Langgam.id — Tim dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumbar) bersama Universitas Perintis Indonesia (Upertis) menggelar pelatihan kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bertajuk “Siaga Gizi dan Bencana” di Kenagarian Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader dalam mencegah stunting sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Kegiatan yang didanai BIMA Kemdiktisaintek melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat itu dilaksanakan di Kantor Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Batipuh Selatan.
Tim PKM terdiri dari Yuliza Anggraini, S.ST., M.Keb sebagai ketua, Chyka Febria, S.ST., M.Biomed, dosen Kebidanan UM Sumbar, serta Maria Nova, M.Kes, dosen Gizi Upertis. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Program Studi Kebidanan UM Sumbar, Salsabila dan Adelliya Meiva Putri.
Pelatihan diikuti 15 kader ‘Aisyiyah yang juga merupakan kader posyandu, 10 keluarga sasaran, Wali Nagari Padang Laweh Malalo, Kepala Puskesmas Batipuh Selatan, Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Batipuh Selatan, kader PKK serta sejumlah perwakilan warga ‘Aisyiyah.
Ketua tim PKM, Yuliza Anggraini, mengatakan pendekatan pencegahan stunting perlu dilakukan secara terintegrasi dengan mitigasi bencana, terutama di wilayah yang memiliki kerawanan bencana hidrometeorologi.
“Stunting dan bencana saling terkait. Saat bencana terjadi, rantai pangan dan layanan kesehatan bisa terputus. Balita dan ibu hamil merupakan kelompok yang paling rentan. Kita khawatir akan muncul stunting baru. Karena itu, kader tidak hanya harus memahami gizi, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan ketika bencana datang,” ujarnya, dikutip Selasa (18/8/2026).
Melalui pelatihan tersebut, kader dibekali dua kompetensi utama. Pertama, kemampuan melakukan deteksi dini dan pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, edukasi tentang 1.000 hari pertama kehidupan serta pemanfaatan pangan lokal bergizi untuk pembuatan makanan pendamping ASI (MPASI).
Kedua, kader diperkuat sebagai garda terdepan dalam mitigasi bencana. Mereka dilatih memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar lingkungan untuk memastikan balita tetap memperoleh asupan bergizi dalam kondisi darurat.
Kader juga mendapatkan kit berisi peralatan untuk mendukung deteksi dini stunting.
Pelatihan berlangsung selama dua hari. Setelah sambutan Kepala Puskesmas Batipuh Selatan dan pembukaan oleh Wali Nagari Padang Laweh Malalo, peserta mendapatkan materi terkait gizi, pencegahan stunting, kesiapsiagaan bencana, aspek budaya hingga pendekatan agama.
Kepala Bidang KL BPBD Kabupaten Tanah Datar, Purwanto, S.P., MPH, yang menjadi salah satu pemateri, menjelaskan telah terjadi perubahan paradigma dalam penanganan bencana, dari yang sebelumnya berorientasi pada tanggap darurat menjadi pengurangan risiko bencana.
Menurutnya, upaya membangun nagari tangguh bencana membutuhkan kolaborasi seluruh unsur masyarakat.
“Sinergi pentahelix adalah solusi yang paling efektif. Lima pilar kolaborasi terdiri dari pemerintah, akademisi, usaha, masyarakat dan media demi menuju nagari tangguh bencana. Gotong royong adalah kunci. Akademisi dapat memberikan pelatihan tanggap bencana seperti yang kita laksanakan hari ini,” katanya.
Aspek budaya juga menjadi bagian dalam pelatihan. Pengurus Bundo Kanduang Kabupaten Tanah Datar, Erliyensi, S.Keb.Bd., SKM., M.Kes, mengatakan perempuan dalam struktur adat Minangkabau memiliki peran penting dalam pola asuh, pemenuhan gizi, kebersihan serta ketahanan pangan keluarga.
Menurutnya, Bundo Kanduang memiliki posisi strategis dalam menggerakkan keluarga dan masyarakat untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan dengan baik.
“Jika satu Bundo Kanduang bergerak, maka satu nagari akan bergerak,” ujarnya.
Sementara itu, Buya Dr. Muhammad Husni, Lc., MA, mengingatkan bahwa pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Persoalan tersebut juga berkaitan erat dengan pola asuh, pemenuhan gizi dan kualitas kehidupan keluarga.
Ia mengutip sejumlah tuntunan dalam Alquran terkait pentingnya menyiapkan generasi yang sehat dan kuat. Salah satunya sebagaimana terdapat dalam QS An-Nisa ayat 9 mengenai pentingnya tidak meninggalkan generasi yang lemah.
Ia juga menekankan pentingnya pemberian ASI serta pemilihan makanan dan minuman yang memenuhi unsur halal dan thayyib.
“Makanan atau minuman yang akan dikonsumsi baik oleh ibu maupun anak mesti memperhatikan dua unsur atau sifat, yaitu halalan dan thayyiban, sebagaimana dijelaskan dalam QS An-Nahl ayat 114 dan Al-Baqarah ayat 168,” katanya.
Memasuki hari kedua, materi dilanjutkan oleh Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Kecamatan Batipuh Selatan, Elfira Deviyanti, S.Pd. Ia menekankan pentingnya kekuatan jejaring ‘Aisyiyah dalam mendukung upaya pencegahan stunting.
‘Aisyiyah dinilai memiliki jumlah kader yang cukup banyak dan hubungan yang dekat dengan ibu serta balita di tengah masyarakat. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas edukasi dan pendampingan keluarga.
Penguatan mengenai stunting serta peran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam pencegahannya kembali disampaikan Yuliza Anggraini.
Sementara itu, Chyka Febria dan Maria Nova memberikan materi mengenai “Isi Piringku”, kebutuhan gizi balita serta praktik pembuatan MPASI berbasis pangan lokal.
Salah satu bahan yang digunakan adalah ikan bilis yang tersedia di kawasan Danau Singkarak, termasuk wilayah Nagari Padang Laweh Malalo. Selain memiliki kandungan gizi, ikan bilis juga dinilai mudah diperoleh masyarakat sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan lokal untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menjalani penilaian sebelum dan sesudah pelatihan untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta keterampilan kader dalam mengimplementasikan materi yang diberikan.
Rangkaian implementasi kemudian dilanjutkan melalui kegiatan Posyandu pada 15 Juli 2026. Para kader mempraktikkan keterampilan yang diperoleh dengan melakukan pengukuran tinggi dan berat badan balita menggunakan peralatan yang disediakan.
Kader juga membagikan produk hasil praktik berupa abon ikan bilis kepada balita dan ibu hamil. Masyarakat terlihat antusias menerima produk pangan lokal tersebut.
Para kader mengaku mendapatkan manfaat dari pelatihan, terutama dalam meningkatkan kemampuan melakukan deteksi dini stunting dan memahami langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, khususnya untuk kelompok bayi, balita, ibu hamil dan ibu menyusui.
Kader juga memperoleh keterampilan mengolah pangan lokal menjadi MPASI yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun saat menghadapi kondisi darurat bencana.
Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan secara berkesinambungan melalui berbagai pelatihan lainnya. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat ditularkan kepada kader ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah lainnya di Kecamatan Batipuh Selatan.
Program pencegahan stunting yang menjadi bagian dari program kelembagaan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tersebut juga diharapkan dapat diterapkan di nagari lainnya di Kabupaten Tanah Datar, sehingga terbentuk model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pencegahan stunting dengan kesiapsiagaan bencana. (HER)






