Langgam.id – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa fenomena amblesan (sinkhole) di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, bukan terjadi pada endapan batuan vulkanik, melainkan karena proses erosi buluh.
Badan Geologi dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (6/1/2026) menjelaskan bahwa erosi buluh adalah proses pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang membentuk saluran pipa.
Badan Geologi menyebutkan bahwa ada lima faktor penyebab erosi buluh. Pertama jenis batuan: mineral lempung: batuan berstruktur halus. Kedua, intensitas curah hujan: tinggi.
Ketiga, proses kejadian: terbentuk rekahan secara perlahan yang menjadi jalur aliran air bawah tanah. Keempat, tataguna lahan: pertanian intensif, sistem irigasi buruk, dan alihfungsi lahan. Kelima, graudien hidraulik air tanah.
“Berdasarkan analisis Badan Geologi, kejadian amblesan atau fenomena sinkhole di Situjuah Batua, diawali oleh terbentuknya rekahan pada permukaan lapukan batuan tuff, dengan alas batu gamping malihan yang kedap air (impermeable). Rekahan ini berfungsi sebagai media masuknya air ke dalam tanah,” tulis Badan Geologi dalam rilisnya.
Badan Geologi menyebutkan, bahwa air yang mengalir pada rekahan tanah tersebut memicu terjadinya proses erosi buluh. Akibat erosi buluh terbentuk rongga di bawah tanah, yang diikuti dengan runtuhnya tanah permukaan dan membentuk sinkhole (analisis Badan Geologi, 2026).
Kesimpulannya, Badan Geologi menyatakan, fenomena alam sinkhole di kawasan Pertanian Pombatan, Situjuah Batua, terjadi karena proses erosi buluh dan tidak terjadi secara mendadak. Proses ini terjadi pada batuan berbutir halus dengan intensitas hujan tinggi. Proses pembentukan sinkhole ini berbeda dengan proses pembentukan sinkhole pada batu gamping.
Berdasarkan kesimpulan ini. Badan Geologi, Kementerian ESDM menyampaikan tiga rekomendasi. Pertama, lubang yang terbentuk pada sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan membuat pagar pengaman di sekitar lubang.
Rekomendasi kedua, peristiwa seperti ini berpotensi terjadi pada lokasi lain pada lahan pertanian sekitarnya. Bila mulai terbentuk retak dan rekahan yang membesar, masyarakat agar melakukan pemantauan dan melaporkan kepada aparat setempat untuk berkoordinasi dengan instansi yang berwenang.
Rekomendasi ketiga, masyarakat diimbau tetap tenang, bila terdengar suara gemuruh dari permukaan tanah. (*/)






