<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Khas: Feature &amp; Indepth News &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/khas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/khas/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 May 2026 08:20:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Khas: Feature &amp; Indepth News &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/khas/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Centang Parenang Setengah Tahun Penanggulangan Bencana Sumbar</title>
		<link>https://langgam.id/centang-parenang-setengah-tahun-penanggulangan-bencana-sumbar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ghaffar Ramdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 May 2026 03:33:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[BPBD]]></category>
		<category><![CDATA[Editor Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Huntap]]></category>
		<category><![CDATA[Huntara]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247928</guid>

					<description><![CDATA[<p>LANGGAM.ID&#8212; Nasib mujur bagi Yusniati (60) hari itu, air bersih di hunian sementara Kapalo Koto Padang tidak mati, sehingga ia bisa mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk. Jelang setengah tahun tinggal di huntara usai bencana banjir, Yusniati dan penghuni lainnya masih sering kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Pun bantuan yang datang mulai seret sejak lebaran kemarin. Tampak empat toren air berukuran cukup jumbo untuk menampung air bersih di huntara. Namun kata Yusnianti, toren itu sering kosong akibat mesin pompa air yang sering rusak. &#8220;Seperti inilah kondisi kami, jangankan untuk mencuci pakaian hanya untuk mandi saja air susah kami dapatkan,&#8221;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/centang-parenang-setengah-tahun-penanggulangan-bencana-sumbar/">Centang Parenang Setengah Tahun Penanggulangan Bencana Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://LANGGAM.ID" type="link" id="LANGGAM.ID">LANGGAM.ID</a></strong>&#8212; Nasib mujur bagi Yusniati (60) hari itu, air bersih di hunian sementara Kapalo Koto Padang tidak mati, sehingga ia bisa mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk. Jelang setengah tahun tinggal di huntara usai bencana banjir, Yusniati dan penghuni lainnya masih sering kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Pun bantuan yang datang mulai seret sejak lebaran kemarin.</p>



<p>Tampak empat toren air berukuran cukup jumbo untuk menampung air bersih di huntara. Namun kata Yusnianti, toren itu sering kosong akibat mesin pompa air yang sering rusak.</p>



<p>&#8220;Seperti inilah kondisi kami, jangankan untuk mencuci pakaian hanya untuk mandi saja air susah kami dapatkan,&#8221; ujarnya kepada <a href="http://langgam.id">Langgam.id</a> saat mencuci di toilet umum huntara.&nbsp;</p>



<p>Yusnianti bersama dua anaknya telah tinggal di huntara sejak Januari lalu. Rumahnya di Batu Busuk Kota Padang hanyut diterjang banjir bandang pada akhir November 2025. Kini orang tua tunggal itu tengah menunggu kepastian kapan akan mendapatkan hunian tetap.</p>



<p>Ia berharap bisa segera menetap di hunian yang telah dijanjikan pemerintah. Sebab, selama di huntara Yusnianti bersama anaknya cukup kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat ini kebutuhan keluarga Yusnianti bergantung sepenuhnya kepada anak yang kerja serabutan.&nbsp;</p>



<p>Bantuan pun, sambung Yusnianti juga sudah jarang. Para penyitas bencana harus pintar-pintar untuk memutar otak agar kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi.</p>



<p>&#8220;Sejak selesai lebaran bantuan sudah jarang diberikan. Kalau ada bantuan yang datang saya bersyukur. Kalau tidak ada, saya hidup dari sisa-sisa bantuan yang ada,&#8221; katanya.</p>



<p>Hal sama juga diutarakan oleh penghuni huntara lainnya, Arizal (36). Bapak dua anak ini juga berharap bisa pindah ke hunian tetap, agar bisa merintis kembali peluang usaha atau pekerjaan yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan harian.</p>



<p>Arizal mengaku kesulitan untuk mencari pekerjaan tetap setelah menjadi korban terdampak banjir. Kini ia kerja serabutan sebagai kuli bangunan. &#8220;Penghasilan yang tidak menentu membuat kehidupan semakin sulit,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Arizal mengaku yang paling berat baginya bukan hanya kehilangan rumah, melainkan rasa tidak pasti tentang masa depan keluarganya. “Saya hanya ingin punya rumah lagi, sederhana saja. Yang penting anak-anak bisa tidur tenang,&#8221;ujarnya.</p>



<p><strong>Bergantung pada Rakit Darurat&nbsp;</strong></p>



<p>Selain pengerjaan hunian tetap yang masih berjalan, perbaikan sejumlah infrastruktur juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Salah satunya, jembatan di Nagari Anduring, Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, yang putus saat bencana November 2025.</p>


<p>The post <a href="https://langgam.id/centang-parenang-setengah-tahun-penanggulangan-bencana-sumbar/">Centang Parenang Setengah Tahun Penanggulangan Bencana Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247928</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tarik Ulur Pembongkaran Bangunan Lembah Anai, dari Maladministrasi hingga Putusan Sela </title>
		<link>https://langgam.id/tarik-ulur-pembongkaran-bangunan-lembah-anai-dari-maladministrasi-hingga-putusan-sela/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ghaffar Ramdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2026 04:49:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lembah Anai]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=246946</guid>

					<description><![CDATA[<p>LANGGAM.ID&#8211; Penertiban bangunan bermasalah di Lembah Anai diwarnai berbagai polemik. Lambannya eksekusi dari pemerintah daerah berujung pada temuan maladministrasi oleh Ombusdman, sampai dengan keluarnya putusan sela dari PTUN Padang yang memerintahkan Pemprov menunda pembongkaran. Kasus pelanggaran tata ruang di sempadan sungai Lembah Anai sudah mulai mencuat sejak Mei 2024. Saat itu Kementerian ATR/BPN menetapkan dua bangunan di sempadan Lembah Anai melanggar tata ruang dan tidak berizin, yaitu rangka besi hotel, serta rest area dengan fasilitas masjid. Bangunan tersebut berada di lahan milik PT Hidayah Syariah Hotel (PT HSH). Walhi Sumbar mengidentifikasi sejumlah peraturan yang dilanggar dari pembangunan di sempadan sungai</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tarik-ulur-pembongkaran-bangunan-lembah-anai-dari-maladministrasi-hingga-putusan-sela/">Tarik Ulur Pembongkaran Bangunan Lembah Anai, dari Maladministrasi hingga Putusan Sela </a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://LANGGAM.ID" type="link" id="LANGGAM.ID">LANGGAM.ID</a>&#8211; Penertiban bangunan bermasalah di Lembah Anai diwarnai berbagai polemik. Lambannya eksekusi dari pemerintah daerah berujung pada temuan maladministrasi oleh Ombusdman, sampai dengan keluarnya putusan sela dari PTUN Padang yang memerintahkan Pemprov menunda pembongkaran.</p>



<p>Kasus pelanggaran tata ruang di sempadan sungai Lembah Anai sudah mulai mencuat sejak Mei 2024. Saat itu Kementerian ATR/BPN menetapkan dua bangunan di sempadan Lembah Anai melanggar tata ruang dan tidak berizin, yaitu rangka besi hotel, serta rest area dengan fasilitas masjid.</p>



<p>Bangunan tersebut berada di lahan milik PT Hidayah Syariah Hotel (PT HSH). Walhi Sumbar mengidentifikasi sejumlah peraturan yang dilanggar dari pembangunan di sempadan sungai Lembah Anai itu. Diantaranya, Undang-Undang Cipta Kerja terkait pelanggaran terkait pendirian bangunan gedung yang tidak sesuai dengan peruntukan lahan atau tata ruang.</p>



<p>Baca: <a href="https://langgam.id/jangan-rusak-lembah-anai-demi-cuan-semata/" type="link" id="https://langgam.id/jangan-rusak-lembah-anai-demi-cuan-semata/">Jangan Rusak Lembah Anai Demi Cuan Semata</a></p>



<p>Baca: <a href="https://langgam.id/setengah-hati-menindak-bangunan-bermasalah-di-lembah-anai/" type="link" id="https://langgam.id/setengah-hati-menindak-bangunan-bermasalah-di-lembah-anai/">Setengah Hati Menindak Bangunan Bermasalah di Lembah Anai</a></p>



<p>Lalu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dengan dugaan melanggar Pasal 40 Ayat (3) juncto Pasal 75 Ayat (1) mengenai larangan mendirikan bangunan di kawasan rawan bencana. Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Datar Nomor 5 tahun 2022 tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten, Peraturan Menteri PUPR Nomor 28 tahun 2015 tentang penetapan garis sempadan sungai.</p>



<p>&#8220;Bangunan ini melanggar pemanfaatan tata ruang karena membangun di kawasan sempadan sungai dan hutan lindung, serta diduga melanggar ketentuan larangan mendirikan bangunan di sepanjang aliran sungai Batang Anai, yang seharusnya difungsikan sebagai daerah resapan dan perlindungan lingkungan,&#8221; ujar Direktur Eksekutif Walhi Sumbar Tommy Adam.</p>



<p>Keberadaan bangunan tersebut semakin menjadi perhatian, saat banjir bandang atau galodo menerjang Lembah Anai pada 13 Mei 2024. Bencana tersebut menyapu objek wisata pemandian yang berada di aliran sungai Batang Anai. Bahkan satu cafe lenyap tak tersisa dibawa arus banjir.</p>



<p>Pascabencana galodo itu, pada Oktober 2024, Walhi Sumbar melaporkan dugaan maladministrasi ke Ombudsman Perwakilan Sumbar lantaran penundaan pembongkaran bangunan yang telah dipasangi plang perintangan oleh Kementerian ATR/BPN sebelumnya. Menurut Walhi, pemerintah daerah seharusnya langsung membongkar bangunan rangka besi hotel tersebut saat sudah dinyatakan melanggar tata ruang.</p>


<p>The post <a href="https://langgam.id/tarik-ulur-pembongkaran-bangunan-lembah-anai-dari-maladministrasi-hingga-putusan-sela/">Tarik Ulur Pembongkaran Bangunan Lembah Anai, dari Maladministrasi hingga Putusan Sela </a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246946</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Jangan Rusak Lembah Anai Demi Cuan Semata</title>
		<link>https://langgam.id/jangan-rusak-lembah-anai-demi-cuan-semata/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ghaffar Ramdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2026 09:49:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lembah Anai]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=246781</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id-Jajaran spanduk warung kopi terpancang di pembatas jalan di Lembah Anai, tak jauh dari lokasi pengerjaan jalan nasional Padang-Bukittinggi yang putus akibat galodo pada November 2025 lalu. Deretan baliho vertikal itu mengarah ke sebuah warkop yang baru buka, berada di jejeran dengan bangunan kerangka besi hotel serta masjid.  Warkop tersebut memanjang sekitar 40 meter ke samping. Di belakangnya kios putih itu langsung berbatasan dengan sungai Batang Anai Lembah Anai. Gemercik suara sungai bahkan terdengar jelas saat menyantap hidangan di warkop itu. Lokasi warkop ini tidak jauh dari bekas Cafe Xacapa yang lenyap disapu banjir pada 2024 silam. Kehadiran warkop tersebut</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/jangan-rusak-lembah-anai-demi-cuan-semata/">Jangan Rusak Lembah Anai Demi Cuan Semata</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://Langgam.id" type="link" id="Langgam.id">Langgam.id</a>-Jajaran spanduk warung kopi terpancang di pembatas jalan di Lembah Anai, tak jauh dari lokasi pengerjaan jalan nasional Padang-Bukittinggi yang putus akibat galodo pada November 2025 lalu. Deretan baliho vertikal itu mengarah ke sebuah warkop yang baru buka, berada di jejeran dengan bangunan kerangka besi hotel serta masjid. </p>



