BMKG Prediksi Sumbar Bakal Diguyur Hujan, Asap Karhutla Diperkirakan akan Berkurang

Meski sempat diguyur hujan beberapa hari yang lalu, namun saat ini kondisi Kota Padang kembali diselimuti kabut tebal. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyebu

Kondisi Kota Padang yang diselimuti kabut asap beberapa hari ini. [foto: Diskominfo Kota Padang]

Langgam.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi kabut asap di Sumatera Barat (Sumbar) belum membaik secara signifikan hingga 23 Oktober 2026. Konsentrasi asap diperkirakan mulai membaik pada 24 Oktober 2026 seiring potensi hujan yang cukup signifikan dan merata di wilayah Sumbar.

Berdasarkan dokumen Informasi Hotspot dan Potensi Karhutla Provinsi Sumatera Barat periode 21–23 Oktober 2026, arah angin masih bertiup dari tenggara menuju Sumbar. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi konsentrasi asap di wilayah tersebut.

Ketua Tim Publikasi dan Diseminasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumbar dipengaruhi asap dari Sumatera Selatan dan Jambi yang terbawa angin tenggara.

Menurut Yudha, perlambatan angin di wilayah Sumbar juga berpotensi menyebabkan asap terakumulasi sehingga kondisi kabut asap bertahan lebih lama.

“Aktivitas titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan tercatat meningkat. Sebaliknya, jumlah titik panas di Provinsi Jambi mengalami penurunan secara signifikan,” tuturnya.

Berdasarkan dokumen tersebut, Sumatera Selatan mencatat 898 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang dan 24 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sementara itu, di Jambi tercatat 82 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan lima titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Adapun di Provinsi Riau, panel pemantauan menunjukkan empat titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang dan tidak ada titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Di Sumbar, panel pemantauan menunjukkan enam indikasi titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang dan tidak ada titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Indikasi tersebut terdeteksi di Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan.

Selain pemantauan titik panas, BMKG juga mencatat kondisi konsentrasi partikulat di Sumbar. Secara umum, rata-rata konsentrasi PM2.5 berada pada kategori sedang, sedangkan PM10 berada pada kategori baik.

Meski demikian, nilai maksimum PM2.5 mencapai 64 dengan kategori tidak sehat. Sementara itu, nilai maksimum PM10 tercatat 75 dengan kategori sedang. Dokumen tersebut menyebut nilai maksimum PM2.5 meningkat signifikan meskipun rata-rata konsentrasinya masih berada pada kategori yang sama.

Selain kabut asap, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumbar juga perlu diwaspadai. Berdasarkan indeks kemudahan terbakar atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC), kategori mudah hingga sangat mudah terbakar masih terpantau di sejumlah wilayah, terutama di bagian timur Sumbar, dalam tiga hari ke depan.

Wilayah yang masuk dalam kategori tersebut meliputi Kabupaten Pasaman, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, Kota Sawahlunto, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, dan Kota Payakumbuh. Wilayah yang tercantum berbeda pada masing-masing peta pemantauan.

BMKG menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan tingkat kekeringan bahan bakaran di lapisan atas tanah cukup tinggi. Akibatnya, bahan bakaran di permukaan relatif lebih mudah terbakar, terutama di wilayah dengan kategori mudah hingga sangat mudah.

Untuk kondisi cuaca, peringatan dini hujan pada 21 Oktober 2026 tercatat nihil. Sementara itu, pada 22 Oktober 2026, status waspada hujan dicantumkan untuk Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Bukittinggi, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, Lima Puluh Kota, Kabupaten Solok, Solok Selatan, dan sekitarnya.

“BMKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi udara kabur dan sebaran asap dengan konsentrasi yang bervariasi di sejumlah wilayah Sumbar,” tuturnya.

Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta membatasi kegiatan di luar rumah bagi kelompok rentan. (fx)

Baca Juga

Dinas Perdagangan (Disdag) mengingatkan kepada produsen dan pedagang untuk tidak melakukan penimbunan barang jelang Ramadan dan Lebaran 2025.
Harga Cabai Jawa di Pasar Raya Padang Kembali Naik Jadi Rp75 Ribu
Asap Karhutla, Puskesmas di Padang Catat 428 Pasien ISPA Sejak Awal Oktober
Asap Karhutla, Puskesmas di Padang Catat 428 Pasien ISPA Sejak Awal Oktober
Tabrakan Truk di Sitinjau Lauik, Lalu Lintas Macet Panjang
Tabrakan Truk di Sitinjau Lauik, Lalu Lintas Macet Panjang
Walikota Padang, Fadly Amran.
Mitigasi Banjir, Pemko Padang Kaji Ulang RTRW 
Pembangunan Bronjong Penahan Banjir SMPN 41 Padang Dihentikan Sementara
Pembangunan Bronjong Penahan Banjir SMPN 41 Padang Dihentikan Sementara
Disdikbud menginteruksikan siswa memakai masker untuk mengantisipasi dampak asap karhutla.
Asap Karhutla, Pemko Padang Perpanjang PJJ hingga Rabu 21 Oktober 2026