Ekonomi Sumbar 2019 Hanya Tumbuh 5,05 Persen, Terburuk dalam 5 Tahun Terakhir

Ekonomi Sumbar 2019 Terburuk

Ilutrasi pertumbuhan ekonomi.(Foto: faisalbasri.com)

Langgam.id – Laju pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat (Sumbar) sepanjang tahun lalu mengalami perlambatan atau hanya tumbuh 5,05 persen, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang masih mencatatkan pertumbuhan 5,16 persen.

Bahkan, dalam catatan langgam.id, pertumbuhan ekonomi Sumbar itu merupakan yang terburuk dalam lima tahun terakhir. Sebab, pada 2017 masih tumbuh 5,30 persen, 2016 tumbuh 5,26 persen, bahkan pada tahun 2015 juga mencatatkan pertumbuhan 5,41 persen.

Perlambatan ekonomi Sumbar sepanjang 2019 memang sudah terasa sejak awal tahun. Pada kuartal pertama misalnya pertumbuhan hanya tercatat 4,85 persen, sedikit lebih baik dari periode yang sama tahun 2018 (yoy) yaitu sebesar 4,73 persen, namun masih lebih rendah dari capaian kuartal pertama 2017 yang mencatatkan pertumbuhan 5,01 persen.

Begitu juga di kuartal kedua hanya tumbuh 4,95 persen, dan pada kuartal ketiga sedikit naik menjadi 5,03 persen.

Kepala Badap Pusat Statistik (BPS) Sumbar Pitono menyebutkan dari sisi lapangan usaha, perlambatan laju perekonomian Sumbar sepanjang tahun lalu didorong kontraksi beberapa lapangan usaha seperti usaha jasa perusahaan sebesar 4,12 persen, transportasi dan perdagangan sebesar 3,79 persen, pengadaan air 2,79 persen, industri pengolahan 2,63 persen, dan pertanian, kehutanan dan perikanan 0,46 persen.

“Sumber utama pertumbuhan ekonomi Sumbar berasal dari perdagangan besar-eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 1,26 persen, diikuti kontruksi 0,82 persen, dan informasi dan komunikasi sebesar 0,50 persen,” katanya, Rabu (5/2/2020).

Adapun, struktur ekonomi Sumbar masih didominasi tiga lapangan usaha, yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 21,48 persen, perdagangan besar eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 16,12 persen, dan transportasi dan pergudangan 12,25 persen.

Kemudian, dari sisi pengeluaran, ekonomi Sumbar masih terbantu dengan komponen pengeluaran konsumsi (lembaga non profit rumah tangga) LNPRT sebesar 11,85 persen, diikuti konsumsi pemerintah sebesar 5,10 persen dan pembentukan modal tetap bruto sebesar 4,96 persen. Tingginya pengeluaran dari konsumsi LNPRT karena pelaksanaan pemilu dan pilkada.

Komponen yang mengalami penurunan adalah perdagangan luar negeri dan net ekspor antar daerah masing-masing minus 0,61 persen dan hanya tumbuh 1,08 persen.

Sementara itu, PDRB Sumbar dari sisi pengeluaran masih didominasi konsumsi rumah tangga sebesar 53,95 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 29,93 persen, dan konsumsi pemerintah 12,74 persen.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Wahyu Purnama A sudah mengingatkan potensi perlambatan pertumbuhan 2019 di kisaran 4,8 hingga 5,2 persen, didorong penurunan investasi swasta dan rendahnya permintaan luar negeri.

“Perlambatan ekonomi Sumbar berasal dari tren penurunan pertumbuhan investasi swasta dan rendahnya permintaan global serta proteksi perdagangan internasional yang berdampak pada kinerja ekspor,” urainya.

Makanya, ia menyarankan pemerintah daerah memaksimalkan investasi dan mendongkrak ekspor dengan meningkatkan nilai tambah produk serta mengurangi ketergantungan pada CPO dan karet.

Selain itu, memaksimalkan potensi sektor pariwisata daerah yang bisa menarik wisatawan mancanegara maupun domestik untuk datang ke Sumbar. Sehingga, menambah devisa dan meningkatkan konsumsi.

“Untuk menggenjot pertumbuhan, Sumbar tidak mungkin mengandalkan sektor industri. Makanya pariwisatanya yang harus dimaksimalkan,” kata Wahyu.

Baca Juga

Triwulan IV 2025: BPS Catat Ekonomi Sumbar Hanya Tumbuh 1,69 Persen
Triwulan IV 2025: BPS Catat Ekonomi Sumbar Hanya Tumbuh 1,69 Persen
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2025 di wilayah yang tedampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat
Pascabencana, Inflasi di Aceh, Sumut dan Sumbar Berbalik Deflasi di Januari 2026
BPS mencatat luas panen padi pada 2025 mencapai 284.076 hektare (Ha). Angka ini mengalami penurunan sebesar 11.203 hektare atau 3,79
Luas Panen Padi Turun, Produksi Beras Sumbar 2025 Capai 800.613 Ton
Sensus Ekonomi 2026 dijadwalkan akan berlangsung serentak pada Mei hingga Juli nanti. Pendataan akan menyasar seluruh pelaku usaha
Sensus Ekonomi 2026 Dimulai Mei, Sasar Seluruh Pelaku Usaha di Padang
Petani Pesisir Selatan Harapkan Harga Gambir Stabil Kisaran Rp 30 Ribu
Hilirisasi Cepat Gambir
Ekonomi Sumbar Melambat di Tengah Maraknya PETI, Ulul Azmi: Ini Bukan Tambang Rakyat, Ini Kapitalisme Sempit
Ekonomi Sumbar Melambat di Tengah Maraknya PETI, Ulul Azmi: Ini Bukan Tambang Rakyat, Ini Kapitalisme Sempit