Dalam sebuah lawatannya ke Bangkok di awal tahun 2026, Arung menghadiahi saya dua buah buku; The King in Yellow karya Robert W. Chambers dan 1984 karya George Orwell. Buku pertama pernah saya baca sekilas, berkisah tentang obsesi manusia yang brutal, misteri serta serangkaian drama dan dunia paranoia. Namun yang menarik bagi saya justru 1984.
“Ya, penasaran dengan 1984. Apakah mirip dengan Animal Farm?” tanya Arung melalui panggilan video. Saya tersenyum. Dalam hati saya bergumam, virus apa yang menjangkiti anak ini?
Sebelum keberangkatannya, saya dan Arung sempat bersitegang mengenai kesilapan terbesar umat manusia. Menurutnya, kesilapan terbesar peradaban adalah fasisme, komunisme, kapitalisme dan electrical engineering. Bagi saya, urutan pertama sampai ketiga masih masuk akal dan bisa diperdebatkan secara logis, tapi mengapa ada kesilapan keempat? Perdebatan kami belum selesai ketika dia menyodorkan 1984.
Sebagai pembaca Orwell, bertahun silam saya sempat menuntaskan 1984. Kisah-kisah tentang negara-negara adidaya Oceania, Eurasia dan Eastasia di masa itu, justru membuka pintu pemikiran saya pada sitegang ‘perang dingin’ Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Belakangan, 1984 justru membawa saya pada sebuah pertunjukan politik dalam negeri.
“1984 adalah ramalan yang benar-benar terjadi. (Menurut keyakinan Arung) Kekuasaan hari ini telah melanggar hukum, mencampakkan moral dan jauh dari kemanusiaan,” kata Arung.
Masih dari Ibu Kota Bangkok beberapa hari kemudian, saya memancing dengan pertanyaan; apakah 1984 adalah bukti keruntuhan sosialisme dan fasisme? Arung menolak. Menurutnya, 1984 justru bercerita tentang stabilitas dalam negeri dan bagaimana kekuasaan segelintir elit dapat dipertahankan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam negeri.
“1984 juga sudah meramalkan adanya pengkhianatan atas nama Penguasa,” katanya berapi-api.
Ya, saya setuju. 1984 sesungguhnya berkisah tentang sebuah sistem kekuasaan absolut. Sistem ini diciptakan untuk memberi ruang sebesar-besarnya bagi para penguasa untuk tetap berkuasa. “Who controls the past controls the future. Who controls the present controls the past,” tulis Orwell. Sengkarut sistem kekuasaan ini sengaja diciptakan untuk memanipulasi kebenaran, dimana sejarah telah dijadikan alat politik. Negara akan semakin kuat dengan mengendalikan masa lalu. Dengan demikian, gambaran masa depan dapat diatur dengan mudah.
Dalam konteks ini, saya teringat pada buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Buku ini telah diluncurkan Pemerintah di tengah kemelut bencana Sumatra pada 14 Desember 2025. Jujur, saya belum membaca buku itu. Namun dari berbagai berita, saya mengikuti polemik tentang narasi tunggal, manipulasi kekuasaan dan minimnya transparansi.
Sepanjang Desember 2025, saya kerap berdiskusi dengan jurnalis yang bertugas meliput bencana di Sumatra. Pengakuan yang sama juga muncul, dimana mereka mendapat tekanan untuk membuat berita-berita yang menekankan narasi tunggal, manipulasi kekuasaan dan non transparansi. Mereka dibolehkan membuat pemberitaan tentang peran positif Pemerintah dalam penanganan bencana di Sumatra. Pada saat yang sama, pera pengkritik juga dibungkam, bahkan dengan ancaman. Apakah ini yang dimaksud Orwell; mengontrol masa lalu dan hari ini?
Dalam 1984, Orwell memperkenalkan empat kementerian dengan tugasnya masing-masing. Kementerian Kebenaran, bertugas mengelola propaganda politik, mengatur pemberitaan, media dan sejarah. Kementerian Perdamaian bertugas mengelola perang dan konflik. Kementerian Kelimpahan mengendalikan situasi ekonomi dan distribusi sumber daya. Dan terakhir, Kementerian Cinta yang mengatur tentang ketertiban masal, hukum serta penyiksaan.
Sekilas, nama-nama Kementerian itu terkesan baik. Namun bagi saya seperti ada yang janggal, ini sebuah paradoks yang ironis. Hal-hal yang bertentangan justru dipoles dengan bahasa yang rapi, teratur, positif dan hati-hati. Apapun tujuannya, yang jelas kekuasaan Big Brother-dalam cerita 1984- tidak boleh terganggu oleh narasi-narasi yang memojokan, mereka anti kritik.
Seingat saya, kisah Oceania dalam 1984 menggambarkan tokoh simbolik Big Brother. Tokoh ini tidak pernah dijelaskan Orwell, namun slogannya yang terkenal Big Brother is watching you muncul di mana-mana. Saya menyadari bahwa Orwell ingin menyampaikan pesan bahwa Penguasa tidak harus selalu ada di ruang publik, namun masyarakat harus tahu bahwa Penguasa selalu mengawasi. Jadi jangan macam-macam, jangan banyak bacot! Kira-kira begitu.
“The purpose of Newspeak was to narrow the range of thought,” tulis Orwell. Dia menyangkutkan kekuasaan absolut pada penguasaan atas bahasa, bukan hanya senjata. Hal yang sama ketika banyak orang merasa tersinggung dengan tayangan Mens Rea-nya Pandji Pragiwaksono. Walaupun pada saat yang sama, lebih banyak orang merasa bahwa apa yang mereka pikirikan seturut dengan lelucon Pandji.