<p>Warkop tersebut memanjang sekitar 40 meter ke samping. Di belakangnya kios putih itu langsung berbatasan dengan sungai Batang Anai Lembah Anai. Gemercik suara sungai bahkan terdengar jelas saat menyantap hidangan di warkop itu. Lokasi warkop ini tidak jauh dari bekas Cafe Xacapa yang lenyap disapu banjir pada 2024 silam.</p>



<p>Kehadiran warkop tersebut menuai kritik dari berbagai pihak, lantaran melanggar pemanfaatan tata ruang serta mengesampingkan keselamatan di daerah yang rawan bencana. Seperti yang disampaikan oleh Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumbar yang mengecam aktivitas di sempadan sungai Lembah Anai.</p>



<p>&#8220;Tidak masalah itu lahan milik siapa, milik pribadi, kalau di zona merah bencana ini tidak tempatnya kita untuk bicara tentang mencari keuntungan, tapi keselamatan bersama,&#8221; ujar Ketua Forum DAS Sumbar Profesor Isril Berd, Kamis (7/5/2026).</p>



<p>Menurut Isril, keberadaan bangunan di sempadan sungai Batang Anai akan memperparah kualitas daerah aliran sungai yang semakin mengkhawatirkan. Ditambah dengan bencana banjir bandang di Lembah Anai dalam beberapa tahun terakhir yang menyebabkan kondisi DAS kian rusak.&nbsp;</p>



<p>Guru Besar Universitas Gunadarma ini menilai kehadiran bangunan kerangka hotel masjid, serta warung kopi yang didirikan di sempadan sungai itu berdampak pada luas dan karakteristik sungai. &#8220;Pembangunan ini tentu akan mempersempit luas sungai,&#8221; katanya.</p>



<p>Penyempitan luas sungai ini, sambung Isril akan berdampak signifikan pada arus dan daya tampung sungai. Forum DAS Sumbar mencatat daya tampung badan sungai di kawasan Lembah Anai saat ini sekitar 114,6 m³ per detik. </p>



<p>Jika berkaca pada banjir bandang di Lembah Anai pada Mei 2024 debit air mencapai 400,6 meter kubik per detik, sehingga kata Isril terjadi surplus air melebihi 280 meter kubik per detik. &#8220;Luapan daya tampung ini yang menghanyutkan sebuah kafe tak tersisa pada banjir 2024 lalu,&#8221; katanya.&nbsp;</p>


<p>The post <a href="https://langgam.id/jangan-rusak-lembah-anai-demi-cuan-semata/">Jangan Rusak Lembah Anai Demi Cuan Semata</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246781</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Setengah Hati Menindak Bangunan Bermasalah di Lembah Anai</title>
		<link>https://langgam.id/setengah-hati-menindak-bangunan-bermasalah-di-lembah-anai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ghaffar Ramdi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2026 05:13:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Editor Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lembah Anai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=246686</guid>

					<description><![CDATA[<p>LANGGAM.ID &#8212; Tiga pekan setelah batalnya eksekusi pembongkaran bangunan milik PT Hidayah Hotel Syariah (HSH) di bantaran Lembah Anai, Ombudsman kembali bersurat kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, perihal tindakan korektif yang telah dilayangkan sebelumnya.  Tindakan korektif itu, tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) tentang maladministrasi atas penundaan atau pembiaran pembongkaran bangunan yang melanggar tata ruang di kawasan Lembah Anai. Bangunan tersebut adalah kerangka hotel, masjid serta foodcourt milik PT HSH.&#160; &#8220;Ombudsman telah mengirim surat pada tanggal 10 Maret 2026 kepada gubernur dan tim koordinasi penanganan pelanggaran pemanfaatan ruang Sumatera Barat untuk melaporkan apa saja yang telah dilakukan berdasarkan koreksi-koreksi yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/setengah-hati-menindak-bangunan-bermasalah-di-lembah-anai/">Setengah Hati Menindak Bangunan Bermasalah di Lembah Anai</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://LANGGAM.ID" type="link" id="LANGGAM.ID">LANGGAM.ID</a> &#8212; Tiga pekan setelah batalnya eksekusi pembongkaran bangunan milik PT Hidayah Hotel Syariah (HSH) di bantaran Lembah Anai, Ombudsman kembali bersurat kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, perihal tindakan korektif yang telah dilayangkan sebelumnya. </p>



<p>Tindakan korektif itu, tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) tentang maladministrasi atas penundaan atau pembiaran pembongkaran bangunan yang melanggar tata ruang di kawasan Lembah Anai. Bangunan tersebut adalah kerangka hotel, masjid serta foodcourt milik PT HSH.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Ombudsman telah mengirim surat pada tanggal 10 Maret 2026 kepada gubernur dan tim koordinasi penanganan pelanggaran pemanfaatan ruang Sumatera Barat untuk melaporkan apa saja yang telah dilakukan berdasarkan koreksi-koreksi yang diberikan oleh Ombudsman” ungkap Ketua Ombudsman Perwakilan Sumbar Adel, kepada <a href="http://langgam.id">langgam.id</a> Selasa (6/5/2025).</p>



<p>Tindakan korektif yang harus dilaksanakan Pemprov Sumbar tersebut yaitu, penyusunan roadmap penegakan hukum, evaluasi pengawasan penataan ruang di Lembah Anai, serta pelaporan tertulis pelaksanaan tindakan korektif dalam waktu 30 hari kerja.</p>



<p>Adel menjelaskan, untuk penyusunan roadmap penegakan hukum, Pemprov Sumbar diminta untuk menyiapkan rencana penertiban seluruh bangunan yang ada kawasan Lembah Anai secara komprehensif dan berkesinambungan yang dapat meminimalisir risiko bencana alam di kawasan itu. Termasuk rencana pembongkaran paksa pada bangunan yang melanggar pemanfaatan ruang di Lembah Anai.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Bangunan yang belum ditertibkan maka ditindak dengan mekanisme yang sama dengan pemberian SP 1, 2 dan 3, kemudian eksekusi pembongkaran mandiri lalu pembongkaran paksa,&#8221; ujar Adel.&nbsp;</p>



<p>Pada 16 Februari 2026 lalu, Pemerintah Provinsi Sumbar telah membongkar paksa sejumlah bangunan di Lembah Anai, mulai dari tempat wisata wahana air, hingga rumah makan yang berada di sempadan sungai Batang Anai. Langkah itu diambil pasca banjir bandang yang menerjang Lembah Anai yang memicu korban jiwa dan lumpuhnya jalur strategis Padang-Bukittinggi.</p>



<p>Namun, terdapat dua bangunan yang batal dilakukan pembongkaran pada hari itu lantaran dalam sengketa hukum, yaitu kerangka hotel dan masjid serta satu kios foodcourt. Tiga bagunan tersebut berada di lahan milik Ali Usman Suib pengusaha besi di Padang Panjang.&nbsp;</p>



<p>Ali Usman melalui kuasa hukum mengajukan gugatan kepada PTUN Padang atas Surat Keputusan Gubernur Sumbar Nomor: 640-445-2025 tanggal 6 Agustus 2025 yang memerintahkan pembongkaran mandiri kepada PT HSH selama lima bulan sejak terbitnya keputusan gubernur itu.</p>



<p>PTUN Padang kemudian menjatuhkan putusan sela pada 30 Januari 2026 dua minggu sebelum pembongkaran oleh Pemprov Sumbar. Putusan sela atas perkara Nomor: 53/G/LH/2025/PTUN.PDG memerintahkan Pemprov Sumbar menunda pembongkaran bangunan kerangka hotel serta masjid yang berada di tanah Ali Usman tersebut.</p>



<p>“Dalam hal ini Ombudsman tidak bisa lagi memproses laporan berkaitan dengan objek gugatan yang masuk ke pengadilan. Posisi Ombudsman tentu menghormati keputusan pengadilan,&#8221; katanya.</p>



<p>Meski ada putusan sela, Adel menambahkan, pemerintah provinsi masih bisa melakukan pembongkaran paksa pada bangunan yang tidak masuk sengketa hukum. Salah satunya kios foodcourt yang saat ini telah difungsikan sebagai warung kopi.</p>



<p>”Di samping masjid, ada bangunan yang kini jadi warung kopi. Jika itu melanggar tata ruang, bisa segera ditertibkan di luar hotel dan rest area yang digugat ke PTUN,&#8221; kata Adel.&nbsp;</p>



<p>Dalam kasus ini Ombudsman juga telah mengungkap adanya maladministrasi oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi lantaran lamban dalam membongkar bangunan yang menyalahi tata ruang di Lembah Anai. Diantaranya, dugaan pengabaian kewajiban hukum dalam pengawasan penataan ruang, meskipun telah diterbitkan Keputusan Gubernur Nomor 60-445-2025 tentang pengenaan sanksi administratif berupa pembongkaran seluruh bangunan atas pelanggaran pemanfaatan ruang.</p>


<p>The post <a href="https://langgam.id/setengah-hati-menindak-bangunan-bermasalah-di-lembah-anai/">Setengah Hati Menindak Bangunan Bermasalah di Lembah Anai</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246686</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Saat Petani Solok Bertahan Hidup dari Sisa Bencana</title>
		<link>https://langgam.id/saat-petani-solok-bertahan-hidup-dari-pui-bencana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Abdul Latif]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 03:21:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Editor Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Galodo]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=246257</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di atas hamparan sawah yang mati tertimbun material bencana banjir bandang di Nagari Selayo, Kabupaten Solok Sumatera Barat mulai dipadati oleh sejumlah pria dewasa dengan dada telanjang. Mereka yang dulunya ke sawah membawa cangkul, kini berganti dengan menenteng sekop.  Di antara kerumunan itu, Oktavianus (54) dengan tubuh legam terbakar matahari berkilat oleh keringat. Tangannya yang kekar menggenggam sekop, mengayunkannya berulang kali ke dalam timbunan pasir setinggi lutut.  Ia tidak sendiri. Di sekelilingnya, tiga orang lain bekerja: satu menggali dengan cangkul, dua mendorong gerobak ke pinggir jalan, satu lagi memasukkan material ke dalam bak truk yang sudah menanti.  &#8220;Bukan banting setir,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/saat-petani-solok-bertahan-hidup-dari-pui-bencana/">Saat Petani Solok Bertahan Hidup dari Sisa Bencana</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di atas hamparan sawah yang mati tertimbun material bencana banjir bandang di Nagari Selayo, Kabupaten Solok Sumatera Barat mulai dipadati oleh sejumlah pria dewasa dengan dada telanjang. Mereka yang dulunya ke sawah membawa cangkul, kini berganti dengan menenteng sekop. </p>



<p>Di antara kerumunan itu, Oktavianus (54) dengan tubuh legam terbakar matahari berkilat oleh keringat. Tangannya yang kekar menggenggam sekop, mengayunkannya berulang kali ke dalam timbunan pasir setinggi lutut. </p>



<p>Ia tidak sendiri. Di sekelilingnya, tiga orang lain bekerja: satu menggali dengan cangkul, dua mendorong gerobak ke pinggir jalan, satu lagi memasukkan material ke dalam bak truk yang sudah menanti.</p>



<p> &#8220;Bukan banting setir, tapi apa boleh buat. Yang penting halal. Kebetulan banyak material pasir dan batu kecil tertimbun di sawah, kami manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari,&#8221; katanya kepada Langgam.id pada Jumat (19/04/2026).</p>



