Langgam.id — Pemerintah menyiapkan sekitar Rp115 miliar untuk membantu pemulihan 38.507 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terdampak bencana di Sumatera Barat.
Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Yuni Moraza mengatakan, dukungan tersebut diberikan melalui program Peningkatan Kapasitas Wirausaha Terdampak Bencana melalui Klinik UMKM Minang Bangkit Regional II Sumatera Barat.
Program tersebut digelar di Auditorium Universitas Andalas, Padang, Jumat (2/10/2026), dan diikuti sekitar 800 pelaku UMKM terdampak bencana.
“Tujuannya bukan sekadar dana hibah yang bisa digunakan suka-suka. Tujuannya adalah untuk pemberdayaan dan pemulihan usaha,” ujar Helvi.
Ia mengatakan, bantuan tersebut tidak hanya berupa dukungan pembiayaan. Pelaku UMKM juga diwajibkan mengikuti pelatihan dan pendampingan agar usaha mereka dapat kembali berjalan dan berkembang secara berkelanjutan.
Pelatihan tersebut mencakup literasi keuangan, pencatatan transaksi melalui perbankan, peningkatan kapasitas produksi hingga akses pasar.
Menurut Helvi, pencatatan transaksi menjadi penting karena dapat menunjukkan perkembangan usaha pelaku UMKM. Data tersebut nantinya juga dapat menjadi dasar untuk membuka peluang pembiayaan dan mendorong pelaku usaha naik kelas.
“Jadi bukan hanya diberikan bantuan, tetapi kita dampingi. Kita latih bagaimana mengelola usahanya, bagaimana mencatat transaksi dan bagaimana mengakses pasar,” katanya.
Dalam program tersebut, Kementerian UMKM juga menggandeng Universitas Andalas melalui lembaga inkubator bisnis untuk memberikan pendampingan lanjutan kepada pelaku usaha.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk, pemanfaatan teknologi, memperluas akses pasar serta mengembangkan usaha pelaku UMKM terdampak bencana.
Gubernur Sumatera Barat mengatakan dukungan tersebut penting karena UMKM menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
“Hampir 750.000 UMKM di Sumatera Barat. Kalau satu UMKM satu keluarga, hampir 4 juta masyarakat kita bergerak di UMKM dari sekitar 6 juta penduduk Sumatera Barat,” ujar Gubernur.
Menurutnya, bencana tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. UMKM menjadi salah satu kelompok yang terdampak karena sangat bergantung pada kelancaran transportasi dan pergerakan konsumen.
Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya memastikan akses transportasi tetap berjalan ketika terjadi bencana. Hal tersebut dinilai penting agar aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang jalur terdampak tetap dapat berlangsung.
Gubernur mengapresiasi perhatian pemerintah pusat yang tidak hanya memberikan bantuan kepada UMKM terdampak, tetapi juga menyediakan pelatihan dan pendampingan.
Ia menilai pemulihan UMKM seharusnya tidak sekadar mengembalikan kondisi usaha seperti sebelum bencana. Pelaku usaha harus didorong untuk meningkatkan kapasitas dan naik kelas.
“Bukan hanya sekadar pulih sebagaimana sebelumnya, tapi bagaimana UMKM kita ini bisa naik kelas. Lebih kuat, lebih adaptif, mampu memanfaatkan digitalisasi dalam pemasaran dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” katanya.
Menurutnya, peningkatan kualitas produk, kemasan, pengelolaan keuangan, digitalisasi pemasaran, perluasan pasar, jejaring kemitraan dan akses pembiayaan menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Ia juga mengajak pelaku UMKM memanfaatkan program pemerintah dan tidak berhenti berusaha meskipun menghadapi dampak bencana.
“Jangan takut untuk memulai kembali. Dan jangan biarkan bencana menghentikan langkah-langkah kita,” pesannya.
Rektor UNAND Efa Yonnedi mengatakan bahwa bencana berdampak langsung pada keberlangsungan UMKM, mulai dari terhentinya produksi hingga terganggunya pasar, logistik, modal, dan jaringan usaha.
Untuk mendukung pemulihan, UNAND menyediakan ekosistem pendampingan melalui Science Techno Park, inkubator bisnis, laboratorium, serta kepakaran lintas bidang. Dukungan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan dan pengujian produk, perlindungan kekayaan intelektual, serta pendampingan usaha.
Rektor mengajak peserta memanfaatkan kegiatan ini sebagai pintu masuk untuk memperoleh pengetahuan dan membangun pendampingan lanjutan bersama UNAND. (HER)






