Oleh: Wardas Tanjung
Langgam.id – Kemarin, saya dikirimi dua buku oleh penulisnya, Dr. Alfitri, M.S. Masing-masing berjudul “Perjalanan Pencerahan: Dari Manusia Paling Miskin hingga Homo Sovieticus dan Merawat Ingatan, Membaca Zaman”.
Buku pertama merupakan kumpulan tulisan yang pernah terbit di surat kabar Mimbar Minang sekitar tahun 2000-an. Tulisan-tulisan tersebut merupakan refleksi pemikiran penulis atas berbagai peristiwa aktual yang terjadi pada masa itu. Sementara itu, buku kedua berisi catatan atau laporan perjalanan ke berbagai daerah dan negara, yang kemudian dikaitkan dengan isu-isu yang terjadi di Tanah Air.
Tanpa melebihkan atau mengurangi apresiasi terhadap salah satu dari kedua buku tersebut, resensi yang saya buat kali ini berfokus pada buku Perjalanan Pencerahan.
Bagi saya, buku ini penuh dengan sindiran bermutu. Meski tulisan-tulisannya diangkat dari kejadian-kejadian lebih dari 25 tahun lalu dan mencerminkan keadaan pada masa itu, suasananya masih terasa hingga kini. Sepertinya, buku ini adalah cermin lama dengan wajah baru.
Misalnya, dalam tulisan berjudul “Publish or Perish”, penulis menyindir sikap seorang guru besar yang selalu menjadi bintang dalam setiap seminar, tetapi tidak memiliki satu pun karya, baik dalam bentuk buku, jurnal, maupun artikel atau kolom yang diterbitkan di surat kabar. Aib sang guru besar itu terbuka dalam sebuah seminar ketika ia menjadi keynote speaker. Di antara peserta seminar terdapat seorang mahasiswa yang kemudian mengajukan pertanyaan sederhana, tetapi telak.
“Uraian Bapak Profesor sangat bagus. Saya tertarik mendalaminya lebih lanjut. Kalau boleh, tolong saya diberitahu buku-buku atau jurnal-jurnal yang memuat pikiran-pikiran Bapak Profesor yang cemerlang itu, atau paling tidak artikel atau kolom yang Bapak Profesor tulis di surat kabar,” kata seorang mahasiswa menanggapi (hal. 26).
Sang Profesor tegang dan tergagap. Ia terdiam hingga kemudian moderator membangunkannya dari lamunan. Sementara peserta seminar semakin tegang karena ingin segera mendapatkan penjelasan dari sang Profesor.
“Hawa dingin dari AC ruang seminar tidak mampu menahan luapan keringat sang Profesor,” tulis Alfitri, menggambarkan ketegangan yang dialami sang Profesor di ruang seminar tersebut (hal. 27).
“Terima kasih, anak muda. Maaf, tidak ada yang dapat saya beritahukan padamu, karena sejak menulis disertasi dulu memang tidak ada yang saya tulis kecuali laporan-laporan untuk proyek pesanan yang memang untuk disimpan di dalam laci, bukan untuk dipublikasikan. Bahkan orasi untuk pengukuhan sebagai Profesor belum saya tulis. Maafkan saya,” jawab sang Profesor (hal. 27–28).
Kendati peristiwa itu terjadi dalam mimpi, sang Profesor tetap merasa terpukul karena kasus tersebut benar-benar ada pada dirinya. Dalam ingatannya terngiang pesan gurunya saat S-3 dulu yang berkali-kali mengatakan bahwa kewajiban seorang akademisi adalah menulis dan memublikasikannya. Kalau tidak, maka kamu akan habis. Publish or Perish.
Dalam kasus lain, seorang Profesor membatalkan niatnya mencalonkan diri sebagai kepala dinas tingkat provinsi. Hal itu terjadi gara-gara fit and proper test yang harus diikutinya atas usul seorang anggota DPRD.
Ia menolak karena yang akan melakukan fit and proper test adalah anggota DPRD.
“Apa-apaan ini. Coba kamu pikir, saya ini seorang Profesor Doktor, masa mau di-fit and proper test oleh anggota DPRD yang sebagiannya tidak tamat S-1. Apa ini masuk akal?” sergah sang Profesor kepada temannya sembari memperlihatkan undangan (hal. 59).
Temannya menanggapi bahwa fit and proper test itu tidak hanya untuk melihat dan menguji isi kepala para calon kepala dinas, tetapi juga melihat dan menilai kepribadian serta track record mereka selama ini.
“Boleh jadi isi kepalamu atau pemikiran-pemikiranmu cemerlang, tetapi yang lain belum tentu,” jelas temannya.
Sang teman kemudian meminta izin untuk berterus terang mengkritisi sikap dan karakter sang Profesor.
“Kalau saya perhatikan sepak terjangmu selama 25 tahun kita bergaul, menurut saya secara ideologis kamu itu adalah manusia three in one. Kepala dan dadamu berideologi sosialis, namun perutmu berideologi kapitalis, sementara yang di bawah perut ideologimu adalah pragmatis. Dengan keadaan yang demikian, coba kamu inap-inapkan dan renungkan lagi, apa kamu memang patut dan pantas menduduki posisi penting dan strategis itu?” papar temannya, menelanjangi sang Profesor hingga terperangah dan tak dapat berkata apa-apa lagi.
Seperti halnya sang Profesor bintang seminar, Profesor calon kepala dinas ini pun histeris dalam mimpinya sambil berucap, “Tidaaaak… tidaaaak…” (hal. 61).
Begitulah, buku ini benar-benar penuh dengan sindiran bermutu. Ada 28 judul tulisan di dalamnya. Semuanya berisi sindiran, mulai dari sindiran terhadap orang per orang, kehidupan rumah tangga, organisasi, birokrasi pemerintahan, politik, hingga kehidupan akademis di perguruan tinggi.
Oleh sebab itu, buku ini layak dibaca oleh berbagai kalangan dengan latar belakang dan profesi yang beragam. Bukan sekadar untuk menikmati kelucuan dan ketajaman sindirannya, tetapi juga untuk bercermin dan melihat kembali berbagai persoalan yang ternyata masih relevan dengan kehidupan hari ini.
“Agar kita tidak melupakan akar sejarah, dan terus melangkah bijak menuju masa depan yang lebih maju dan bermartabat,” ujar Prof. Dr. Nusyirwan Effendi pada bagian akhir kata pengantarnya dalam buku ini.
Pada akhirnya, Perjalanan Pencerahan bukan sekadar kumpulan tulisan lama. Ia menjadi semacam cermin yang memantulkan kembali wajah kehidupan kita hari ini. Wajahnya mungkin berubah, zaman berganti, tetapi sejumlah persoalan, perilaku, dan paradoks yang disindir Alfitri ternyata belum benar-benar hilang.
Judul Buku: Perjalanan Pencerahan: Dari Manusia Paling Miskin hingga Homo Sovieticus
Penulis: Dr. Alfitri, M.S.
Penerbit: PT Reformasi Jangkar Philosophia
Terbit: Juli 2026
Tebal: 114 + XIII halaman