<p>Bagi Oktavianus dan puluhan warga Jorong Munggu Tanah, material galodo yang menimbun sawah mereka adalah dilema. Di satu sisi, material itu harus disingkirkan agar sawah bisa kembali ditanami. Di sisi lain, menyingkirkan material butuh biaya besar menyewa alat berat, membeli bahan bakar, membayar pekerja.&nbsp;</p>



<p>Material yang menimbun sawah itu dimanfaatkan untuk dijual kepada sopir truk yang datang mencari muatan. Uang hasil penjualan digunakan untuk biaya hidup sehari-hari dan, ironisnya, untuk membiayai pembersihan lanjutan sawah yang sama.</p>



<p>&#8220;Sawah yang dulu memberi kami beras, sekarang materialnya kami jual dulu agar bisa kembali menanam beras,&#8221; kata Oktavianus dengan senyum getir.</p>



<p>Dalam sehari, Oktavianus dan kelompoknya bisa menghasilkan sekitar empat hingga enam meter kubik material siap jual. Harga di tingkat pengumpul adalah Rp90.000 per meter kubik. Jika dibagi rata, setiap anggota kelompok bisa membawa pulang sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.</p>



<p>&#8220;Lumayanlah untuk ganti uang yang sudah terpakai rehab sawah,&#8221; ujar Oktavianus.</p>



<p>Oktavianus tidak sendirian. Sejak awal Ramadan, ia bergabung<strong> </strong>dengan kelompok warga yang melakukan pembersihan material di sawah-sawah terdampak. Setiap hari, tubuhnya yang legam terbakar matahari harus berpacu dengan terik dan debu yang beterbangan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>&#8220;Kemampuan kami cuma ini. Mau kerja apa lagi? Paling tidak, sambil membersihkan sawah sendiri, kami bisa dapat uang untuk makan hari ini,&#8221; katanya singkat.</p>



<p>Bagi Rido (27), sopir truk pasir keberadaan para &#8220;pembersih lahan&#8221; dadakan ini adalah berkah tersendiri. Sebelum bencana, ia biasa mencari muatan pasir di areal tambang yang berjarak puluhan kilometer dari Nagari Selayo. Antrean di sana bisa sangat panjang. Kadang, ia harus menunggu hingga dua hari hanya untuk mendapatkan satu truk penuh material.</p>


<p>The post <a href="https://langgam.id/saat-petani-solok-bertahan-hidup-dari-pui-bencana/">Saat Petani Solok Bertahan Hidup dari Sisa Bencana</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246257</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menjajaki Transisi Energi Swadaya Warga di Kaki Bukit Barisan</title>
		<link>https://langgam.id/transisi-energi-swadaya-warga-di-kaki-bukit-barisan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2026 06:17:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Transisi Energi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=241932</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh.” adalah falsafah lokal Minangkabau sebagai penanda cuaca. Maknanya, awan gelap di hulu menandakan akan turun hujan, dan awan tipis di langit menandakan cerah akan datang.&#160; Di Jorong Muaro Busuak, Nagari Koto Hilalang Kabupaten Solok, Sumatera Barat pepatah itu kini bukan lagi sekadar kearifan lisan. Saban kali langit di arah hulu menghitam, aktivitas masyarakat di sawah dan ladang mendadak senyap. Para petani bergegas pulang lebih awal, menyandang cangkul seperti beberapa hari terakhir hujan kerap turun di Jorong Muaro Busuak dengan intensitas cukup tinggi. Bahkan air hujan yang turun menyebabkan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/transisi-energi-swadaya-warga-di-kaki-bukit-barisan/">Menjajaki Transisi Energi Swadaya Warga di Kaki Bukit Barisan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>“Gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh.” </em>adalah falsafah lokal Minangkabau sebagai penanda cuaca. Maknanya, awan gelap di hulu menandakan akan turun hujan, dan awan tipis di langit menandakan cerah akan datang.&nbsp;</p>



<p>Di Jorong Muaro Busuak, Nagari Koto Hilalang Kabupaten Solok, Sumatera Barat pepatah itu kini bukan lagi sekadar kearifan lisan. Saban kali langit di arah hulu menghitam, aktivitas masyarakat di sawah dan ladang mendadak senyap.</p>



<p>Para petani bergegas pulang lebih awal, menyandang cangkul seperti beberapa hari terakhir hujan kerap turun di Jorong Muaro Busuak dengan intensitas cukup tinggi. Bahkan air hujan yang turun menyebabkan aliran Sungai Batang Gawan Kaciak yang membentang di nagari tersebut meluap hingga pemukiman warga.</p>



<p>Naas, hujan ekstrem akibat siklon tropis di wilayah Sumatra memicu banjir bandang di Sumatra Barat, termasuk di Muaro Busuak Kabupaten Solok.&nbsp;</p>



<p>Bencana ini meluluhlantakan daerah setempat, sejumlah rumah dan infrastruktur publik rusak. Salah satunya, bendungan air untuk menggerakkan turbin PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) yang ada di Jorong Muaro Busuak.</p>



<p>PLTMH merupakan sumber energi listrik&nbsp; Jorong Muaro Busuak. Kurun waktu 17 tahun terakhir, desa tersebut sudah mandiri secara energi tanpa harus bergantung ke PLN.</p>



<p>Namun, akibat banjir, PLTMH sempat tidak bisa beroperasional lantaran arus air yang melimpah setelah bendungan rusak.</p>



<p>“Ketika itu terlihat pasir menumpuk di dalam pipa turbin, batang kayu dan daun pohon menutupi bak,” kata Ivan, operator PLTMH Jorong Muaro Busuak Senin, 5 Januari 2026.</p>



<p>Sejak curah hujan kian meningkat, Ivan bersama warga lainnya rutin berjaga di PLTMH untuk mewaspadai luapan air sungai yang akan berdampak pada operasional PLTMH.</p>



<p>Walakin, saat galodo atau banjir bandang melintas di Sungai Batang Gawan Kaciak warga tidak bisa mendekati rumah turbin PLTMH. Hari itu, listrik dari PLTMH padam setelah diterjang banjir bandang.</p>



<p>Setelah air sungai mulai surut, Ivan bersama pengurus PLTMH membersihkan material banjir seperti kayu dan lumpur yang tersisa di sekitar bak penampung. Warga juga segera membuat bendungan darurat agar PLTMH bisa kembali mengaliri listrik ke rumah masyarakat.&nbsp;</p>



<p>Ivan menyebutkan mesin PLTMH tidak mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga masih bisa berfungsi setelah bagian dalam pipa pada turbin dibersihkan.</p>



<p>“Mesin sempat mati sekitar enam jam, dan setelah dibersihkan bagian dalam pipa, mesin kembali hidup,” katanya.</p>



<p><strong>Energi Mandiri Ala Swadaya Warga</strong></p>



<p>Sebelum sore berganti gelap, rumah Emi, warga Jorong Muaro Busuak mulai diterangi bolam putih. Di beranda, Emi bersama eteknya sibuk mengumpulkan nasi basi untuk pakan ternak.&nbsp;</p>



<p>Lampu di rumah Emi dan warga di Jorong Muaro Busuak menyala tidak datang dari listrik negara, melainkan melalui turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang berdiri kokoh di aliran sungai Batang Gawan Kaciak, sejak tahun 2009. Mesin ini bersembunyi sekitar 1,5 Kilometer dari Kantor Wali Nagari Koto Hilalang.</p>


<p>The post <a href="https://langgam.id/transisi-energi-swadaya-warga-di-kaki-bukit-barisan/">Menjajaki Transisi Energi Swadaya Warga di Kaki Bukit Barisan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">241932</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Warga Bantu Warga Nyata Adanya</title>
		<link>https://langgam.id/warga-bantu-warga-nyata-adanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 06:08:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[banjir bandang]]></category>
		<category><![CDATA[Galodo]]></category>
		<category><![CDATA[Galodo Agam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=240915</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Di sebuah rumah tembok sederhana yang berdiri di tengah kampung Tapian Data, Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, tikar dan karpet digelar rapat-rapat beberapa hari usai terjangan galodo (banjir bandang) pada 27 November 2025. Malam hari, puluhan tubuh terbaring berdempetan seperti sarden. Kendati demikian, tak ada yang mengeluh. Bagi mereka yang penting selama dari hantaman galodo dan masih bisa berteduh dengan aman di tengah trauma yang membekap. Rumah itu milik Amrina Rasada, 35. Sejak galodo atau banjir bandang menghantam Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, pada Kamis, 27 November 2025, rumah Amrina berubah menjadi tempat pengungsian darurat bagi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/warga-bantu-warga-nyata-adanya/">Warga Bantu Warga Nyata Adanya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Di sebuah rumah tembok sederhana yang berdiri di tengah kampung Tapian Data, Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, tikar dan karpet digelar rapat-rapat beberapa hari usai terjangan galodo (banjir bandang) pada 27 November 2025. Malam hari, puluhan tubuh terbaring berdempetan seperti sarden. Kendati demikian, tak ada yang mengeluh. Bagi mereka yang penting selama dari hantaman galodo dan masih bisa berteduh dengan aman di tengah trauma yang membekap.</p>



<p>Rumah itu milik Amrina Rasada, 35. Sejak galodo atau banjir bandang menghantam Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, pada Kamis, 27 November 2025, rumah Amrina berubah menjadi tempat pengungsian darurat bagi puluhan warga.</p>



<p>“Tempat pengungsian ini di rumah saya, inisiatif sendiri,” ujar Amrina.</p>



<p>Tak ada rapat, tak ada komando resmi. Saat air datang dan tanah bergerak, warga berlarian menyelamatkan diri. Mereka mengetuk pintu rumah yang masih berdiri dan pintu itu dibuka tanpa banyak tanya.</p>



<p>Ada sekitar 60 lebih warga mengungsi di rumah Amrina. Semuanya warga Jorong Labuah yang mengalami rumahnya rusak berat, ada yang rusak sebagian, ada pula yang tak berani kembali karena trauma.</p>



<p>Empat kamar di rumah itu terisi penuh. Ada yang berenam, berempat, bahkan berdelapan dalam satu ruang. Sebagian tidur di kasur, sebagian lagi beralaskan tikar dan karpet. Di luar rumah, sekitar 30 orang tidur berjejal di ruang terbuka beratap.</p>



<p>“Pokoknya kayak sarden. Yang penting tidur aman,” ucap Amrina, tersenyum tipis.</p>



<p>Di sekitar rumah Amrina, rumah-rumah kayu tua juga bernasib serupa, menjadi hunian darurat bagi penyintas galodo. Tak ada sekat antara tuan rumah dan pengungsi. Laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak-anak, semua bercampur. Karena di sini, mereka sudah dianggap keluarga.</p>



<p>Wali Jorong Labuah Elbama, menyebut warganya terdampak parah. Selama hampir seminggu, Jorong Labuah benar-benar terkurung. Akses ke arah Nagari Sungai Batang, Jorong Kubu, hingga Tanjung Sani sama-sama terputus.</p>



<p>“Tujuh jorong di Sungai Batang terkurung. Masyarakat bertahan dengan apa yang ada. Ada yang terpaksa menyewa ponton ke Pasar Maninjau, bayar Rp300 ribu, demi sembako,” ujarnya.</p>



<p>Dia mengatakan, ada sekitar 1.000 jiwa pengungsi tersebar di 49 rumah di beberapa titik yakni di Jorong Labuah, Jorong Tugu, Ujung, Kota Tenggai, hingga Naladi.</p>



