LANGGAM.ID– Upaya membangun model pengembangan manusia yang tidak hanya menekankan aspek kompetensi, tetapi juga kematangan spiritual dan kebijaksanaan hidup, terus mendapat perhatian kalangan akademisi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang dalam kegiatan Workshop Penyempurnaan Modul Coaching Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf, yang diselenggarakan di Aula Mini Lantai III Gedung I FUSA UIN Imam Bonjol Padang, Selasa (28/7/2026).
Workshop tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring akademik lintas perguruan tinggi sekaligus menyempurnakan modul Coaching Membangun Jiwa Merdeka yang selama ini dikembangkan Fakultas Filsafat UGM bersama berbagai mitra akademik sejak tahun 2019.
Melalui forum ilmiah ini, kedua institusi sepakat memperkaya pendekatan coaching dengan mengintegrasikan khazanah filsafat Islam, tradisi intelektual Minangkabau, serta nilai-nilai tasawuf sebagai fondasi pembentukan karakter manusia Indonesia yang utuh.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FUSA UIN Imam Bonjol Padang Junizar Suratman menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Fakultas Filsafat UGM yang memilih FUSA sebagai mitra strategis dalam penyempurnaan modul coaching tersebut.
Menurutnya, kerja sama ini menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan modern membutuhkan dialog yang terbuka dengan berbagai tradisi intelektual yang berkembang di Indonesia.
“Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama menyambut baik kolaborasi ini sebagai ruang bertemunya pemikiran filsafat, spiritualitas Islam, dan kearifan lokal. Tradisi intelektual Minangkabau memiliki kekayaan perspektif yang sangat relevan untuk memperkaya pendekatan coaching yang berorientasi pada pembentukan karakter dan kemerdekaan jiwa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa UIN Imam Bonjol Padang memiliki tanggung jawab akademik untuk terus menghadirkan gagasan-gagasan keilmuan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa melepaskan akar tradisi keislaman yang telah berkembang di Nusantara selama berabad-abad.
Ketua Tim Pengabdian Fakultas Filsafat UGM Heri Santoso menjelaskan bahwa program Coaching Membangun Jiwa Merdeka merupakan hasil pengembangan yang telah dimulai sejak tahun 2019.
Ia menerangkan bahwa perjalanan penyusunan modul tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan pemikiran Nusantara tidak mungkin dipahami hanya melalui satu perspektif. Karena itu, dialog dengan berbagai perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan modul.
Menurut Heri, selama proses pengembangannya, tim telah banyak belajar dari tradisi filsafat Islam Jawa, pemikiran Imam Al-Ghazali, hingga pengalaman akademik bersama Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali Cilacap.
Guru Besar Filsafat Islam FUSA UIN Imam Bonjol Padang Widia Fithri menegaskan bahwa tradisi filsafat Minangkabau menyimpan nilai-nilai yang sangat kaya untuk dikembangkan menjadi pendekatan coaching yang lebih kontekstual.
Menurutnya, falsafah Minangkabau tidak hanya berbicara mengenai adat, tetapi juga mengandung pandangan hidup yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan tindakan.
“Tasawuf mengajarkan proses penyucian jiwa, sementara filsafat mengajarkan cara berpikir kritis dan reflektif. Ketika keduanya dipadukan, akan lahir pendekatan coaching yang tidak hanya membantu seseorang mencapai target hidup, tetapi juga menemukan makna kehidupannya,” ungkap Widia.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat modern yang sering kali mengalami tekanan psikologis, kehilangan orientasi hidup, dan mengalami keterputusan dengan nilai-nilai spiritual.