Setidaknya, Pandji telah mengejawantahkan apa yang disarankan Pramoedya Ananta Toer. “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,” kata Pram dalam novel Bumi Manusia (1980). Namun sikap kritis ini tidak disenangi Penguasa.
Dalam 1984, Orwell menekankan sebuah Kekuasaan absolut-totalitarianisme mesti menguasai cara berpikir, cara manusia mengingat, mencintai dan memahami kebenaran. Jadi bukan hanya soal kontrol politik. Winston Smith, tokoh utama dalam novel ini, bertugas membuat arsip-arsip palsu, mengubah cerita, dokumen dan catatan sejarah. Smith harus menyesuaikan dokumen-dokumen tersebut dengan haluan partai besutan Big Brother.
Smith sesungguhnya berada dalam dilema dan kegelisahan. Dia paham kebenaran, tapi dia tidak punya kebebasan berpikir. Tugasnya sebagai pembohong harus dijalankan jika tidak ingin dicap sebagai penjahat pikiran. Karena itu dia menulis catatan harian yang jujur, sejujur kisah cintanya dengan Julia. Namun cinta merupakan sebuah larangan, karena ikatan emosi dapat membahayakan rezim.
Kedua pemberontak kecil itu lantas larut dalam harapan-harapan tentang kemanusiaan dan kebebasan. Cinta mereka yang gila-gilaan dan penuh perlawanan mempertemukan mereka dengan jaringan pemberontak bawah tanah. Smith mendapatkan buku terlarang tentang perseteruan abadi dan penindasan yang dilakukan Big Brother dari sekutunya O’Brien. Kendati O’Brien sendiri adalah antek-antek Big Brother, namun dia seolah-olah mendukung Smith dan Julia.
Dalam situasi itu, Arung benar. Pengkhianatan telah terjadi, kedua pemberontak – Smith dan Julia – ditangkap polisi. O’Brien bertindak sebagai juru siksa sekaligus tutor bagi Smith. Pada konteks ini, cinta dan aniaya menemukan rumahnya. Dua hal yang bertentangan namun telah dibalut dengan retorika tanpa empati. Pada saat bersamaan, Orwell mengingatkan bahwa kekuasaan absolut tidak bertujuan meraih keadilan, stabilitas dan kemakmuran, namun demi kepentingan kekuasaan itu sendiri. “Power is not a means; it is an end,” tulisnya.
Kekuasaan absolut tidak membutuhkan legitimasi moral. Kendati Smith telah mengabdi lama pada Big Brother, namun dia harus dikorbankan untuk menjaga kesombongan Penguasa. Sebuah rezim totalitarian harus dibangun di atas dasar kekuasaan tanpa batas, selama berkuasa maka penguasa adalah kebenaran, sebab the object of power is power, kata Orwell.
Dalam konteks itu, individu tak lagi menjadi penting. Tokoh O’Brien menggambarkan bagaimana kekuasaan murni bekerja di lapangan. Dia harus mendefinisikan realita, mengendalikan pikiran dan memaksa orang untuk menyangkal kebenaran.
Seperti angka korban bencana Sumatra yang sudah lebih dari seribu jiwa, berikut ribuan pengungsi, mereka hanyalah angka. Termasuk pula banyaknya orang yang menyuguhkan kenyataan lapangan, tetap saja itu mungkin hanya dianggap sebagai angka. Provinsi-provinsi penyintas bencana Sumatra ini hanya 3 dari 38, demikianlah.
Sabtu, 10 Januari 2026, Arung kembali ke tanah air. Lawatannya di Bangkok berakhir. Di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh saya menyambut kedatangannya. Dia menyerahkan 1984 langsung ke tangan saya. Ngeri, ucapnya singkat.
Saya paham maksud Arung. Kami akan melewati malam-malam yang agak panjang, berikut diskusi-diskusi mendalam. Saya kembali harus mengingat-ingat bacaan lama ini, supaya punya bahan diskusi yang ‘berdaging’.
Ya, Smith dipaksa mengakui dua tambah dua sama dengan lima. “If you want a picture of the future, imagine a boot stamping on a human face—forever,” tulis Orwell. Ini menggambarkan bagaimana seseorang harus menerima kenyataan pahit jika melakukan perlawanan. Rezim totalitarian tentu tak pernah mengimpikan sebuah masyarakat yang ideal, rezim ini berhasrat melakukan dominasi permanen atas manusia. “Reality exists in the human mind, and nowhere else,” imbuhnya.
Sebagai musuh rezim, Smith harus menerima balasan pahit. Orwell menggambarkan dengan kalimat; We do not merely destroy our enemies, we change them. Smith menjadi zombie hidup ketika keluar dari ladang penyiksaan itu, dia tak lagi memberontak, jauh dari sikap kritis bahkan tak lagi berhasrat pada Julia.
“Rung, Freedom is slavery, ignorance is strength,” kata saya. Arung mendebat dengan sengit. Bagaimana mungkin? Dia tak terima. Namun setidaknya, itulah yang diungkap Orwell.
“Ini berbahaya untuk demokrasi. Apa lagi kalau kebebasan berbicara dibatasi. Jangankan berbicara, berpikir pun dibatasi. Bagaimana mungkin negara diurus dengan kebohongan dan kontrol sedemikian ketat?” ketus Arung.
Saya setuju, apa mungkin pula demokrasi menjadi kesilapan umat manusia yang kelima? Atau totalitarian menjadi yang keenam? tanya saya. Pamungkas malam itu, Arung berbisik, apakah 2024-2029 sama dengan 1984? Saya meletakkan telunjuk di antara dua bibir dan mendesis.






