Langgam.id — Warga Koto Baru, Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mulai mengembangkan berbagai produk olahan Kopi Bantjah untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal tersebut. Didukung PT Semen Padang melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), pengembangan ini turut membuka peluang usaha bagi perempuan dan generasi muda.
Sebanyak 10 perempuan di RW 5 dan RW 6 Koto Baru kini terlibat dalam pengolahan produk turunan kopi. Produk yang dikembangkan beragam, mulai dari cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi, cascara, selai kopi, hingga aneka kue.
Salah seorang penggerak pengembangan produk turunan Kopi Bantjah, Milawati, mengatakan diversifikasi produk dilakukan setelah masyarakat mendapatkan pelatihan yang didukung PT Semen Padang. Dari pelatihan tersebut, warga mulai mengolah kopi menjadi berbagai produk yang memiliki peluang pasar berbeda.
“Untuk produk turunan Kopi Bantjah ada cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi dari kopi, teh khas cascara dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan, selai kopi, dan dua jenis kue yang juga sedang kami kembangkan,” ujar Milawati, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, pengembangan produk tersebut masih berada pada tahap awal. Pemasaran sementara dilakukan di sekitar Kota Padang, termasuk melalui bazar untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.
“Untuk sementara masih sekitar Kota Padang. Karena produk turunannya masih baru kami buat, kemarin baru kami bawa ke bazar-bazar,” katanya.
Milawati menjelaskan, pengolahan kopi menjadi produk turunan juga memberikan ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Jika sebelumnya aktivitas usaha lebih banyak bertumpu pada petani dan penjualan hasil panen, kini warga mulai mengembangkan usaha pengolahan.
“Kami berusaha memberdayakan ibu-ibu yang berada di sekitar Koto Baru, terutama di RW 5 dan 6. Yang aktif sekitar 10 orang. Mereka kami berdayakan untuk mengolah produk turunan kopi,” tuturnya.
Untuk meningkatkan keterampilan, lima warga telah mengikuti pelatihan pengolahan produk turunan kopi di Royal Asia Hotel. Pelatihan tersebut memberikan pengetahuan mengenai berbagai cara mengolah kopi, termasuk memanfaatkan bagian buah yang belum banyak digunakan sebagai produk bernilai ekonomi.
“Kami sangat banyak mendapatkan dukungan dari PT Semen Padang. Kami diikutkan pelatihan di Royal Asia Hotel. Ada lima orang yang mengikuti pelatihan produk turunan ini. Kami mendapatkan beberapa jenis produk yang bisa dibuat dari turunan kopi, sehingga sekarang mulai kami kembangkan sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Salah satu produk yang dikembangkan adalah cascara, minuman seduhan dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan. Produk ini menjadi salah satu upaya memanfaatkan bagian buah kopi yang berpotensi terbuang. Selain itu, pengembangan lilin aromaterapi berbahan kopi memperluas pemanfaatan komoditas tersebut ke produk kreatif nonpangan.
Keterlibatan masyarakat juga diperluas kepada generasi muda melalui pelatihan barista. Langkah ini diharapkan membuka kesempatan bagi anak muda untuk terlibat dalam pengolahan, penyajian, hingga pemasaran kopi.
“Untuk Gen Z, kami juga sudah memasukkan mereka dalam pelatihan barista. Jadi semua kalangan kami usahakan untuk terlibat dalam Kopi Bantjah ini,” kata Milawati.
Didukung Sejak 2023
Pengembangan produk turunan tersebut melanjutkan upaya penguatan Kopi Bantjah di tingkat hulu. PT Semen Padang telah memberikan pendampingan kepada kelompok petani kopi setempat sejak 2023, sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Ketua Kelompok Petani Kopi Bantjah, Yulisman, mengatakan dukungan tersebut membantu kelompok dalam mengembangkan komoditas kopi sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.
“PT Semen Padang secara konsisten mendukung pengembangan Kopi Bantjah. Kami juga mulai memberikan dampak bagi masyarakat sehingga terus mendapatkan bantuan dan dukungan,” ujar Yulisman.
Menurutnya, Koto Baru merupakan kawasan Ring 1 PT Semen Padang. Pendampingan yang diberikan perusahaan menjadi salah satu dukungan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal yang dimiliki.
Saat ini, kelompok Kopi Bantjah memiliki 36 petani terdata, dengan sekitar 31 orang di antaranya masih aktif. Luas lahan yang didata bersama PT Semen Padang dan tenaga ahli dari Solok Radjo mencapai sekitar 29 hektare.
Meski demikian, produksi kelompok masih relatif terbatas. Dalam setahun, produksi berada pada kisaran satu ton buah kopi merah atau cherry. Setelah melalui pengolahan, jumlahnya menjadi sekitar 200 kilogram green bean atau biji kopi hijau.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan produk turunan dinilai penting. Melalui diversifikasi, masyarakat dapat mengoptimalkan potensi kopi tidak hanya dari penjualan biji, tetapi juga dari pengolahan menjadi produk siap konsumsi dan barang kreatif.
Semen Padang Dorong Kemandirian Masyarakat
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, mengatakan program TJSL pengembangan Kopi Bantjah diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi ekonomi lokal.
Menurutnya, pengembangan komoditas tidak cukup hanya berfokus pada produksi di tingkat kebun. Pengolahan, diversifikasi produk, dan perluasan keterlibatan masyarakat juga diperlukan agar nilai tambah dapat dinikmati lebih luas.
“Melalui program TJSL ini, kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya. Kopi Bantjah memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh, termasuk melalui produk-produk turunannya,” ujar Win.
Ia berharap pengembangan Kopi Bantjah dapat membentuk aktivitas ekonomi yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari petani, perempuan pengolah produk, hingga generasi muda.
Dengan demikian, manfaat komoditas kopi tidak hanya berasal dari hasil panen, tetapi juga dari peluang usaha yang muncul melalui proses pengolahan dan pemasaran.
“Harapan kami, Kopi Bantjah tidak hanya berkembang sebagai komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan adanya produk turunan, semakin banyak masyarakat yang dapat terlibat dan semakin besar pula peluang nilai tambah yang bisa diciptakan di tingkat lokal,” katanya.
Win menegaskan, PT Semen Padang memandang program TJSL sebagai upaya membangun kemandirian masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media.
“Yang ingin kami bangun bukan ketergantungan masyarakat kepada perusahaan, tetapi kemampuan masyarakat untuk semakin mandiri. PT Semen Padang hadir sebagai mitra yang mendengar kebutuhan, mendukung potensi, dan bergerak bersama berbagai pemangku kepentingan,” tuturnya.
Pengembangan Kopi Bantjah kini memasuki tahap memperluas pemanfaatan komoditas melalui produk turunan. Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan PT Semen Padang, warga Koto Baru berupaya membangun peluang usaha yang melibatkan lebih banyak masyarakat sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kopi lokal. (HER)