<p>Di dapur-dapur kecil, warga memasak bersama. Awalnya dari bahan yang ada di rumah masing-masing. Siang masak, sore masak lagi. Hingga bantuan mulai berdatangan.</p>



<p>“Tak semua rumah hancur. Dari 19 rumah di Jorong Labuah, sekitar 15 menjadi tempat pengungsian. Sebagian warga yang rumahnya rusak berat memilih pergi sementara ke luar daerah atau perantauan, seperti Pekanbaru, demi menghindari trauma,” ungkapnya.</p>



<p><strong>Nestapa Pengungsi Berada di Antara Dua Sungai yang Galodo</strong></p>



<p>Listrik padam sejak hari pertama. Malam-malam awal dilalui dengan cahaya senter dan ponsel. Baru pada hari kedua, genset mulai digunakan. Namun rasa takut tak semudah itu padam.</p>



<p>Jorong Labuah berada di antara dua aliran sungai Batang Tumayo dan Raggeh. Meski kampung ini berada sekitar 20 meter lebih tinggi dari sungai, trauma tetap membekas.</p>



<p>“Kalau hujan, kalau dengar bunyi air, orang-orang langsung diam. Trauma,” ujar Amrina.</p>



<p>Kekahwatiran lain adalah lokasi rumah-rumah yang menjadi tempat mengungsi terjepit antara sungai Batang Raggeh dan Batang Tumayo yang sama-sama menghilirkan galodo.</p>



<p>Namun ketakutan tak membuat mereka saling meninggalkan.</p>



<p>“Karena ini kampung sendiri,” katanya pelan.</p>



<p>Di rumah itu pula, seorang nenek bernama Amah menghabiskan hari-hari terakhirnya. Sejak Kamis hingga Selasa, Amah tidur di rumah Amrina. Tiga hari sebelum wafat, napasnya mulai sesak. Ia tak bisa tidur selama dua hari.</p>



<p>Senin sore, kondisinya memburuk. Setelah sempat salat Magrib di rumah itu, Amah dipindahkan ke tempat anaknya yang juga mengungsi. Tak lama berselang, ia meninggal dunia.</p>



<p>“Kalau menurut kami, mungkin sudah penyakit,” ujar Amrina lirih.</p>



<p>Duka itu menjadi bagian dari kisah pengungsian yang sunyi, tanpa sorotan, namun membekas.</p>



<p>Solidaritas Jadi Sistem Bertahan</p>



<p>Di Jorong Labuah, warga menolong warga bukan sekadar spontanitas, melainkan menjadi sistem bertahan hidup.</p>



<p>Ketua penerimaan dan penyaluran logistik, Feri Gunawan Datuk Maharajo Nan Sati menjelaskan, posko bantuan hanya dibuka satu. Tidak ada dapur umum besar.</p>



<p>“Kalau dibuka dapur umum, dikhawatirkan orang berbondong-bondong dan bisa terjadi konflik,” ujar Datuk Maharajo Nan Sati yang juga suami Amrina ini.</p>



<p>Solusinya sederhana namun efektif: pengungsi disebar ke rumah-rumah warga. Logistik dibagikan sesuai jumlah jiwa yang ditampung. Tuan rumah bertanggung jawab memasak dan memberi makan.</p>



<p>“Kalau ada yang bisa dimakan, dimakan bersama,” katanya.</p>



<p>Namun bagi yang tinggal, satu hal jadi pegangan: tidak ada yang dibiarkan sendirian.</p>



<p>“Kalau pengungsi datang ke rumah kita, masak kita tolak,” kata Amrina.</p>



<p>Di tengah galodo yang merenggut rumah, memutus jalan, dan menumbuhkan trauma, Jorong Labuah menunjukkan satu hal yang tak runtuh: solidaritas.</p>



<p>Di rumah-rumah sederhana itulah, warga menjaga warga. Tanpa baliho, tanpa seremoni. Hanya pintu yang terbuka dan hati yang lapang.</p>



<p>Aksi warga bantu warga juga diperlihatkan Yogi Yolanda, seorang perantau asal Danau Maninjau yang berdomisili di Jakarta. Hari-hari awal setelah kejadian galodo menerjang Nagari Maninjau dan Nagari Sungai Batang di tepian Danau Maninjau, sekelabat kemudian kampung-kampung yang kena terisolasi karena putusnya jalan lingkar Danau Maninjau.</p>



<p>Di tengah keterisoliran penyintas, Yogi Yolanda bermodalkan perahu bermesin 25 PK itu membelah Danau Maninjau yang kelabu. Di atas perahu, Yogi Yolanda duduk berhadapan dengan karung beras dan jeriken minyak goreng, bantuan pertama yang berhasil masuk ke Nagari Sungai Batang setelah galodo memutus seluruh akses darat.</p>



<p>Saat jalan dari Pasar Maninjau tertutup longsor di banyak titik, satu-satunya jalur yang tersisa hanyalah danau. “Ini bicara kampung kita,” kata Yogi.</p>



<p>Usai membeli logistik di Padang, Yogi dan kawan-kawan berangkat subuh menggunakan perahu warga. Perjalanan 45 menit terasa panjang di tengah kecemasan. Saat tiba, ratusan warga mengungsi di rumah dan sekolah dengan persediaan pangan menipis. Ada keluarga yang hanya bertahan dengan tiga liter beras. Selama hampir sepuluh hari hujan turun tanpa henti, padi tak bisa dijemur, pasokan terputus.</p>



<p>“Warga sudah dua hari makan mi instan. Forkopimca pun belum bisa masuk karena jalan putus,” ujar Yogi.</p>



<p>Bantuan awal yang dibawa sederhana yakni beras, telur, minyak goreng, namun krusial. Dalam dua minggu, Yogi dan relawan bolak-balik menyusuri danau, menyalurkan sekitar 1,2 ton beras, telur, minyak goreng, serta empat unit genset di tengah listrik yang padam total.</p>



<p>Wali Jorong Labuah, Elbama, menyebut warganya terkurung hampir sepekan. “Tujuh jorong di Sungai Batang terisolasi. Ada warga terpaksa menyewa ponton ke Pasar Maninjau, bayar Rp300 ribu hanya untuk sembako,” katanya.</p>



<p>Bagi Yogi, menyeberangi danau itu bukan sekadar misi kemanusiaan, melainkan panggilan pulang seorang perantau saat kampungnya paling membutuhkan.</p>



<p>Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas, Feri Amsari juga gerak cepat dalam menekel kebutuhan mendesak penyintas terutama yang terisolasi pasca galodo. Feri Amsari atas nama Themis Indonesia Law Firm berkolaborasi dengan Auriga Nusantara, serta Yayasan Bambu Lingkungan Lestari segera buka donasi melalui platform Kitabisa.com.</p>



<p>Mereka mengatasnamakan Rakyat Bantu Rakyat, dimana saat ini sudah menebar banyak bantuan ke lokasi tersulit terdampak bencana di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.</p>



<p>Beberapa lalu misalnya, Gerakan Rakyat Bantu Rakyat melalui relawan yang dikoordinasikan Yefral Kasman dan Afdal Zulka menjangkau wilayah terdampak seperti Subarang Luak, Jorong Ladang Laweh, Nagari Batipuh Baruah. Hingga kini, distribusi logistik di kampung tersebut masih dilakukan menggunakan tali sling dengan sistem katrol, menyusul putusnya satu-satunya jembatan akibat banjir bandang Sungai Batang Sumpur.</p>



<p>Kepala Jorong Ladang Laweh, Arif Rahman, mengatakan Subarang Luak terisolasi selama hampir lima hari setelah jembatan penghubung terputus pada 27 November 2025.</p>



<p>“Di sini ada sekitar 50 KK atau 200 jiwa. Selama beberapa hari kami benar-benar terkurung karena debit sungai sangat besar,” ujarnya.</p>



<p>Akses menuju kampung juga sangat terbatas. Relawan harus memikul logistik sejauh sekitar satu kilometer, lalu menyalurkannya menggunakan katrol karena kendaraan tidak dapat melintas.</p>



<p>“Bantuan dari Bang Ferry dan kawan-kawan dengan tagline Rakyat Bantu Rakyat ini sangat berarti bagi kami,” kata Arif.</p>



<p>Wali Nagari Bungo Tanjuang, Yudisthira Anuggraha yang mendapat bantuan untuk 59 jiwa warganya yang terdampak merasakan manfaatnya saat besar.</p>



<p>“Bantuan ini ibarat sitawa sidingin (penyejuk hati dan penguat di tengah duka),” ujarnya.</p>



<p>Feri Amsari, menilai solidaritas yang terbangun menunjukkan kuatnya kepedulian masyarakat. “Gerakan ini membuktikan rakyat Indonesia saling menjaga. Yang paling buruk dari bencana adalah ketika pembuat kebijakan absen, tapi justru gelisah melihat warganya bergerak saling peduli,” ujarnya.</p>



<p>Hampir tiga pekan bencana galodo di sejumlah tempat di Sumatra Barat berlalu, LBH Padang bersama relawan terus mengulurkan bantuan. Hari-hari mereka diwarna masak dalam jumlah besar di laman Kantor LBH Padang. Bahkan di antara relawan tampak ikut serta trah Sang Proklamator Bung Hatta yakni Halida Hatta dan Gustika Jusuf Hatta. Apa yang mereka masak, lalu disalurkan untuk makan siang dan makan malam siap santap bagi penyintas galodo di pengungsian atau pun di lingkungan mereka.</p>



<p>Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, Diki Rafiqi mengatakan<em>, </em>apa yang LBH Padang lakukan bersama relawan adalah bentuk nyata aksi warga bantu warga. Dan itu akan terus bergerak, baik penyaluran dan dapur umum kepada korban bencana.</p>



<p>“Kami selalu melihat bagaimana kondisi dari waktu ke waktu. Tentunya warga bantu warga tidak akan berhenti sampai tanggap darurat dari pemerintah selesai, warga bantu warga akan terus bekerja untuk menyalurkan dan memastikan kebutuhan korban bencana tercukupi,” katanya.</p>



<p>Sementara Serikat Petani Indonesia (SPI) juga punya cara lain dalam membantu penyintas yang mengalami serba kesulitan. <em>&nbsp;Ketua DPW SPI Sumbar Rustam Efendi mengatakan, SPI menamai aksi kemanusiaan dalam respons bencana di Pulau Sumatra dengan </em>BAKTI SPI. Dalam konteks ini, sambungnya, BAKTI SPI aktif di tanggap darurat banjir dan longsor seperti di Sumatra Barat, sebagai satu kesatuan aksi jiwa dan raga bersama-sama sanak saudara terdampak dalam meringankan tekanan baik secara psikologi maupun kehilangan sebagian besar materil yang mereka punya.</p>



<p>“Disaat kita lakukan kunjungan kelapangan tidak hanya sekedar berbagi bingkisan buah tangan namun kita juga lakukan diskusi ringan tentang tata kelola lahan dan sistem pola tanam dalam rangka menyehatkan keluarga petani, lingkungan dan konsumen (aktor utamanya manusia).&nbsp; Dalam proses diskusi tersebut mereka menyadari bahwa ada yang hilang di tengah-tengah masyarakat Minangkabau yakni raso jo pareso,” terangnya.</p>



<p>Menurutnya, BAKTI SPI merupakan perjuangan panjang hingha terwujudnya tatanan yang berkeadilan dan kedaulatan petani guna kedaulatan pangan.</p>



