Langgam.id – Sebatang kayu tampak menyangga atap kedai makanan ringan milik Afrida di Kampung Apa, Lubuk Rayo, Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Minggu (11/10/2026) sore. Tiang utama kedai berbahan kayu itu patah dihantam arus banjir sehari sebelumnya.
Batu-batu kali dan bongkahan kayu masih berserakan di halaman. Sementara itu, lumpur dan pasir mengendap di dalam rumah. Sejumlah perabotan yang basah dikeluarkan dan dijemur di sekitar bangunan.
Di depan kedai yang rusak, Afrida duduk bersama anak laki-lakinya. Mereka menikmati minuman dingin di tengah kondisi rumah yang belum kembali seperti semula setelah diterjang banjir.
Banjir yang melanda kawasan tersebut pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 14.30 WIB tidak hanya merusak rumah dan tempat usaha Afrida, tetapi juga memaksanya menyelamatkan anak-anak dan cucunya dengan menerobos banjir melalui semak-semak di belakang rumah.
Peristiwa itu bermula ketika hujan deras mengguyur Kota Padang dan sekitarnya. Debit air Sungai Batang Air Lubuk Minturun meningkat hingga menyebabkan banjir di permukiman warga.
Namun, menurut Afrida, air yang menerjang rumahnya juga berasal dari saluran irigasi di sisi kanan bangunan. Ketika debit air meningkat, saluran pembuangan tepat di depan kedainya runtuh. Air kemudian melimpah dan menerjang halaman rumahnya.
Dalam hitungan menit, air di halaman mencapai sekitar 80 hingga 100 sentimeter. Sementara itu, air yang masuk ke dalam rumah mencapai sekitar 50 sentimeter.
“Di dalam rumah sudah capai pinggang saya airnya. Sedangkan di halaman sudah sedada saya,” kata Afrida, Minggu (11//10/2026).
Melihat air terus meninggi, Afrida bergegas memanggil anak-anaknya agar segera menyelamatkan diri. Namun, saat itu anak-anaknya masih berada di dalam kamar dan tidak langsung menjawab panggilannya.
“Saya panggil anak-anak tidak ada yang menjawab. Saya di belakang rumah, sedangkan mereka masih dalam kamar,” ujarnya.
Derasnya arus banjir juga menyeret sepeda motor milik salah seorang anaknya hingga sekitar 30 meter dari tempat semula diparkir. Kendaraan itu akhirnya ditemukan kembali di dekat lokasi genangan, tetapi mengalami kerusakan dan tidak bisa dihidupkan.
“Motor sudah korslet dan butuh biaya perbaikan banyak,” tuturnya.
Situasi di dalam rumah semakin mengkhawatirkan. Afrida dan keluarganya sempat berpikir untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Namun, rumah tersebut tidak memiliki tangga atau akses menuju loteng yang bisa digunakan untuk menghindari genangan.
Mereka akhirnya memilih keluar melalui pintu belakang. Dengan kondisi air yang terus meninggi, Afrida menggendong cucunya yang masih kecil, didampingi empat orang anaknya. Mereka menerobos semak-semak di belakang rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.
“Kami tidak bisa naik ke loteng. Tak ada tempat untuk memanjat. Kami keluar lewat pintu belakang, menerobos banjir dan melewati semak-semak di belakang rumah,” ucapnya.
Dalam situasi tersebut, Afrida dan keluarganya terpaksa meninggalkan seluruh barang di dalam rumah, termasuk peralatan memasak, uang, dan dokumen penting.
“Terutama uang sudah tidak ada, hanyut mungkin. Sedangkan surat-surat rumah basah,” ucapnya.
Setelah berhasil menjauh dari kepungan banjir, Afrida membawa anak-anak dan cucunya mengungsi ke rumah salah seorang saudaranya di kawasan Simpang Lampu Merah Lubuk Minturun.
Malam itu, mereka bertahan di rumah saudaranya. Meski bersyukur seluruh anggota keluarganya selamat tanpa mengalami luka, Afrida masih mengkhawatirkan kondisi rumah dan barang-barang yang ditinggalkan.
Ia baru kembali ke rumah pada Minggu pagi untuk melihat kondisi bangunan dan membersihkan sisa banjir. Namun, kondisi rumahnya sudah berantakan. Pintu utama rusak, sementara lantai dan sejumlah sudut ruangan dipenuhi endapan lumpur dan pasir.
“Setelah balik ke rumah, sudah berantakan isi rumah. Pintu tidak bisa dipasang. Lumpur dan pasir mengendap dalam rumah,” ujarnya.
Batu-batu sisa banjir masih memenuhi halaman. Kasur, sofa, perabot dapur, dan peralatan memasak juga basah serta dipenuhi lumpur.
Sejak pagi hingga sore, Afrida bersama warga sekitar bergotong royong membersihkan sisa-sisa banjir. Sejumlah personel kepolisian turut membantu proses pembersihan. Barang-barang yang basah dikeluarkan dari rumah dan dijemur di halaman.
Namun, kondisi rumah yang masih dipenuhi lumpur membuat Afrida dan keluarganya belum bisa kembali tinggal di sana. Mereka memutuskan melanjutkan pengungsian di rumah saudaranya.
Rencananya, pada Selasa mendatang, Afrida bersama warga dan pihak kepolisian akan kembali bergotong royong membersihkan sisa lumpur di rumahnya.
“Malam ini kami masih mengungsi ke rumah saudara. Rumah belum bisa dihuni. Kasur basah, lumpur masih ada,” katanya.
Banjir juga merusak kedai makanan ringan yang berada di depan rumahnya. Padahal, kedai tersebut menjadi salah satu tempat usaha yang menopang kebutuhan hidup keluarganya.
Kini, selain harus membersihkan rumah, Afrida juga memikirkan biaya untuk memperbaiki bangunan tempat tinggal dan kedainya agar bisa kembali digunakan.
Ia berharap ada bantuan untuk memulihkan rumah sekaligus tempat usahanya sehingga keluarganya dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
“Semoga ada bantuan untuk memperbaiki rumah dan tempat usaha. Ingin rumah kembali bisa ditempati dan kedai dapat digunakan untuk mencari nafkah,” pungkasnya. (WAN)






