Langgam.id – Sore itu, Sabtu, 7 Maret 2026, angin Ramadan berembus lembut di sebuah rumah yang asri di Taman Tun Teja, Rawang, Selangor, Malaysia. Taman dengan pepohonan rindang terhampar di seberang halaman rumah yang tenang. Di ruang tamu sederhana itulah Mukhni, B.A., menyambut penulis dengan senyum hangat. Suasana puasa membuat percakapan terasa lebih khidmat. Di balik wajah teduhnya, tersimpan perjalanan panjang seorang anak kampung dari Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Batipuh, Tanah Datar, yang menempuh jalan berliku hingga menjadi dosen dan guru mengaji di negeri jiran.
“Umur 14 tahun saya sudah pergi menuntut ilmu ke Arab,” kenang Mukhni membuka cerita.
Mukhni lahir dari pasangan Munaf Datuak Mangkasah dan Maiyar pada 6 Juli 1957 di Tanjung Barulak. Kedua orang tuanya berasal dari Tanjung Barulak. Masa kecil Mukhni pun dihabiskan di sekolah kampung yakni SD 1 dan SD 2. Lalu ia melanjutkan pendidikan ke Thawalib Padang Panjang, sekitar 14 km dari kampungnya. Di sana ia dikenal sebagai pelajar cemerlang. Hampir setiap semester ia meraih peringkat terbaik. Meski baru sampai kelas tiga, pimpinan sekolah memberinya kesempatan langka: mengikuti ujian kelas empat lebih cepat sebagai bentuk dukungan keinginan Mukhni untuk belajar ke Timur Tengah.
“Karena juara terus, Buya bilang: ambil saja ujian kelas empat. Kalau lulus, bisa berangkat ke Arab,” tuturnya.
Adapun keinginan ke Arab Saudi tak terlepas dari keberadaan ayah tuonya, Amin Saidi yang telah tinggal dan bekerja sebagai penjahit di Riyadh. Amin Saidi adalah kakak paling tua dari ayah Mukhni. Nyaris tiap bulan Amin Saidi mengirim uang dan bersurat kepada Saidi, orang tuanya yang tinggal di kampung. Saidi sendiri merupakan ayah dari Abdul Muin, orang tua dari pengusaha besar Indonesia, Nurhayati Subakat (pendiri PT Paragon Technology and Innovation). Artinya Saidi adalah kakek dari Nurhayati. Dengan demikian, Mukhni dan Nurhayati punya hubungan kekerabatan dari kakek Saidi.
Sebelumnya keluarga Mukhni pun sudah bersurat dengan Amin Saidi. Hal ini sekaitan dengan isi surat Amin Saidi yang kerap berbunyi; “sia-sia urang kampuang datang lah ka siko (Riyadh/ Arab Saudi).”
Kisah merantau Amin Saidi yang menetap di Riyadh sebagai tukang jahit pun menarik ditilik. Perjalanannya sendiri penuh liku. Menurut Mukhni, setelah berselisih dengan adiknya, Pakiah Leman, ia meninggalkan kampung halaman. Perantauannya membawanya dari Medan ke Aceh, hingga ia fasih berbahasa Aceh. Dari sana ia melanjutkan perjalanan ke Pakistan dan mempelajari bahasa Urdu, sebelum singgah di India. Setelah menunaikan perjalanan ke Mekkah, ia akhirnya menetap di Riyadh. Di kota itulah usahanya sebagai penjahit berkembang dan mulai berhasil.
Dari penghasilannya menjahit, ia rutin mengirim uang untuk keluarga di kampung. Tahun 1971, tatkala tahu Mukhni bersama Nofrizar Nawawi menjadi dua orang yang hendak berangkat ke Riyadh, ia juga membantu biaya keberangkatan.
“Namun uang yang terkirim hanya sekitar 120 ribu rupiah, sementara ongkos perjalanan dari Jakarta ke Riyadh saja sudah mencapai sekitar 70 ribu rupiah. Jumlah itu tidak cukup untuk kami berdua. Akhirnya diputuskan Nofrizar berangkat lebih dulu. Sementara saya tinggal sementara di Jakarta, menumpang di rumah Rosina Salim di Jatinegara selama kurang lebih tiga bulan,” kisah Mukhni.