<p>Koordinator BAKTI SPI Eka Kurniawan Sago Indra menambahkan, model yang dilakukan adalah dari luar daerah terdampak dimana dengan menggalang dana dari petani anggota SPI. Misalnya Kalimantan, Papua, Jawa dan Sumatra yang tidak terdampak, hal ini untuk memberikan dukungan darurat. &nbsp;</p>



<p>“Secara psikologis membangun kesadaran, bahwa petani yang terdampak, juga dirasakan oleh petani lainnya dari luar daerah. &nbsp;Secara ekonomi menyeluruh belum ada yang bisa dilaksanakan,” tukasnya.</p>



<p>Hingga tiga pekan lebih bencana berlalu, bantuan dengan ragam kebutuhan penyintas bertalu-talu datang ke titik pengungsian, dapur umum. Bentuknya beragam, ada berwujud sembako, sayur mayur yang dipetik langsung para petani, selimut, kasur, genset, sumur bor, bahkan juga jasa alat berat untuk menyingkirkan lumpur.</p>



<p>Semua ini adalah modal sosial yang masih lestari di tengah kesulitan dan penanganan bencana yang tertatih-tatih.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/warga-bantu-warga-nyata-adanya/">Warga Bantu Warga Nyata Adanya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">240915</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Wawancara Eksklusif dengan Bupati Agam: Nyatakan Status Darurat, Anggaran Penanganan Sudah tak Ada</title>
		<link>https://langgam.id/wawancara-eksklusif-dengan-bupati-agam-nyatakan-status-darurat-anggaran-penanganan-sudah-tak-ada/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2025 03:43:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[banjir bandang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Bandang Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Galodo]]></category>
		<category><![CDATA[Galodo Agam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=240236</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Raut kelelahan terlihat jelas di wajah Bupati Agam Benni Warlis. Kantong matanya pun semakin menebal. Lebih sepekan terakhir ia minim istirahat karena  mengomandoi penanganan bencana alam dahsyat yang menerjang wilayah Agam.  Saat ditemui di Balairung Rumah Dinas Bupati Agam, Rabu (3/12) malam, Benni baru saja menyelelasaikan rapat koordinasi kesekian kalinya di hari itu, baru selesai sekitar 23.30 WIB. Di hari itu juga dia susah bolak-balik ke lapangan, ke titik terdampak banjir bandang atau galodo di Agam. Di Sumatra Barat, Agam adalah kabupaten yang paling parah terdampak banjir bandang atau pun longsor akibat hidrometeolorologi atau pun ekologis. Bahkan, bencana</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/wawancara-eksklusif-dengan-bupati-agam-nyatakan-status-darurat-anggaran-penanganan-sudah-tak-ada/">Wawancara Eksklusif dengan Bupati Agam: Nyatakan Status Darurat, Anggaran Penanganan Sudah tak Ada</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Raut kelelahan terlihat jelas di wajah Bupati Agam Benni Warlis. Kantong matanya pun semakin menebal. Lebih sepekan terakhir ia minim istirahat karena  mengomandoi penanganan bencana alam dahsyat yang menerjang wilayah Agam.  Saat ditemui di Balairung Rumah Dinas Bupati Agam, Rabu (3/12) malam, Benni baru saja menyelelasaikan rapat koordinasi kesekian kalinya di hari itu, baru selesai sekitar 23.30 WIB. Di hari itu juga dia susah bolak-balik ke lapangan, ke titik terdampak banjir bandang atau galodo di Agam. Di Sumatra Barat, Agam adalah kabupaten yang paling parah terdampak banjir bandang atau pun longsor akibat hidrometeolorologi atau pun ekologis. Bahkan, bencana besar dipicu siklon tropis senyar yang secara bersamaan menerjang tiga provinsi di Sumatra meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Benni memastikan bahwa Agam adalah wilayah paling banyak terdapat korban jiwa dan juga masih dalam pencarian. Berikut petikan wawancara khusus wartawan Yose Hendra, langsung dengan Bupati Agam Benni Warlis, sekaitan dengan perkembangan bencana banjir bandang dan longsor di Agam, dan sejauh mana penanganan, serta tantangan di masa tanggap darurat hingga rehalibilitasi dan rekonstruksi ke depannya.</p>



<p>Berikut petikan wawancaranya:</p>



<p><strong>Pak Bupati, pertama saya mengucapkan turut berduka di apa yang menimpa Agam, kita menyaksikan bagaimana Agam porak-poranda anda dan juga nyawa, melayang, kemudian kerusakan begitu massif. Nah, Pak Bupati, sekarang ini hari ke-6, itu berapa kecamatan terdampak, nagari (desa) terdampak Kemudian angka korban meninggal, yang dinyatakan hilang dan juga kerusakan lainnya?</strong></p>



<p>Ini kejadian adalah ujian dari Allah SWT. Allah akan memuji kita dengan khawatir, rasa takut. Semua hari ini ketakutan, khawatir, kita juga khawatir. Kemudian kekurangan harta, hilangnya sawah-sawah ternak semuanya, kekurangan buah-buahan, sawah juga padi, dan kehilangan jiwa, ada yang meninggal dimiliki orang yang sabar, itu orang yang bila ditimpa oleh musibah, dia mengatakan milik Allah kembali kepada Allah. Jadi ini benar ayat Allah itu. Tapi terjadi hari ini di Sumatra Barat dan khususnya Kabupaten Agam, ini sangat menyedihkan kita. Kejadian ini sampai sekarang telah menelan korban jiwa manusia yang ditemukan ya, yang meninggal dunia, itu 169 orang. Jadi dari hari ke hari bertambah. Kemudian yang dinyatakan hilang itu ada 86 orang. Tapi saya yakin akan lebih dari itu Kenapa lebih? Jadi yang hilang ini, itu ada yang melaporkan. Kalau saja ada yang satu rumah itu dia meninggal semua, itu gak ada yang melaporkan. Jadi kemungkinan-kemungkinan akan ada akan muncul lagi, dan kayak lain. Ini saja&nbsp; dari kemarin baru 130 kan? 169 sekarang (data per 3 November 2025).</p>



<p><strong>Lonjakan sehari 30 orang. Itu dimana saja yang paling banyak?</strong></p>



<p>Jadi yang paling banyak ini memang di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan. Itu yang kena longsor itu. Jadi kejadian-kejadian sebelumnya Itu sebetulnya 16 kecamatan, ini Ini rata, kejadian bencana longsor, Kemudian banjir.&nbsp; Seperti itu lazimnya. Kemudian puncaknya tanggal 27 November itu, hari Kamis itu inilah yang terjadi di Palembayan. Terjadinya semacam galodoh lah. Saya kita tidak tahu bagaimana sumbernya di atas. Yang jelas air itu seperti lepas, masuk ke sungai, menghantam sungai yang kecil menjadi besar, melimpah, menghantam semua perkampungan. Sungainya kecil, gak besar. Jadi ada di situ. Yang dilewati itu yang paling di atas, itu namanya Subarang Aia, kemudian Kampung Tanjung, Kayu Pasak di bawahnya. &nbsp;Kayu Pasak sama Kampung Tanjung sama. Kemudian yang Subarang Aia adalah yang terisolir, setelah beberapa rumah dihantam. Kemudian ada yang terisolasi. Jadi semua ini menyebabkan, yang pertama adalah adanya masyarakat yang tertimbun oleh longsoran. Kemudian yang dihanyutkan ke sungai. Jadi hari pertama itu yang kita terima itu, yang kita temukan itu adalah mereka yang hanyut. Kemudian baru besoknya yang ada di tempat-tempat yang di lumpur-lumpur itu Itu di Salareh Aia. Duluan terdampak sebetulnya di Malalak. Malalak lebih duluan 4 hari, sekitar tanggal 22, 23 November. Malalak dulu terparah. Kemudian muncul lagi saat hujan lebat itu seperti Matua. Tapi yang pertama, yang berat itu dulunya di Paninjauan, kawasan Danau Maninjau. Kemudian muncul di Palembayan. Rentetan dia.</p>



<p><strong>Pak Bupati dari lapangan informasinya kalau Malalak memang sudah punya pengalaman galodoh. Sementara di Salareh Aia ini pertama kali. Nah apakah sudah dicari penyebabnya? Apakah memang ini adalah disebabkan oleh hidrometeorologi, curah hujan tinggi atau memang ada faktor lain misal perusakan lingkungan atau ekologisnya?</strong></p>



<p>Jadi di hari pertama sudah terjadi, tapi cuma banjir-banjir di daerah-daerah di bawahnya. Cuma Di hari terakhir itu, kan sudah 8 hari hujan tidak putus-putus itu. Jadi kemungkinannya memang ada suatu genangan di puncak itu. Kan di atas itu. Kemudian itu bobol. Kita prediksi seperti itu. Kan sering kejadian seperti itu. Galodo seperti itu. Ada genangan. Kemudian genangan itu bisa terbuat akibat daripada longsor atau kayu-kayu tersekat, menyumbat. &nbsp;Jadi semacam embung lah. Embung itu diisi terus, diisi terus, sampai ini puncaknya lepas. Ketika air dilepas, dia akan menghantam batu-batuan di sungai. Kalau batu sudah lepas, Ini makanya dikatakan galodo mengelontor dia ke bawah. Batu di bawah diterjang akan seperti api.</p>



<p><strong>Tapi ada indikasi lain tidak?</strong></p>



<p>Kalau di hulu itu tidak ada. Airnya dari hulu. Air bahnya dari hulu. Kecuali kalau penebangan hutan di daerah-daerah hulu. Kita tidak bisa menyimpulkan. Artinya mendorong pihak lain silahkan untuk meneliti. Ini kan kejadian pertama di sekitar Bukit Barisan itu.</p>



<p><strong>Kejadian ini ada gak Yang boleh dikatakan atau disebut itu Ada kampung yang benar-benar hilang seperti di Aceh. Ada kampung yang terkubur?</strong></p>



<p>Jadi fenomena alam ini, sebetulnya terjadi terus siklus yang kita tidak tahu berapa ratus tahun. Kalau sekarang kita jadinya tahu hari kejadian itu karena informasi dari media sosial. Kalau dulu ada kejadian, ada kampung yang terkubur, siapa yang tahu.</p>



<p><strong>Apakah masih yang terisolir?</strong></p>



<p>Terisolir kita sifatnya putus jalan, tak bisa ditempuh. Jembatan putus, atau longsor beberapa titik. Yang benar-benar hilang tidak ada. Karena yang terisolir itu bisa didistribusikan bantuan. Kalau tak bisa darat, kita distribusikan bantuan dengan mengirim melalui udara.</p>



<p>&nbsp;Nah Bapak Bupati selain kita bicara tadi Korban, kemudian Hilang dan lain-lain Hal yang pasti Memukul juga Tentu adalah dampak secara Kerusakan layak dan ujung-ujung ekonomi Apakah sudah didata Berapa tenggamping Perumah yang rusak mudah secara ekonomi Keseluruhan berapa Itu</p>



<p>Sudah di data, cuma kita belum bisa memastikan. Yang dilaporkan per 3 November 2025, rumah rusak ringan sekitar 400 unit, rusak sedang 98 unit. Kemudian rusak berat ada 400an. Kemudian jembatan yang rusak Ini ada 26 titik, jalan ada 37 titik, tempat ibadah ada 11, sekolah 112 unit sekolah Itu dari SD sampai SMA. Irigasi juga 29 unit, kemudian ternak hampir 4000 ekor. Areal persawahan yang rusak Itu ada 1659 hektare. Kemudian diperkirakan akan bertambah terus. Sekarang ini dampak secara ekonomi sudah hampir lebih dari Rp.600 miliar.</p>



