Mengenang Mawan Malin Kayo, Generasi Ketiga Silek Tuo Kumango

Sejak umur 21 tahun, tahun 1970, Mawardi Malin Kayo telah mulai mengajar silat aliran Kumango di Jorong, Koto Tuo Salimpaung. Sanad silat aliran Kumango didapat oleh Mawardi Malin Kayo dari Datuak Dirih (Idris) atau lebih dikenal dengan Angku Dirih, murid langsung dari Syekh Kumango, Abdurrahman Al Khalidi, yang populer dipanggil Ayah Kumango. Itu juga yang membuat Mawardi Malin Kayo dipanggil oleh muridnya dengan sebutan “Ayah”, Ayah Mawan Malin Kayo. Ayah Mawan dapat disebut generasi ketiga aliran Silat Kumango saat itu.  

Datuak Dirih adalah tokoh di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, tetangga Nagari Salimpaung, Kecamatan Salimpaung. Tahun 1920-an Datuak Dirih bolak-balik dari Koto Baru ke Nagari Kumango, Kecamatan Sungai Tarab belajar silat, belajar mengaji, dan belajar ilmu tasawuf/tarekat.

Saat Ayah Kumango mulai udzur dan kemudian meninggal dunia tahun 1929. Datuak Dirih “mamutuih” kaji dengan anak Ayah Kumango, Muhammad Djalil Angku Gadang.

Ayah Mawan berjalan kaki sekitar 1,5 jam untuk sampai di rumah gurunya dari Koto Tuo ke Nagari Koto Baru. Saat umurnya belasan tahun, Ayah Mawan sudah bolak-balik ke Surau Munggu, di Koto Baru, sasaran silek Datuak Dirih. Selain belajar silat Ayah Mawan juga belajar agama.

Pada tahun 1970 atau saat berumur 21 tahun itulah, Ayah Mawan, mendapat izin dari Datuak Dirih untuk mulai mengajar sendiri di Jorong Kototuo Salimpaung. Dalam dunia persilatan, adab pada guru paling utama. Pantang bagi seorang murid mengajarkan ilmu silat ke yang lain, tanpa mendapatkan izin dari gurunya. Jika itu dilakukan, itu sama saja dengan pengkhianatan.

Mayoritas anak muda Koto Tuo adalah muridnya, ratusan muridnya tersebar di kampung dan di perantauan. Ayah Mawan dikenal sangat mencintai gurunya, beliau sering kali menangis di depan kami kalau ingat, atau menceritakan gurunya itu. 

Mendirikan Perguruan dan Meninggal Dunia
Tahun 1999, Ayah Mawan secara resmi melembagakan perguruan silatnya, yang disebut dengan Perguruan Silat Silaturahmi. Perguruan adalah aset dan kebanggaan Nagari Salimpaung, Tanah Datar. Ketua perguruan pertama adalah Imam Narwizal Malin Sati, Urang Siak Suku Chaniago, tamatan MTI Canduang dan IAIN Batusangkar. Kelak Imam Narwizal Malin Sati ditunjuk oleh Ayah Mawan sebagai pelanjutnya.

Perguruan silaturrahmi, disebut silaturrahmi karena memang tujuan silat kumango secara lahir mencari kawan (ukhuwah islamiyah) dan secara batin mencari Tuhan (tauhid lailahaillallah). Itu sebabnya, tak ada murid yang belajar silat untuk menjadi parewa atau preman kampung. Para murid harus berhenti berkelahi sejak mereka mulai belajar silat. “Musuah jangan dicari, tapi kalua basuo, kok dapek diilakan diilak an juo” demikian pituah Ayah Mawan.  

Singkat cerita, tepat tanggal 21 Januari 2022, Ayah Mawan meninggal dunia, pada umur 74 tahun. Guru berhati lembut dan halus tak pernah marah, penyabar dan ikhlas mengajar itu pergi untuk selamanya. Yang membahagiakan kami sebagai murid-muridnya adalah, Ayah di hari tuanya semakin menunjukkan kualitas sebagai hamba. Beliau semakin rajin ke surau, belajar agama dan beribadah di Surau Talang, Nagari Koto baru Sungai Tarab, tahun 2020 beliau Suluk di Surau Talang. Tak hanya di Surau Talang, Ayah Mawan juga belajar ke Surau Bateh, Kabupaten 50 Kota. Pada tahun 2021, beliau juga sempat melakukan ritual “Suluk” selama 40 hari  di Surau Tariqat tersebut. Sampai hari tua pun semangatnya untuk belajar tak pernah pudar.
 