Akhirnya kesempatan itu benar-benar datang. Tahun 1971, dengan usia yang masih sangat muda, Mukhni pun merantau jauh ke Riyadh, Arab Saudi. Namun perjalanan itu tidak mudah. Ia berangkat dengan bekal bahasa yang pas-pasan.
“Kita asal kampung. Bahasa Inggris tidak pandai, bahasa Arab pun baru bahasa buku. Tapi berani saja naik pesawat,” katanya sambil tersenyum.
Perjalanan pertamanya naik pesawat menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ia bahkan sempat transit tiga hari di Karachi, Pakistan, tanpa benar-benar memahami bahasa orang-orang di sekelilingnya. “Seperti orang bingung saja,” kenangnya.
Di Riyadh, kehidupan awalnya jauh dari gambaran mahasiswa. Ia bekerja sebagai tukang jahit bersama kerabatnya yang lebih dulu merantau. Pekerjaan itu menjadi sandaran hidup selama bertahun-tahun.
“Anak-anak kita tidak pandai menjahit, jadi mula-mula saya hanya menggosok pakaian dan memasang kancing,” ujarnya.
Dari tahun 1971 hingga 1978, ia menjalani kehidupan sebagai pekerja sekaligus pelajar. Pelanggan jahitannya bahkan datang dari kalangan pejabat penting di Arab Saudi. Di sela pekerjaan itu, ia berusaha melanjutkan pendidikan. Berkat rekomendasi seorang pelanggan yang berpengaruh, Mukhni akhirnya diterima kuliah di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, jurusan Ushuluddin.
Menariknya, ia masuk kuliah tanpa melewati jenjang SMA.
“Ditanya mau SMA atau kuliah. Saya jawab kuliah saja,” katanya sambil tertawa kecil.
Kuliah itu tidak mudah. Bahasa Arab akademik sangat berbeda dari bahasa sehari-hari yang ia gunakan saat bekerja. Buku-buku tebal dan ujian tahunan menjadi tantangan berat. Namun kegigihannya membuahkan hasil. Ia akhirnya lulus pada tahun 1982.
Selepas kuliah, Mukhni mendapat kesempatan mengajar di Persatuan Muhammadiyah Singapura dengan kontrak dua tahun. Dari sanalah jalan hidupnya kemudian mengarah ke Malaysia. Pada 1985 ia diterima sebagai dosen di International Islamic University Malaysia (IIUM) di Gombak.
Di kampus itu ia mengajar bahasa Arab dan Al-Qur’an di Language Division. Karier akademiknya berlangsung panjang, lebih dari tiga dekade.
“Saya mulai mengajar di sana tahun 1985 sampai 2017. Setelah itu masih dikontrak lagi tiap tahun sampai 2022,” ujarnya.
Kini, setelah puluhan tahun di perantauan, Mukhni tetap menetap di Malaysia bersama keluarganya. Ia pernah tinggal di Johor, kemudian di Sungai Penchala, Kuala Lumpur, sebelum akhirnya menetap di Rawang, Selangor. Dari pernikahannya dengan Duliarti Habib, ia dikaruniai enam anak dan delapan cucu.
Meski sudah pensiun dari kampus, aktivitasnya belum berhenti. Ia masih mengajar Al-Qur’an dan bahasa Arab di lingkungan masyarakat. Bahkan ia aktif dalam misi kemanusiaan, terutama bila kejadiaan di Indonesia. Teranyar, ia mendatangi kampung-kampung yang diterjang banjir bandang (galodo) di Sumatra Barat khususnya wilayah Tanah Datar dengan membawa bantuan hasil urunan dari murid-muridnya di Malaysia.
Bagi Mukhni, ilmu yang didapat dari perjalanan panjang hidupnya adalah amanah yang harus terus dibagikan.