<p><strong>Apa yang paling dibutuhkan Agam untuk percepatan saat ini?</strong></p>



<p>Saya sudah sampaikan, kita kekurangan alat berat. Saya minta 10 unit lagi untuk disebar ke Malalak, Salareh Aia mungkin sekitar 3-4 lagi. Alat itu kita sebar untuk percepatan.</p>



<p>&nbsp;Kita juga butuh genset yang menjadi andalan penerangan saat ini sekitar 10 lagi. Selanjutnya air minum, termasuk MCK di titik pengungsian. Kita hanya bisa minta, karena tidak ada uang lagi. Kita juga minta ke pengusaha atau perantau.</p>



<p><strong>Berapa banyak titik pengungsian?</strong></p>



<p>Sekaranga da 20 titik dengan jumlah 15 ribu jiwa. Tapia da juga yang masih terisolasi dengan jumlah penduduk sekitar 20 ribu jiwa.</p>



<p><strong>Apakah Agam sanggup mengatasinya?</strong> Ini kan kerugian masyaraka kita. Apakah sanggup? Kita tak sanggup. Kita sanggup menggerakkan masyarakat gotong royong atau perantau membantu. Tapi Pemerintah Agam tidak akan sanggup mengembalikan ke posisi semula. Maka kita juga berharap untuk perantau semua &nbsp;Kondisinya, kita mundur mungkin bisa 20 tahun yah posisinya. Posisinya jalan yang rusak, sekolah yang rusak, jembatan putus, Agam tidak akan sanggup. Makanya sekarang Agam menyatakan darurat sejak tanggal 27 November. Ada suratnya.</p>



<p><strong>Walaupun nasional belum menyatakan darurat?</strong></p>



<p>Agam yang darurat. Jadi salah satu hal penting ketika Agam menyatakan Ini darurat, maka provinsi bisa masuk, pusat bisa masuk. Apakah jalan-jalannya nasional, apakah jalan-jalan kabupaten, apakah jalan-jalan provinsi, Itu bisa dimasuki oleh pusat.</p>



<p><strong>Apa kekuatannya?</strong></p>



<p>Surat keputusan bupati. Cukup kuat. Ini suatu kekuatan yang luar biasa. Ini surat saktinya bupati. Menyatakan darurat itu, artinya beberapa aturan tidak berlaku lagi, tidak dibatasi lagi. Misalnya kalua jalan, jembatan kabupaten kita yang biayai. Sekarang tidak, bisa provinsi, bisa pusat. Kalau dulu dibiayai tidak boleh, tidak sah. Rentang waktunya atau masa berlakunya satu bulan. Selama satu bulan masa tanggap darurat ini, kita didamping langsung. Dalam satu bulan ini intervisi dilakukan oleh provinsi dan pusat. Sekarang lihat kan kita didamping BNPB. Kita didamping langsung. Disertai bantuan sarana, alat, pangan. Dibantu semua dari pemerintah pusat.</p>



<p><strong>Itu kan tahap emergensi. Kalau penanganan jangka Panjang bagaimana?</strong></p>



<p>Kalau bicara jangka panjang, nanti kan ada rehabilitasi rekonstruksi. Kita ajukan. Rehab-rekon itu pemerintah pusat lagi melakukan. &nbsp;Makanya ada namanya BNPB, lembaga penanggulangan bencana nasional. Jadi mereka akan turun ketika kita memang tidak sanggup.</p>



<p><strong>Ketidaksanggupan dari sisi anggaran berapa? Sekarang posisi anggaran untuk penanganan bencana berapa?</strong></p>



<p>&nbsp;Pasti dari sisi anggaran. Untuk kabupaten istilanya dana Bnatuan Tak Terduga (BTT). Kalau setahun kemarin BTT kita untuk tahun 2025 Rp.5 miliar. Sebelum terjadi bencana posisinya tinggal Rp.1,5 miliar. Tidak berapa artinya. Dengan kondisi bencana seperti ini sudah habis. Umurnya paling seminggu untuk memamaksimalkan penggunaan anggaran itu. BTT itu penggunaannya selama ini, misal kita tanggap darurat, ada jembatan roboh, jalan rusak, kita perbaiki. Ada bangunan irigasi rusak, kita perbaiki.</p>



<p><strong>Berarti Agam defisit sekarang?</strong></p>



<p>Ya sekarang untuk bencana tak ada lagi. Kalau untuk menyambangi lokasi atau titik bencana sekarang, BBM kita ada. Tapi untuk membiayai tak bisa. Misal memperbaiki jalan, jembatan tak bisa. Makanya darurat kan. Maka jembatan darurat dulu, bagaimana mobil lewat. Dengan harapan dibangun permanen nanti.</p>



<p><strong>Apakah Agam paling terdampak?</strong></p>



<p>Dibanding kabupaten lain, Agam paling parah. Seluruh kabupaten terdampak di Sumatra, untuk kabupatennya kita paling banyak dari sisi korban. Ini dinyatakan langsung juga oleh pihak BNPB.</p>



<p><strong>Apakah perlu penetapan status nasional, seperti disuarakan kepala daerah terdampak lain?</strong></p>



<p>Kita tak seperti itu caranya. Kita bikin laporan, menyurati. Untuk status nasional kita tak bisa. Kita tak tahu dampak lain di kabupaten lain. Kalau hanya dengan dana provinsi juga tidak sanggup. Kan sudah dinyatakan Pak Gubernur juga. Kami menyatakan bahwa Kabupaten Agam tidak punya anggaran lagi menyelesaikan ini. Maka kita usulkan ke pemerintah pusat, dan sudah direspons BNPB. Maka sudah beberapa hari ini kita didampingi. Artinya pusat sudah terlibat di sini.</p>



<p><strong>Sekali lagi penegasan, kalau menurut Bapak Bupati bencana ini secara narasi, apakah memang hidrometeorologi dengan narasi tunggal atau memang faktor ekologis atau kerusakan lingkungan?</strong></p>



<p>Kalau faktor lingkungan, maksudnya kerusakan-kerusakan, saya tidak yakin dengan itu. Kenapa? Karena semua longsor ini kan semua kecuali pada daerah-daerah yang terjadi penebangan hutan. Itu memang iya. Kalau kita khusus Agam, bukan penyebabnya itu. Saya berani katakan itu, karena saya cuma lihat khusus untuk Salareh Aia, ini hamper sama dengan galodo gunung Marapi. Karena hujannya lebat. Kalau di Malalak hampir sama. Kalau hujan biasa-biasa saja, tidak ada bencana. Kalau tebing runtuh sedikit biasa.</p>



<p><strong>Menurut Pak Bupati, apakah kejadian bencana hari mungkin masyarakat sudah mengabaikan pengetahuan lokal soal kebencanaan?</strong></p>



<p>Bukan ini kan di Salareh Aia, memang masyarakat di situ belum pernah punya pengalaman. Kalau di Salareh Aia baru sekali, jadi tak memahami apa pun yang terjadi. Dan itu sangat mendadak sekali. Beda dengan pengalaman masyarakat di Sungai Batang, Tanjung Sani. Korban tak banyak, karena mereka sering mengalami hal yang sama. Kalau ada tanda-tanda mereka sudah tahu dan cepat menghindar.</p>



<p><strong>Ke depan perlu gak untuk memasifkan mitigasi berbasis nagari?</strong></p>



<p>Ini perlu dengan mengedukasi masyarakat. Jangan terulang lagi. Kita di Agam lengkap potensi bencana deperti galodo, longsor, gempa, erupsi.</p>



<p><strong>Apakah Agam membuka diri untuk dibantu?</strong></p>



<p>Kita sangat terbuka. Baik perantau, maupun LSM. Menurut kita untuk pengananan bencana besar seperti ini; Basamo Mako Bajadi (bersama maka bisa diatasi).</p>



<p><strong>Apakah babakan penanganan yang sudah dirancang?</strong></p>



<p>Pertama, hunian sementara bagi mereka yang mau. Tapi karena orang Minang tentu juga punya dunsanak atau keluarga, mereka ingin di sana kita bantu juga. Kita anggap seperti indekos. Kedua, soal hunian tetap dengan harapan itu dibangun pemerintah pusat. Untuk masa darurat ini kita akan pastikan data untuk keperluan bantuan masa rehabilitasi dan rekonstruksi.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/wawancara-eksklusif-dengan-bupati-agam-nyatakan-status-darurat-anggaran-penanganan-sudah-tak-ada/">Wawancara Eksklusif dengan Bupati Agam: Nyatakan Status Darurat, Anggaran Penanganan Sudah tak Ada</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">240236</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Penjual Es Krim Cari Istri yang Hilang saat Galodo, Bawa Sehelai Foto dari Posko ke Posko</title>
		<link>https://langgam.id/kisah-penjual-es-krim-cari-istri-yang-hilang-saat-galodo-bawa-sehelai-foto-dari-posko-ke-posko/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S. Taufiq]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 08:54:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Galodo]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Agam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=239423</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Menjelang azan magrib berkumandang, Abdul Gani (57) masih hilir mudik di posko BPBD di Silareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, untuk mencari keberadaan istrinya. Di tangannya ada sehelai foto istrinya selalu ia tunjukan kepada setiap orang yang ditemui, berharap ada yang pernah melihat sosok sang istri, baik dalam keadaan selamat atau pun tidak. Empat hari sudah Abdul Gani berseliweran dari posko ke posko mencari istrinya Marsoni (40). Setiap bertemu tim pencari korban, Abdul Gani selalu meminta tolong untuk mengabarinya jika ada menemukan sang istri. &#8220;Ini foto istri saya pak, kalau ada yang melihat tolong kabari saya. Saya sudah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kisah-penjual-es-krim-cari-istri-yang-hilang-saat-galodo-bawa-sehelai-foto-dari-posko-ke-posko/">Kisah Penjual Es Krim Cari Istri yang Hilang saat Galodo, Bawa Sehelai Foto dari Posko ke Posko</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Menjelang azan magrib berkumandang, Abdul Gani (57) masih hilir mudik di posko BPBD di Silareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, untuk mencari keberadaan istrinya. </p>



<p>Di tangannya ada sehelai foto istrinya selalu ia tunjukan kepada setiap orang yang ditemui, berharap ada yang pernah melihat sosok sang istri, baik dalam keadaan selamat atau pun tidak.</p>



<p>Empat hari sudah Abdul Gani berseliweran dari posko ke posko mencari istrinya Marsoni (40). Setiap bertemu tim pencari korban, Abdul Gani selalu meminta tolong untuk mengabarinya jika ada menemukan sang istri.</p>



<p>&#8220;Ini foto istri saya pak, kalau ada yang melihat tolong kabari saya. Saya sudah ikhlas apakah ia ditemukan tidak selamat, yang penting saya tahu bagaimana kabarnya,&#8221; ujar Abdul Gani, Selasa (2/12/2025).</p>



<p>Foto Marsoni itu tersebut dicetak Gani di kertas hvs A4 pada Sabtu kemarin. Ia dikabari oleh kerabatnya ada menyimpan foto Marsoni di sosial media. </p>



<p>&#8220;Kebetulan ada saudara yang bisa print, saya minta tolong printkan foto istri saya,&#8221; katanya.</p>



