Langgam.id — Direktur Utama PT Semen Padang Pri Gustari Akbar menegaskan kesiapan perusahaannya mendukung pembangunan hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana melalui produk inovatif Semen Padang Bata Interlock atau SEPABLOCK. Dengan kapasitas produksi saat ini, SEPABLOCK mampu memenuhi kebutuhan material untuk sekitar 110 unit rumah per bulan.
Hal tersebut disampaikan Pri Gustari saat menerima kunjungan kerja Anggota Komisi VI DPR RI ke pabrik serta rumah contoh SEPABLOCK di Padang, Kamis (22/1/2026). Kunjungan itu merupakan bentuk dukungan DPR RI terhadap pemanfaatan produk dalam negeri untuk percepatan pembangunan hunian tetap pascabanjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh pada akhir November 2025.
Pri Gustari menjelaskan, SEPABLOCK dikembangkan sebagai solusi konstruksi modern yang mengedepankan kecepatan, efisiensi, dan kualitas bangunan. Produk ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pembangunan rumah dalam kondisi darurat maupun pascabencana, ketika kecepatan penyediaan hunian menjadi faktor krusial.
“Produksi SEPABLOCK kami mampu menghasilkan sekitar 100 hingga 110 unit rumah setiap bulan. Artinya, dalam satu tahun kapasitasnya bisa mencapai 1.200 hingga 1.300 unit rumah,” ujarnya.
Menurut Pri Gustari, kapasitas tersebut menjadi modal penting bagi PT Semen Padang untuk berkontribusi langsung dalam program hunian tetap yang digagas pemerintah. Terlebih, saat ini PT Semen Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya telah memperoleh kontrak pembangunan ribuan unit rumah bagi korban bencana.
Kunjungan Komisi VI DPR RI dipimpin Wakil Ketua Komisi VI Andre Rosiade. Ia menyampaikan bahwa penggunaan SEPABLOCK sejalan dengan kebutuhan pembangunan hunian tetap yang layak, cepat, dan terjangkau. Berdasarkan pemaparan manajemen SIG, pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman akan membangun sekitar 4.800 unit hunian tetap di Sumatera Barat.
Andre menilai teknologi bata interlock yang digunakan SEPABLOCK memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari waktu pembangunan yang singkat hingga ketahanan bangunan. Dengan sistem ini, satu unit rumah dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu, sehingga masyarakat terdampak bencana dapat segera menempati hunian yang layak.
Selain cepat dibangun, Andre menyebut rumah berbasis SEPABLOCK juga memiliki ketahanan terhadap gempa dan api, serta biaya pembangunan yang relatif terjangkau. Untuk rumah tipe 36 meter persegi, biaya pembangunan berada pada kisaran Rp150 juta hingga Rp160 juta per unit.
“Kalau bisa selesai dalam dua minggu, tentu ini sangat membantu pemerintah dan masyarakat. Mereka bisa segera memiliki rumah dan memulai kembali aktivitasnya,” kata Andre.
Ia juga mendorong agar SEPABLOCK tidak hanya digunakan di Sumatera Barat, tetapi juga dapat bersaing di wilayah Sumatera Utara dan Aceh. Menurut Andre, hal tersebut masih dikaji oleh manajemen SIG, terutama terkait penyesuaian harga agar lebih kompetitif di daerah tersebut.
Sementara itu, Pri Gustari menambahkan bahwa PT Semen Padang terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, satuan kerja, dan balai teknis terkait, guna mempercepat realisasi pembangunan hunian tetap. Sinergi dengan pemerintah pusat dan dukungan DPR RI dinilai menjadi faktor penting agar pemanfaatan SEPABLOCK dapat berjalan optimal.
“Dengan dukungan Komisi VI DPR RI, kami berharap kontribusi PT Semen Padang dan SIG dalam program hunian tetap ini dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran, sehingga masyarakat terdampak bencana bisa segera bangkit dan memiliki tempat tinggal yang layak,” tutup Pri Gustari.






