Langgam.id – Banjir yang kembali melanda Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) menyisakan trauma bagi warga Kampung Apar dan penghuni Perumahan Lumin Park, Kecamatan Koto Tangah. Selain rumah yang rusak dan harta benda yang terendam, warga kini dihantui ketakutan setiap kali hujan turun.
Bagi sebagian warga, banjir kali ini mengingatkan mereka pada bencana serupa yang terjadi pada akhir 2025. Mereka berharap pemerintah memberikan bantuan untuk memulihkan kondisi rumah dan kebutuhan sehari-hari. Relokasi ke kawasan yang lebih aman juga menjadi harapan untuk menghindari bencana serupa terulang.
Nurbaiti, warga Kampung Apar, mengatakan banjir kembali merusak rumahnya dan rumah sejumlah anggota keluarganya. Sambil mencuci pakaian yang kotor di aliran sungai bekas banjir, ia menunjuk dinding rumah yang jebol dihantam derasnya arus.
“Bencana sebelumnya kakak saya dapat bantuan perbaikan rumah dan saya belum bersama adik saya. Sekarang datang banjir lagi, rumah kakak saya kembali rusak. Beginilah kondisinya sekarang,” katanya.
Nurbaiti mengatakan, keluarganya masih kesulitan memenuhi kebutuhan makanan. Pakaian mereka juga banyak yang terendam sehingga tidak bisa digunakan. Saat banjir datang, ia tidak sempat menyelamatkan seluruh barang, termasuk pakaian anak-anak untuk bersekolah.
“Dalam rumah setinggi dada, baju kami basah semua, termasuk baju anak untuk sekolah. Untuk makan saat ini kami hanya mengandalkan mi instan, bantuan makanan masih belum merata,” ujarnya.
Kondisi tersebut semakin menekan perekonomian keluarganya. Suami Nurbaiti bekerja sebagai kuli serabutan, sedangkan dirinya berjualan makanan di dekat bendungan yang jebol pada tahun lalu.
Dengan rumah yang kembali rusak dan aktivitas ekonomi yang terganggu, ia mengaku kesulitan untuk kembali bekerja seperti biasa.
“Suami kerja sebagai kuli serabutan, saya berjualan makanan di dekat bendungan yang jebol tahun lalu. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana kami mau bekerja,” ujarnya.
Selain bantuan untuk memulihkan kondisi rumah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nurbaiti berharap pemerintah mempertimbangkan relokasi warga ke tempat yang lebih aman. Pengalaman saat banjir datang membuatnya dan keluarga masih diliputi ketakutan.
“Kami sampai berlindung di atas plafon rumah, air datang mendadak. Terdengar teriakan orang-orang menyebutkan banjir sehingga kami berusaha melindungi diri di rumah,” tuturnya.
Takut Setiap Hujan Turun
Trauma serupa dirasakan Nurlis, warga Kampung Apar lainnya. Ia mengatakan, air datang begitu cepat hingga dirinya tidak sempat menyelamatkan diri ke tempat lain. Nurlis sempat berusaha mengeluarkan sepeda motor dari rumah, tetapi air sudah masuk sebelum ia berhasil menjauh.
“Kita sempat mengeluarkan motor, namun baru sampai di luar rumah air sudah masuk ke dalam rumah. Kita terkepung oleh air, tak sempat lari, kita kemudian naik ke atas loteng rumah,” ungkapnya.
Setelah kejadian itu, Nurlis mengaku mulai merasa khawatir setiap kali hujan turun, bahkan ketika intensitasnya masih ringan. Ia takut banjir kembali datang dan mengancam keselamatan keluarganya.
“Sekarang kalau sudah gerimis saja itu kita berdebar-debar takut kondisi yang sama akan terulang. Kita juga menyayangkan sebenarnya, kejadian seperti ini baru terjadi di tahun 2025 dan sekarang. Sebelum-sebelumnya tidak pernah, saya pribumi asli sini hingga sampai memiliki cucu, kondisi ini baru yang pertama kali kami rasakan,” tuturnya.
Karena itu, Nurlis menyambut baik apabila Pemerintah Kota Padang mengambil kebijakan relokasi bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir. Menurutnya, pemindahan ke tempat yang lebih aman dapat memberikan ketenangan bagi warga yang kini masih dihantui ketakutan.
Penghuni Lumin Park Pertimbangkan Pindah
Ketakutan terhadap banjir juga dirasakan penghuni Perumahan Lumin Park. Salah seorang penghuni yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dampak bencana tidak hanya dirasakan saat air mulai memasuki rumah, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis anak-anaknya.
“Jangankan pada saat banjir, waktu mulai mendung dan hujan saja membuat anak-anak takut. Mereka berteriak, ‘Mendung-mendung, sebentar lagi mau banjir,’ itu kata mereka,” ungkapnya.
Pasca-banjir, ia mengaku mulai mempertimbangkan untuk pindah dari kawasan tersebut. Namun, keputusan itu tidak mudah karena keluarganya merupakan perantau dari luar Kota Padang. Selain harus mencari tempat tinggal baru, mereka juga mempertimbangkan nilai aset yang telah dikeluarkan untuk memiliki rumah di kawasan tersebut.
Menurutnya, jika pemerintah menawarkan relokasi, ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan, terutama kesetaraan nilai aset dan investasi yang telah dikeluarkan warga.
“Jika direlokasi masih 50-50 ya, karena ada beberapa catatan apakah penggantinya memiliki investasi dan nilai yang setara. Meskipun secara psikologis kami cukup trauma karena jujur saja nilai kenyamanan tinggal kami pertimbangkan untuk memiliki hunian di lokasi ini,” katanya.
Ia mengaku keinginan untuk pindah semakin kuat setelah banjir kembali terjadi. Namun, sebagai perantau, ia dan keluarganya belum mengetahui ke mana harus mencari tempat tinggal baru.
“Pasca-bencana ini kami memiliki pikiran untuk pindah, cuma mau pindah ke mana kami tidak tahu karena kami mayoritas di sini adalah perantau,” tutupnya. (HER)






