Ekonomi Indonesia Menutup Tahun 2025: Stabil, Namun Rapuh

Ekonomi Indonesia Menutup Tahun 2025: Stabil, Namun Rapuh

Syafruddin Karimi. (Foto: Ist)

AKHIR 2025 menutup ruang nyaman bagi negara berkembang. Yield US Treasury tenor menengah-panjang bertahan di kisaran 4,2–4,3 persen. Harga obligasi pemerintah global melemah, indeks premi risiko sovereign menguat, dan emas melesat sebagai instrumen lindung nilai. Pesan pasar jelas: perlindungan mahal, likuiditas dipilih, risiko disaring ketat. Ketika imbal hasil aset aman tinggi, investor tidak perlu mengejar return jauh ke pinggiran kurva. Portofolio global bergeser ke posisi “aman dulu, selektif kemudian”. Dalam rezim seperti ini, volatilitas bukan kecelakaan; volatilitas adalah harga wajar dari ketidakpastian. Negara yang terlihat stabil tetap harus membayar “pajak eksternal” lewat kurs, yield, atau arus modal yang mudah berubah arah.

Di Indonesia, sinyalnya muncul lewat divergensi yang terlihat kecil tetapi sarat konsekuensi. USD/IDR berada di 16.945 dan menguat tipis, sementara IHSG 9.134 bergerak naik sangat kecil. Ini bukan pesta, ini penyesuaian. Ekuitas bisa bertahan karena arus domestik, rotasi sektor, atau posisi investor yang memilih bertahan pada emiten tertentu. Valas bereaksi lebih cepat karena menanggung kebutuhan dolar untuk impor, pembayaran utang, hedging, dan repatriasi. Dalam fase global ketat, kurs sering menjadi peredam guncangan pertama. Jika rupiah melemah bertahap, biaya modal dan biaya lindung nilai ikut naik. Dampaknya merembet ke harga input, keputusan investasi, dan penetapan harga di sektor riil. Di titik ini, stabilitas kurs bukan aksesori, melainkan jangkar ekspektasi.

Data harga memberi konteks yang membuat kebijakan tidak boleh gegabah. Inflasi yoy 2,92 persen pada Desember 2025, naik dari 2,72 persen pada November, jauh di atas 1,57 persen setahun sebelumnya. Core CPI ikut naik dan PPI/WPI juga meningkat. Pesannya tegas: tekanan harga mulai menyebar melewati komponen yang mudah berayun. Ketika biaya produsen naik, pass-through ke harga konsumen menjadi skenario yang rasional, terutama pada sektor dengan rantai pasok impor. Data perdagangan harga menguatkan risiko itu: import price index naik lebih cepat daripada export price index dan terms of trade turun. Artinya, Indonesia membayar impor relatif lebih mahal dibanding pendapatan ekspor. Dalam kondisi kurs sensitif, kombinasi ini membuka pintu imported inflation tanpa perlu kejutan besar.

Pasar tenaga kerja memberi kabar yang lebih baik. Employment naik dan tingkat pengangguran turun ke sekitar 4,76 persen. Ini menopang konsumsi dan memberi bantalan sosial. Akan tetapi, survei aktivitas bisnis melemah walau indikator leading membaik. Dunia usaha merasakan friksi biaya, permintaan yang tidak merata, dan ketidakpastian global. Kapasitas terpakai stabil di kisaran 73 persen, tanda ekonomi bergerak, bukan tanda akselerasi. Kesenjangan antara harapan dan realisasi menjadi isu utama. Pelaku usaha dapat menunda ekspansi ketika biaya pendanaan tinggi, margin tertekan, dan kurs berfluktuasi. Kondisi ini menjelaskan mengapa kebijakan yang hanya mengandalkan penurunan bunga sering tidak otomatis menghasilkan lonjakan investasi. Perbaikan iklim usaha, kepastian aturan, dan efisiensi logistik menjadi faktor yang lebih menentukan daripada sekadar “harga uang”.

Indikator moneter menunjukkan likuiditas tumbuh. M0, M1, dan M2 meningkat; kredit rupiah ke individu dan pinjaman sektor swasta naik. Di sisi obligasi, yield SBN 10 tahun turun ke 6,119 persen pada Desember dari 6,314 pada November. Cadangan devisa naik ke sekitar 156,47 miliar dolar. BI menahan suku bunga di 4,75 persen, pilihan yang rasional ketika inflasi bergerak naik dan kurs mudah tertekan. Tantangannya menjaga stabilitas tanpa mematikan denyut ekonomi. Bauran kebijakan perlu menekankan kredibilitas, manajemen likuiditas valas, pendalaman pasar, serta instrumen makroprudensial yang menjaga penyaluran kredit tetap sehat. Ruang pelonggaran ada, tetapi ruang itu sempit dan bersyarat: ekspektasi inflasi harus terjaga, volatilitas kurs terkendali, dan premi risiko tidak dibiarkan melebar.

Indonesia sering tergoda mengubah stabilitas menjadi panggung. Padahal stabilitas adalah pekerjaan sunyi: disiplin fiskal, konsistensi moneter, aturan yang pasti, logistik yang waras, dan pembiayaan yang mendarat di sektor produktif penghasil devisa serta substitusi impor. Dunia sedang menghitung ulang harga risiko. Jika elite memilih bising dengan janji mudah dan target bombastis, pasar tidak akan berdebat; pasar akan menagih. Tagihan itu datang lewat rupiah yang melemah, yield yang naik, dan harga yang menekan dapur rumah tangga.

*Penulis: Syafruddin Karimi (Dosen dan Guru Besar Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)

Baca Juga

Lulusan Sekolah Islam di Indonesia: Antara Kesalehan Individual dan Kontribusi Sosial
Lulusan Sekolah Islam di Indonesia: Antara Kesalehan Individual dan Kontribusi Sosial
Negeri Terdegredasi dalam Kepungan Kepalsuan
Negeri Terdegredasi dalam Kepungan Kepalsuan
Venezuela dan Zaman Premanisme Global
Venezuela dan Zaman Premanisme Global
Dinamika Transformasi Indonesia diantara Konsolidasi Kekuasaan dan Aspirasi Demokratis Tahun 2025
Dinamika Transformasi Indonesia diantara Konsolidasi Kekuasaan dan Aspirasi Demokratis Tahun 2025
Stabilitas Global 2026: Bagaimana Indonesia Membangun Kekuatan?
Stabilitas Global 2026: Bagaimana Indonesia Membangun Kekuatan?
Titik Balik Ekonomi Indonesia Memasuki Tahun 2026
Titik Balik Ekonomi Indonesia Memasuki Tahun 2026