Langgam.id — Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, membangun 21 unit saluran irigasi tersier di sejumlah wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. Pembangunan dilakukan secara swakelola melalui kelompok tani untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, mengatakan pembangunan irigasi tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memulihkan lahan pertanian yang terdampak bencana.
“Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memulihkan areal pertanian terdampak, sekaligus mendorong peningkatan indeks pertanaman di wilayah setempat,” kata Heri, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, pembangunan 21 unit irigasi tersier tersebut mendapat pendanaan dari APBN melalui Kementerian Pertanian dengan total anggaran sekitar Rp2,1 miliar.
Setiap unit kegiatan mendapat alokasi sekitar Rp100 juta. Anggaran tersebut disalurkan langsung kepada kelompok tani untuk dikerjakan dengan sistem swakelola.
Heri menilai pola swakelola memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan infrastruktur pertanian di daerah mereka.
“Melalui sistem swakelola, masyarakat dapat berpartisipasi secara langsung. Cara ini tidak hanya mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian, tetapi juga menjangkau daerah yang tingkat kerusakannya tergolong ringan,” ujarnya.
Pembangunan 21 irigasi tersier tersebut tersebar di Kecamatan Tanjung Raya, Malalak, Palembayan, dan Lubuk Basung.
Pelaksanaannya dilakukan dalam tiga tahap, yakni 9 Maret hingga 9 Mei 2026, 27 April hingga 27 Juni 2026, serta 13 Mei hingga 13 Juli 2026.
Sebelum pembangunan dimulai, pemerintah melakukan tahapan pengajuan usulan dan verifikasi lapangan. Lokasi penerima manfaat diprioritaskan pada wilayah yang mengalami kerusakan saluran irigasi akibat bencana.
Kerusakan jaringan irigasi sebelumnya menghambat aktivitas masyarakat dalam mengelola lahan pertanian. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap produktivitas pertanian di wilayah terdampak.
“Kerusakan saluran irigasi menyebabkan produktivitas pertanian masyarakat setempat mengalami hambatan karena akses pengelolaan lahan menjadi terganggu,” jelas Heri.
Dengan pembangunan kembali jaringan irigasi tersebut, Pemkab Agam berharap pengelolaan lahan pertanian dapat kembali berjalan optimal. Infrastruktur tersebut juga diharapkan mendukung peningkatan indeks pertanaman dan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat setelah bencana.
Pelibatan kelompok tani melalui sistem swakelola menjadi bagian penting dalam program ini karena pembangunan dilakukan langsung oleh masyarakat penerima manfaat, sesuai kebutuhan dan kondisi lahan di masing-masing wilayah. (HER)






