lahan),” tuturnya.
“Karena kasihan juga, HKI (Hutama Karya Infrastruktur) juga ngirim alat dan persiapan bahan-bahan tapi tidak bisa kerja maksimal karena lahan masyarakat yang masih belum bisa dibebaskan karena masalah dengan final itu dengan BPN,” sambung Dody.
Dengan terkendala lahan ini, kata Dody, capaian pengerjaan proyek Flyover Sitinjau Lauik menjadi meleset.
“Ya, meleset. Logikanya meleset. Ditambah lagi ada bencana. Sebenarnya semua sudah siap. Saya sudah cek, sudah semua terkonfirmasi alat dan bahan. Yang masalah lahan, ketika lahan selesai, tidak usah 100 persen, mungkin lebih 50 persen saja mungkin progresnya akan lebih cepat,” jelasnya.
Dody menambahkan sampai saat ini pembebasan lahan tergolong sangat minim. Maka itu diminta koordinasi antar lembaga di Sumbar untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Super sedikit (pembebasan lahan). Masih tektokkan,” imbuhnya.
Menurut Dody, adanya Flyover Sitinjau Lauik sangat banyak bermanfaat. Mulai dari mengurangi angka kecelakaan, memperlancar arus logistik hingga bisa memperdayakan masyarakat sekitar.
“Banyak manfaat, terutama untuk kendaraan logistik yang berat. Kemudian mengurangi kemacetan dan biaya logistik. Paling utama kecelakaan bisa ditekan sampai nol. Selanjutnya memperdayakan masyarakat sekitar, bakal ada rest area untuk UMKM,” pangkasnya.





