Ritual Saban Tahun Li Kian Guan: Menyapa Bayang Abang di Tugu Gempa Padang

Langgam.id- Waktu menunjukkan pukul 17.17 WIB ketika tanah Sumatra Barat, diguncang gempa berkekuatan 7,6 skala Ricther 17 tahun silam.

Dari sebuah bangunan rumah, yang berjarak tak lebih dari 50 meter dari Tugu Gempa Padang itu, tampak seorang pria lanjut usia berjalan pelan. Pria berusia 76 tahun itu adalah Ridwan, atau Li Kian Guan.

Dengan balutan baju hijau berlogo Himpunan Bersatu Teguh (HBT) bertrim bis merah di bagian kerah, dipadu celana pendek outdoor, langkah kakinya perlahan menapak trotoar jalan yang mulai teduh.

Di jemari tangannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik hitam. Di dalam kantong plastik itulah, tersimpan beberapa batang lilin merah yang akan menjadi perantara doa dan kenangannya.

Bagi Ridwan, melangkah 30 meter usai pukul 17.17 WIB setiap tahunnya bukan sekadar jalan sore biasa, melainkan sebuah janji suci untuk menemui nama saudaranya yang terukir di prasasti Tugu Gempa.

Di sinilah, di lokasi yang dahulu merupakan kawasan Gedung Santo Yusuf, tempat sang kakak tercinta Edi Hermanto atau Chua Teng Tok menghembuskan napas terakhirnya saat gempa dahsyat berskala 7,6 SR meluluhlantakkan Kota Padang pada 30 September 2009 silam.

Dengan telaten, Ridwan mengeluarkan lilin-lilin merah dari kantong plastiknya dan menyalakannya tepat di depan tugu sang kakak.

Nyala api merah bergoyang ditiup angin sore Padang, memancarkan cahaya merah di antara hamparan kelopak bunga. Di sanalah Ridwan menundukkan kepala, mengatupkan kedua tangan, dan berdoa sesuai ajaran iman Katolik yang dianutnya.

“Ya sembahyang tadi dalam hati, supaya dia selamat-selamat dan bahagia di sana. Bakar lilin itu sudah tradisi, dalam gereja Katolik itu, biasa untuk mendoakan yang telah pergi,” kata Li Kian Guan usai sembahyang.

Kenangan akan hari naas itu masih terekam jelas di ingatan Ridwan. “Saat kejadian saya berpada di kampung Nias. Waktu seperti sore ini, orang orang dekat sana sudah pada panik karena melihat gedung mulai hancur. Saya panik cemas semuanya bercampur Waktu itu, dan saya langsung ke rumah melihat kondisi,” katanya.

Sementara itu, kakaknya, Edi Hermanto, bukanlah sosok sembarangan. Mendiang adalah mantan atlet angkat berat kebanggaan Indonesia, yang pernah mengharumkan
nama bangsa di kancah internasional sebagai juara dunia.

Namun, ketangguhan fisik tak mampu menandingi dahsyatnya gempa pada 17 tahun yang lalu.
Tepatnya pada Rabu sore, Edi baru saja kembali dari bandara, setelah menjemput anaknya, meski penerbangan saat itu dibatalkan

Ketika di rumah, ia Bersama istri dan iparnya, tepat pada pukul 17.16 WIB, mereka merasakan guncangan gempa yang berkuatan besar itu, sehingga bangunan rumanya runtuh

Hingga balok rumahnya menimpa tubuh Edi, menghentikan derak napas sang juara dunia untuk selamanya, sementara istri dan iparnya selamat dari tragedi tersebut.

“Keesokan harinya, sosok jenazahnya dievakuasi oleh tim pencarian,” ingatnya.

Rumah Edi Hermanto yang roboh itu berdiri di samping Bioskop Karia. Namun bagi Ridwan keberadaan Tugu Gempa yang dibangun oleh perkumpulan Himpunan Bersatu Teguh (HBT), yang digagas oleh Andreas Sofiandi sejak tahun 2010 menjadi ruang
personal baginya untuk merawat ikatan persaudaraan.

“Kalau Edi Hermanto masih hidup, umurnya sekarang 78 tahun. Dia lebih tua dua tahun dari saya,” tutur Ridwan saat menunjuk nama Edi Hermanto.

Lanjutnya, dengan keberadaan tunggu ini, dirinya bisa melepas rindu dan mendoakan sang kakak setiap tahunnya.

“Sejak tugu ini dibangun tahun 2010,setiap tahun saya selalu datang ke sini” imbuhnya.

Tradisi menyalakan lilin dan menabur bunga di Tugu Gempa, menjadi bentuk perpaduan antara
kearifan lokal masyarakat Tionghoa Padang dan nilai-nilai spiritualitas Katolik.

Nyala lilin melambangkan harapan dan terang kristus yang menuntun jiwa-jiwa menuju kedamaian abadi, sementara taburan bunga menjadi simbol wangi penghormatan, dan kasih yang tak pernah pudar oleh waktu.

“Bakar lilin sudah menjadi kebiasaan nenek moyang dan tradisi iman kami. Ini bentuk pengungkapan kasih dan doa kami agar beliau damai di sisi Tuhan,’ katanya.

Meski 17 tahun sejak kepergian sang kakak, ikatan keluarga itu tak pernah putus. Istri dan anak-anak mendiang Edi Hermanto yang kini menetap di luar Sumbarpun masih berkala berkunjung ke Padang untuk berziarah.

“Tugu Gempa menjadi pengingat bagi siapa saja yang melintas ke sini,” ucapanya. (HER)

Baca Juga

17 Tahun Gempa Padang: Wako Fadly Amran Pimpin Doa dan Tabur Bunga di Monumen Gempa
17 Tahun Gempa Padang: Wako Fadly Amran Pimpin Doa dan Tabur Bunga di Monumen Gempa
Kepala BNPB Suharyanto dalam Konferensi Internasional Penanggulangan dan Mitigasi Bencana ke-3 atau 3rd ICDMM
Refleksi 16 Tahun Gempa Padang, Kepala BNPB: Mitigasi Harus Berbasis Riset
Sumbar Diguncang 159 Gempa Sebulan Terakhir, Sehari Bisa Capai 15 Kali
Gempa Dangkal 3,4 Skala Richter Guncang Kota Padang
Gempa 30 september
14 Tahun Gempa Padang, Pemko Imbau Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana
Langgam.id - Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) diguncang gempa dangkal dengan magnitudo 3,9 menjelang magrib hari ini, Senin (26/9/2022).
Padang Diguncang Gempa Dangkal Jelang Magrib
gempa-magnitudo-64-guncang-mentawai-selang-5-jam-dari-gempa-sebelumnya
Gempa Magnitudo 4,4 Guncang Padang, Terasa Hingga ke Pesisir Selatan