Microhyla Sriwijaya, Jenis Katak Kecil Baru yang Miliki Ciri Khas Mulut Sempit

Katak kecil mulut sempit

Ilustrasi katak. [foto: Pixabay.com]

Microhyla Sriwijaya merupakan spesies katak kecil jenis baru yang memiliki ciri khas mulut sempit yang hidup di Belitung dan Lampung.

Langgam.id – Katak merupakan salah satu hewan yang cukup mudah ditemukan di banyak tempat. Saking banyaknya, katak pun memiliki beragam spesies yang berbeda-beda dengan ciri khas masing-masing. Seperti katak yang satu ini.

Dilansir dari laman Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (LIPI) pada Senin (13/9/2021), Peneliti Badan Riset dan Inovasi (BRIN) dari Pusat Penelitian Biologi belum lama ini berhasil menemukan spesies katak kecil baru bernama Microhyla Sriwijaya. Keunikan katak kecil ini terletak pada mulutnya yang sempit dibandingkan katak pada umumnya.

Spesies katak kecil baru ini ditemukan di Pulau Belitung dan Lampung. Peneliti Herpetologi Pusat Penelitian Biologi, Amir Hamidy salah satu penulis yang mempublikasi mengenai katak kecil ini. Amir menjelaskan bahwa nama Sriwijaya diambil untuk jenis katak ini mengacu pada nama kerajaan besar di Kepulauan Melayu.

“Ini berbasis di Sumatra dan mempengaruhi Asia Tenggara antara abad ke-7 dan ke-11,” jelas Amir.

Sejalan dengan penjelasan beberapa penulis lainnya, Amir mengatakan bahwa spesies katak kecil baru ini memiliki ciri khas, yakni katak jantan dewasa mempunyai ukuran kecil dengan moncong sekitar 12,3 hingga 15,8 mm.

Lampiran Gambar

Microhyla sriwijaya. [foto: LIPI]

Selain itu, katak ini memiliki moncong tumpul dan bulat dengan tanda berwana coklat kemerahan serta tuberkel kulit menonjol di punggungnya. Hal ini dijelaskan dalam jurnal Zootaxa, membahas mengenai genus Microhyla  yang dipublikasi pada Kamis (2/10/2021) lalu.

“Katak ini masih merupakan anggota dari M. achatina dan saudara dari M. orientalis. Namun berdasarkan analisis morfologis, molekuler, dan akustik terdapat perbedaan dan kami mengidentifikasikan katak ini sebagai spesies baru,” jelasnya.

Katak ini ditemukan oleh  tim herpetologi di sebuah perkebunan kelapa sawit Pulau Belitung dan Lampung pada pada 2018 dan 2019 lalu. Berkat penemuan ini, di Indonesia diketahui miliki sembilan jenis katak spesies Microhyla. Hal tersebut diungkapkan oleh peneliti Rury Eprilurahman dari Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada.

Lebih lanjut, Rury menjelaskan bahwa spesies katak Microhyla banyak hidup di Pulau Sumatera karena memiliki wilayah luas. Bahkan tujuh dari sembilan spesies Microhyla banyak hidup di pulau tersebut.

Namun sayangnya, habitat katak Microhyla sriwijaya di pulau belitung kini sudah terancam. Hal tersebut dikarenakan kegiatan antropogenik yang menyebabkan kerusakan beberapa habitat hewan, terutama jenis amfibi. Lantaran hal ini sangat diperlukan kesadaran diri untuk menjaga lingkungan agar habitat alami hewan di pulau tersebut tetap terjaga.


Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram Langgam.id News Update, caranya klik https://t.me/langgamid, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tag:

Baca Juga

Demo masyarakat Kasang di Ombudsman menuntuk tindaklanjut laporan dugaan maladministrasi oleh Gubernur Sumbar dalam pemberian izin tambang adesit.
Pemkab Padang Pariaman Segera Tinjau Legalitas Tambang Andesit di Kasang
Kukuhkan 7 Guru Besar Baru, Rektor UNAND Dorong Lahirkan Inovasi yang Bisa Diimplementasikan
Kukuhkan 7 Guru Besar Baru, Rektor UNAND Dorong Lahirkan Inovasi yang Bisa Diimplementasikan
Kemaluddin, Gelandang Sumsel United Resmi Berlabuh ke Semen Padang FC 
Kemaluddin, Gelandang Sumsel United Resmi Berlabuh ke Semen Padang FC 
Pemkab Dharmasraya Alokasikan Rp63,6 Miliar untuk Pembangunan Jalan dan Jembatan
Pemkab Dharmasraya Alokasikan Rp63,6 Miliar untuk Pembangunan Jalan dan Jembatan
Pemprov Sumbar Buka Ruang Evaluasi Terkait Izin Tambang Andesit di Kasang
Pemprov Sumbar Buka Ruang Evaluasi Terkait Izin Tambang Andesit di Kasang
Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi Heriyanto saat memberikan penjelasan tentang izin pertambangan rakyat.
Pemkab Padang Pariaman Minta Izin Tambang Andesit Ditinjau Ulang, Kadis ESDM Sumbar: Kenapa PKKPR Tidak Dicabut?