Langgam.id — Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2025 tidak akan mencapai target optimistis awal. Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, menyebut laju ekonomi daerah ini cenderung melambat sejak triwulan pertama hingga triwulan ketiga dan diprediksi berlanjut hingga akhir tahun.
“Sejak triwulan satu sampai triwulan tiga, pertumbuhan ekonomi Sumbar terus melambat. Kondisi ini kemungkinan besar berlanjut di triwulan empat akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November,” kata Abdul Majid Ikram, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, akhir tahun yang biasanya menjadi peak season perekonomian—terutama dari sektor pariwisata dan konsumsi masyarakat—tidak berjalan optimal. Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah di Sumbar berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan menurunkan daya beli masyarakat.
“Kami tidak terlalu optimistis pertumbuhan ekonomi Sumbar bisa sesuai proyeksi awal. Biasanya akhir tahun ada dorongan dari pariwisata, tapi kondisi bencana membuat aktivitas ekonomi melambat,” ujarnya.
Secara keseluruhan, BI Sumbar memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2025 berada di kisaran 3,3 hingga 4,1 persen. Namun, kecenderungannya mengarah ke batas bawah proyeksi tersebut.
“Condongnya pertumbuhan ekonomi Sumbar ke sekitar 3,5 persen,” kata Madjid.
Data menunjukkan perlambatan ekonomi Sumbar terjadi secara bertahap sepanjang 2025. Pada triwulan pertama, ekonomi Sumbar masih tumbuh 4,66 persen. Namun, pertumbuhan tersebut melambat menjadi 3,94 persen pada triwulan kedua, dan kembali turun ke 3,36 persen pada triwulan ketiga.
Meski demikian, BI Sumbar masih melihat peluang pemulihan pada 2026. Pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun depan diperkirakan dapat kembali menyentuh angka 4 persen, dengan catatan dilakukan langkah-langkah strategis pemulihan ekonomi daerah.
Menurut Majid, fokus utama pemulihan harus diarahkan pada perbaikan infrastruktur pertanian yang terdampak bencana serta penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Perbaikan sistem pengairan dan irigasi di lahan pertanian terdampak harus segera dilakukan. Jika penanganannya lambat, ada risiko hilangnya lahan produktif secara permanen,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemulihan ekonomi perlu dilakukan secara konsisten dan terintegrasi agar perekonomian Sumbar mampu bertahan dan kembali tumbuh di kisaran 4 persen atau lebih pada 2026 mendatang.