<p>Sejak lima tahun yang lalu, Abdul Gani hanya tinggal berdua dengan Marsoni. Anak semata wayangnya meninggal pada 2020. Saat kejadian banjir bandang atau galodo menghantam Silareh Aia, Kamis sore (27/11/2025), Abdul Gani masih belum sampai di rumah.</p>



<p>Sore itu, ia dalam perjalanan pulang dari rutinitasnya sebagai penjual es krim keliling dengan sepeda motornya. Biasanya ia berjualan di sekitaran Salareh Aia hingga kampung sebelah.</p>



<p>Abdul Gani kemudian mendengar kabar ada galodo di Salareh Aia. Di tengah hujan yang masih turun, ia bergegas menuju rumahnya di Jorong Subarang Aia.</p>



<p>Namun saat itu banjir bandang sudah menerjang daerah tersebut, jembatan penghubung ke Subarang Aia sudah ditelan oleh arus galodo yang tinggi.</p>



<p>&#8220;Kata orang-orang rumah saya sudah habis, rata dengan tanah disapu galodo,&#8221; ujar Abdul.</p>



<p>Kini Abdul Gani hanya memiliki pakaian yang ia kenakan sejak kejadian, beserta satu motor kendaraan berjualan. Sedangkan harta benda yang lain sudah raib.</p>



<p>Ia meyakini saat kejadian Marsoni sedang di rumah. Ia berharap sang istri dapat menyelamatkan diri dari banjir itu.</p>



<p>&#8220;Saya sudah ikhlas dia akan dikebumikan di mana pun, yang penting saya tahu kalau dia sudah ditemukan,&#8221; ujar Abdul Gani. <strong>(fx)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kisah-penjual-es-krim-cari-istri-yang-hilang-saat-galodo-bawa-sehelai-foto-dari-posko-ke-posko/">Kisah Penjual Es Krim Cari Istri yang Hilang saat Galodo, Bawa Sehelai Foto dari Posko ke Posko</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">239423</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</title>
		<link>https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 04:20:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=237662</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Cahaya lembut berpendar di dinding galeri, memantul pada deretan foto berbingkai yang merekam denyut kehidupan beragama dan beradat di ranah Minang. Dari ritus Manyaratuih Hari hingga balimau menjelang Ramadan, dari gema badikie dan shalawat dulang hingga gerak halus Indang Tuo, semuanya seolah berbicara tentang Islam yang hidup dalam napas budaya. Suasana itu hadir dalam pameran etnografi karya Edy Utama bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat, yang berlangsung selama sepekan (24-31 Oktober 2025) di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat. “Ada sekitar 200 foto yang dipamerkan, yang dibuat antara tahun 2005-2025, yang disusun dalam bentuk</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/">Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Cahaya lembut berpendar di dinding galeri, memantul pada deretan foto berbingkai yang merekam denyut kehidupan beragama dan beradat di ranah Minang. Dari ritus <em>Manyaratuih Hari</em> hingga <em>balimau</em> menjelang Ramadan, dari gema <em>badikie</em> dan <em>shalawat dulang</em> hingga gerak halus <em>Indang Tuo</em>, semuanya seolah berbicara tentang Islam yang hidup dalam napas budaya. Suasana itu hadir dalam pameran etnografi karya Edy Utama bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat<strong>, </strong>yang berlangsung selama sepekan (24-31 Oktober 2025) di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat.</p>



<p>“Ada sekitar 200 foto yang dipamerkan, yang dibuat antara tahun 2005-2025, yang disusun dalam bentuk esai-esai foto,” ujar Bung, sapaan akrab Edy Utama.</p>



<p>Bagi Edy, yang telah puluhan tahun memotret denyut kehidupan masyarakat adat dan religius Minangkabau, karya-karyanya adalah rekaman dari pertanyaan-pertanyaan lama: mengapa masyarakat Minang bisa bernegosiasi dengan nilai Islam, dan bagaimana keduanya saling menguatkan tanpa saling meniadakan.</p>



<p>Mengutip Azyumardi Azra (1988), Edy menyebutkan, meski surau adalah warisan Hindu-Budha , namun kemudian diintegrasikan paska masuknya Islam ke Minangkabau. Bahkan dalam perkembangannya, surau adalah lembaga Islam terpenting, yang telah menjadi episentrum pengajaran Islam yang menonjol. Surau juga merupakan titik tolak Islamisasi Minangkabau.</p>



<p>Surau juga mejadi pusat tarekat yang sekaligus memainkan peran sebagai benteng pertahanan Minangkabau dalam merespons berkembangnya dominasi kekuatan kolonial Belanda.</p>



<p>“Surau dikembangkan menjadi lembaga pendidikan agama Islam dan adat Minangkabau. Surau dapat dikatakan sebagai ruang pertemuan yang paling intensif antara adat Minangkabau dan agama Islam,” bebernya.</p>



<p>Melalui pameran ini, masyarakat yang datang bisa melihat visual ‘hidup’ ritual bakaua, arak sadakah padi, doa tulak bala, yang merupakan ritus keberagamaan dalam kehidupan budaya agraris umat muslim Minangkabau.</p>



<p>Ketiga ritus ini memperlihatkan, bagaimana umat muslim Minangkabau bersyukur dan memohon pertolangan Allah SWT secara bersama-sama, agar pertanian mereka berhasil dan terhindar dari marabahaya.</p>



<p>Bertahannya ritus dalam tradisi budaya agraris ini, disebabkan hubungan yang begitu kental antara dunia tarekat dengan budaya agraris. Menurut Cristine Dobbin (1992), di ke-18 banyak guru tarekat yang menjalani hidup sebagai petani. Ritus akhir abad keberagamaan lainnya adalah haul, sebuah ritual memperingati hari wafatnya seorang tokoh agama.</p>



<p>Dalam pameran etnografi kali ini, Bung Edy menghidupkan rekaman peristiwa haul yang disebut basapa dalam lembaran foto. Kegiatan basapa berpusat di makam Syekh Burhanuddin di Ulakan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237677" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah pengunjung pameran etnofografi Bung Edy Utama melihat karya-karya yang dipajang.</figcaption></figure>



<p>Menurut Edy, pada puncak basapa, puluhan ribu pengikut tarekat Syattariyah dari berbagai pelosok Minangkabau menziarahi makam Syekh Burhanuddin. Haul berikutnya adalah ziarah kubur ke makam salah seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyah Minangkabau, Syekh Maulana Malik Ibrahim AlKhalidi, Surau Batu Kumpulan, Pasaman, yang dikenal dengan panggilan Inyiak nan Balinduang.</p>



<p>Foto menarik lain yang ditampilkan Edy adalah prosesi pengukuhan Pucuak Syarak dengan gelar Kari Ibrahim, yang posisinya berdampingan dengan Pucuak Adat dalam struktur kepemimpinan umat muslim minangkabau.</p>



<p>Selain itu, penikmat karya fotografi bernuansa etnografi juga disuguhi ritus kematian, yang disebut Manyaratuih Hari serta ritus balimau memasuki bulan suci Ramadan.</p>



<p>Ada pula ritus Maulid Nabi, perayaan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, dengan berbagai atribut seperti bungo lado dan juadah, serta semangat partisipasi masyarakat lokal yang luar biasa. Dihadirkan potret seni bernafaskan Islam seperti badikie, barabano dan shalawat dulang dan Indang Tuo.</p>



<p>Pameran etnofotografi ini juga meluaskan cakrawala dengan menghadirkan kekayaan visual dari ritus serak gulo yang dipraktikkan oleh masyarakat keturunan India di Masjid Muhammadan, Padang, serta tradisi batabuik yang telah mengakar kuat dalam kehidupan budaya masyarakat di Padang Pariaman.</p>



<p>“Kehadiran kedua ritus ini memperkaya narasi pameran tentang praktik ritual dalam kehidupan umat muslim Minangkabau. Undang-undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017, menetapkan ritus sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan (OPK),” ungkap Edy.</p>



<p>Dalam penjelasan undang-undang, ritus antara lain dimaknai sebagai tata cara pelaksanaan upacara yang didasarkan pada nilai tertentu, dilakukan secara terus-menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Melalui berbagai praktik ritus itulah kita dapat melihat, peran masyarakat adat Minangkabau dalam menopang kegiatan ritual yang dilaksanakan secara berkelanjutan tersebut.</p>



<p><strong>Persoalan Agama di Minangkabau juga Urusan Niniak Mamak</strong></p>



<p>Tema pertautan Islam dan adat di Minangkabau yang diketengahkan Edy dalam bentuk foto, tak terlepas dari kerisauannya soal kehidupan beragama di Sumatra Barat, terutama dalam konteks keminangkabauan. Ia sering dengar kata bid&#8217;ah dilontarkan oleh pemuka agama dalam menyikapi aktivitas keagamaan yang bersinggungan dengan kebudayaan.</p>



<p>Nah, dalam risetnya justru Edy menemukan bagaimana pelbagai ritual atau ritus keagamaan, terlaksana berkat dukungan struktur niniak (ninik) mamak.</p>



<p>“Saya menemukan beberapa kasus, misal peringatan kematian Syekh (Inyiak) Balinduang Surau Batu, setiap tahun ada perayaan dengan nama Alek Surau Batu. Yang kerja keras melayani tamu yang berziarah saat haul Syekh Balinduang adalah 36 penghulu di (Nagari) Koto Kaciak. Masing-masing penghulu wajib menyediakan kancah untuk memasak. Bahkan dalam kenyataannya ada sampai bikin 50 kancah, karena ada beberapa penghulu yang menyediakan lebih dari satu kancah,” ungkap Edy.</p>



<p>Syekh Balinduang Surau Batu adalah&nbsp;gelar untuk Maulana Syekh Ibrahim atau dikenal juga dengan Syekh Kumpulan atau Syekh Ibrahim al-Khalidi.Beliau adalah seorang ulama besar, mursyid tarekat Naqsyabandiyyah dari Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Bonjol, Pasaman. Beliau adalah guru agama bagi banyak ulama lain dan memiliki pengaruh besar dalam pengembangan tarekat Naqshabandiyah di Nusantara.&nbsp;Di samping itu juga berperan dalam palagan Perang Paderi.</p>



<p>Dalam karya-karya yang dipajang Bung Edy, juga tampak perayaan kematian. Misalnya ritus kematian yang disebut Manyaratuih Hari di Solok yang begitu sumarak. Nah, dalam hal ini, perempuan sebagai pihak semenda dari suku yang meninggal yang mengarak juadah (<em>jamba</em>).</p>



<p>“Yang terjadi di Solok, hampir semua orang bawa Jamba atau juadah itu perempuan yang jadi <em>sumando</em> (semenda). Misal yang kawin dengan Chaniago, dia yang bawa juadah atau Jamba. Di sini, niniak mamak sangat berperan,” tukas Edy.</p>



<p>Di Sijunjung, katanya lagi, acara berkaul yang diadakan setiap tahun dilakukan pemotongan seekor kerbau, dimana menjadi tanggung jawab 16 penghulu di sana.</p>



<p>“Apa ini makna ungkapan sarak mangato, adaik mangatai,” ucap Edy dalam sesi diskusi pada pengujung pameran di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, Jumat (31//10/2025).</p>



<p><em>Syarak mangato, adaik mamakai</em> adalah&nbsp;prinsip filosofis Minangkabau yang berarti&nbsp;syariat (ajaran Islam) yang berkata atau memberi perintah, sedangkan adat yang memakai atau melaksanakannya.</p>