Tuo Silek, Warih Bajawek.
Imam Narwizal Malin Sati adalah Tuo Silek Perguruan Silaturrahmi. Warih bajawek, pusako batarimo, kepada beliaulah Ayah Mawan saat masih hidup banyak memberikan kepercayaan. Mandat diberikan kepadanya untuk mengajar. Ia paling mencintai Ayah, demikian juga sebaliknya.

Itulah yang membuat dalam musyawarah para murid Silek Kumango Silaturrahmi, tujuah hari pasca Ayah Mawan meninggal dunia. Tuo Silek Perguruan Silat Silaturrahmi dilewakan. Gelar Tuo Silek juga dilekatkan atau direstui oleh anak-anak, menantu dan cucu beliau. “Kami anak-anak, menantu dan cucu-cucu sadar betul, untuk Tuo Silek, kami tak pantas. Imam Narwizal paling patut” kata Datuak Padobosi, anak Ayah Mawan paling tua.

Saya masih ingat, Imam Narwizal, tak terima sebutan Tuo Silek itu. Karena baginya Ayah tak pernah mati. Beliau ingin disebut sebagai khalifah silek saja.

Tapi, inilah faktanya, bersuluh matahari bergelanggang mata orang banyak. Beliaulah yang dapat dipercaya, yang dengan sungguh-sungguh dapat menerima warih dan menjaga pusako ini.

Alhamdulillah, anak-anak yang mangaji di Surau Subarang Parik Koto Tuo, yang diasuh Imam Narwizal kini dapat pengajaran tambahan, basilek. Surau Subarang Parik menjelma  menjadi “Surau Silek” : Mangaji agamo, basilek dan baraja adat. Sekali-kali, langkah silek pun dibuka dan diajarkan di lapangan Rumah Gadang Datuak Padobosi, sasaran silek, tempat selama ini Ayah Mawan mengajar.

Alhamdulillah, ditengah era global, pengaruh gaget/HP. Masih ada anak-anak yang mau ke surau, untuk basilek dan mangaji. Surau adalah benteng generasi minang. Seperti Pitaruah Silek Ayah Kumango turun temurun “Bagantuang ka tali nan indak putuih (Syara’ jo Kitabullah). Bapagang ka raso nan indak hilang (Insan nan badiri). Malantai sabalun luluih, basiang sabalun tumbuah (Tau jo garik sarato raso). Jago tali jaan sampai putuih, jago raso jaan sampai hilang. Lahianyo silek mancari kawan batinnyo silek mancari Tuhan”. 

Tak sia-sia ilmu, satu dua langkah silat diajarkan Ayah Mawan. Insya Allah, akan jadi sedekah jahiriah bagi almarhum. Pahalanya akan terus mengalir yang tak putus. Berbuah kelapangan kubur, berbuah taman sorgaNya, bebuah ampunanNya. Kemerin malam, para murid berkumpul mengantar doa, haul Ayah Mawan yang ke-tiga. Semoga Allah mengampuni segala salahnya, dan menghadiahkan sorga untuknya. Amin.  

*Penulis: Adel Wahidi (Ketua Perguruan Silat Silaturrahmi)

Tag:

Baca Juga

Menilik Prosesi 'Maanta Syaraik Baraja ka Guru Silek' di Gurun
Menilik Prosesi ‘Maanta Syaraik Baraja ka Guru Silek’ di Gurun
Bakal Tampil di Festival Silat Nusantara 2023: Simak Deretan Silek Asal Solok Selatan
Bakal Tampil di Festival Silat Nusantara 2023: Simak Deretan Silek Asal Solok Selatan
Festival Silat Tradisi Nusantara, Supardi: Program Lanjutan Musyawarah Tuo Silek
Festival Silat Tradisi Nusantara, Supardi: Program Lanjutan Musyawarah Tuo Silek
Meriah, 16 Sasaran Berpartisipasi dalam Galanggang Silek Tradisi
Meriah, 16 Sasaran Berpartisipasi dalam Galanggang Silek Tradisi
Dua Malam Pertunjukan di Galanggang Silek Tradisi, Supardi: Ini Baru Sebagian Kecil Aset Budaya Kita
Dua Malam Pertunjukan di Galanggang Silek Tradisi, Supardi: Ini Baru Sebagian Kecil Aset Budaya Kita
Galanggang Silek Tradisi Sajikan Beragam Pertunjukan Silek
Galanggang Silek Tradisi Sajikan Beragam Pertunjukan Silek