<p>“Persoalan agama bukan sekedar persoalan ulama, tapi juga niniak mamak. Saya kira melihat hubungan. Problemnya kerap dicaps bidah dengan melihat praktik di permukaan. Padahal di belakang praktik ritual, hampir semuanya penghulu berperan besar. Ini saya belum tuntas melakukan pengamatan,” terang Edy.</p>



<p>Ketua panitia pameran, Muhammad Taufik, menyebut ketika gagasan pameran etnofotografi Edy Utama muncul, maka pikiran kembali ditarik pada apa yang ditulis Akbar Salahuddin Ahmed, seorang antropolog Muslim asal Pakistan.</p>



<p>Salah satu buku antropolog yang juga dikenal sebagai pengarang cum penyair dan sineas ini adalah <em>Living Islam: From Samarkand to Stornoway</em>. Dalam buku itu, Ahmed menyoroti Living Islam sebagai sebagai fenomena keberadaan dan praktik Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim (living Islam) atau Islam sebagai peradaban yang hidup dan berdenyut dalam ruang sosial, budaya dan sejarah.</p>



<p>Fokus Ahmed adalah menyigi Islam dari praktik ke teks, bukan sebaliknya, sebagaimana yang juga dipotret dalam lensa Bung Edy. Artinya Ahmed tidak mendokumentasikan apa yang tertulis dalam fikih. Menariknya Ahmed dalam studi ini satu sisi menyuguhkan Islam realitas (praktik sosial) kemudian membandingkannya dengan islam idealitas. Artinya ia ingin menunjukkan di mana masyarakat muslim mampu hidup dengan ideal dan di mana tidak.</p>



<p>“Namun kekuatan buku ini adalah kemampuan Ahmed menunjukan realitas Islam yang mungkin akan membuat marah Muslim bahkan Nonmuslim karena keitiqamahannya menjaga otentisitas, akurasi bahkan dia tetap mencatat sesuatu yang secara pribadi tidak disetujuinya, tanpa memoles atau menutup-nutupi,” beber Taufik.</p>



<p>Menurut Taufik, karya-karya yang dipentaskan Edy Utama &nbsp;adalah sebagai bentuk living Islam yakni Islam yang hidup di tengah masyarakat, bukan Islam yang berhenti di teks.</p>



<p>“Apa yang dilakukan Bung Edy adalah living Islam dari kacamata lensa kamera. Ia memotret bukan hanya ritual, tapi napas kehidupan, bagaimana Islam di Minangkabau tumbuh bersama adat,” ujar Taufik.</p>



<p>Menurutnya, pameran ini bukan sekadar dokumentasi visual, tetapi ajakan untuk merefleksikan ulang cara pandang terhadap budaya sendiri. “Dari foto-foto itu, kita diajak menyadari bahwa membangun kebudayaan tidak bisa hanya di hilir. Kita harus kembali ke hulunya, ke nilai-nilai, ke spiritualitas yang dulu menjadi sumber kekuatan Minangkabau,” tambahnya.</p>



<p><strong>Merawat Hulu, Menjernihkan Muara Kebudayaan</strong></p>



<p>Pameran fotografi yang digelar Edy lebih dari sekadar foto, melainkan sebuah renungan: bagaimana menjernihkan hilir kebudayaan dengan memperbaiki hulunya.</p>



<p>“Budaya itu ibarat sungai. Ada hulunya dan ada muaranya. Sekarang kita sibuk mengurus muara seperti atraksi seremonial, festival, promosi, tapi lupa memelihara hulunya, yaitu spiritualitas dan nilai,” ujar Edy Utama dalam pembukaan pameran Etnografi Islam Minangkabau.</p>



<p>“Saya mulai dari kekaguman,” katanya pelan. “Saya menelusuri Tabut, basafa, tarekat Syattariyah berpuluh tahun. Banyak hal yang dianggap kontroversial ternyata dirawat oleh orang Minang dengan penuh kearifan. Inilah kekuatan hulu budaya kita&nbsp; kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar.”</p>



<p>Dalam paparannya, Edy Utama menyinggung bahwa banyak kebijakan kebudayaan kini berhenti di tataran diplomasi dan seremonial. Padahal, esensi kebudayaan adalah ketahanan dari dalam, bukan kemegahan di luar.</p>



<p>“Kita sering memainkan budaya untuk kesenangan, bukan untuk ketangguhan. Padahal, silat misalnya, bukan untuk mengalahkan orang, tapi untuk mempertahankan martabat. Itu benteng hidup,” ujarnya tegas.</p>



<p>Ia mengajak pemerintah dan pelaku budaya untuk melihat kebudayaan dengan pendekatan etnografis, menyelami kehidupan masyarakat, bukan sekadar menampilkannya di panggung.</p>



<p>Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menilai karya Edy Utama memberi ruang refleksi bagi pemerintah daerah dalam membangun kebijakan kebudayaan yang lebih bermakna.</p>



<p>“Kita perlu menata kembali kebudayaan dari hulunya. Kekuatan Minangkabau bukan pada simbolnya, tapi pada nilai dan spiritualitasnya,” ujarnya, disela pembukaan pameran etnofotografi Edy Utama.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237673" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Fotografer Bung Edy Utama menjelaskan ornamen dan pemaknaan arsitektur surau dan masjid kepada Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi.</figcaption></figure>



<p>“Hulu kebudayaan ya Islam itu sendiri, Maka tulah yang apa, adat yang ada di kita disesuaikan dengan hulu itu sendiri, itu makanya Islam di Minangkabaukan,” Mahyeldi menambahkan.</p>



<p>Nah, sambungnya, bagaimana proses hulunya nilai-nilai Islam itu menyatu dalam bentuk kebudayaan, dalam bentuk tulisan, dan kemudian juga dalam bentuk keseharian masyarakat di Minangkabau. “Dan kan itu yang dituangkan dalam falsafah Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) itu sendiri,” ucapnya.</p>



<p>Menurutnya, Edy Utama menghadirkan kelindan akulturasi&nbsp; yang sudah berjalan lama. Misalnya potret masjid atau surau yang ditampilkan Edy Utama.</p>



<p>“Karya yang mengabadikan salah satu masjid menunjukkan ada Eropanya, ada Indianya, ada Turkinya, juga ada Minangnya, semua itu dipadukan,” kata Mahyeldi, disela-sela pembukaan pameran etnofotografi Edy Utama, Jumat (24/10/2025).</p>



<p>Dia juga melihat dalam dunia kesenian yang hidup di Sumatra Barat terutama Padang juga memadukan ragam kebangsaan atau etnis. Di kawasan Pondok misalkan ada seni gambang, kemudian juga ada Balanse Madam kesenian dari suku Nias di Padang.</p>



<p>“Jadi itulah, jadi memang orang Minang ini, memang mengakomodasi, kemudian itu menghadirkan suatu yang menarik. Nah itulah, sudah seperti itu Minangkabau di dalam, makanya dalam faktanya, ketika ada permasalahan bangsa, ini karena Minang yang tampil untuk menyelesaikan. PDRI misalnya kan, itu kan Minang yang tampil,” bilang Mahyeldi.</p>



<p>Kehadiran pameran Bung Edy, Mahyeldi berharap menginspirasi banyak orang dan juga Sumbar sendiri.</p>



<p>“Keanekaragaman dan kemudian itu diinspirasi oleh Indonesia Islam, karena memang juga ya, Islam yang ada ke Nusantara ini kan juga berasal dari daerah-daerah berbeda-beda, nah itu juga dihadirkan di Sumatra,” tukas Mahyeldi.</p>



<p>Sementara itu, tokoh budaya Mak Katik memberikan tanggapan lugas dan hangat.</p>



<p>“Saya sangat setuju dengan Bung Edy. Pejabat kita banyak mengambil muaranya saja &nbsp;seperti rumah gadang, gonjong, songkok. Tapi hulunya, yakni nilai dan keaslian, sering dilupakan. Hulu itulah yang harus kita gali kembali,” tuturnya.</p>



<p>Menariknya, pameran ini juga menyita perhatian mahasiswa internasional asal Nigeria yang tengah belajar di UIN Imam Bonjol Padang.</p>



<p>Ibrahim Ismail, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, mengaku terkesan dengan harmoni antara Islam dan budaya di Sumatra Barat.</p>



<p>“Saya menikmati sekali acara ini. Budaya Islam di sini terasa hidup, penuh keramahan. Di Nigeria, Islam lebih formal. Di sini saya melihat Islam yang menyatu dengan adat. Ini luar biasa,” katanya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237674" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mahasiswa asal Nigeria yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol menikmati sajian foto-foto karya Bung Edy Utama</figcaption></figure>



<p>Mahasiswa asal Nigeria lain, Adam Rabiu Awal dan Umarfaruq Muhammad Gambo, menambahkan bahwa pengalaman mereka di Sumatra Barat menunjukkan bagaimana Islam dan budaya bisa saling memperkaya, bukan bertentangan. “Di sini kami melihat Islam yang indah dan manusiawi,” kata Umarfaruq.</p>



<p>Malam itu, di antara foto-foto dan percakapan hangat, tersirat pesan sederhana namun dalam: kebudayaan adalah sungai kehidupan. Jika hulunya kering dan tercemar, maka muaranya tak akan pernah jernih.</p>



<p>“Hulu spiritualitas Minangkabau adalah kekuatan kita,” kata Edy Utama menutup malam itu. “Dan itu mulai kita tinggalkan. Sudah saatnya kita pulang ke hulu, menjernihkan muara kebudayaan yang mulai keruh.”</p>



<p>Pameran etnofotografi Bung Edy berlangsung seminggu dikunjungi ribuan orang. Mulai dari penikmat seni, budayawan, wartawan, akademisi, mahasiswa, hingga para pelajar. Namun, banyak asa yang terbentang dalam diskusi cair yang dibentangkan pada hari terakhir pameran, Jumat (31/10/2025) malam.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="518" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=1200%2C518&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237678" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=1200%2C518&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=300%2C129&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=768%2C331&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?w=1217&amp;ssl=1 1217w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah kolega, sanak Bung Edy Utama hadir dalam penutupan yang berbalut diskusi karya-karya Bung Edy Utama di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, Jumat (31/10/2025) malam. </figcaption></figure>



<p>Akademisi dan peneliti asal Sumatra Barat yang mengajar di Universitas Leiden, Belanda, Surya Suryadi menilai karya-karya foto Edy Utama ini penting dalam merawat khazanah budaya Minangkabau. Menurutnya karya pendokumentasian secara visual penting untuk menjadi harta karun sejarah ke depannya. Ia mencontohkan bagaimana Belanda sangat serius untuk pendokumentasian visual, bahkan punya proyek memvideokan aktivitas hari ke hari beberapa kota di Indonesia.</p>



<p>“Mungkin 100 tahun lagi, kalau kita ingin belajar atau meneliti tentang budaya dan sejarah kita, harus ke Leiden, Belanda,” celetuknya.</p>



<p>Ketua Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas &nbsp;Zulqaiyyim misalnya, berharap pameran ini juga di bawa ke tengah gelanggang kampus. Menurutnya, kalau ditampilkan di arena seperti kampus, ini akan membuat orang (mahasiswa) tercengang-cengang, mengingat ini realitas yang terlihat dari perspektif sejarah.</p>



<p>Secara sosiologis, katanya, Islam di Minangkabau ada merasa lebih murni, lebih saleh, lebih beriman, sementara foto-foto yang ditampilkan realita sosial.</p>



<p>“Oleh karena itu, kita menyarankan pameran jangan terbatas di sini, tapi dibawa ke kampus,” pungkasnya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/">Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">237662</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 27/78 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-02 13:24:31 by W3 Total Cache
-->